Judul : Papa Bear
Rating : T (mungkin)
Genre : Family – Komedi (mungkin)
Disclaimer : Winchester Brother jelas bukan punyaku. Kalo punyaku mungkin udah aku ajak poliandri *dipentung Mr.Eric* Judul ff ini diinspirasi dari film kartun “Brother Bear” yang sedikit banyak juga ikut menyumbang ide cerita.
A/N : Semoga FF ini bisa diterima dengan baik karena keterbatasan waktu, alurnya aku percepat. Maap juga kalo deskripnya kurang detail dan ada salah-salah dalam menjabarkan gejala kehamilan.
Pagi yang berkabut, udara yang lembab dan jalanan yang berubah dari jalan beraspal menjadi jalan tanah berbatu menyambut kedatangan Sam dan Dean di sebuah kota kecil. Sementara bahan bakar mulai menipis dan Dean sedikit gelisah karenanya, Sam lebih memilih untuk mengamati pemandangan khas kota kecil yang terpampang di kanan-kirinya. Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan memiliki detail yang sangat khas, menegaskan diri sebagai bangunan kuno. Atapnya menjulang, jendela-jendela oval dan tinggi, ditopang pilar-pilar kayu dan memiliki halaman yang sangat luas, sehingga jarak antar satu rumah ke rumah satunya berjauhan. Pepohonan dan semak-semak rimbun seolah tumbuh di mana-mana hingga pemandangan didominasi warna hijau-hijau menyegarkan mata.
“Kita berhenti di sini saja, bro,” kata Dean setelah menemukan pom bensin kecil dan ada sebuah toserba di seberangnya. ”Kau tahu apa yang harus kau lakukan di toserba itu, kan? My baby ini butuh dimanjakan sebentar di sini. Dia sangat kehausan dan aku juga butuh makan.”
Sam segera mengerti apa maksud perkataan Dean ini. Lagipula dia memang sudah mulai lapar dan persediaan makanan mereka sudah habis. Dean bisa sangat kelaparan di waktu malam. Entah kenapa sepertinya dia terlahir dengan napsu makan yang meluap-luap. Maka Sam melangkahkan kakinya ke dalam toserba dan mengedarkan pandangan, mencari-cari makanan atau snack apa yang biasa mereka konsumsi selama ini.
Tampilkan postingan dengan label Author: RED_dahLIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Author: RED_dahLIA. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 April 2010
Rabu, 11 November 2009
Fic: Something About Mary (1 November 1983)
Author : RED_dahLIA
Timeline : Ga jelas season berapa, pokoknya sebelum Mary tewas di tanggal 2 November 1983
Genre : Family, Drama
Rating : T
Disclaimer : Semua tokoh yang dipake di FF ini punya WB dan Mr.Eric karena ini FF Canon.
Summary : A day before her death, Mary had thinking about what will happen if she never made a deal with Azazel.
Note : salah satu FF koleksi lama yang terbengkelai. Mumpung ada waktu, dituntasin sekarang aja. Sebelumnya maap kalo rada kagok. Dah lama ga nulis FF lagi soalnya.
Malam itu sekali lagi aku terbangun di kegelapan. Berbalur keringat dingin dan pening yang cukup menyiksa, juga sedikit sesak di dadaku. Tanpa sadar aku mengusap keningku, merasakan kepalaku berdenyut saat memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sejujurnya aku tidak pernah ingin memikirkan hal ini, namun aku terpaksa harus mengingatnya selama beberapa hari terakhir. Semua ini terasa seperti bayangan kelabu. Kadang muncul di saat cahaya datang dan lenyap saat kegelapan menyelimuti, namun pada intinya dia akan selalu ada membayangi.
Sambil berulangkali mengatur nafasku selirih mungkin, aku beringsut dari ranjang. Aku tak ingin membangunkan suamiku yang sedang terlelap di sisi ranjang satunya. John tampak kusut dan kelelahan. Karena itulah kupikir sebaiknya aku jangan mengusiknya.
Selama beberapa detik aku menyempatkan diri untuk mengamati wajah pria yang kucintai ini, mengingat dengan perih betapa aku sudah memberikan segala-galanya agar bisa mendampinginya dan saat impianku itu terwujud, aku berharap akan selalu bisa memberinya kebahagiaan penuh. Setidaknya itulah yang selama ini kupikirkan. Kehidupan sempurna, impian yang kubentangkan semenjak masih gadis belia, dimana kami semua bisa hidup normal sama seperti keluarga bahagia pada umumnya.
Timeline : Ga jelas season berapa, pokoknya sebelum Mary tewas di tanggal 2 November 1983
Genre : Family, Drama
Rating : T
Disclaimer : Semua tokoh yang dipake di FF ini punya WB dan Mr.Eric karena ini FF Canon.
Summary : A day before her death, Mary had thinking about what will happen if she never made a deal with Azazel.
Note : salah satu FF koleksi lama yang terbengkelai. Mumpung ada waktu, dituntasin sekarang aja. Sebelumnya maap kalo rada kagok. Dah lama ga nulis FF lagi soalnya.
Malam itu sekali lagi aku terbangun di kegelapan. Berbalur keringat dingin dan pening yang cukup menyiksa, juga sedikit sesak di dadaku. Tanpa sadar aku mengusap keningku, merasakan kepalaku berdenyut saat memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sejujurnya aku tidak pernah ingin memikirkan hal ini, namun aku terpaksa harus mengingatnya selama beberapa hari terakhir. Semua ini terasa seperti bayangan kelabu. Kadang muncul di saat cahaya datang dan lenyap saat kegelapan menyelimuti, namun pada intinya dia akan selalu ada membayangi.
Sambil berulangkali mengatur nafasku selirih mungkin, aku beringsut dari ranjang. Aku tak ingin membangunkan suamiku yang sedang terlelap di sisi ranjang satunya. John tampak kusut dan kelelahan. Karena itulah kupikir sebaiknya aku jangan mengusiknya.
Selama beberapa detik aku menyempatkan diri untuk mengamati wajah pria yang kucintai ini, mengingat dengan perih betapa aku sudah memberikan segala-galanya agar bisa mendampinginya dan saat impianku itu terwujud, aku berharap akan selalu bisa memberinya kebahagiaan penuh. Setidaknya itulah yang selama ini kupikirkan. Kehidupan sempurna, impian yang kubentangkan semenjak masih gadis belia, dimana kami semua bisa hidup normal sama seperti keluarga bahagia pada umumnya.
Fic: Ursa Minor & Ursa Mayor – A Mythology Behind The Stars
Author: Red_dahLIA
Judul : Ursa Minor & Ursa Mayor – A Mythology Behind The Stars
Genre : Horror?
Summary: Sam and Dean find a murder mystery case of a couple of mother and child which has similarities with a legend about the constellations, Ursa Minor and Ursa Mayor.
Rating : T, tadinya. Tapi abis tau endingnya kayanya lebih cocok ke M.
Disclaimer : Winchester bersodara punya WB dan karena aku ngefans banged ama cowo keren yang namanya Dewa (keren? Err… dosa gak ya kalo aku bo’ongin orang2 kaya gini?), aku tampilin dia sekali lagi deh (biar tambah ge-er). Kalau yang laennya, ide crita, tokoh2 OC, setting, dll, punya aku (insyaallah).
“Kau yakin di sekitar sini tempatnya, Dean?” tanya Sam dengan nada kesal.
Sejak beberapa jam yang lalu mereka hanya berputar-putar tak tentu arah di sebuah daerah pemukiman sepi penduduk. Penerangan yang minim ditambah jalan setapak yang tak terawat membuat perjalanan mereka menjadi semakin tidak nyaman. Apalagi kini mereka sedang memasuki sebuah hutan yang cukup lebat.
Dean, yang yakin sekali kalau dia sangat tahu jalan, berkeras kalau memang di sinilah tempat yang dimaksud Bobby sebagai tempat penampakan tanda-tanda misterius tentang keberadaan demon.
Beberapa hari sebelumnya Bobby memang mengabarkan kalau ada fenomena aneh di Lousiana tentang kematian beruntun beberapa orang yang diawali dengan terdengarnya suara bisikan-bisikan gaib yang hanya bisa didengar oleh para korbannya sebelum mereka meninggal. Bisikan gaib apa itu? Bobby tak bisa merincinya. Dia hanya mengatakan kalau bisikan itu berasal dari bahasa yang benar-benar asing, bukan bahasa manusia.
“Aww, jalanan ini benar-benar menyebalkan!” seru Dean sebal ketika Impalanya menerjang beberapa gundukan tanah dan membuat mereka berdua terguncang-guncang di dalam mobil.
“Kurasa aku mulai mual,” keluh Sam. “Bisa-bisa aku muntah di dalam mobil kalau kau tidak segera menemukan tempat tujuan kita!”
“Kau boleh muntah, Sammy. Tapi aku akan mendepakmu keluar sebelum kau sempat muntah di mobilku!” balas Dean agak ketus, mulai frustrasi rupanya.
Judul : Ursa Minor & Ursa Mayor – A Mythology Behind The Stars
Genre : Horror?
Summary: Sam and Dean find a murder mystery case of a couple of mother and child which has similarities with a legend about the constellations, Ursa Minor and Ursa Mayor.
Rating : T, tadinya. Tapi abis tau endingnya kayanya lebih cocok ke M.
Disclaimer : Winchester bersodara punya WB dan karena aku ngefans banged ama cowo keren yang namanya Dewa (keren? Err… dosa gak ya kalo aku bo’ongin orang2 kaya gini?), aku tampilin dia sekali lagi deh (biar tambah ge-er). Kalau yang laennya, ide crita, tokoh2 OC, setting, dll, punya aku (insyaallah).
“Kau yakin di sekitar sini tempatnya, Dean?” tanya Sam dengan nada kesal.
Sejak beberapa jam yang lalu mereka hanya berputar-putar tak tentu arah di sebuah daerah pemukiman sepi penduduk. Penerangan yang minim ditambah jalan setapak yang tak terawat membuat perjalanan mereka menjadi semakin tidak nyaman. Apalagi kini mereka sedang memasuki sebuah hutan yang cukup lebat.
Dean, yang yakin sekali kalau dia sangat tahu jalan, berkeras kalau memang di sinilah tempat yang dimaksud Bobby sebagai tempat penampakan tanda-tanda misterius tentang keberadaan demon.
Beberapa hari sebelumnya Bobby memang mengabarkan kalau ada fenomena aneh di Lousiana tentang kematian beruntun beberapa orang yang diawali dengan terdengarnya suara bisikan-bisikan gaib yang hanya bisa didengar oleh para korbannya sebelum mereka meninggal. Bisikan gaib apa itu? Bobby tak bisa merincinya. Dia hanya mengatakan kalau bisikan itu berasal dari bahasa yang benar-benar asing, bukan bahasa manusia.
“Aww, jalanan ini benar-benar menyebalkan!” seru Dean sebal ketika Impalanya menerjang beberapa gundukan tanah dan membuat mereka berdua terguncang-guncang di dalam mobil.
“Kurasa aku mulai mual,” keluh Sam. “Bisa-bisa aku muntah di dalam mobil kalau kau tidak segera menemukan tempat tujuan kita!”
“Kau boleh muntah, Sammy. Tapi aku akan mendepakmu keluar sebelum kau sempat muntah di mobilku!” balas Dean agak ketus, mulai frustrasi rupanya.
Fic: Long Distance Call (Dahlia Version)
Author : RED_dahLIA
Genre : Horror kali ye? Padahal gak serem…
Rating : T (aja)
Disclaimer : Sam ama Dean Winchester punya WB. Tokoh Dahlia punya ane sendiri dan karna kebaekan hatinya slama ini ke aku, Nenok aku munculin bentar jadi cameo.
Summary: A parody of episode “Long Distance Call” in Dahlia's version. Start with a question " what if your stalker is a ghost?"
Warning : SI
Note : Selain terinspirasi dari epi “Long Distance Call”, sebagian kejadian di FF ini diambil dari pengalaman pribadi penulis. Jangan kaget kalo baru tau ternyata penulis tuh gak sealim yang dikira (karna emank dasarnya engga alim. Hihihi). Ceritanya emank enggak lucu sih, coz dibikinnya pas diriku lagi error gara2 digangguin ama stalker di YM. Kalo ceritanya aneh, aku juga minta mangap ya!
“Hanjr*t!!! Sapa sih orang gila yang nelpon jam segini?!” umpat Dahlia kesal ketika tiba-tiba saja handphonenya berbunyi tepat tengah malam.
Dengan enggan dan ngantuk luar biasa Dahlia bangun dari kasurnya yang empuk dan menuju ke arah meja belajarnya untuk meraih handponenya yang terus menerus berdering berisik sekali.
“Halo!” sapa Dahlia rada ketus sambil mengucek-ucek matanya. Tak terdengar suara siapapun di ujung telpon sana. Yang ada malah suara gemerisik engga jelas. “Siapa ni?”
Mendadak saja jantung Dahlia terasa maknyuus. Dia mulai mikir macem-macem gara-gara ada telpon aneh di tengah malam kaya gini. Siapa yang nelpon ni? Jangan-jangan ketan… eh, setan.
“Hualooo…” terdengar suara mendayu-dayu di ujung telpon. Tangan Dahlia jadi gemeteran saking seremnya ni suara. Weleh, jangan-jangan beneran ada gerandong lagi ngabsen penghuni kubur nih!
Genre : Horror kali ye? Padahal gak serem…
Rating : T (aja)
Disclaimer : Sam ama Dean Winchester punya WB. Tokoh Dahlia punya ane sendiri dan karna kebaekan hatinya slama ini ke aku, Nenok aku munculin bentar jadi cameo.
Summary: A parody of episode “Long Distance Call” in Dahlia's version. Start with a question " what if your stalker is a ghost?"
Warning : SI
Note : Selain terinspirasi dari epi “Long Distance Call”, sebagian kejadian di FF ini diambil dari pengalaman pribadi penulis. Jangan kaget kalo baru tau ternyata penulis tuh gak sealim yang dikira (karna emank dasarnya engga alim. Hihihi). Ceritanya emank enggak lucu sih, coz dibikinnya pas diriku lagi error gara2 digangguin ama stalker di YM. Kalo ceritanya aneh, aku juga minta mangap ya!
“Hanjr*t!!! Sapa sih orang gila yang nelpon jam segini?!” umpat Dahlia kesal ketika tiba-tiba saja handphonenya berbunyi tepat tengah malam.
Dengan enggan dan ngantuk luar biasa Dahlia bangun dari kasurnya yang empuk dan menuju ke arah meja belajarnya untuk meraih handponenya yang terus menerus berdering berisik sekali.
“Halo!” sapa Dahlia rada ketus sambil mengucek-ucek matanya. Tak terdengar suara siapapun di ujung telpon sana. Yang ada malah suara gemerisik engga jelas. “Siapa ni?”
Mendadak saja jantung Dahlia terasa maknyuus. Dia mulai mikir macem-macem gara-gara ada telpon aneh di tengah malam kaya gini. Siapa yang nelpon ni? Jangan-jangan ketan… eh, setan.
“Hualooo…” terdengar suara mendayu-dayu di ujung telpon. Tangan Dahlia jadi gemeteran saking seremnya ni suara. Weleh, jangan-jangan beneran ada gerandong lagi ngabsen penghuni kubur nih!
Fic: An Epic Battle (The War Must Go On)
Author : RED_dahLIA
Genre : Fantasy, ada action & romancenya.
Warning : Self Insert
Summary : Sam and Dean with other hunters trying to deal with the intrigue between a werewolve and a vampire.
Rating : T
Author’s Note : Terinspirasi dari film Underworld & Van Helsing. Di FF ini sengaja aku buat dua tokoh OC. Ada juga karakter laennya (Nenok & Juichi) sama seperti FF Dewa yg dulu itu loh.
4.30 A.M., Shelbyville, Indiana,
“Es gibt kein wohin man läuft, Eos Juno.” Kau tak bisa lari lagi, Eos Juno.
Suara bernada dingin itu keluar dari mulut sesosok makhluk mengerikan. Dengan bulu lebat kelabu menyelubungi sekujur tubuh, sepasang telinga runcing yang berdiri tegak dan moncong panjang penuh taring tajam, werewolf jantan itu memang terlihat begitu menyeramkan.
Namun lawan bicaranya juga punya penampilan yang tak kalah mengerikan. Kulitnya berwarna biru pucat serupa mayat. Rambutnya yang panjang hitam sepinggang berkibar-kibar di balik punggungnya yang ditumbuhi sepasang sayap besar, memberikan efek dramatis. Begitu pula dengan dua pasang taring yang mencuat melewati bibir keunguannya. Gadis itu vampire.
“Ich werde nicht laufen, Boreas Equinox, Ursache, die ich Sie bald töten werde.“ Aku tidak akan lari, Boreas Equinox, karena aku akan segera membunuhmu.
Genre : Fantasy, ada action & romancenya.
Warning : Self Insert
Summary : Sam and Dean with other hunters trying to deal with the intrigue between a werewolve and a vampire.
Rating : T
Author’s Note : Terinspirasi dari film Underworld & Van Helsing. Di FF ini sengaja aku buat dua tokoh OC. Ada juga karakter laennya (Nenok & Juichi) sama seperti FF Dewa yg dulu itu loh.
4.30 A.M., Shelbyville, Indiana,
“Es gibt kein wohin man läuft, Eos Juno.” Kau tak bisa lari lagi, Eos Juno.
Suara bernada dingin itu keluar dari mulut sesosok makhluk mengerikan. Dengan bulu lebat kelabu menyelubungi sekujur tubuh, sepasang telinga runcing yang berdiri tegak dan moncong panjang penuh taring tajam, werewolf jantan itu memang terlihat begitu menyeramkan.
Namun lawan bicaranya juga punya penampilan yang tak kalah mengerikan. Kulitnya berwarna biru pucat serupa mayat. Rambutnya yang panjang hitam sepinggang berkibar-kibar di balik punggungnya yang ditumbuhi sepasang sayap besar, memberikan efek dramatis. Begitu pula dengan dua pasang taring yang mencuat melewati bibir keunguannya. Gadis itu vampire.
“Ich werde nicht laufen, Boreas Equinox, Ursache, die ich Sie bald töten werde.“ Aku tidak akan lari, Boreas Equinox, karena aku akan segera membunuhmu.
Minggu, 01 November 2009
Fic: All You Can Eat
Author: RED_dahLIA
Genre : Horror
Disclaimer : fandom ini jelas cuma pinjaman semata dari otak jenius Mr Eric Kripke, kecuali ide cerita yang murni berasal dari otak saya sendiri (yang tentu tak kalah jeniusnya). *dipentung om Kripke*
Rating : M kali ya? Klimaksnya terlalu serem untuk masuk K atau T, imo.
Summary: What happen if Dean kept eating and eating non-stop, and it's caused by a monster?
Ottoville, Ohio.
Tak ada yang terbersit di benak sherrif Cameron McDoughlas hari itu. Bahkan juga terkait dengan kasus yang baru saja terjadi dua hari yang lalu. Pagi yang berawan di awal musim gugur dan ada indikasi akan segera terjadi badai rupanya lebih perlu untuk dikuatirkan. Lagipula, sebenarnya memang tidak ada sesuatu yang terlalu menyolok dalam kasus kematian James Bradley. Sedikit keanehan, mungkin. Tapi tidak semenyolok kehadiran dua orang agen FBI di kantornya sekarang. Dua agen itu tipe pria flamboyan. Jas hitam dan dasi yang serasi, pikir Cameron. Namun penampilan dua orang pria muda itu sedikit mengesankan kalau mereka terlalu menarik untuk menjadi agen FBI.
"Carl Morrison dan Steve Hendrix," kata seorang di antara mereka, sambil keduanya memperlihatkan lencana masing-masing.
Apapun itu, batin Cameron agak jengah. Sherrif wanita itu tidak terlalu suka pada agen-agen rahasia pemerintah, dan ini sudah bukan rahasia umum lagi bagi sesama sherrif di kota itu. Kerja sama dengan agen rahasia pertama dan terakhir yang terjadi di sini tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Cameron. Entah mengapa para agen itu selalu berusaha mengais semua yang bisa mereka dapat di kantornya secara arogan. Mereka selalu berpikir tugas mereka jauh lebih penting bagi negara dibanding para sherrif, pikir Cameron waktu itu. Karena itulah ia bertekad tidak ingin beramah-tamah dengan dua agen pria yang kini sedang duduk di hadapannya.
Genre : Horror
Disclaimer : fandom ini jelas cuma pinjaman semata dari otak jenius Mr Eric Kripke, kecuali ide cerita yang murni berasal dari otak saya sendiri (yang tentu tak kalah jeniusnya). *dipentung om Kripke*
Rating : M kali ya? Klimaksnya terlalu serem untuk masuk K atau T, imo.
Summary: What happen if Dean kept eating and eating non-stop, and it's caused by a monster?
Ottoville, Ohio.
Tak ada yang terbersit di benak sherrif Cameron McDoughlas hari itu. Bahkan juga terkait dengan kasus yang baru saja terjadi dua hari yang lalu. Pagi yang berawan di awal musim gugur dan ada indikasi akan segera terjadi badai rupanya lebih perlu untuk dikuatirkan. Lagipula, sebenarnya memang tidak ada sesuatu yang terlalu menyolok dalam kasus kematian James Bradley. Sedikit keanehan, mungkin. Tapi tidak semenyolok kehadiran dua orang agen FBI di kantornya sekarang. Dua agen itu tipe pria flamboyan. Jas hitam dan dasi yang serasi, pikir Cameron. Namun penampilan dua orang pria muda itu sedikit mengesankan kalau mereka terlalu menarik untuk menjadi agen FBI.
"Carl Morrison dan Steve Hendrix," kata seorang di antara mereka, sambil keduanya memperlihatkan lencana masing-masing.
Apapun itu, batin Cameron agak jengah. Sherrif wanita itu tidak terlalu suka pada agen-agen rahasia pemerintah, dan ini sudah bukan rahasia umum lagi bagi sesama sherrif di kota itu. Kerja sama dengan agen rahasia pertama dan terakhir yang terjadi di sini tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Cameron. Entah mengapa para agen itu selalu berusaha mengais semua yang bisa mereka dapat di kantornya secara arogan. Mereka selalu berpikir tugas mereka jauh lebih penting bagi negara dibanding para sherrif, pikir Cameron waktu itu. Karena itulah ia bertekad tidak ingin beramah-tamah dengan dua agen pria yang kini sedang duduk di hadapannya.
Rabu, 28 Oktober 2009
Fic: Hope And Dream
Author : RED_dahLIA
Pairing : Dean/Bella
Genre : Angst (?)
Rating : T
Disclaimer : Tokoh-tokohnya pinjem dari Mr.Eric n WB.
Timeline : Sekitar season 3 sebelum Bela mencuri colt, tapi biar aman anggap saja AU.
A/N: Ada kemungkinan OOC dan kurang detil karena ditulis saat mood sedang naik-turun
Tak banyak yang diharapkan Dean saat perburuan malam itu. Pada awalnya dia hanya berharap semua akan berjalan semudah yang ia kira. Dia dan Sam hanya akan datang ke sebuah situs kuno di tengah perkebunan tak terawat, lalu mereka hanya perlu mengambil sebuah patung perunggu berukuran sekitar tiga puluh senti di sana dan memusnahkannya. Simpel dan tak akan banyak menghabiskan tenaga. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Pekerjaan mereka yang satu ini tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat Sam mendadak tak sadarkan diri selang beberapa langkah setelah mereka meninggalkan bangunan itu dengan patung perunggu terkutuk di tangan. Belum lagi reda kepanikan Dean, masalah tampaknya akan bertambah semakin rumit saja saat seseorang yang sama sekali tidak diduga (dan juga tidak diinginkan) menemukan mereka di tempat keramat itu. Seseorang itu adalah Bela.
***
“Dia hanya tertidur, Dean,” kata wanita berambut gelap itu enteng setelah Dean membaringkan Sam di atas ranjang.
Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar motel. Sementara patung perunggu pembawa masalah itu sudah tersimpan aman di dalam sebuah tas plastik dengan dibungkus kertas koran rapat-rapat.
“Dia tertidur tidak wajar,” balas Dean setengah geram. Tersirat pemikiran di benak Dean kalau sebenarnya Bela tidak begitu peduli dengan nasib Sam. Wanita itu berada di teritorial kami dengan maksud tertentu, begitu batin Dean. Maka tidak heran kalau Dean langsung memasang sikap waspada dari menit-menit awal pertemuan tak terduga mereka tadi.
Bela dan Dean sempat bertatapan selama beberapa detik sebelum Bela mengedikkan bahunya. Dean masih mengawasi lekat-lekat tingkah Bela, penasaran dengan apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya. Namun ternyata Bela hanya duduk di kursi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya.
”Kalau begitu, beritahu aku apa yang kau tahu!” tuntut Bela dengan nada bosan tersamar dalam suaranya.
Pairing : Dean/Bella
Genre : Angst (?)
Rating : T
Disclaimer : Tokoh-tokohnya pinjem dari Mr.Eric n WB.
Timeline : Sekitar season 3 sebelum Bela mencuri colt, tapi biar aman anggap saja AU.
A/N: Ada kemungkinan OOC dan kurang detil karena ditulis saat mood sedang naik-turun
Tak banyak yang diharapkan Dean saat perburuan malam itu. Pada awalnya dia hanya berharap semua akan berjalan semudah yang ia kira. Dia dan Sam hanya akan datang ke sebuah situs kuno di tengah perkebunan tak terawat, lalu mereka hanya perlu mengambil sebuah patung perunggu berukuran sekitar tiga puluh senti di sana dan memusnahkannya. Simpel dan tak akan banyak menghabiskan tenaga. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Pekerjaan mereka yang satu ini tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat Sam mendadak tak sadarkan diri selang beberapa langkah setelah mereka meninggalkan bangunan itu dengan patung perunggu terkutuk di tangan. Belum lagi reda kepanikan Dean, masalah tampaknya akan bertambah semakin rumit saja saat seseorang yang sama sekali tidak diduga (dan juga tidak diinginkan) menemukan mereka di tempat keramat itu. Seseorang itu adalah Bela.
***
“Dia hanya tertidur, Dean,” kata wanita berambut gelap itu enteng setelah Dean membaringkan Sam di atas ranjang.
Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar motel. Sementara patung perunggu pembawa masalah itu sudah tersimpan aman di dalam sebuah tas plastik dengan dibungkus kertas koran rapat-rapat.
“Dia tertidur tidak wajar,” balas Dean setengah geram. Tersirat pemikiran di benak Dean kalau sebenarnya Bela tidak begitu peduli dengan nasib Sam. Wanita itu berada di teritorial kami dengan maksud tertentu, begitu batin Dean. Maka tidak heran kalau Dean langsung memasang sikap waspada dari menit-menit awal pertemuan tak terduga mereka tadi.
Bela dan Dean sempat bertatapan selama beberapa detik sebelum Bela mengedikkan bahunya. Dean masih mengawasi lekat-lekat tingkah Bela, penasaran dengan apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya. Namun ternyata Bela hanya duduk di kursi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya.
”Kalau begitu, beritahu aku apa yang kau tahu!” tuntut Bela dengan nada bosan tersamar dalam suaranya.
Fic: A Dirty Work (Tribute To Bela)
Author : RED_dahLIA
Timeline : tag to 3.15
Disclaimer : Punya bobos Eric n WB
Genre : Apaan yak? Ada yang bisa bantu?
A/N : Mohon kritik n saran aja dah. Pokoknya smua masukan saya terima.
Suatu siang di musim panas dimana udara kering bertiup cukup hangat dan sinar matahari tampak begitu menyilaukan mata. Ubun-ubun akan terasa tersengat, meninggalkan bau khas rambut yang terkena terik. Maka wajar kalau mendadak akan ada serangan pening. Jika kau berada di dalam situasi ini, kau takkan banyak mengharapkan bisa melakukan banyak hal kecuali berendam di kolam renang sepanjang hari. Cuaca hari ini memang cukup tidak bersahabat dengan kulit.
Mungkin inilah yang akan kau pikir saat kau berada di tempat yang sedang kuceritakan ini. Di sebuah kawasan pemukiman yang sepi namun tampak nyaman dengan rumah-rumah berjejer teratur bermodel seragam, berpintu kayu Mahogani hitam mengkilap dan masing-masing memiliki halaman kecil dilengkapi bunga-bunga musim panas yang berwarna cerah. Pemukiman ideal untuk keluarga dengan latar belakang harmonis dan tampaknya memang itulah yang ingin dikesankan setiap orang pada rumahnya masing-masing. Yeah, meskipun kita sama sekali tidak tahu apa saja yang sedang terjadi di balik pintu masuk rumah-rumah itu, tentang benarkah mereka semua keluarga bahagia atau sebaliknya, dan juga sama sekali bukan urusan kita, tentu.
Timeline : tag to 3.15
Disclaimer : Punya bobos Eric n WB
Genre : Apaan yak? Ada yang bisa bantu?
A/N : Mohon kritik n saran aja dah. Pokoknya smua masukan saya terima.
Suatu siang di musim panas dimana udara kering bertiup cukup hangat dan sinar matahari tampak begitu menyilaukan mata. Ubun-ubun akan terasa tersengat, meninggalkan bau khas rambut yang terkena terik. Maka wajar kalau mendadak akan ada serangan pening. Jika kau berada di dalam situasi ini, kau takkan banyak mengharapkan bisa melakukan banyak hal kecuali berendam di kolam renang sepanjang hari. Cuaca hari ini memang cukup tidak bersahabat dengan kulit.
Mungkin inilah yang akan kau pikir saat kau berada di tempat yang sedang kuceritakan ini. Di sebuah kawasan pemukiman yang sepi namun tampak nyaman dengan rumah-rumah berjejer teratur bermodel seragam, berpintu kayu Mahogani hitam mengkilap dan masing-masing memiliki halaman kecil dilengkapi bunga-bunga musim panas yang berwarna cerah. Pemukiman ideal untuk keluarga dengan latar belakang harmonis dan tampaknya memang itulah yang ingin dikesankan setiap orang pada rumahnya masing-masing. Yeah, meskipun kita sama sekali tidak tahu apa saja yang sedang terjadi di balik pintu masuk rumah-rumah itu, tentang benarkah mereka semua keluarga bahagia atau sebaliknya, dan juga sama sekali bukan urusan kita, tentu.
Fic: A Rest In Smallville
Author : RED_dahLIA
Timeline : Musim panas di pertengahan 2007
Genre : Apaan ya? Ga tau ah…
Disclaimer : Semua karakter punya WB, begitu juga dgn setting. Kalo ide crita sepenuhnya punya saya.
Suatu pagi yang cerah di Smallville, kota kecil berpenduduk kurang dari dua ratus jiwa. Angin berhembus sepoi-sepoi dan langit biru cerah. Sudah pasti ini adalah hari yang sangat bagus untuk pergi memancing. Sementara itu di kejauhan nampak sebuah Impala berwarna gelap meluncur, menyusuri jalan kecil yang membelah hamparan persawahan di kanan-kirinya. Dua orang penumpangnya terlihat sedang asyik berdebat.
“Tak ada yang istimewa di sini,” seloroh pemuda yang lebih tua, Dean Winchester, mencengkram kemudi sembari menoleh ke kanan-kiri. “Hanya sawah, ternak, sawah, ternak, sawah lagi. Memangnya apa yang sedang kita cari Sam?”
“Kota ini memang terlihat tidak istimewa. Hanya saja ada banyak keanehan yang terjadi di sini. Aku tak tahu apakah ini ada kaitannya dengan kemunculan Demon, tapi kota ini pernah terkena hujan meteor sebanyak dua kali berturut-turut selang waktu beberapa belas tahun. Aneh, kan?” balas Sam, saudara Dean, sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, raut wajahnya kesal. “Dan di sini tidak ada wi-fi! Payah!”
“Jangan pikir ini Metropolis, Sammy. Nah, sekarang beritahu aku dimana kita harus berhenti untuk penyelidikan awal.”
“Kita bisa mulai di sana,” kata Sam, menuding sebuah area ladang luas jauh di depan sana. “Milik keluarga Kent. Salah satu tempat yang pernah kejatuhan meteor dulu.”
Impala itu pun terus meluncur dengan kecepatan sedang, menuju ke tempat yang ditunjukkan Sam tadi. Ladang itu tak banyak beda dengan kebanyakan ladang lain yang mereka lihat di sepanjang jalan. Hanya saja terlihat cukup lengang dan sedikit tidak terawat. Dean memarkir mobilnya tepat di depan pagar utama dan segera keluar tanpa banyak tanya lagi. Sam mengikuti di belakangnya.
Sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, Sam mencermati apa saja yang ada di sekeliling mereka. Diambilnya sejumput tanah dan beberapa batang rumput, bahkan beberapa butir kerikil yang mungkin saja terlihat aneh, namun tak ada sesuatu yang cukup mencurigakan. Tak seberapa lama dia menghampiri Dean yang sedang berdiri mengamati areal ladang itu.
“Bagaimana? Apa yang kau dapat?” tanya Sam.
Timeline : Musim panas di pertengahan 2007
Genre : Apaan ya? Ga tau ah…
Disclaimer : Semua karakter punya WB, begitu juga dgn setting. Kalo ide crita sepenuhnya punya saya.
Suatu pagi yang cerah di Smallville, kota kecil berpenduduk kurang dari dua ratus jiwa. Angin berhembus sepoi-sepoi dan langit biru cerah. Sudah pasti ini adalah hari yang sangat bagus untuk pergi memancing. Sementara itu di kejauhan nampak sebuah Impala berwarna gelap meluncur, menyusuri jalan kecil yang membelah hamparan persawahan di kanan-kirinya. Dua orang penumpangnya terlihat sedang asyik berdebat.
“Tak ada yang istimewa di sini,” seloroh pemuda yang lebih tua, Dean Winchester, mencengkram kemudi sembari menoleh ke kanan-kiri. “Hanya sawah, ternak, sawah, ternak, sawah lagi. Memangnya apa yang sedang kita cari Sam?”
“Kota ini memang terlihat tidak istimewa. Hanya saja ada banyak keanehan yang terjadi di sini. Aku tak tahu apakah ini ada kaitannya dengan kemunculan Demon, tapi kota ini pernah terkena hujan meteor sebanyak dua kali berturut-turut selang waktu beberapa belas tahun. Aneh, kan?” balas Sam, saudara Dean, sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, raut wajahnya kesal. “Dan di sini tidak ada wi-fi! Payah!”
“Jangan pikir ini Metropolis, Sammy. Nah, sekarang beritahu aku dimana kita harus berhenti untuk penyelidikan awal.”
“Kita bisa mulai di sana,” kata Sam, menuding sebuah area ladang luas jauh di depan sana. “Milik keluarga Kent. Salah satu tempat yang pernah kejatuhan meteor dulu.”
Impala itu pun terus meluncur dengan kecepatan sedang, menuju ke tempat yang ditunjukkan Sam tadi. Ladang itu tak banyak beda dengan kebanyakan ladang lain yang mereka lihat di sepanjang jalan. Hanya saja terlihat cukup lengang dan sedikit tidak terawat. Dean memarkir mobilnya tepat di depan pagar utama dan segera keluar tanpa banyak tanya lagi. Sam mengikuti di belakangnya.
Sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, Sam mencermati apa saja yang ada di sekeliling mereka. Diambilnya sejumput tanah dan beberapa batang rumput, bahkan beberapa butir kerikil yang mungkin saja terlihat aneh, namun tak ada sesuatu yang cukup mencurigakan. Tak seberapa lama dia menghampiri Dean yang sedang berdiri mengamati areal ladang itu.
“Bagaimana? Apa yang kau dapat?” tanya Sam.
Selasa, 27 Oktober 2009
Fic: Deja Vu
Author: RED_dahLIA
Genre : Horror-Action
Pairing : Sam Winchester-Ginny Weasley (Crossover Supernatural-Harry Potter).
Rating : T
Summary : Sam met a young witch named Ginny Weasley, and they must fight against a werewolf army.
Disclaimer : Sudah pasti semua bukan punya saya.
A/N : Untuk memenuhi challenge 3 di tret Kompilasi Fanfic Supernatural Indonesia. Supernatural mengisahkan sepasang kakak adik yang bernama Dean Winchester dan Sam Winchester yang berpetualang ke seluruh negara bagian untuk memburu iblis dan hantu demi menyelamatkan banyak orang, serta menemui berbagai peristiwa-peristiwa supranatural dalam petualangannya. Sedangkan Ginny Weasley adalah adik dari Ron Weasley, sahabat Harry Potter.
Semua ini mungkin berawal dari suatu malam yang melelahkan. Impala hitam itu diparkir dengan tenang di tepi jalan, sama tenangnya dengan dua orang pria yang kini sedang berada di dalamnya. Pria yang lebih tua, Dean, tertidur lelap seperti bayi di kursi belakang. Energinya seharian ini terkuras habis untuk menangani sebuah kasus pembunuhan berantai yang rupanya melibatkan arwah penasaran, ditambah lagi ia harus menyetir sampai melintasi perbatasan negara bagian. Sementara adiknya, Sam, yang kali ini kebagian tidur di kursi depan, agak kesulitan memejamkan matanya.
Malam ini memang cukup dingin. Tapi seharusnya tidak akan banyak mempengaruhi karena saat ini mereka berdua sedang berada di tepi jalan yang sangat lengang. Sisi kiri dan kanan jalan diapit oleh berhektar-hektar ladang jagung. Pemandangan yang tiada habisnya jika kau melihatnya melalui jendela mobil. Tanaman jagung di mana-mana, berukuran setinggi orang dewasa atau malah melebihinya, dan berwarna coklat gelap di malam bercahayakan sinar bulan purnama seperti saat ini. Semilir angin yang berhembus membuat pucuk tanaman jagung itu menari seirama. Kesunyian yang diresapi Sam seorang diri ini sesekali diselingi oleh suara-suara binatang malam. Musik alam dan suasana yang mendukung kantuk ini ternyata kurang kuat untuk bisa membuatnya jatuh tertidur.
Sam sendiri kurang tahu apa yang membuat dirinya susah tidur. Dia lelah, sama lelahnya dengan Dean. Apalagi beberapa bagian tubuhnya masih terasa sedikit ngilu jika ia terlalu banyak bergerak. Punggungnya yang tadi dibuat menghantam dinding saat hantu itu melakukan perlawanan masih bisa mengingat bagaimana sensasi sakitnya. Karena itulah Sam memutuskan untuk membaca ulang jurnal milik ayahnya sambil bersandar senyaman mungkin, berharap dia akan tertidur begitu membaca beberapa lembar pertama.
Dengan senter di tangan kiri, Sam mulai menelusuri lembar demi lembar halaman jurnal yang dipenuhi tulisan tangan ayahnya. Namun itu sebelum telinganya menangkap suara gemerisik tak wajar di ladang, sekitar beberapa meter dari mobil mereka. Suara gemerisik itu sebenarnya tidak terdengar terlalu jelas, namun beberapa pucuk-pucuk tanaman jagung yang bergoyang berlawanan dengan arah angin menandakan seseorang atau sesuatu sedang menyibak gerumbulan pohon jagung tersebut. Bukan daya imajinasi Sam yang kelewat tinggi yang membuat pemuda itu berpikir kalau ada yang berjalan melewati ladang. Apalagi saat matanya menangkap berkas-berkas cahaya putih berpendar yang menyeruak di antara sela-sela tanaman jagung.
Genre : Horror-Action
Pairing : Sam Winchester-Ginny Weasley (Crossover Supernatural-Harry Potter).
Rating : T
Summary : Sam met a young witch named Ginny Weasley, and they must fight against a werewolf army.
Disclaimer : Sudah pasti semua bukan punya saya.
A/N : Untuk memenuhi challenge 3 di tret Kompilasi Fanfic Supernatural Indonesia. Supernatural mengisahkan sepasang kakak adik yang bernama Dean Winchester dan Sam Winchester yang berpetualang ke seluruh negara bagian untuk memburu iblis dan hantu demi menyelamatkan banyak orang, serta menemui berbagai peristiwa-peristiwa supranatural dalam petualangannya. Sedangkan Ginny Weasley adalah adik dari Ron Weasley, sahabat Harry Potter.
Semua ini mungkin berawal dari suatu malam yang melelahkan. Impala hitam itu diparkir dengan tenang di tepi jalan, sama tenangnya dengan dua orang pria yang kini sedang berada di dalamnya. Pria yang lebih tua, Dean, tertidur lelap seperti bayi di kursi belakang. Energinya seharian ini terkuras habis untuk menangani sebuah kasus pembunuhan berantai yang rupanya melibatkan arwah penasaran, ditambah lagi ia harus menyetir sampai melintasi perbatasan negara bagian. Sementara adiknya, Sam, yang kali ini kebagian tidur di kursi depan, agak kesulitan memejamkan matanya.
Malam ini memang cukup dingin. Tapi seharusnya tidak akan banyak mempengaruhi karena saat ini mereka berdua sedang berada di tepi jalan yang sangat lengang. Sisi kiri dan kanan jalan diapit oleh berhektar-hektar ladang jagung. Pemandangan yang tiada habisnya jika kau melihatnya melalui jendela mobil. Tanaman jagung di mana-mana, berukuran setinggi orang dewasa atau malah melebihinya, dan berwarna coklat gelap di malam bercahayakan sinar bulan purnama seperti saat ini. Semilir angin yang berhembus membuat pucuk tanaman jagung itu menari seirama. Kesunyian yang diresapi Sam seorang diri ini sesekali diselingi oleh suara-suara binatang malam. Musik alam dan suasana yang mendukung kantuk ini ternyata kurang kuat untuk bisa membuatnya jatuh tertidur.
Sam sendiri kurang tahu apa yang membuat dirinya susah tidur. Dia lelah, sama lelahnya dengan Dean. Apalagi beberapa bagian tubuhnya masih terasa sedikit ngilu jika ia terlalu banyak bergerak. Punggungnya yang tadi dibuat menghantam dinding saat hantu itu melakukan perlawanan masih bisa mengingat bagaimana sensasi sakitnya. Karena itulah Sam memutuskan untuk membaca ulang jurnal milik ayahnya sambil bersandar senyaman mungkin, berharap dia akan tertidur begitu membaca beberapa lembar pertama.
Dengan senter di tangan kiri, Sam mulai menelusuri lembar demi lembar halaman jurnal yang dipenuhi tulisan tangan ayahnya. Namun itu sebelum telinganya menangkap suara gemerisik tak wajar di ladang, sekitar beberapa meter dari mobil mereka. Suara gemerisik itu sebenarnya tidak terdengar terlalu jelas, namun beberapa pucuk-pucuk tanaman jagung yang bergoyang berlawanan dengan arah angin menandakan seseorang atau sesuatu sedang menyibak gerumbulan pohon jagung tersebut. Bukan daya imajinasi Sam yang kelewat tinggi yang membuat pemuda itu berpikir kalau ada yang berjalan melewati ladang. Apalagi saat matanya menangkap berkas-berkas cahaya putih berpendar yang menyeruak di antara sela-sela tanaman jagung.
Langganan:
Postingan (Atom)