<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680</id><updated>2011-09-20T01:50:45.539+07:00</updated><category term='Author : Deanloves'/><category term='Genre: Crack'/><category term='Author: Joel_W'/><category term='Author: Sopraness'/><category term='Genre: Horor'/><category term='Author: Duckie'/><category term='Author: Steph'/><category term='Author:Reiforizza'/><category term='Author: Oryn'/><category term='Rating: M'/><category term='Author: Phuttackles'/><category term='Author: Ilma Arifiany'/><category term='Multichapter'/><category term='Challenge: Unusual Pairing'/><category term='Author: Baladewa88'/><category term='In English'/><category term='Genre: Family'/><category term='Genre: Action'/><category term='Work In Progress'/><category term='Author: Charmed4ever'/><category term='Rating: K+'/><category term='Author: Indah'/><category term='Author: Nenok_Cuantik'/><category term='Author: ferrari_saemonosuke'/><category term='Author: Ambudaff'/><category term='Genre: Humor'/><category term='Rating: T'/><category term='Genre: Romance'/><category term='Genre: Thriller'/><category term='Genre: Drama'/><category term='Author: Thunderbirdie'/><category term='Challenge: Mpreg'/><category term='Author: Tee-tah'/><category term='Genre: Angst'/><category term='Genre: Misteri'/><category term='Author: RED_dahLIA'/><category term='Author: Etha M.R.'/><category term='Rating: K'/><category term='Slash'/><category term='Self Insert'/><category term='Challenge: Crossover'/><category term='Author: Lady_mannequin'/><title type='text'>Kompilasi Fanfiction Supernatural Indonesia</title><subtitle type='html'>Koleksi fanfiction Supernatural karya fans Indonesia. Silahkan membaca semua koleksi fanfic di sini, mengomentari,ataupun menyumbangkan fanfic melalui email ke administrator.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Oryn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000517090509498167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_EjOLlUylyCA/S6nW-yAp-qI/AAAAAAAAACw/RN9EyDp5olY/S220/Chessmen.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>78</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-5335617269744333776</id><published>2010-12-22T17:00:00.001+07:00</published><updated>2010-12-22T17:02:01.829+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: K'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Family'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Sopraness'/><title type='text'>Fic: What Makes A Dad</title><content type='html'>Author: Sopraness&lt;br /&gt;Genre: Family&lt;br /&gt;Rating: K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu frasa itu tidak mau lepas dari pikiran Adam. Setiap kali kata itu muncul dalam pikirannya, sebuah senyuman akan merekah di bibirnya. Adam membisikkan kata itu, sebelum akhirnya ia terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang ia nanti-nantikan akhirnya tiba; hari dimana ia bertemu dengan ayahnya. Pria itu muncul begitu saja di suatu pagi di kediaman Milligan, tempat ia dan Kate, ibunya tinggal. Adam melakukan kontak pertamanya dengan pria yang kini ia sebut 'ayah' itu di ruang makan, saat ia bersiap untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Tidak butuh waktu lama bagi Adam untuk mengenali siapa pria itu. Ia sekonyong-konyong tahu bahwa pria itu adalah ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Adam berharap bus sekolah akan datang terlambat untuk menjemputnya. John Winchester—begitulah pria itu tadi memperkenalkan dirinya—baru bertanya sedikit mengenai dirinya, dan Adam masih sangat bersemangat untuk menjawab apapun yang ditanyakan padanya dan menanyakan segala sesuatu yang ingin ia ketahui tentang pria itu. Namun bus itu bahkan datang lebih cepat dari jadwal sehingga ia harus meninggalkan sesi tanya-jawab itu dengan berat hati. Tapi pria itu berjanji, bahwa mereka akan segera bertemu lagi. Adam berpegang pada janji itu, berharap akan ada pertemuan lain diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan John Winchester menepati janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 September 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam duduk dengan canggung di bangku penumpang sedan hitam klasik itu. Yang ia ingat, John memperkenalkan mobil itu sebagai Impala. John berada di sampingnya, mengemudi tanpa melepaskan pandangan dari jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, Nak," John melirik sekilas pada Adam, "selamat ulang tahun ke-13."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam tersenyum canggung. "Trims, uh," Ia berhenti sebentar, menelan ludah sebelum mengucapkan kata-kata yang terus berputar di kepalanya akhir-akhir ini, "Dad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John tersenyum mendengar kata-kata Adam. Namun dalam semburat senyum itu tergurat pula kepedihan. Kepedihan yang tidak dimengerti Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 September 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impala itu berhenti di depan rumah tempat Adam dan ibunya tinggal. Sebelum keluar dari mobil, Adam berpaling pada John.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertandingan yang seru, Dad. Terima kasih sudah membawaku untuk menonton baseball lagi. Kado yang menyenangkan untuk ulang tahun ke-14."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John mengangguk sekilas, "Aku senang bisa menghabiskan hari bersamamu, Nak. Mungkin menonton pertandingan bola bisa kita jadikan ritual-hari-ulang-tahunmu," katanya sambil tersenyum. Dan Adam melihat guratan kepedihan itu lagi dalam senyuman itu. Kepedihan yang sama yang ia lihat di hari yang sama setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam beringsut keluar dari mobil. Dalam satu ayunan pelan, ia menutup pintu sedan hitam John lalu melambaikan tangan ketika mobil itu menjauh. Adam menghela napas. Ia mengingatkan diri sendiri untuk menanyakan makna senyuman itu pada ayahnya di pertemuan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kate tengah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit—satu lagi shift malam di Unit Gawat Darurat—ketika Adam tiba di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana harimu dengan John?" tanya Kate sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cukup menyenangkan," Adam menjawab seadanya sambil merebahkan diri di sofa. "Kami bermain billiard. bercakap-cakap dan bermain poker, Dad bahkan mengajariku beberapa trik poker."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well. Kulihat kau cukup akrab dengan John," Kate menanggapi. "Itu hal yang bagus bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam tidak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kate menghela napas. "Baiklah, masih ada seloyang pizza yang bisa kau hangatkan untuk sarapan besok. Bye Adam," kata Kate sambil mengecup dahi Adam sebelum pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam bergeming. Ia hanya teralihkan oleh jawaban John saat ia bertanya mengenai guratan yang selalu menyertai setiap senyuman John.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mengingatkanku pada orang-orang yang kusayangi," jawab John. "Aku berharap bisa mempertemukanmu dengan mereka. Tapi lebih baik tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam merasa John menyembunyikan sesuatu. Dan itu mengusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 September 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam memberikan tatapan tidak percaya pada John. Pria itu baru saja menggeser segelas penuh bir ke arahnya. Sambil mengangkat gelasnya, John menyuruh Adam untuk meminum birnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersulang untuk ulang tahun Adam ke-15," kata John sebelum menyesap isi gelasnya. "Oh, dan untuk keberhasilannya mengemudikan Impala mengelilingi Windom dengan selamat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam tergelak, mengingat pengalamannya belajar mengendarai mobil dengan sedan hitam yang super keren itu. Adam belum menjadi pengemudi yang handal memang. Tapi les mengemudi singkat tadi cukup menyenangkan buatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersulang untuk ayah yang hebat," kata Adam pada akhirnya, lalu menyesap bir pertamanya. Ia berjengat karena sengatan rasa minuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John tersenyum karena ucapan Adam. Lagi-lagi senyum yang sama, dengan guratan kepedihan diantara lengkungan bibir itu. Pria itu meletakkan gelas birnya. Setelah satu helaan napas ia berkata, "i'm just some guy who took you to a baseball game once a year. Mengajakmu pergi menonton pertandingan baseball tiap tahun tidak menjadikanku seorang ayah, Nak," katanya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam tidak tahu harus berkata apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah," kata John tiba-tibam sambil berdiri dari duduknya, "siapa yang mau bermain billiard?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam mengendikkan bahu, lalu mengekor ayahnya menuju meja billiard di ujung bar, berharap bola-sodok dapat mengalihkan perhatiannya dari ucapan ayahnya barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam berusaha membuat semua kejadian ini masuk akal. Ia pernah mati. Ghoul memakannya dan ibunya hidup-hidup. Ia ingat itu. Ia pernah berada di nirwana, dimana ia memiliki malam Prom yang luarbiasa dengan Kristin McGee. Tiba-tiba saja malaikat-malaikat—atau paling tidak begitulah mereka memperkenalkan dirinya—datang dan mengumumkan sesuatu tentang Michael dan kebangkitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu inilah yang terjadi; ia bangun di rumah yang tidak ia kenal, dengan orang-orang yang tidak ia kenal, memperdebatkan keberadaannya dan tugasnya sebagai Pedang Michael yang telah ia setujui. Bukan apa-apa, tapi para malaikat itu berjanji akan mempertemukan ia dengan ibunya, satu-satunya orang penting dalam hidupnya. Bagaimana mungkin Adam menolak tawaran yang berhubungan dengan ibu yang sangat ia sayangi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam Winchester, kedua kakak tirinya terus memaksanya untuk lebih percaya pada mereka dari pada janji-janji malaikat di surga. Pria setengah baya bernama Bobby bahkan ikut mengungkit nama John Winchester, pria yang pernah ia sebut ayah, yang tidak pernah menemuinya lagi sejak ulang tahunnya yang ke-15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No, John Winchester was some guy who took me to a baseball game once a year. I don't have a dad," kata Adam lantang. Ia terus melanjutkan ucapan defensifnya terhadap serangan Sam dan Bobby. Namun, sesaat setelah ia selesai dengan perkataannya, ia terdiam. Baris awal ucapannya adalah kata-kata yang pernah diucapkan John di bar pada ulang tahunnya yang ke-15 beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam meninggalkan Adam sendirian di dapur dengan sebotol bir dingin. Sam baru saja menjelaskan situasi John yang sebenarnya pada Adam; bagaimana selama ini John berusaha melindungi Adam dari dunia kelam John, dunia yang juga menjadi milik Dean dan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyesap birnya. Sensasi sengatan bir itu mengingatkannya pada bir pertamanya, yang ia minum bersama John di bar. Kini semuanya masuk akal bagi Adam. Bukan perkara kebangkitannya kembali—ia masih tidak yakin akan ucapan Zachariah maupun Sam—tetapi akan kenangan-kenangan yang ia dapat dari John; guratan kepedihan dan ucapannya di bar. Untuk sesaat, ada rasa rindu mengalir saat mengenang sosok John Winchester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam menghela napas. Kepalanya terasa berat karena semua hal ini. Dibaringkannya dirinya di ceruk dekat jendela, sambil memejamkan mata ia menggumammkan frasa yang sudah sejak lama tidak pernah lagi mampir di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Review, kritik dan komentar sangat diharapkan :) thanks for reading&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-5335617269744333776?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/5335617269744333776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/12/fic-what-makes-dad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/5335617269744333776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/5335617269744333776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/12/fic-what-makes-dad.html' title='Fic: What Makes A Dad'/><author><name>Oryn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000517090509498167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_EjOLlUylyCA/S6nW-yAp-qI/AAAAAAAAACw/RN9EyDp5olY/S220/Chessmen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-4893907356997493123</id><published>2010-10-13T07:00:00.002+07:00</published><updated>2010-12-22T17:16:28.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: K'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author : Deanloves'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Family'/><title type='text'>Fic: The Very Winchester Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Author : Deanloves&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Genre: Family&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rating: K&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Klutak - klutik – klutak - klutik'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar Dean Winchester mendengar suara piring dan sendok beradu dari arah luar kamar, ditengah tidur malamnya yang lelap. Insting pemburu Dean langsung terbangun. Diraihnya pisau belati yang tersimpan siaga di bawah bantalnya dengan memasang telinga tajam-tajam. Diliriknya jam di tangannya. Masih pukul 3:30 pagi. Ditengoknya tempat tidur di sampingnya yang seharusnya ada adiknya tidur di sana. Tapi tidak ada. Sam tidak ada di tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean langsung bangkit dan mengendap-endap tanpa suara keluar dari kamar. Ruang tengah terlihat terang benderang, dan semakin jelas bunyi piring dan sendok beradu. Dean harus tertegun melihat sosok Sam sedang duduk di meja makan menikmati sarapan subuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sammy?" Dean terheran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mendongak dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain kamu, subuh-subuh makan?" Dean seraya memasukkan belati kesayangannya ke dalam saku celananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sahur, Dean, hari ini, hari pertama puasa," Sam menyahut dengan ringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sempat tertegun. Sahur? Puasa? Dan teringat, 'Eh, iya, hari ini ramadhan hari pertama.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu mau puasa hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak takut laper?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan udah sahur, jadi nggak laper nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terdiam sesaat, dan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau puasa juga, Dean? aku sisain kentang goreng sama telur mata sapi satu lagi, kalau kamu mau puasa juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tersenyum jengah. "Oh, gampang, aku nggak perlu sahur kalau mau puasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terdiam melihat abangnya. "Sahur itu sunah lho, satu paket sama puasanya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean hanya tersenyum tipis, semakin jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidur lagi, ya...," seraya berbalik kembali ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasa nggak, Dean?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah!" seru Dean kembali ke tempat tidur. Pikirannya kembali pada Sam, adik satu-satunya yang amat disayanginya. Ada perasaan bangga di sana. Umurnya baru 10 tahun, tapi dia sudah menyadari kewajiban untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Sementara Dean sendiri, di umur yang sudah 14 tahun, entah baru berapa kali ia puasa di bulan Ramadhan. Shalat aja, jarang-jarang apalagi puasa. Tapi adiknya memang beda. Entah dipaksa oleh siapa, tapi Sam sudah mulai shalat dari umur 7 tahun dan beelajar puasa ramadhan secara penuh. Dengan pekerjaan ayahnya yang seorang pemburu hantu dan sering bersinggungan dengan hal gaib, ayahnya memang sering membekalinya dengan nilai-nilai agama, tidak hanya Sam tapi Dean juga. Hanya saja, yang bisa menempel cuma pada Sam. Dean masih menganggap shalat dan puasa hanyalah ritual biasa, yang akan dimaklumi meski tidak menjalankannya. Toh, dia tidak berbuat jahat pada orang lain, itu sudah jadi pahala buat Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang hati pertama puasa ramadhan, Dean sama sekali tidak ingat, dan tidak terlalu mempedulikannnya, meski ia ingat tadi malam, Sam merengek-rengek minta ditemani ke mushala terdekat buat shalat tarawih. Dengan hidup mereka yang berpindah dari satu kota ke kota lain, dan menginap di rumah kontrakan, membuat mereka tidak selalu kenal dengan daerahnya. Tapi sepertinya untuk kali ini, mereka akan menginap di daerah ini cukup lama, karena ayahnya sudah mendaftarkan mereka ke sekolah setempat untuk satu semester. Dan saat ini ayah mereka sedang memenuhi panggilan kasus dari warga di tempat yang lumayan jauh dari tempat mereka tinggal sekarang. Dean tak tahu berapa lama ayahnya akan pergi, tapi ia sudah sangat terbiasa ditinggalkan berdua dengan Sam hingga berhari-hari demi menyelesaikan sebuah kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menarik nafas dalam-dalam, memikirkan Sam cukup membuatnya kenyang, dan yakin cukup untuk ikut puasa satu hari ini, kalaupun harus batal karena tidak kuat, paling tidak dia sudah niat. Niatpun sudah dapat nilai, itu yang Dean tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPNSPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean, kamu puasa?" Sam memastikan abangnya saat mereka pulang sekolah bareng dan terlihat Dean menyeret kakinya buat bisa berjalan. Badannya loyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean hanya mengangguk lemas. "Iya dong..." Sumpah, demi adiknya, Dean mencoba untuk puasa juga. Tapi tanpa diawali sahur, dan memang belum terbiasa buat sahur, Dean lemasna setengah mati. Badannya seperti tak bertenaga. Perutnya menjerit-jerit minta diisi, tapi Dean berusaha bertahan. Dia tidak mau kalah dengan Sam, terlebih di hari pertama puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pantesan lemes, orang nggak sahur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memasang muka protes, "Nggak, aku nggak lemes... siapa bilang aku lemes?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum senang, "Kalu gitu, kita lari yok, aku harus ke perpus bentar, perpusnya udah mu tutup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah, Sam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat, Sam sudah berlari menuju perpus. Dean hanya menghela nafas, dan langsung berlari menyusul adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terengah-engah begitu sampai di perpustakaan. Tenaganya seperti terkuras abis, ditambah kerongkongannya terasa seperti tercekik karena kering sekali. Matanya menangkap air mancur kolam di halaman depan perpustakaannya. Terasa air yangg dingin itu menyegarkan kerongkongannya yang 'Ya, Allah, segar banget tuh air, ya ...' Dean ngences. 'DEAN, PUASA!' Dean langsung tersadar dengan teriakan di kepalanya, dan langsung menyusul Sam ke dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam perpustakaan terasa dingin dan sejuk. Dan sunyi sekali, meski banyak pengunjung yang berkutat dengan buku-buku mereka. Dean heran, ada yang bisa tenggelam di antara buku-buku itu sampe berjam-jam. Eit, bukannya Sam termasuk dalam orang-orang aneh ini? Sam bisa berjam-jam berkutat dengan buku-bukunya. Kalau dia, lihat buku saja sudah mual. Belum kalau harus buka buka dan sampe baca tuh buku, bisa bersin-bersin plus muntah-muntah. Heran mereka bisa bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean, sini!" seruan Sam langsung menyadarkannya dan melihat adiknya sudah duduk di sebuah meja dengan buku-buku di mejanya. Dean menyusul ke sana dan menghempaskan pantatnya di kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau ngerjain apa sih...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paper buat besok," sahut Sam santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean hanya ber 'o', dan menempelkan kepalanya di meja, alih-alih memperhatikan adiknya yang sibuk mencari bahan buat papernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean..., Dean...bangun..., dah selesai nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huh?" Dean membuka mata dengan berat. "Ayam goreng sudah dateng?" tanyanya lansung setengah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hih, ayam goreng dari mana? Ini aku dah selesai, pulang yuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangkat kepalanya dari meja dengan lemas , "emang kita di mana?" melihat sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perpus. Dah yuk, pulang, " ia harus menahan tawa geli dengan abang satunya ini. Tapi siapa yang tidak melihat Dean tertidur dengan mulut sedikit menganga di atas meja. Diminta temenin belajar, malah tidur. Sam sampai hilang konsetrasi dengan wujud Dean di sampingnya. Akhirnya ditutupi muka Dean dengan sapu tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ayam gorengnya?" Dean masih setengah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memutar matanya. "Ntar di rumah, kalu dah buka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean langsung ingat, dia sedang puasa. Saat itu juga ia merasakan kembali 80% tenaga tubuhnya hilang dari badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam, gendong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengerutkan alisnya, "Gendong, nggak salah? Aku seret ya," seraya menarik lengan kakaknya yang besar, untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah semangat, Dean menyeret kakinya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, Sam melihat jam sudah mendekati waktu maghrib, ia langsung menyiapkan untuk berbuka. Sam melihat Dean terduduk lemas di sofa tengah hingga kembali melanjutkan tidur lagi di sana, tapi ada perasaan bangga di sana. Abangnya masih belum bocor puasanya. Bukannya sok tua, karena dia pun masih mencoba untuk bisa puasa satu bulan penuh, setelah ramadhan kemarin Sam bocor 10 hari karena sakit flu dan godaan-godaan lainnya. Ia tahu, abangnya masih jarang puasa tapi itu tidak menurunkan sosok Dean sebagai kakak nomer satu di dunia. Dan sebagai rasa bangganya Dean belum bocor di puasa hari pertamanya, Sam dengan ikhlas lillahita'ala menyiapakan makanan buka untuk mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya terdengar suara adzan berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ADZAN!" pekik Dean langsung bangkit dari sofanya dan belari menuju meja makan teringat dia belum membuat makanan buka buat adiknya. "Sam maaf..._ " dengan paniknya, tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, dia sudah tertegun dengan meja makan yang sudah tersaji ala kadarnya dengan makanan buka puasa. dua gelas teh manis, dan membuat pancake kesukaan Dean. Tak lupa menggoreng kentang dan nugget beku yang tersimpan di kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat buka, Dean," Sam tersenyum manis dan duduk siap di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu, Sam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tidak dapat berucap. "Maaf, Sam...?" ada rasa bersalah di sana, dia yang seharusnya menyiapkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sam hanya menyerigai ringan, "Nggak pa-pa, anggap aja, hadiah, buat puasamu yang nggak bocor hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tertegun, tak sadar, ia sudah menyelesaikan hari pertama ramadhan dengan puasa penuh satu hari. Ada perasaan bangga juga, kerena memang awalnya dia tidak ada niat puasa, tapi akhirnya gol juga sehari penuh. Dean tersenyum kulum. "Baru hari pertama, Sam, pasti gol, aku," Dean percaya diri, malu dong, masak kalah sama Sam yang baru 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dah buka, Dean, wajib hukumnya langsung batalin puasa begitu mendengar adzan...," ajak Sam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya," Dean menyahut dengan tersenyum dan duduk siap membuka puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum, dan mereka baca doa bersama sebelum membuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya...,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temenin aku taraweh lagi, ya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPNSPNSPNSPNSPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah hari ke 15 di bulan ramadhan ini. Sudah setengah perjalanan menuju hari kemenangan. Kemenangan yang akan diraih Sam sebentar lagi, karena ia belum satu haripun bocor, dan dia juga sudah berusaha untuk menjaga amal dia, menjaga perbuatannya agar tidak tercoreng selama bulan ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dean, dengan segala godaan kanan dan kiri, dan rapuhnya iman pertahanan diri, dari 15 hari puasa, Dean sudah bocor 8 hari. Ia sendiri lupa apa saja setan-setan apa saja yang dengan suksesnya menghancurkan iman dia. Tapi apa mau dikata. Bocor ya bocor. Tapi tetap dia berusaha menjadi kakak yang baik buat Sam. Menemani Sam sahur dengan niat puasa satu hari full. Meski akhirnya dia sering tidak sampai gol di akhir hari, Dean selalu menyiapkan Sam berbuka puasa. Dan menemani Sam Shalat Tarawih. Terkadang, Dean harus menutupi dengan mengatakan dia masih puasa, yang sebenarnya dia sudah batal sejak tengah hari. Dean malu kalau harus mengakui kekalahannya untuk yang kesekian kali pada Sam, kerena dia tahu Sam belum batal sekalipun. Dan ia ingin sekali memberi hadiah, kalau memang Sam bisa puasa penuh satu bulan tanpa bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh, Sam, puasamu belum batal, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menggeleng denagn tersenyum, "Mudah-mudahan nggak bocor sampe nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AMIN!" Dean berucap penuh doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya tersenyum senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus kamu pengen hadiah apa, kalu bisa full puasa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tercenung dengan pertanyaan abangnya,"Hadiah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, hadiah…" Dean penasaran, anak 10 tahun seperti Sam, pasti ada sesuatu yang diinginkan tersimpan di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, aku nggak mau apa-apa. Puasa kan wajib, bukan nyari hadiah. Kalaupun dapet hadiah, juga dari Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JEDAK! Dean seperti ditampar oleh anak umur 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya... maksudnya , hadiah dari Allah itu sudah pasti, Sam, cuma, pasti pengen ada hadiah lain, dari ayah atau aku, gitu.. baju baru kek..." Dean berusaha menutupi gugupnya, dengan pertanyaan bodohnya. Dia lupa, sam bukan anak umur 8 tahun yang menginginkan hadiah atas prestasi puasa penuhnya, dia sudah 10 tahun. Tapi kalau misalkan ada anak umur 10 tahun yang masih meminta hadiah seperti itu, pastinya bukan Sam. 'Ya ampun, bego sekali, kamu Dean.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak mau apa-apa," ucap Sam lirih. Tapi tangannya langsung memainkan kaosnya, seperti ingin mengutarakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tersenyum menunggu; bagaimanapun juga, Sam tetap anak umur 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku cuma pengen ayah ada di rumah saat lebaran nanti, dan kita bisa Shalat Ied bareng bertiga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terpaku dengan permintaan Sam. Ia tidak menyangka keberadaan ayahnya saat lebaran nanti sangatlah penting bagi Sam. Ia pun menyadari sudah tiga kali lebaran ayahnya absen saat shalat Ied. Entah kasus apa yang dihadapi ayahnya sampai harus melewatkan lebaran bersama dua putranya. Ia tahu Sam kecewa, tapi Dean sudah melakukan apapun untuk menghibur adiknya, dengan selalu ikut takbir bersama anak-anak yang takbiran keliling kampung, dan malamnya. Dean tertegun dan menarik nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir, Sam, ayah pasti di rumah. Aku janji, ayahnya akan shalat ied bareng kita nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janji."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berjanji kalu tidak yakin bisa menempatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terkatup, dan mengangguk, "Iya, Insya Allah...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam pun hanya tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean benar-benar berdoa agar dia bisa menepati janjinya pada Sam. Iapun sudah mengatakannya pada ayahnya, dan ayahnya pun sudha berusaha untuk dapat menepatinya, dan sepertinya akan terkabulkan dengan dia tidak ada panggilan kasus hingga hari ke dua puluh sepulang dirinya dari kasus terakhir kemarin 10 hari yang lalu. John cukup bangga mendengar laporan Dean tentang Sam yang belum bocor puasanya, dan karena itu ia akan mengabulkan permohonan putra bungsunya yang amat disayanginya. Iapun merasa berdosa dan bersalah telah melewat tiga kali lebaran bersama dua putranya, dan ia ingin dapat menebusnya lebaran kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harapan tinggal harapan. Tepat 5 hari menjelang hari kemenangan, secara tiba-tiba John mendapat panggilan kasus di kampung lain. Sam sudah pasrah dengan lebaran yang sama seperti tahu lalu, tanpa ayahnya. Tapi ternyata itu belum seberapa dengan John yang harus membawa Dean ikut serta. Makhluk yang akan dibasmi kali ini, cukup kuat, dan ia pasti membutuhkan Dean untuk membantunya. Dean sudah memcoba untuk meneolak ikut, tapi ayahnya sangat membutuhkannya, dan jika ayahnya mengatakan dia membutuhkannya, berarti itu sebuah perintah yang tidak dapat dibantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang wajah kecewa Sam, yang akan ditinggal sendiri. Tapi lebih kecewa lagi Sam yakin ia tidak hanya akan merayakan lebaran tanpa ayhnya, tapi juga tanpa Dean. Itu yang paling berat. Ia selalu merayakan lebaran bersama Dean, tidak pernah Dean melewatkan satu lebaran pun tanpa Sam. Meski Dean terus meyakinkan Sam bahwa mereka akan pulang secepatnya bahkan sebelum hari terakhir puasa berakhir, mereka akan sudah sampai di rumah. Tapi Sam tidak ingin meyakininya. Dia lebih memilih untuk bersiap tidak bisa merayakan lebaran dengan kedua orang yang amat disayanginya, daripada harus kecewa dua kali lipat kalau ia yakin mereka berdua akan datang, tapi ternyata tidak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir, Sam, kita pasti sudah pulang sebelum shalat Ied, bahkan kita sudah ada di rumah sebelum kamu menyadari kepergiannya, kita," Dean tetap meyakinkan saat mereka bersiap untuk pergi. Sebuah peyakinan yang hanya dianggap peyakinan yang bodoh bagi Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sam hanya mengangguk, dengan air mata yang menetes. Dia tidak mau ditinggal, dia tidak mau sendiri, dia tidak mau sendirian saat lebaran nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Dean tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memeluk erat tubuh kecil adiknya. Sam membalas pelukan Dean dengan lima kali lebih erat, seakan tidak ingin dilepasakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sesak merasakannya. Sesak karena tercabik-cabik harus meninggalkan Sam, dan harus mengecewakan adiknya dua kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John memeluk erat putranya seakan meminta maaf, tapi sepertinya sudah tidak ada maaf buat ayahnya. Ia merasa ayanya sudah merenggut Dean untuk berlebaran bersamanya. Ia membenci ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam akhirnya hanya bisa melihat ayah dan abangnya pergi, entah untuk berapa lama, tapi ia yakin, akan lebih dari 5 hari seperti biasanya, yang pastinya tidak ada ada lebaran bersama. Sam hilang harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hilang harapan itu, Sam merasa tidak bersemangat untuk melanjutkan puasanya yang tinggal 5 hari lagi, 5 hari menuju kemenangan besar. Ia sudah tidak peduli lagi, yang ada hanyalah rasa benci. Benci pada ayahnya, benci pada Dean, benci a ditinggalin, benci buka puasa sendiri, dan yang paling besar, ia benci mengucapkan permohonannya sendiri. Tapi tetap ia berusaha untuk membatalkan puasanya apapun alasanya, terserah mau diterima atau tidak puasanya sama yang di atas. Yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang dua hari dari Hari Kemenangan, Sam semakin tidak bersamangat dengan hari lebaran. Sudah terbayang dia akan menghabiskan lebarannya sendirian. Dia tidak akan shalat ied. Tidak akan enak shalat ied sendirian, tidak enak shalat ied tanpa Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mendongak dengan suara lembut yanga memanggil namanya. Sebuah nama tersebut tipis di bibirnya yang sedikit terpaku. "Amanda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda adalah gadis manis yang sering melirik padanya malu-malu sejak hari pertama ia masuk di sekolah ini. Sam tidak tahu arti Amanda melirik dan tersenyum padanya, tapi yang pasti ia suka kalau Amanda tersenyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti sore mau buka puasa bareng di rumah? Mama bikin semur daging dan kolak plus es sekoteng,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menelan ludah. Ini sudah yang ketiga kalinya Amanda mencoba mengajak Sam buka puasa bersama di rumahnya, tapi selalu ia tolak dengan halus, karena ia selalu ingin berbuka puasa hanya berdua dengan Dean. Tapi malam ini tidak ada Dean, dia nggak mau buka puasa sendirian, dia benci buka sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Sam mengangguk dengan tersenyum menerima undangan teman baru nya ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam berdiri ragu saat ia akan pergi kerumah Amanda. Ia bingung haruskah ia meninggalkan pesan untuk Dean di atas meja, berjaga-jaga siapa tahu mereka pulang cepat, agar Dean tidak khawatir bila tidak menemukan Sam di rumah. Ia tahu Dean bisa kena serangan jantung kalau tidak menemukan Sam saat pulang nanti. Tapi mungkinkah mereka pulang malam ini. Sam tidak yakin. Tapi ia pun tidak ingin membuat Dean cemas kalau memang ia tiba-tiba pulang nanti dan menemukan rumah dalam keadaan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menimbang-nimbang, dan akhirnya melangkah keluar rumah tanpa meninggalkan pesan apapun di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, pokoknya aku pulang sekarang. Toh kerjaannya udah beres, kan?" Dean bersikukuh. Dia senang sekali mereka dapat menyelesaikan pekerjaan mereka lebih cepat dari yang diperkirakan. Berarti dia bisa memenuhi janji Sam. Tapi betapa kagetnya Dean, begitu mendengarnya, urusan Ayahnya belum selesai semua, dan mereka belum bisa pulang cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, tapi ayah masih ada urusan bentar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu urusan ayah, yang penting aku pulang dulu. Masalahnya aku sudah janji sama Sam, Yah...aku nggak mau mengkhianati janjiku. Aku bukan..." tapi langsung berhenti seakan tidak tega melanjutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John terdiam, menangkap kelimat selanjutnya yang belum terucap. "Ya, kau bukan ayah, Dean," dengan sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terdiam. "Maaf, Yah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John mengangguk dan tersenyum. Ia menghela nafas, "Oke, Ayah antar kamu pulang, tapi ayah pergi lagi. Ayah usahin besok malam sudah pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi besok malam takbiran, Yah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, Ayah usahain besok malam udah di rumah. Ayah juga nggak mau melanggar janji ayah. Sudah sering ayah mengecewakan adikmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kali ini, Ayah tidak ingin mengingkarinya," tekad John pasti. "Ayah janji, Dean."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk dengan tersenyum bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yuk, Ayah antar kamu pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean semakin tersenyum dan menghela nafas panjang dan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan satu setengah jam, serasa satu hari rasanya. Dean sudah tidak sabar untuk sampai di rumah dan melihat wajah binar Sam menyambut dirinya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap saat mereka tiba di rumah, sudah waktunya berbuka. Dean memikirkan, Sam buka dengan apa, ya, hari ini? Apa simpanan makanan yang ditinggalkan mereka, cukup untuk Sam makan? Mudah-mudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu si cantik impala melewati depan rumah kontrakan mereka, Dean langsung membuka pintu dan melompat keluar, bahkan mobilpun belum berhenti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"DEAN!" seru John kaget dengan aksi anaknya. Ia tahu Dean sudah sangat tidak sabar untuk dapat segera bertemu adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak papa, Yah!" seru Dean riang,menjawab kekhawatiran ayahnya. Memang dia sempat akan jatuh, tapi dengan sigap, kakinya yang mulai kuat bisa menyimbangi tubuhnya, dan menahan dia tidak jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah, Yah, lanjut pergi sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John memastikan benar anaknya tidak apa-apa,dan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"MAKASIH YAH!" seru Dean dengan tersenyum lebar melihat mobil ayahnya kembali melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tak dapat menahan senyum tak sabarnya melihat lampu menyala dari dalam rumah. Berarti Sammy ada di rumah. 'Sammy, aku pulang,' desisnya lega. Dan dengan penuh semangat ia berlari ke arah rumah, dan membuka kenop pintu, ia tertegun, pintu rumah dalam keadaan terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam?" panggil Dean seraya melongok ke arah dalam rumah melalui kaca jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sammy! Ini aku, aku pulang, SAM!" dengan menggedor pintu rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya diputuskan untuk memakai kunci serep yang dia punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keheningan langsung menyergap begitu pintu terbuka. SEPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SAMMY?" dean berlari ke kamar tidurnya, dan mendapati kamarnya kosong dengan dua tempat tidur yang super rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean lari keluar dan mengamati sekeliling ruang tengah. RAPI. Dean tertegun,Sam belum pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungnya langsung berpacu kencang. Diliriknya jam tangannya sudah jam 18:30, seharusnya sam sudah pulang dan ada di rumah. Tapi dia belum pulang. Kemana, Sam? Diperiksanya sekelilingnya untuk mencari mungkin sam meninggalkan pesan untuknya. Tapi tidak ada. Sam tidak meninggalkan pesan. 'Sammy!' langsung pucat. Dadanya mulai sesak. Dan hampir berlanjut pada serangan asma kalau tidak tiba-tiba ingat ada pesan telepon Sam meninggalkan pesan di sana. Langsung ia mencoba memutar pesan suara dari telepon rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menunggu dengan tidak sabar, 'Ayolah, Sam, tinggalkan pesan untukku,'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuuutt..., "Ng... ini aku,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tercekat penuh harapan dan lega dengan suara kecil adiknya akhirnya terdengar di mesin telepon. 'Sammy.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak tau, apa kalian sudah pulang atau belum, tapi buat jaga-jaga aku meninggalkan pesan ini. Aku sedang berada di rumah keluarga Howards, Amanda mengundangku untuk buka puasa bareng. Kalau kemalaman, mungkin aku menginap di sini. Ny. Howards sudah menawariku untuk menginap, dan aku pikir apa salahnya, toh aku bakalan buka puasa sendirian. Aku nggak suka suka sendirian.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terkatup dengan pesan suara Sammy. Suaranya begitu kecil dan memelas. Perasaan bersalah kembali menyergap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir aku baik-baik saja selama kalian," lanjutan suara Sam. "Tapi kalau kalian sudah pulang, jemput aku langsung ke sini, alamatnya Jl. Taman Hijau 21. Jangan khawatir aku sudah membawa pakaian ganti, jadi mungkin aku akan langsung ke sekolah besok. ..." kembali terdiam. "Ng... oke, sampai nanti. Bye ." suara Sam berhenti setelah nada tut yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menarik nafas dalam dalam, "Tunggu aku Sam, aku jemput kamu sekarang, Sam," tanpa pikir dua kali ia langsung lari keluar menuju alamat rumah keluar Howards.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak butuh waktu lama dan sulit mencari alamat yang dimaksud Sam. Dan Dean sudah siap untuk mengetuk pintu dengan kalimat, 'Assalamualikum, saya Dean, kakak Sam, mau menjemput Sam pulang.' Tapi segera diurungkan niatnya, saat dari jendela ia melihat gambaran kelurga sempurna di dalam sana, dan Sammy ada di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memelihat Sam tersenyum renyah di meja makan menikmati makan besar setelah berbuka puasa. Seorang gadis manis duduk di sebelahnya, yang ia yakini bernama Amanda. Ny Howards terlihat senang dengan kehadiran Sam, karena ia berkali-kali mengusap kepala Sam penuh sayang saat melayaninya makan. Juga Tn. Howards yang terlihat santai dan senang. Tapi yang membuat Dean lebih tertegun adalah apa yang mereka lakukan setelah makan malam. Mereka melakukan shalat tarawih berjamaah dengan Tn Howards sebagai imam. Sam dengan senang hati berdiri di samping kanan imam sebagai makmum, dan Ny Howards bersama Amanda dan adiknya perempuannya yang Dean yakini masih berumur delapan tahun, menjadi makmum di belakangnya. Hati Dean terenyuh dengan pemandangan yang ia lihat jelas dari jendela ini. Dean tahu, keluarga seperti ini yang didambakan Sam. Keluarga yang lengkap dengan ayah dan ibu, serta adik. Keluarga yang memiliki rumah tinggal tetap tanpa harus berpindah-pindah tidak pasti. Keluarga yang memiliki ayah yang selalu ada di rumah, dan bukannya pergi meninggalkan dua anaknya untuk mengerjakan pekerjaan yang aneh, dan keluarga yang memiliki ayah yang siap menjadi imam saat mereka shalat berjamaah. Ini keluarga impian Sam. Air mata Dean mengalir perlahan, menyadari Sam tidak cukup beruntung untuk memiliki keluarga semacam ini. Sejak ibu mereka meninggal karena suatu hal yang gaib, ayah mereka menjadi terobsesi untuk mencari pembunuh ibu mereka, dan membuat mereka harus hidup dari satu kota ke kota lain, meninggalkan kehidupan keluarga yang normal. Memang tidak masuk akal, tapi begitulah kenyataan yang mereka terima. Dan Dean selalu berusaha untuk membuat keluarga aneh mereka senormal mungkin untuk Sam. HANYA UNTUK SAM. Dan kalau keluarga yang di dalam itu adalah keluarga idaman Sam, bolehlah Sam menikmatinya meski hanya satu hari. Mungkin tidak ada salahnya jika Dean mengizinkan Sam untuk menginap bersama keluarga normal itu satu malam. Hanya untuk dapat melihat Sam tersenyum. Dan senyum Sam tersimpul saat shalat tarawih itu selesai dan Sam dengan santun mencium tangan Tn Howards.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menarik nafas dalam-dalam dengan tersenyum seraya menyeka air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai ketemu besok di sekolah, Sam," dan meninggalkan pekarangan rumah itu dengan pemandangan bagus di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Dean segera berangkat lebih pagi ke sekolah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sam, dan melihat wajah cerianya saat melihat dirinya. Dean sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Ia yakin, Sam akan datang bersama gadis cilik bernama Amanda itu. Tadi malam juga ayahnya meneleponnya, untuk memastikan kedua anaknya dalam keadaan baik-baik Dean mengatakan semua baik-baik saja, Sam sehat, karena tak perlu Dean menceritakan Sam menginap di rumah orang lain, meski hanya satu malam, atau Sam akan mendapatkan masalah besar. Tidak, ia tidak akan memberikan Sam masalah dengan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhrinya ia melihat tubuh kecil yang membawa tas besar hampir mengalahkan tubuhnya di pundaknya berjalan menuju gerbang. Ia datang bersama gadis kecil bernama Amanda Howards. Dean harus tersnyum kulum, penyakit magnit menggaet cewek yg menjadi kutukan keluarga Winchester secara turun temurun, sudah muncul dalam darah Sam. 'Itu baru seorang Winchester!' tak dapat menyembunyikan rasa bangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi cebol," Dean langsung menyapanya begitu Sam melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mendongak dan terpaku dengan sosok tinggi di hadapannya. Matanya langsung berbinar dan mulai berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean!" dan tanpa malu Sam langsung memeluk erat tubuh kakaknya. "Kamu sudah pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean merasakan pelukan Samuel yang hampir membuat Dean sesak nafas, "Ya, cebol, sudah aku pulang. Seperti janjiku, kan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk semakin memeluknya erat. Lama sekali Sam memeluk Dean dan sangat erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sammy, nggak bisa nafas," Dean yakin dia bisa kehabisan nafas kalau Sam tidak segera melepaskan pelukannya. Heran juga ini anak cebol punya kekuatan dari mana bisa meluk badan sebesar Dean sampai kehabisan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam langsung melepaskan pelukannya dan memandang takjub kakaknya. Pandangannya sepeti yang sudah tida bertemu bertahun-tahun, padahal baru juga empat hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan pulang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru aja, langsung ke sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memberikan mata tidak percaya pada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beneran, aku baru sampe. Kalau tidak percaya, tanya ayah, nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah sudah pulang?" dengan takjub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah,dong, masak aku dibiarin pulang sendiri, gimana kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum malu. Dean melihatnya dengan penuh kelegaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, Siapa nih?" Dean tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya, ini, Amanda Howards, aku tad_," tapi langsung dihentikannya. "Dia teman baruku," dan segera menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean hanya tersenyum mengangguk. Sam tidak mau cerita menginapnya terbongkar. Oke,deh Sammy, rahasiamu aman.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai,aku Dean, kakaknya Sam, yang paling keren. Kau suka, Sam, ya?" Dean mengenalkan dirinya dengan percaya diri. "AW!" Dean memekik dengan tendangan kaki Sam yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap, sebahagianya Sam dengan kedatangan Dean yang sesuai janjinya, Sam tak dapat menutupi kekecewaannya saat tahu ayahnya belum pulang, saat mereka pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bohong, Dean," sam merengut kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya maaf. Tapi ayah janji kok, dia mau pulang nanti malam," Dean meyakinkan adiknya yang kembali kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun kemarin juga dia janji mau di rumah pas lebaran, tapi mana, dia lebih mentingin kerjaannya daripada kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya karena dia terpaksa,Sam. Tapi kali ini beda, Sam, aku pastikan ayah pulang malam ini, so kita besok bisa shalat bareng."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sam tetap merengutkan wajahnya, "Jangan bikin janji, karena bukan kamu yang akan menepatinya. Kamu nggak bisa mengatur ayah kapan mau pulang. Kamu bukan ayah, Dean."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terkatup takjub. 'Ni anak makin lama-makin pinter aja, ngomongnya. Mau jadi pengacara apa, ya nantinya?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, memang sih, tapi paling tidak aku tidak pesimis, kaku masih percaya sama ayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya mengankat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah, Sam, masak hari terakhir puasa, harus dinodai dengan rasa benci sama ayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak benci, cuma melihat yang sudah-sudah saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama saja, Sam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, enggak," Sam bersikukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke!" Dean mengalah, dia nggak akan menang kalau main beginian sama Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yu ah, bentar lagi buka puasa, ntar kita ikutan takbiran lagi. Oke."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk lirih. Bagaimanapun Dean lah yang terbaik, yang selalu menepati janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka puasa hari terakhir disambut dengan penuh kemenangan oleh Sam. Dia akhrinya berhasil menuntaskan puasanya satu bulan penuh tanpa bocor satu haripun. Dean bersorak untuk kemenangan adiknya. Adiknya yang satu ini memang istimewa, dan selalu membuatnya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai shalat isya, sesuai dengan janjinya, Dean menemani Sam untuk ikut takbiran bersama anak-anak lain keliling kampung. Sesaat Dean bisa melihat kekecewaan hati Sam hilang dari wajahnya, karena ia tersenyum dan penuh semangat mengumandangkan takbir, tapi ia tahu hatinya masih gelisah menunggu kepastian ayahnya akan pulang atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean penuh harap saat mereka pulang dan sampai di rumah, ayahnya sudah menunggu di rumah sesuai janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harapan tinggal harapan, sesampainya mereka pulang ke rumah dari takbiran hingga pukul 11 malam, John Winchester belum juga sampai di rumah. Ayahnya belum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tidak akan pulang. Dia akan melewatkannya lagi," ucap Sam lirih penuh kekecewaan. "Aku mau tidur duluan, besok harus bangun pagi buat shalat Ied," seraya melangkah gontai ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sammy...," Dean berusaha menenangkan Sam, tapi ia tahu, Sam sudah tak perlu lagi ditenangkan, dia sudah dikecewakan untu kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah Dean marah besar dengan ayahnya kali ini, kalau sampai benar ayahnya tidak bisa pulang malam ini dan melewatkan lebaran bersama sekali lagi. Ayahnya akan mengecewakan Sam sekali lagi, dan sekali cukup untuk memperdalam kepedihan Sam. Entah Sammy bisa memaafkan ayahnya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hingga Dean menunggu sampai pukul 2 pagi, tidak ada tanda-tanda ayahnya pulang. Dan sudah dipastikan lagi ayahnya tidak akan pulang. Dean hanya bisa menarik nafas pasrah, "You are so screwed up now, dad," dan pergi tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat Dean mendengar suara pintu dibuka perlahanhanya dua jam setelah Dean sampai di alam mimpi, bersamaan dengan suara adzan subuh. Insting pemburunya langsung bangkit dan meraih pisau di bawah bantalnya. Ia melihat tempat tidur Sam, dan menghela nafas lega melihat sosok kecil adiknya masih terlelap tidur di sana. Ada penyusup masuk ke rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Dean bangun dan menjingkat keluar kamar. Bayangan hitam besar terlihat melintas di kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu waktu yang tepat, Dean lansgung menyerang bayangan itu, tapi bayangan itu melawan dan bisa menjatuhkan Dean ke lantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean, ini aku," setengah berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah?" suara ayahnya begitu melegakan telinga Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah pulang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti janjiku, kan?" John menyeringai penuh kelegaan di tengah kegelapan. "Mana Sam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangunkan, shalat subuh. Terus mandi, suruh pakai baju koko ini sama sarung," seraya menyerahkan tas berisi pakaian baru. "Buatmu juga ada di situ. Ayahnya mandi dulu, kita shalat ied sama-sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean takjub mendengarnya, dan harus tersenyum bahagia plus lega. Bukan karena ia juga mendapatkan baju lebaran baru, yang memang jarang terjadi, tapi karena ayanya sudah menepati janjinya pada Sam. "Terima kasih,Yah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi John tidak mendengarnya karena terlanjur masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean langsung berlari ke kamar dan membangunkan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sammy, bangun, Sam, shalat subuh,terus mandi, kita shalat ied hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar shalat ied, Sam segera terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sam liat ini, baju lebaranmu, ada baju kok sama sarung baru," seraya mengacungkan baju koko Sam dan sarung yang baru di hadapannya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terapaku melihatnya, dan tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang beli?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean semakin tersenyum simpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengira Sam akan tersenyum semangat dan bahagia mendengar kata 'ayah', tapi justru kebalikannya, dia langsung memanyunkan wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak mau pake,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Percuma ayah juga nggak ada, ngapain pake baju baru. Ayah nggak pulang kan, makanya dia ngirim baju baju buat minta maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terakatup dengan ucapan Sam. "Sammy_"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Dean melanjutkan kalimatnya, sudah terdengar suara tegas dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo cepet bangun, shalat shubuh, terus mandi, nanti kita telat buat shalat iednya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah Dean bisa melihat wajah Sam yang terpaku kaget dan langsung berubah menjadi berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat kilat, Sam berlari keluar dan langsung menemukan ayahnya berbalut handuk di pinggangnya baru saja keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terpana melihat sosok ayanya dan langsung menghambur ke pelukan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah pulang!" ucapnya lirih tapi pasti dengan berusaha memeluk utuh tubuh ayahnya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John tersenyum lega,"Ayah menepati janji ayah kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk di pelukan ayahnya,semakin mempererat pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John langsung menggendong tubuh kecil Sam dan memeluknya erat. "Maafkan ayah, nak, ayah terlalu sering mengecawakanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sam menggeleng, "Kita shalat bareng hari ini, sudah membayar hutang ayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John hanya terkekeh kecil. "Oke, Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, ng... maafin Sammy, Yah," ucapnya tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan ayah juga,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sammy mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John tersenyum lega. "Nah sekarang mandi trus shalat subuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melihat mereka dengan tersenyum. Sekali lagi air matanya mengalir pelan penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih membahagiakan untuk Sam selain dapat melaksanakan shalat Ied bersama seluruh keluarganya. Ia merasa ramadhan tahun ini adalah yang terbaik, dengan merasakan penuh kemenangan. Bukan baju baru kokonya, tapi kehadiran ayahnya saat lebaran dan bisa melaksanakan shalat ied bersama, menjadikan Ramadhan kali ini begitu sempurna, meski tidak ada ketupat dan opor ayam. Sam tidak minta lebih lagi. Ini sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesempurnaan itu diakhiri dengan kunjungan keluarga Howards yang datang membawakan ketupat opor ayam, rendang, dan sambel goreng hati untuk ketiga Winchester yang sudah berencana untuk sarapan di restauran cepat saji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean langsung menangkap merah pipi Sam dengan kedatangan mereka, tapi ia tahu Sam merasa bahagia dan cukup merasakan sebuah keluarga yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu, keluarga kita tidak senormal keluarga Howards, Sam, tapi aku berusaha untuk membuatnya normal buat kamu," bisik Dean lirih, "Kita bisa seperti keluarga Howards, Sam, sama seperti saat satu malam kamu bersama keluarga itu kemarin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tercekat dengan ucapan Dean, ia menoleh ke arah Dean, tapi Dean hanya tersenyum simpul tanpa kemarahan, membuat Sam harus tersenyum lega. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Terima kasih, Dean.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqabalallahu mina waminkum wasiamana wasiamakum ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;END&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-4893907356997493123?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/4893907356997493123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/very-winchester-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/4893907356997493123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/4893907356997493123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/very-winchester-ramadhan.html' title='Fic: The Very Winchester Ramadhan'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-1904795491840048410</id><published>2010-10-13T06:53:00.001+07:00</published><updated>2010-12-22T17:10:13.453+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Slash'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Multichapter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Drama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Duckie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In English'/><title type='text'>Fic: Precious (Chapter 3/3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Author:  clueless_psycho&lt;br /&gt;Fandom/Genre: AU/Drama/Slash &lt;br /&gt;Pairing(s): Dean/Castiel&lt;br /&gt;Rating: R&lt;br /&gt;Word Count: 20,304 &lt;br /&gt;Warnings: AU, deaths, but not the major one, war, gore &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The potatoes, carrots and parsnips were roasted with garlic and onions, seasoned only with salt and pepper in order to keep their natural flavors as much as possible, and there was a whole roasted chicken and more flatbread to go with them. Castiel also made banana cake for dessert and Dean wasn’t going to question where did the banana come from.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As he was cleaning the kitchen later after lunch, Dean decided that he had to start paying attention to what he ate and he had to exercise again, because otherwise he would end up obese in that house. It was true that there were lots of things to do in the house, there were endless chores, however, it was not like a real exercise. He would ask Ash to spar with him tomorrow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That’s if Jake didn’t show up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He knew he shouldn’t feel pessimistic but he had the feeling Jake would never come back. Either he got sidetracked or he couldn’t find his way back here or their superior in the base camp didn’t think it was important to collect him and Ash. It was a scary thought but he knew that if they didn’t hear from Jake, the day after tomorrow he and Ash just had to risk it and leave the house to find their way back to the base camp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The thought of leaving Castiel alone in that house felt rather unbearable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He found a bottle of cooled cider and took it to the back porch with him. He sat down on the step, like he did yesterday, and drank the cider as he watched Castiel from afar. Castiel was collecting dry laundry: bed sheets, pillow cases and clothes, piling them in a large basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulping half of the bottle content, Dean left it on the porch and was headed to Castiel. He pulled a dry bed sheet from the clothesline, folded it carelessly and put it on top of the pile in the basket. Castiel smiled at him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Do you often have guests?” he asked Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel tilted his head, his expression flat. “Guests?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes. Do you often have them?” Dean asked. “You know, travelers who got lost in this area, like us? Perhaps?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel didn’t look at him when he said, “No.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I saw stuff in the library and the weapon room,” Dean pushed his luck. “They have someone else’s names on them.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I can’t remember everything.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And the forest there,” Dean jerked his chin towards the cemetery, “how many people have you buried there?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel didn’t answer. He was still avoiding Dean’s eyes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cas,” Dean pursed his lips. “Tell me something about you. And the house. Make me understand.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel lowered his eyes. He took a deep breath, then he said, “But why should I tell you about myself and this house? You’re going to leave.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And then he walked away, leaving Dean with the laundry basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel looked calmer when Dean saw him in the kitchen. He was reading a book. Dean put the basket on the table, and Castiel looked up from the book, asking, “What do you want for dinner?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean smiled. “What do you do when you have no one else in the house?” he asked back. “Do you cook too?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel closed the book. The leather cover had “Recipes” written on it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Let’s do something different,” Dean said. “Let’s do a barbecue outside. It looks to be a clear night. It’ll be perfect for barbecue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel looked out of the window. “I think you’re right,” he said quietly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll prepare the grill,” Dean said. “Will the patio be all right?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel nodded, he looked happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went to get Ash so Ash could help Castiel with the food while he would work on making a grill. Ash had his nose buried deep in the books in the library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The problem with these books is, they were mostly written in Sabean,” he tapped his fingers on the page he was reading. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tilted his head. “Sabean?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes. It’s a very old language, like Hebrew and it was a language of power. Most wizards and witches use this language.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean chuckled. “So you really believed that this house was once owned by a wizard?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash snorted. “I really wish now that I studied Sabean instead of Latin and Hebrew, however, those languages seem more important than others and there isn’t actually anyone teaching Sabean. And this symbol, the symbol that’s drawn all over this house, I think it’s a binding symbol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Binding from what?” Dean asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash shrugged. “I think it’s binding what,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay. Do you think you can take a break from trying to figure out what is what in those books?” Dean asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash frowned at him. “Why?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I told Castiel that maybe we can have a barbecue for dinner, for a change. I’m going to prepare a grill on the patio. Can you help Cas with the food? He might not have any idea what kind of marinades he would need for a certain meat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash grinned from ear to ear. “Just leave it to me then,” he closed the book. “I’m the king of barbecue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And he waltzed away from Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite that there were only the three of them and there was a lack of beer or other alcoholic drinks, the barbecue was a blast. Ash made beef patties, salad, a big bowl of barbecue sauce, and iced lemon tea, and Castiel made more bread, real bread this time, not only flatbread. Dean grilled the beef patties non-stop and they also had fish and chicken. Ash said that if there was a guitar he would play it and sing. Dean was glad that there was no guitar. laughed at Ash’s non-stop jokes even at the ones that Dean thought weren’t funny at all. However, if Castiel was happy, then he was happy too and he felt he could live like that for the rest of his life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was about midnight when they finally called it a night and left the patio in a mess. Dean went to his bedroom, took a bath, changed his clothes and found that Ash had made himself home in his bed again. He was sleeping with his hand clutching Bobby’s journal. Maybe he was about to read some to Dean but his eyes couldn’t hold on waiting for Dean to come out of the bedroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean pulled the book from Ash’s hand. He didn’t mean to open it, but it flipped open anyway and he ended up reading the page.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March fifteen. In the morning Victor told me that Bill’s knife is in the room holding the weapon collection. I mentioned to him it isn’t possible, we buried the knife with him. I told him that he could be seeing a similar thing. Victor insisted that it’s Bill knife, so we went to the room together so I can prove it with my own eyes. Indeed the knife is there and there’s no mistake that it’s Bill’s knife. It has Ellen &amp;amp; Bill 1970 craved at the base of the blade, it was Ellen’s gift to Bill when they got married last year. But how come something we have buried to resurface? Maybe there’s indeed some ghosts or spirits living in this house. Maybe Bill didn’t die peacefully, maybe his ghost still stayed to tell us something. We should’ve salted and burned Bill’s body and the knife so the soul won’t come back to haunt us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dug his teeth into his lower lip, thinking. Could it be that the Jesus figurine and rosary were really Kubrick’s and they resurfaced although he had buried them with him?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He closed the book and put it on the nightstand, then he went to Castiel’s bedroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To his surprise, Castiel’s bedroom was much simpler than the bedrooms he and his friends stayed in. The bed wasn’t as big and it was without a canopy. The furniture wasn’t richly carved, they seemed to have been made of left-over planks and woods.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why didn’t you take any of the bedrooms?” Dean asked as he climbed into the bed. He hoped the bed was sturdy enough to hold his and Castiel’s weight together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Because I’m not supposed to,” Castiel answered. He carefully sat down on the bed, as if he was afraid it would fall off. “I’m only a servant.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A servant to whom? There’s nobody else here,” Dean reached out for Castiel’s arm, hinting him to get closer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“There doesn’t need to be anyone else here,” Castiel answered. He lay next to Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Then why didn’t you escape? Try to break free?” He stared into Castiel’s eyes, searching for the answers to the many questions written all over this house.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m not a slave, why should I try to break free?” Castiel asked back.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean smiled, then he shifted closer. “Are you still going to tell me some bedtime stories?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel’s eyes softened. “What do you want me to tell you about?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The tower. The window.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mujahidin blew it off,” Castiel said solemnly. “Or maybe it was Gengis Khan’s soldiers. I don’t remember. It was a very long time ago.” Castiel rolled his eyes, amusement flickering inside the blueness, betraying his flat expression.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Liar,” Dean whispered, then he laughed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel rolled around, giving him his back. Dean pressed his chest there, snaking his arms around Castiel’s shoulders. The bed wasn’t comfortable but this was how he wanted to sleep for the rest of his life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean woke up before dawn and as much as he wanted to just stay in bed with Castiel, he forced himself to climb out of the bed and returned to his bedroom. Ash was still sleeping too, snoring loudly as usual, so Dean went to use the bathroom and changed his clothes into t-shirt and BDU pants and put on his boots. Then he went running.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was still dark outside but darkness had never bothered him at the slightest, not even now that he knew the small forest was a cemetery and Kubrick was among the dead buried there. He ran along the perimeter, carefully scanned the area with his eyes, making sure that if Jake’s dead body was there, he didn’t miss it. No dead body meant that Jake may survive until Badakshtan and soon he would come back to collect them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But if he didn’t come back tomorrow, either he or Ash had to go.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean stopped himself from thinking about the latter, he really didn’t want to choose whether to stay or to leave, he didn’t want to have to make the decision, knowing either way, someone would get hurt. He circled the area once again, then he jogged towards the kitchen where Castiel was waiting with two mugs of warm milk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You could’ve woken me up before leaving,” Castiel said. “I almost got a heart attack, thinking that you’re gone too like Jake.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I will tell you if I’m really going to leave.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel gave him a look of disbelief, then he went to the stove to start preparing breakfast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean went to the bedroom to take a shower. He was on his way back to the kitchen when he saw that the mess in the patio hadn’t been cleared. Typical Castiel, he must’ve expected him to clean it. He didn’t mind, after all, he was the one who came up with the barbecue idea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He started collecting dirty plates and glasses and put together left-overs in a bowl. He was picking up a spoon from the floor when he saw Jake’s water bottle leaning at the pond wall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frowning, he picked up the bottle. The weight told him that it was still full. He didn’t remember seeing it there last night. Had Jake forgotten about the bottle after filling it up? If he had, how did he survive the desert?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the water bottle clarified one thing: Jake didn’t survive. Jake couldn’t survive without water.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But he should realize that he had left the water bottle and he should’ve come back.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sat down on the edge of the wall, breathing slowly, eventually, trying not to think the worse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But it was very obvious: Jake’s dead. His water bottle was here. If he didn’t die from thirst, he would’ve been murdered by the Taliban from whom he might ask for water.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It felt like the world had suddenly stopped moving and time froze and there was no air to breathe in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean closed his eyes and heard Ash shouting, “Dean! Dean! Where are you?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He opened his eyes just as Ash barged into the patio and Ash saw the water bottle. He gasped with his eyes widened, then he ran away.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the time Dean reached the bedroom, which was only a few second behind Ash, Ash had stuffed his belongings into his backpack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You know what? I’ve enough of this. I’m leaving. I don’t care if you want to stay here. I don’t want to die here!” Ash blurted frantically.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash, listen to me,” Dean grabbed his shoulders, trying to stop him. “Listen to me!” Ash stopped and glared at him. “Just calm down for a while and we’ll talk about this, okay?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t see why I should talk about this. It’s obvious. People died here. It’s written in Bobby’s journal. His friends died. He probably died too. And they were all buried there!” Ash jerked his chin towards the window. “I don’t want to live in a house where there’s a cemetery nearby with probably five hundred dead people who all died here!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash…” Dean took a deep breath, exercising patience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dean, how could you be so blind? Cas must’ve bound us with a spell. This house is bound by a magic spell that no one can break. We will all die here and will be buried in the cemetery. Perhaps that’s the price Cas had to pay to live happily ever after. You know what? That makes me feel like Hanzel. He feeds us with good food because he’s going to slaughter us and give our blood and soul to whatever devil he’s worshipping in order to stay young and alive. I don’t want to be the one next on the chopping block.” Ash shook his shoulders, freeing himself from Dean’s strong grip. “And if I have to fight you or kill you to be able to get free, I’ll do it.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean let it go. “Ash, look, this is not wise.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah. But I don’t wanna be wise and dead. I’m going.” Ash zipped up the backpack and hauled it up his shoulders. “You see, I think Castiel is also a Wendigo, except that he uses magic to change his appearance.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You can get caught by the Taliban out there!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I. Don’t. Care. Good bye, Dean,” and Ash brushed past and exited the bedroom. “And good luck surviving.” He ran. Dean didn’t get to stop him, so he ran after Ash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Ash was faster. They ran along the corridor and when they were descending the stairway, Dean took the chance and jumped up and they fell, rolling down the stairway to the floor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A book flopped from an unzipped pocket of the backpack. Dean quickly noticed that it wasn’t Bobby’s journal, but a book with strange characters on its leather cover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash pushed him away with all his might and grabbed the book. Clutching the book with his hand, he got up and escaped. He was as slippery as an eel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash! Put the book back in the library!” Dean called out as he made to get up too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash took time to turn around and give him a mocking glare. “This is the book Bobby talked about in his journal. I’m taking it and I’m going to find out what is it all about!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You can’t!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Ash had walked out of the door. Dean sped up, trying to catch up with him. But when he reached the door, Ash had disappeared between the trees. He called out Ash’ name as he ran towards the gate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Ash was nowhere to be seen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Again, Dean went to check the house’s perimeter, looking for any signs of Ash. Or Jake. But he couldn’t find neither. No matter how fast Ash ran, he didn’t think Ash could be that far that he couldn’t see him at all from where he was standing at the gate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He leaned on the gate, suddenly not knowing what to do. He supposed he should step out and find Ash. But he couldn’t. What if he dropped dead like Kubrick? He found that he couldn’t even think of leaving the house, leaving Castiel, dead or not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The air hung heavily around him, making him feel suffocated and high up in the sky, the clouds were pregnant with rain. He decided that he just had to let it pass for the time being and hoped that Ash would survive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went back to the house, ignoring the hollowness that the house suddenly felt now that there were only Castiel and himself inside.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash’s gone,” he informed Castiel as he sat down at the table in the kitchen. The air was thick with an aroma that suspiciously smelled like fried sausages. Castiel was still working at the stove and he didn’t turn his head when he heard it. It was almost as if he had expected it. “He took a book from the library with him. I found Jake’s water bottle in the patio.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel put a plate in front of him and much to his surprise, it indeed consisted of scrambled eggs, fried sausages and toasts. All American breakfast minus bacon strips. Dean forced himself to smile. “Thanks for the effort,” he said. He felt nauseous, like his stomach flipped and churned. He didn’t really want to eat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“May not taste as good as what you usually have in your hometown,” Castiel commented as he poured a cup of coffee for Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jake’s dead, isn’t he?” he asked, ignoring the food.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel stiffened. “I don’t know.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“His water bottle’s back to this house. Just like Kubrick’s Jesus figurine and rosary.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel set the coffee pot on the table and sat down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tell me about the house,” Dean said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maybe you should eat first,” Castiel said. “You must be hungry.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t want to eat not knowing what happens to Jake and Ash,” Dean steeled his heart. “You know, don’t you?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel tilted his head, as if considering whether it was worth it to tell the story. Dean supposed that it shouldn’t matter anymore, whether or not he knew the story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel’s voice floated in the air when he spoke again, “This house was owned by a wizard, a long, long time ago.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what was written in Bobby’s journal was true. Dean wanted to comment but he held his tongue back.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He was strong and powerful and greedy and arrogant. He collected… things… from around the world, not only weapons. He loved his collection so much that he didn’t want anyone to take them away from him even after he died. So he put a spell all over the house, all over the whole land.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The symbol on the bed’s ceiling?” Dean asked before he could stop himself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You can’t take away anything from the house,” Castiel continued, ignoring Dean’s question. “You’ll die trying.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was a little hard to swallow and he was glad he hadn’t started eating. “Kubrick didn’t steal anything, we didn’t find anything that belonged to this house amongst his possession,” Dean said. “Jake swapped the water. Ash took a book, but I haven’t found his dead body.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel took a deep breath. “Aren’t you going to eat?” he asked, sounding helpless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean picked up his fork. “Where’s your food?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ate already.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Liar.” Dean cut one sausage into three and stabbed one piece with his fork. “Open your mouth.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No, please.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eat or I won’t.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel opened his mouth and took the sausage inside, chewing it slowly. Dean ate the other two pieces. He felt that he wasn’t actually nauseous.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So why did Kubrick die?” he asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kubrick stole the knife. The knife went back to the room by itself. So did the cigar. It’s part of the spell.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And now the water also had made its way back to the house,’ Dean added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The wizard… he was a greedy man. Anything belonged to the thief would be possessed by the house when the thief died.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean put his fork down. That explained a lot. The clothes Ash wore, Bill’s hunting knife, Bobby’s journal, Kubrick’s figurine and rosary. He drank his coffee. Putting the cup down, he talked again, “So you’re saying, if you steal something from this house, you’ll die. What if you don’t steal anything?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel tilted his head, looking straight into Dean’s eyes. “But, can you not try to steal anything from this house?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean supposed, Castiel was right. There were way too many temptations in the house. Even if you, say, didn’t like weapons, you have to admit the fact that the katana may worth two million dollars. THere were other things, jewels, art and the books. It was easy to just slide them into your backpack and walk away.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The knife that had gone and resurfaced probably belonged to King Arthur, several lifetime ago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even the water, people must have known that the water in the fountain healed wounds and illness. It was easy to fill a bottle with it, pocket it and leave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Except that no one ever made it and left alive. They all died. They ended up buried in the yard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean could see the reasons. Kubrick stole the knife and cigars because he was greedy and he loved luxury. He could sell the knife in the black market and net half amillion dollars and change retiring from the army to spend the rest of his life in the Bahamas. Jake stole the water because it healed and although originally he only needed something to get through to the nearest village, he could sell the water too for a fortune once he was back in the US.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash stole the book because it was the root of all knowledge. Ash was like that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And they all didn’t make it to the next day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He wanted to believe that Jake and Ash survived but as he entered Jake’s bedroom and saw his back pack on the bed, he knew that it was an empty hope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now he knew how Bobby felt at having to bury his friends. He hoped that Kubrick was the only one he had to bury.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He sat down at the edge of the bed, breathing slowly as if every pull was precious to him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He supposed Castiel must’ve been alive because he figured that he should’ve just stayed in the house rather than stealing something and leave. Or maybe he didn’t dare to know whether he could make it alive if he left the house without stealing anything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Had Castiel buried his friends too? Was he like Bobby who came to this place on his own will or was he like him, bumping into this place accidentally? How long had he been here? Probably not long, he didn’t look much older than Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He shook his head to stop his train of thoughts. He was hungry but he didn’t want to eat. Not until he knew what happened to Ash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He wondered, if it took them twenty hours to find Kubrick dead at the gate and almost the same amount of time to know that Jake might not survive, how long would it take him to find out that Ash was dead?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He saw the book just as the Sun was setting down. It lay on footpath that led towards the gate, as if it had been walking slowly and was taking a break before it continued to the library. Dean practically ran out of the house. He picked up the book and ran to the gate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean couldn’t describe how it felt, to see Ash there, on the grass and he was as stiff as a candle. He crouched down and cradled Ash’s head, holding back tears, wishing he could still feel blood gushing inside his veins, under the skin. But there was nothing anymore, there was no life anymore, no breath, no blood current. Ash had died trying to leave the house, trying to steal something from the house. He didn’t even know whether he had to say something, but he knew that Ash couldn’t hear him anymore so he rocked for a while, which was more to calm himself down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then he carried Ash into the house. Castiel met him in the foyer, he didn’t say anything, he just took Ash’ backpack and the book and set them aside. Dean carried him to the patio and laid him on the floorjust like Kubrick the day before. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s too late for the burial, isn’t it?” Castiel asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeed it had gotten dark and they just had to go through the night with Ash’s corpse on the patio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You can rest, I’ll take care of this,” Castiel said. “I’ve cooked dinner if you want to eat something.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m not hungry.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel looked at him for awhile, then he asked, “Could you get me some bedsheets and a water jug please?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now Dean knew why there were so many bedsheets in the house. It was practical.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wanted to tell Castiel that he didn’t want to take any orders from Castiel anymore, he wanted to just stay there and mourn because Ash was his friend and Ash had been a good friend to him, weirdness aside, and Ash was young and should’ve had a great future, he wanted to start his own online game if he made it out alive from Afghanistan, but he didn’t and...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Dean Castiel was right. Perhaps it would be easier for him if he do something rather than staying here and at Ash’s rigid body, wishing that this was unreal. Maybe he didn’t have to know that Ash had gone, forever, and he wouldn’t be coming back, for eternity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He got up and went to find the bedsheets and the water jug for Castiel. He ignored the food Castiel had cooked for him. He didn’t want to eat anymore, knowing that there would be no Ash to share the food with.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When he got back to the patio, Castiel had stripped Ash’ clothes. He asked Dean to fill the jug with water from the fountain and he did, like a robot. When Castiel wiped Ash’s body with the water, Dean wished, he wished that Ash came back to life because perhaps the water didn’t only heal wounds but also brought back lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Ash lay stiff and cold.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He stayed still, watching Castiel work. It took sometime until he finally calmed down, that he didn’t have to make too much effort to hold back tears. He rubbed his face and took a deep breath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel wrapped Ash tightly with the bed sheet and asked Dean to get a blanket to cover Ash for the night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean obeyed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Castiel’s done, he said, “I think it’s better if you take a break. You’ll have a hard day tomorrow.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean looked up, staring at Castiel, not being able to talk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You’re going to have to dig the grave for Ash,” Castiel said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He didn’t sleep that night, he stayed next to Ash with a candle to give some lights, while Castiel retreated to his bedroom. He tried not to think too much. He supposed he should pray, he still remembered some basic prayers, both in English and in Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But he also knew that Ash didn’t need any prayers. For him, everything had finished. If he prayed, it was for himself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the morning broke, Dean went up to his bedroom to wash his face and brush his teeth, then he went to get a shovel from the kitchen. There was a glass of warm milk on the table and a basket of flatbread, fresh from the oven, or so it looked, although Dean believed now that Castiel didn’t need any oven or stove or even flour and eggs to make bread. He ignored them and walked out to the back yard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Sun was still slowly rising at the horizon, there was a soft pink color at the base of the sky, if the sky had any base.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He stood for countless minutes staring at the trees that marked the forest. Castiel had never said it was a cemetery. Ash made the assumption. He just had to believe it. Except that, he didn’t want to believe it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absent-minded, he began exploring the small forest. He checked the trees one by one, not knowing what to look for, not ready to find anything. He knew that perhaps he should just try to dig, but then, if there were really dead bodies other than Kubrick’s there, it would be a disrespect to the dead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He finally stopped and went to where Kubrick was buried. He chose a patch of land and began digging, hoping that he didn’t dig up someone else’s grave. It was difficult to dig a grave all by himself, more difficult because he had a thousand emotions swirling inside him with sadness as the most overwhelming one of all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was half-way through when his shovel hit something and he cleared the soil and pulled out a silver flask. He brought it closer to his eyes and read “Robert Steven Singer, 1965” engraved there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sat on the ground. He didn’t know whether he wanted to laugh or shout in anger. It was like a joke to him. Everything that belonged to the dead people went back to the house. Except Bobby’s flask. Did Bobby die clutching the flask so tightly that even the spell couldn’t take it out of him?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whatever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But now he knew that Bobby was dead too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He helped Castiel carry Ash from the patio and once again, he descended into the grave to arrange Ash’s position while Castiel watched. Then he shoved soil to cover Ash completely, while Castiel chanted his strange prayers. He didn’t bury any of Ash’s possessions with him, he knew that they would just resurface the next day or so and he didn’t want to know that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why didn’t you mark the graves?” asked Dean as he jabbed a tree branch on to Ash’s grave. It felt like a millennium since he last spoke to Castiel, yet it was only last night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Because it’s too hurtful to remember,” Castiel answered quietly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Did you bury them all?” asked Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel didn’t answer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Will you bury me if I die here?” asked Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I hope I don’t have to do that, but yes, I will.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean left Castiel in the cemetery. He went to the foyer to collect the book Ash tried to steal from the library. He left Ash’s backpack where Castiel left it. He didn’t know what to do with it. Castiel would know.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went up to the library to put the book back in the shelf, but he found himself sitting on the sofa there, breathing hard. It was surreal, the whole thing was surreal. He opened the book, flipped the pages open, unable to read the characters or understand the symbols. He wished he had internet. It was easy to find almost anything in the interest these days.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A piece of paper fell from between the yellowish pages to Dean’s lap. It was almost as yellow as the book pages. Dean took it and recognized Bobby’s handwriting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Page 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m binding you here&lt;br /&gt;So you will live on even after I have left this world&lt;br /&gt;You will watch my prizes&lt;br /&gt;You will not be able to take my prizes away &lt;br /&gt;No one will be able to take my prizes away&lt;br /&gt;For my prizes are precious&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby must have been trying to translate the book. He opened the book again, thumbed it until he found page fifty three and saw the same symbol with the one on his bedroom’s canopy with a row of characters next to it. That must be the spell. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean took a deep breath. Immortality sounded a very long time. It must’ve been very lonely when you have to go through it without a company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He put the book on his lap and leaned back. He saw Bobby’s journal on the table, it was open.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He supposed that there was no harm anymore in reading the journal now that he had known that Bobby was dead too. He took it and read the open page.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March thirteen. We’re finally here, in the house. It sort of frightening because at one moment you don’t see anything but trees and the rocky mountain, another you see the house, standing tall in front of you like it erupts from the Earth. But the truth is, I didn’t feel any danger about the house. I know danger when I feel it. This isn’t like any of the haunted houses I’ve ever stepped into. I couldn’t feel any ghostly or evil presence. I’m sure what the old woman in the village told us about the cruel wizard is wrong. Besides, how come a wizard in this area bore the name: Shirley? It reminds me of Laverne and Shirley and I miss The Lucy Show now. And why did he choose to live this in the middle of nowhere in Afghanistan? Why did it have to be Afghanistan? Because he didn’t want to people to know? Because he didn’t want people to have access to his house? Because he had seen the future that Afghanistan would be a conflict area that it’s very difficult to get here? There was no turning back and we walked past the gate. The land is beautiful and serene and there’s a small farm at the left side. Bill went up to the door to knock on the heavy wooden panel. We were convinced that no one would listen. We have decided that if that was the case, we would just barge in. But indeed the door was opened from the inside and a man in a long robe and a cloak like an Afghanese held it open. Bill asked, “Are you Shirley?” He neither nodded nor shook his head, he had the expression of one who had seen the rise and fall of the Roman Empire and the Nazi. He said, “No, my name is Castiel.” He has the bluest eyes I’ve ever seen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He woke up hungry and found that he had fallen asleep on the sofa in the library. Outside the window, the sky was dark but he knew that it was still afternoon. He checked his watched. It was almost four pm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He took his watch off and set it on the table. He decided that he didn’t need it anymore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He got up and went to the kitchen. Castiel wasn’t there. There was no sign that he had cooked something. The flatbread and the milk were still on the table, they had become very cold. The kitchen smelled stale and felt very, very hollow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He ate a piece of the bread, found it taste like a cardboard, then he washed it down with the milk, which tasted like chalk. Then he began searching the house. But Castiel wasn’t anywhere, not even in his bedroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was about to give up and go back to his bedroom when he saw the door that led to the tower, at the end of the corridor of the third floor. Of course, Castiel could be there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He opened the door and began climbing the endless stairway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The stairway seemed to be longer than he remembered it, as he climbed it slowly, he felt like he could see faces of those who had sought fortune and died here. It wasn’t fair. He and his friends weren’t seeking fortune. They only needed a little help. Neither of his friends deserved this. They should be able to return to the base camp and enjoy their future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But then, what kind of future waited for them? Getting stabbed or shot by the Talibans? Safely going back to America and finding that life wasn’t what they had been looking forward to when they were in the war zone?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An age seemed to have passed when he finally reached the top. However, seeing Castiel there, standing at the window, looking out at the snow top mountains, wiped away the exhaustion. He was wrapped in a goatskin cloak, the wind blowing from the outside made the string float and dance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel didn’t turn around when he spoke, “It was the Mongol’s soldiers. They were like you, they were wounded and needed shelter and they came across this house. Then one of them decided to smuggle out a little gold statue. It was very very old, even by the standards of this house. But he died at the gate and the statue went back to the living room.” He paused, taking a deep breath. “His friends were scared and figured that they couldn’t walk out of the gate. So they came with the idea of stringing a rope from here to the tree there, just outside the gate. The problem was, there was only a tiny window here. So they blew it.” He stopped.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Did they succeed?” Dean asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel lowered his eyes. “Yes, they did. They used arrows and bows and they managed to slide out.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean remembered the bows in the weapon room&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So they successfully escaped?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“They fell to the ground just as they passed the fence.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“How do you know it was the Mongol’s soldiers? Did they leave a note like Bobby’s journal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Because I was here.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean took a deep breath. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He bound me here to watch over his possessions. I was only five years old when I was brought here. He died when I had just reached adulthood. He was a greedy and arrogant wizard, but he was very powerful and people are scared of him. I couldn’t break the spell. I tried, I read those books. No one can either.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He had a sick sense of humour, there's one thing in the house, just one, that if taken past the threshold will break the spell, but the only clue he left was that it was the most Precious of all his belongings. I don't know what it is, i never did. So I didn't let people in, so I wouldn't have to bury them,” Castiel paused and lowered his eyes. “But sometimes, it gets very lonely without anyone to talk to when even the birds and insects avoid this place.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean let silence fall between them, then he said, “So you let people in.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I shouldn’t have let you in,” Castiel said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean didn’t say anything. He went to stand behind Castiel. Castiel’s hair smelled of spices and sweat and a little musk and he felt a ting of sadness at the pit of his stomach, knowing that he had to eventually leave, like it or not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But if I sent you away, you could be killed by the Taliban even if the house didn't kill you,” Castiel continued.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So the choice was: got spellbound or got murdered? But it wasn’t a choice anymore for him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I saw you and I couldn’t bear the thought of you getting killed,” Castiel said again. “or the thought of not being able to see you again.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For him it was when they came up here for the first time to see the full moon. He couldn’t imagine keeping on living without being able to see Castiel anymore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He felt bad because it wasn’t love at the first sight but if he could turn back time, he would make it right.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“All I want is for someone to stay here, someone I can cook for,” he stopped again and Dean was tempted to continue: someone you can slave around the house, chopping woods, doing laundry, tending the farm. “Someone who can make me feel that I serve a purpose in this world other than a house guard.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wanted to say that there were worse ways of living than becoming an immortal guard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So, are you going to leave like the others?” he asked as he lifted up his chin and stared at the horizon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean remembered Kansas City and Sam and his parents and Las Vegas and the Afghani refuges, and how much he would miss the view of the snow topped rocky mountains, but he didn’t say anything. Instead, he snaked his arms around Castiel’s shoulders and wrapped himself with warmth radiating from Castiel’s body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel was stiff for one second, but then he relaxed and leaned back on Dean’s chest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March eighteen. Bill kept on saying that the water is the most precious and we laughed at him. Victor said: but what could be more valuable than these weapon collection? Do you know how much this sword cost? I bet this came from the Heian era. People will pay as much as forty million dollars for this piece. What can you do with forty million dollars? I know what I will do with that much amount of money. Bill said: ah, but what if you’re rich but sick? This water is like the water of life. It heals. What is more valuable than health? Idjits. I didn’t say anything. I’m in the opinion that the books are the most precious of all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~end&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-1904795491840048410?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/1904795491840048410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/1904795491840048410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/1904795491840048410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-3.html' title='Fic: Precious (Chapter 3/3)'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-8211534159190248495</id><published>2010-10-13T06:49:00.003+07:00</published><updated>2010-12-22T17:13:40.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Slash'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Multichapter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Drama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Duckie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In English'/><title type='text'>Fic: Precious (Chapter 2/3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Author:  clueless_psycho&lt;br /&gt;Fandom/Genre: AU/Drama/Slash &lt;br /&gt;Pairing(s): Dean/Castiel&lt;br /&gt;Rating: R&lt;br /&gt;Word Count: 20,304 &lt;br /&gt;Warnings: AU, deaths, but not the major one, war, gore &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The following morning Dean woke up just before dawn. Without thinking he put his clothes and went out to chop some woods for the kitchen. Castiel didn’t show up to collect the wood but Dean could see him through the kitchen window, moving about to prepare breakfast. Dean smiled. He really needed to get out of this house. All he did was eat, sleep, bath and do house chores. He would get rusty that way. And pot bellied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He brought the woods to the kitchen and received a soft smile as a thank you. He could see marks of creased pillow case on Castiel’s cheeks and sleepiness hanging at his eyelashes. Dean wanted to touch the marks and feel the warmth of the skin. But instead he asked, “What’s for breakfast?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before Castiel could answer, Ash came barging in, panting as he clearly had been running very, very fast, and he screamed in horror, “Kubrick’s dead!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubrick lay facedown near the gate of the house. At first Dean wasn’t sure that it was really Kubrick. The clothing suggested an Afghani: tunic, pants, even headscarf. Then he turned the body around and found that it was really Kubrick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judging from his physical condition, Dean would say that he had been dead for at least twenty hours, which meant, he died not long after he had breakfast the previous day. Dean couldn’t really tell what caused the death except that Kubrick‘sheart stopped suddenly. There didn’t seem to be any injuries, internal or external, except when he fell and his face hit the tiny rocks between the grasses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile Ash quickly rummaged into Kubrick’s clothes, the folds and pockets, and found nothing but a Jesus figurine and a rosary with a silver crucifix. Dean remembered that those two things were missing from Kubrick’s personal stuff in the bedroom. He could be leaving his wallet and gun and knife, but he never left the figurine and rosary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Which meant: Kubrick was really trying to leave. That was why he took his most precious belongings with him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile, Ash looked disappointed to find that Kubrick indeed hadn’t stolen anything from the house.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They carried Kubrick’s body into the house, to the patio so Castiel could prepare him for the burial. Naturally, no autopsy to determine the cause of the death could be done as no one had the skill. Besides, it didn’t seem important. Kubrick’s dead, that was the simple reality. Ash took Kubrick’s dogtag and pocketed it. Who knows if we’ll make it back to the base camp,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Where are we going to bury him?” asked Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“There,” Castiel pointed out at the small forest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash gave Dean a meaningful side-long glance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They got two shovels from the storeroom and went to the forest. Jake stayed to help Castiel prepare Kubrick for the burial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We should be careful that we don’t dig someone else’s grave,” Ash said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean snickered. “I thought that’s what you want to do, to get some hard evidence that this area is really a cemetery. Maybe we can find Bill, Victor, and George’s bodies here. Or their bones.” They were the people in the journal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash gave him a face, then they settled on where to dig.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I can’t believe this,” Ash said. “We were in the house, doing things, going on with our lives, and Kubrick died not far from where we were, and it took us twenty hours to find him.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We didn’t expect it,” Dean said. He didn’t remember if he checked the gate when he searched the yard yesterday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, that’s the irony. And what killed him? He was a tough one to kill. He was strong, healthy and he took care of his body. He couldn’t just drop and die.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It could happen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, what happened to you? Why don’t you get suspicious? Aren’t you at least curious? Strange things happen here. Jake’s wound healed in a matter of hours. Kubrick died trying to leave the house. There’s hot water in the bathroom all the time while there’s no electricity or gas here. There’s someone else’s journal in the library talking about some kind of curse.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean didn’t know what to say. He just didn’t feel any danger in the house and if he didn’t feel that way, he didn’t know why he had to be so concerned with things. If anything, it was Castiel who should’ve been afraid of them. But he knew he had to understand Ash’ anxiety. ‘“Okay. Look, if you really want to, after we bury Kubrick, let’s leave. Let’s go back to the base camp, or at least try to.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash looked at him in shock. “Are you crazy? We could bump into some Taliban and get ourselves beheaded.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So, what’s the better option? We don’t have any communication means here but our legs.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash stopped shovelling and dug his teeth into his lower lip. Castiel and Jake were coming, carrying Kubrick’s body, which was wrapped in a clean bedsheet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake fished something out from his shirt pocket. He had been very quiet. Dean knew he was in a big shock. He reached out to hand them toDean. “Here. Kubrick them with him.” was the crucifix and rosary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You want me to bury them with him?” Dean asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I think that what he must’ve wanted. He never let anyone touched them. My personal Jesus, he always said.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean set the figurine and rosary next to Kubrick and then Ash hauled him up and they finished the burial. Castiel closed his eye with his hands pressed together under his chin, he was reciting something that didn’t sound like Arabic or Latin. Jake was praying too, his lips were trembling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean found a small branch of a tree and used it to mark Kubrick’s grave. He knew that it wouldn’t last long, but at least, for the time being, it would look like a normal grave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They went back to the house in silence. Dean wondered how many people were buried there and why. Were there also people from the villages around the house? Why did they even bother to take dead bodies that far to get buried? Were there more travelers who didn’t have their luck to find Castiel’s house before hunger and thirst beat them to death? Or were they like Bobby, Bill, Victor and George? What happened to them? Did they just drop dead in the yard like Kubrick? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wondered if he should read Bobby’s journal completely. He wasn’t comfortable with reading someone else’s journal. He wondered whether Bobby had died too like his friends. Maybe there was a reason he left the journal in the house, maybe he wanted people who had the luck to stumble into the house to learn something.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll prepare something to eat,” Castiel said quietly, his voice as gloomy as his face. “I know it’s probably difficult,” he paused, swallowing hard, “but you didn’t have any breakfast and you did some hard works.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cas, we’re stationed in a war zone,” Dean said. “We see dead bodies everyday. If we let that affect our appetite, we would’ve been dead ourselves a long, long time ago.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash nodded although he didn’t seem to be as high-spirited as he used to be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But you’re tired too, so please don’t trouble yourself with preparing food for us. We’ll do it when we feel like eating something,” Dean added, ignoring Ash’s face which suddenly looked annoyed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s no trouble at all,” Castiel shook his head. “You’ve done a lot, all I can do is feed you.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If you insist,” Ash quickly said before Dean managed to say something saintly again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel looked terribly happy now. “Okay.” And he went to the kitchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean decided that if cooking made Castiel happy, then he shouldn’t get in the way. In the meantime, he would just take a bath because he reeked of sweat and soil. To stay in the kitchen and later in while he was still dirty like that looked like a dishonor to Castiel’s meals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As usual, he felt better after taking a long hot bath. He wondered if there was something in the water that could lift people’s mood and energy. He put on a clean shirt and BDU pants, but he chose a pair of slippers instead of his military boots. He didn’t see Bobby’s journal on the night stand anymore so he assumed that Ash had put it back wherever he took it from.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As he was passing the weapon room to go back to the kitchen, Dean found himself allured to the weapon room. He didn’t know why, he just felt that he needed to take a look at the weapons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And he found that the empty holder wasn’t empty anymore. A beautiful silver knife rested there, shiny and gleaming as if it had just been polished.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean stared at the weapon, stunned and amazed. It was one beautiful knife. Simple but very well made. And he knew that Ash was right, one didn’t use such weapon to slaughter a goose. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then, if Castiel didn’t use it to slaughter an animal, where had it been previously?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean touched the knife very with lightly with his fingertips, feeling the cold metal warm under his skin like a cat curling when someone stroked his neck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean supposed he really shouldn’t be bothered too much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He resumed his trip to the kitchen. When he passed the living room, he steeled himself in order not to poke his head inside to see if the cigar box was there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash and Jake were already in the kitchen when he arrived. Castiel made a huge pot of beef stew and flat bread and Ash and Jake had started to eat without waiting for him. Dean sat down and Castiel put a bowl of the steaming stew in front of him. Then he sat down, keeping his distance from Dean, although he too had a bowl of stew in front of him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They ate in silence, Jake and Ash seemed to bethinking, although one could tell that they had different concerns. He tried not to think too much, he was still pretty shocked at Kubrick’s death but he wouldn’t show it to his friends. They would get even more anxious. Instead, he watched Castiel eat and found that it made him happy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was Jake who spoke first after he washed his lunch with a glass of ginger ale down the throat. “You see, because I’m good now, I think we should leave. We have disturbed you enough.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel stiffened In his seat. I... I don’t mind,” he said. He sounded hurt. “I rarely have guests. You are all nice people.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake took a deep breath. “Please don’t get me wrong. If it’s up to me, I would love to stay here for the rest of my life. You’re a terrific host, even if we can’t do anything to repay your kindness. But we have duties and we should go back.” He paused. “We have to report Kubrick’s death.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“They might think that we all are dead already,” Ash snickered. “We’ve been missing for … I don’t know… four days?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean nodded.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, they’ll be in for a big surprise,” Jake said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Are you really up to walk back to the base-camp?” asked Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake nodded confidently. “Yes, I’m sure I can do that.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Just because the wound has closed doesn’t mean that you had completely healed,” said Castiel. “You could get an infection, or... or the healing flesh breaks...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll be fine,” Jake held his ground. He could be stubborn when he wanted too. “I just can’t let people think that we’re all dead while we’re not.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash laughed. “You sound like you’ll make it out alive from this country.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why not?” Jake shrugged. “I tell you what. Why don’t I go alone, back to the base-camp? It’s easier to move when I’m alone. I can disguise myself as local, like Kubrick did. Maybe I can get a horse, or a mule, or a jeep and I’ll get to the basecamp faster. Then I’ll come back here with an adequate vehicle, a helicopter perhaps, to pick you all up.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash curled up his nose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why don’t you wait for another day?” Castiel asked carefully. “We’re all shocked by Kubrick’s death, we might not be thinking clearly right now, no offense. Why don’t you take a rest and tomorrow when you’re much better, you can go. It’ll be much easier for you.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sounds like a better idea to me,” Ash said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake gave up and agreed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although a nap sounded terrific after spending all morning digging and backfilling, Dean felt restless. He cleaned the kitchen, noticing that Castiel slipped away as soon as he began washing the dishes and that made him laugh under his breath. He was pretty sure that the main reason why Castiel wanted them to stay was so that he could use them to do house chores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He found that he didn’t mind IN the slightest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the kitchen clean and shiny, he decided that he could chop some wood or tend to the farm to while away the time and also forget about Kubrick. It was tragic, but he wasn’t going to muse over it for the rest of this life. People died. Life went on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Half way towards the chopping wood place, Dean caught a glimpse of Castiel and turned around to get a better look of him. Castiel was on the patio, Dean just realized that he could see the patio very clearly from where he was standing. Castiel was filling a jug with the water from the fountain. Dean tilted his head, wondering why Castiel used the water from the fountain to fill the jug. Why didn’t he use the water in the kitchen? He decided that he would ask Castiel later. He kept on watching until Castiel finish filling the jug and took it inside. He picked up the axe, chose some wood to put on the chopping blocks and began the hard work.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At some point he again caught a glimpse of Castiel at one of the windows on the second floor. He remembered it to be Jake’s bedroom. What did Castiel do in Jake’s bedroom? Wasn’t Jake napping?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash showed up, stopping his train of thoughts. From the dirt staining his jeans, Dean could tell Ash had been tending the farm again. Dean put the axe down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Did you put the journal back in the library?” Ash asked. “Because I didn’t see it in your room or in the library.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean frowned. “I thought you put it back in the library.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nope,” Ash shrugged. “I’ll look in the library again.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I think you should leave it there. You shouldn’t read someone else’s diary,” Dean said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He’s dead. Bobby.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We don’t know yet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If he weren’t, he would be very old and probably suffering Alzheimers. Most likely, he didn't sound too sane, all that talk of curses.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash,” Dean pursed his lips.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash gave him a look, then said, “Okay.” He slipped his hands into his pocket, then he furrowed his eyebrows. “Oh I forgot.” He fished into his shirt pocket, and pulled out two cigars. “I took them from the living room. Here, have one. Relax a bit.” He handed one to Dean. “Now we know that Kubrick didn’t steal anything.” He grinned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wasn’t very much into smoking, but he made exceptions for good cigars like the one Ash gave him. He took it to the porch and sat down on the step. He wished he had a beer. He’d kill for a can of very cold Heineken. But he lit it anyway. He took a deep drag and tried not to grin at the rich taste of the tobacco leaves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks for chopping some more wood,” he heard Castiel speak. Castiel sat next to him and he had a mug in his hand. “Here, I’m sure you need this.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean laughed and took the mug. It was cold. It had some gold colored liquid inside that looked suspiciously like beer. “Beer?” he asked, hopeful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apple cider,” Castiel answered.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He laughed again and drank it. It was good. Still didn’t beat very cold beer though, but he could live with it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He set the mug on the step and took another deep drag of the cigar. “I saw you in Jake’s room,” he said before he could stop it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel gave him a side-long glance. “I saw Ash in your room,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean smiled. “I explained.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel shifted his head and stared into the horizon. “Do you want me to explain?” he asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean laughed. He decided that it was the tobacco that made him feel light and easy to laugh. He leaned his head closer to Castiel and whispered in deep, deep voice, “Are you like… jealous?” Castiel smelled of spice and ash and a little sweat and cotton and musky and lavenderish, and it made Dean feel heady.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel stiffened but he didn’t say anything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sipped his cider again and continued smoking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jake will be ready to travel tomorrow,” Castiel said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nice to know that.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel got up. “I’m going to start cooking for dinner.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean caught his hand, stopping him. “No, please, don’t worry about it. Just sit down with me.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You’ll get hungry soon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ve starved before. It won’t kill me. Please, just sit down.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel looked at him, flustered, but he sat back down again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Over the horizon, the Sun had begun to set.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naturally, Ash complained at the lack of proper dinner and at the sandwiches Dean prepared from flatbread, cold smoked beef, some lettuces and sliced tomatoes. Castiel looked devastated, but Dean gave him a threatening glare every time he tried to get up from his chair. Meanwhile, Jake looked much, much better than earlier, in fact, Dean had never seen him better before even when they were going through tests to enter Special Force. Jake went about topping up their empty mugs with more ginger ale or cider and slicing tomatoes. Dean was convinced that Castiel would want him to stay here. Jake looked to be the right person to repair the roof and the attics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the end, Dean gave up. Castiel got up, saying, “I’m going to make something for Jake to take up tomorrow.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash’s face lit up right away. “I’ll help.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean knew that Castiel would end up having to cook double. He got up too. “I’m going to call this a night,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel smiled. “Thanks, for everything.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No worries,” Dean smiled back.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake stayed in the kitchen, and Dean had the idea that Castiel would get him to scrub the giant cooking pot that had seen better days.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went straight to his bedroom, took a bath – he felt like he had grown an addiction to the hot water – and put on a tunic and a pair of loose pants from the wardrobe. He found that they were very comfortable. Maybe they were well-washed before. Well-used too. He only shrugged and went to the window.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The full moon had changed into half-moon, sort of, although Dean believed that it was more the clouds that hid half of the moon behind it. He could see the rocky mountains from where he was standing, but he couldn’t see the snow topped peaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He suddenly wanted to go up the tower to have a good look of the mountains. He was so going to miss the mountains. He missed them already. However, he wondered if Castiel would allow him to go up there himself. There seemed to be some secrets etched along the walls of the corridors that led to the tower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was about to leave the window and go to the bed when he saw a silhouette of someone entering the patio. He thought at first that it was Castiel, judging from the gamis the person was wearing, after all it was too dark in the patio to see things clearly. Besides, his bedroom was pretty far from the patio. But he stared until he could see that it was Jake and Jake was filling his water bottle with the water from the fountain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anything interesting?” again, Castiel’s voice behind him surprised him. Dean turned around, smiling sheepishly like a little boy getting caught with his hand in a cookie jar. “No. Just Jake. He’s filling his water bottle with the water from the fountain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somehow that surprised Castiel. “No, he can’t do that. He shouldn’t do that.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean frowned. “Why? You gave him water from the fountain,” he pointed out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes, but...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Am I disturbing?” Dean heard Ash ask. He turned his head to see his friend standing at the door.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No, no, we’re just talking,” he said. Castiel didn’t look too happy to see Ash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I can come back later,” Ash mentioned and that made Dean want to laugh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why?” he said as he casually took Castiel’s hand and led him to the bed. “Why don’t you just sleep in your bedroom?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash looked shocked. “Are you kidding?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean furrowed his eyebrows. “Are you scared, Ash?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, we have just buried Kubrick today,” Ash blurted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean nodded. “So you’re scared.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash sighed but he definitely wouldn’t admit that he was scared.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay,” Dean shrugged, then looked at Castiel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I… I’ll go back to my room,” Castiel pulled his hand from Dean’s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean smiled gently. “There’s plenty of space in the bed.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, right,” Ash quickly padded towards the bed and climbed up. “You can sleep in the middle.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I can read you a bedtime story,” Dean added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel smiled. “If you wish.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash groaned. “But not that scary story about the Wendigo again,” he said as he slid under the blanket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What about the Wendigo?” Castiel asked as he climbed up the bed and settled between Ash and Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, we were young and we were stupid,” Dean started.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, damn right. You and Sam. Stupidest people on earth.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But we survived,” Dean insisted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What’s a Wendigo?” asked Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A Wendigo is a human who turns into a monster because it consumes human’s flesh in order to stay alive,” Ash said before Dean could beat him into it. “And indeed they live forever.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh,” Castiel chuckled. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But that’s not even the scary part,” Ash added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Are you going to tell him or are you going to let me tell him?” Dean cut in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, okay, right. You’re there, you can say things accurately. I’m still in the opinion that you and Sam are the stupidest people in the world,” Ash said as he pulled the blanket up his head. “I’m going to sleep now.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Good,” Dean mocked him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel looked to want to laugh but he didn’t. Dean shifted closer to him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So what’s the story?” asked Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, like I have just told you, we were young and we were stupid,” Dean pulled up the blanket to cover his and Castiel’s heads and when he heard Ash moan, he threw his leg over Castiel’s and kicked Ash’s leg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He must’ve been sleeping for only a couple of hours when he woke up. His watch told him that it was a little before midnight. Castiel slept soundly next to him, he looked peaceful and terribly happy. He wasn’t disturbed at the slightest by Ash’ loud snoring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean got out the bed, putting on the slippers and walked out of the bedroom. He went to Jake’s. The door to Jake’s bedroom was slightly ajar, so Dean took a peek and saw that Jake wasn’t sleeping. He was reading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He knocked on the door gently and announced his name and Jake told him to come in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why aren’t you sleeping?” Dean asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I couldn’t,” Jake shook his head. He had put his book aside and Dean could see that it was a Tom Clancy novel, not anything from the library. “I tried. I couldn’t. I feel like a five year old getting too excited at the thought of going on a camp tomorrow.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But you will need the energy,” Dean pointed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake shook his head again. “I feel very strong. I’ve never felt this healthy before.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“That’s good, but I’m still in the opinion of...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m fine, Dean. I know it’s the water that heals me. Castiel cleaned my wound using the water from the fountain. It has a thorough effect in the body. Imagine if I drink it.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh yeah, about the water. I saw you filling your bottle with the water from the fountain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You shouldn’t.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Who told you that?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Castiel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And why shouldn’t I?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t know. He said you should’ve taken the water from the kitchen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake frowned. “What’s the difference?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t know, but he’s our host and we have to respect him.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s only water and I only took a bottle. There's plenty more in the fountain, it’s like a spring, it doesn’t stop. I’m going to need the water to survive the desert.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Can you put the water back in the fountain and refill your bottle with the stuff from the kitchen? Please?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake looked at him like he was out of his mind, but he said,”Okay. If that worries you so much.” He climbed out of the bed and took his water bottle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wanted to follow him to the kitchen and make sure that he swapped the water, but he decided that he should trust Jake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went back to his bedroom and snuggled next Castiel, breathing the scent of his body as he slowly drifted back to dreamland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel woke him up. Judging from the dark sky outside the window, it wasn’t even dawn yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jake’s gone,” Castiel whispered.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What?” Dean jumped out of the bed. At the other side of the bed, Ash rolled over, muttering something incoherent in his sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jake’s gone,” Castiel repeated as if Dean was too dumb for words. “He’s not in his bedroom. I checked.” He stopped. “He took the water with him.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean looked up. “He had swapped the water with the one from the fountain,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel frowned. “Did you see it with your own eyes?” he asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That stabbed like a Swiss army knife to his guts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He should’ve taken the water from the kitchen, not the fountain,” Castiel said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What’s with the water from the fountain anyway? Anything I should’ve known?” Dean snapped. “He’s going to brave the desert, he needs water to survive, I don’t see the difference between the water from the fountain or the kitchen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The water is…,” Castiel started again, but Ash interrupted him, “Look, if you want to have some lovey dovey fight, do it somewhere else. I’m trying to sleep here.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean took time to take a leak in the bathroom, wash his face and brush his teeth. When he exited the bathroom, Castiel was standing rigid by the door. Dean took his hand, closed it around his fingers to soothe him and led him out of the bedroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake had taken his stuff with him, there was nothing left, as if he didn’t plan to come back. Dean didn’t blame him. He sat down at the edge of the bed, thinking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If you’re so worried about the water, I can go after him and take the water back,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now Castiel looked at him with horror in his face. “You’re leaving too?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean got up. “If I have to.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No, actually, the water isn’t so important.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You don’t seem to think so,” Dean teased him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel’s face flushed deeply. He turned around, giving Dean his back. “I’ll go prepare breakfast.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean let him go. He watched as Castiel glided away, then he took a deep breath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He searched Jake’s bedroom once again, making sure that he didn’t miss anything, then he left, closing the door tightly behind him. The room next to Jake’s was Kubrick’s former bedroom. The door was ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without thinking, Dean entered the bedroom. It was still as it was when he searched the room the day before. They hadn’t decided what to do with Kubrick’s stuff. Dean supposed if they left it there, there should be no problem. Except, well, Castiel might not like to keep a dead man’s stuff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was already at the door when he felt something familiar. He turned around and saw the Jesus figurine and rosary with silver crucifix on the nightstand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean didn’t go to the kitchen right away. He decided to check the yard, the gate and the whole perimeter. He didn’t find Jake’s dead body at the gate like Kubrick, but that didn’t make him feel relieved. They didn’t know about Kubrick until after twenty hours, although he had searched the entire estate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He stood, staring at the cemetery, wondering if he should go after Jake. He didn’t really want to go. He felt... happy there. He had never felt like that before, although he had grown up in a perfect American family. But there was something about Castiel, he seemed lonely and could use some company, and he didn’t mind doing that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He supposed he could send Ash to go after Jake, but that would be selfish, like plunging Ash into a pool of crocodiles. He didn’t doubt Ash’s combat skill, it was just that if it was his idea to go after Jake, he was the one to do it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He would come back here to collect Ash. He just needed to make sure that Jake was all right. And maybe he could talk Castiel to go with him to Kansas City. That would be perfect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went to the kitchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel cooked enough for a party of fifty. He seemed to be very distraught that he used cooking to calm down. He didn’t even seem to notice that Dean had arrived in the kitchen and sit at the table until he turned around and almost squeaked in surprise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I didn’t see you coming,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You were busy,” Dean smiled. “What do we have to do with these?” he jerked his chin at the food on the table.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eat them?” Castiel offered an opinion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean laughed. Castiel took the coffee pot and poured a cup for him. “Anyway,” Dean said as he entertained himself with the intoxicating aroma of the steaming coffee, “I’ll go to make sure that Jake is all right.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel put the coffee pot on the table, his fingers were trembling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll come back,” Dean tried to sound convincing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And just how are you going to find Jake?” asked Ash who showed up in the kicthen like a Jack in the box. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean shrugged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I drew Jake a map last night,” Castiel said. “If he follows the map, he’ll be in Badakshtan around mid-day today.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maybe the cell phones work outside this area,” Dean said. “We have a sattelite uplinked ones.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Then maybe I should go,” Ash offered. “I missed my cell phones.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Worth bumping into some Taliban?” Dean mocked him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash shrugged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m sure Jake will be fine,” Castiel said as he sat down at the table.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Let’s wait for a couple of days. If help doesn’t arrive, one of us should go find Jake,” Ash said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fair enough,” Dean nodded.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash mentioned that he didn’t want to work in the farm again, so Dean volunteered. He noticed that some crops were ready to harvest: potatoes, carrots and parsnips. He was becoming a big fan of food made from freshly cut crops like that. Just thinking about baked potatoes with melted cheese on top made his stomach grumble although he had just had a huge breakfast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was about to carry the basket full of crops to the kitchen when Ash showed up. He was waving Bobby’s journal. “I found it,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Where is it?” asked Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“In the library,” Ash answered, shrugging. “I didn’t remember putting it back there.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maybe Cas did. After all, you’re stealing his books.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash looked offended. “I’m only borrowing them, okay?” He saw down on a rock and began thumbing the pages of the journal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean said. “I gotta take this to the kitchen. You don’t really need an audience for your reading session, do you?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash stared at the book. “I’ll read it later then.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean laughed. “Why is it so important that I should listen to your reading? Why don’t you just read it and give it to me later to read?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s not fun that way,” Ash closed the journal and slipped it into the back pocket of the jeans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Whatever,” Dean shrugged. “I gotta take a bath after this. You can meet me in the bedroom if you want.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean was half-way towards the kitchen when Ash called his name out. “What?” he yelled back, turning around.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Do you think Cas is also Christian?” Ash asked as he jogged towards Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t know. Why does it matter now?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Because, I found a Jesus figurine and a rosary in the library, just like the ones Kubrick had.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean thought that he shouldn’t do it, it was like doubting Castiel. He still thought that as guests, they really shouldn’t stick their noses where they shouldn’t. But he couldn’t hold himself back. He took a bath after delivering the crops to Castiel, then he went to the library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like Ash said, the Jesus figurine and rosary sat on a small table and they looked exacly like Kubrick’s. The more he examined them, the longer he stared at them, the more he was convinced that they were Kubrick’s. But how could they be Kubrick’s? He put them next to Kubrick’s body before filling the hole with soil. He buried them with Kubrick. How on Earth did they find their way back to the library? Did Castiel dig them out of the grave? He didn’t think so.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even from the library, he could smell the aroma of lunch being cooked. He smiled. It was always a pleasure to try to guess what Castiel cooked. Castiel never seemed to run out of ideas or ingredients. He wouldn’t be surprised if one day Castiel served them sardines or salmons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He walked slowly towards the kitchen, entertaining himself with the aroma. They said anticipation was already half the fun, and he took his sweet time for that. Still, hunger didn’t stop him from visiting the weapon room again. After all, it was next to the library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There was nothing unordinary about the weapon room. Dean had reached the point where he had memorized everything, not only the kind of weapons but also where they were placed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He started examining them one by one, not sure what he was looking for. The weapons seemed to have come from various era, different timelines. He stopped at what looked like a hunting knife, also made of silver. It wasn’t like the knife that was thought to be missing the other day, it was a different kind of knife. It was big and bulky and Dean could imagine it was used to hunt big bears like kodak or grizzly. The handle was covered by leather and he noticed a small engraving at the base of the blade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He lifted it up and tried to read it. It said: Ellen &amp;amp; Bill, 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Continued at &lt;a href="http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-3.html"&gt;part three&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-8211534159190248495?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/8211534159190248495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/8211534159190248495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/8211534159190248495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-2.html' title='Fic: Precious (Chapter 2/3)'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-6293335818252723873</id><published>2010-10-13T06:44:00.003+07:00</published><updated>2010-12-22T17:12:10.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Slash'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Multichapter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Drama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Duckie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In English'/><title type='text'>Fic: Precious (Chapter 1/3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Title: Precious &lt;br /&gt;Author:  clueless_psycho&lt;br /&gt;Fandom/Genre: AU/Drama/Slash &lt;br /&gt;Pairing(s): Dean/Castiel&lt;br /&gt;Rating: R&lt;br /&gt;Word Count: 20,304 &lt;br /&gt;Warnings: AU, deaths, but not the major one, war, gore &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Summary:&lt;/span&gt; Dean, Kubrick, Jake and Ash were US Special Force members stationed in Afghanistan. An attack got them separated from the basecamp and lost in the mountainous area. They came across a house, kept by Castiel who fed them, let them stay the night and tended Jake’s wound. Nothing seemed to be out of the ordinary until Kubrick was found dead upon leaving the house.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alpha and beta readers: seraphim_grace and randrews25&lt;br /&gt;Special thanks to my unofficial cheerleader: singerofdark &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So take my hand &lt;br /&gt;I’m a stranger in the strangest land &lt;br /&gt;I’ll return the favour &lt;br /&gt;Slide into my heart &lt;br /&gt;We’ll hide there in the dark&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strangest Land – Tom McRae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s a full moon,” Castiel spoke quietly, his voice floating in the air like smoke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean shifted his head to the window so he could see the sky outside and it was indeed a full moon, the soft beam brightened the sky and it reminded him of colorful lights in Las Vegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll show you something,” Castiel said again as he handed Dean the last plate to dry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They were in the kitchen, washing the dirty plates and glasses and spoons and forks. Castiel had told Dean that he didn’t need to help him, but Dean insisted because Castiel had been very kind to feed him and his friends and give them a place to stay the night, this was the least he could do to express his gratitude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although, dish-washing turned to be a little hard to do as the plates were made of very fine porcelain, the glasses crystal and the spoons and forks and knives silver, they could have come from Louis XIII’s palace if Dean may say so about them, and Dean was used more to handling guns and hunting knives than silver eating utensils, and there was no electric dishwasher. Still Dean enjoyed it, he enjoyed being around Castiel, who wore a gamis, a robe made of kaftan, like an Afghan woman, and moved so gracefully as if his feet didn’t touch the ground at all and the correct term should be “glide”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel took a candle in its candlestick and Dean did the same and he followed Castiel. They walked toward the stairway, passing doors that led to rooms. They passed the living room where Kubrick was smoking a cigar and drinking wine while playing solitaire chess, using a set made of ivory. They passed the library and Dean saw Ash was browsing leather bound books, as thick and big as pillows, yapping about the lack of electricity that prevented him from booting up his self-made laptop and accessing the net. They went up to the second floor and Dean could hear Jake’s heavy breathing from behind the nearest door from the stairs and he was glad to know that Jake was getting better so fast after Castiel tended to the wound caused by a knife in his left thigh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They walked up to the third floor- which turned out to be a maze of corridors and Dean was convinced that if Castiel suddenly disappeared while they were there, he would never find his way back to the living room; Or he would, but not until another century had passed and if he was still alive by then, and the house would be exactly the same.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel finally stopped in front of a huge wooden door with a rusted handle and hinges. It wasn’t locked but Castiel had to make a real effort to make the door budge a little, so Dean helped and decided that the door weighed at least a tonne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This leads to the tower,” Castiel said after Dean had pushed the door enough to make a gap for them to slide through. There was a stairway behind the door, made of river stones, but Dean didn’t remember having seen a tower attached to the house. Naturally he was wrong and he decided that he had to stop guessing or making any assumptions about the house because the house was clearly not average.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They began climbing the stairs, Castiel didn’t make any sound at all except for his even breathing while the soft whisper of Dean’s military issued boots shushed against the hollow cylinder stone walls and followed by the noises of his panting after several tenth of steps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You okay?” asked Castiel without pausing or looking back at him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, peachy keen,” Dean answered, trying to sound cheerful and brave, although he wished that at the top of this seemingly endless stairway, there was his mom’s awesome roast beef sandwiches that he missed so much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We can stop here and go back if you want,” Castiel offered although he didn’t show any intention to stop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wanted to tell him that he had gone through worse when he went through tests to join the Special Forces. Two weeks in Hell seemed to be more appropriate. But he stayed quiet and followed on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When he finally saw the door at the end of the stairwell, Dean felt like his lungs were going to burst. He stopped and took a deep breath while Castiel opened the door. Dean had stopped counting Castiel’s strangeness, so he held his tongue back and went after Castiel’s heels.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They entered an empty room, dark except for the candle light and moonbeam flowing through the huge hole in one of the walls. Dean took it as a window, although it looked more like a King Kong smashed a hole with one hand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Come here,” said Castiel, jerking his head toward the make-shift window. “You can see things best here.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What things?” Dean asked, approaching Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then, as the whole scenery outside the window came into view, Dean forgot to breathe or even close his mouth for a minute. He couldn’t even get his brain to think of the right word. Fantastic. Magnificent. Beautiful. Awesome. Other. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heaven.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The rocky mountains of Afghanistan stretched from one end to another, some with their tops covered in snow and the darkness made it look like a black and white photo and the moonlight made the snow shine. Leafless trees added to the eeriness of the picture and once, for one split second, Dean believed in God as the creator of this.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Too bad his cell phone was out of battery that he couldn't take pictures of what he saw in front of him, to show people back in the basecamp and back home what he decided instantly to be the most beautiful scenery on Earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean stood still, taking in every detail, etching them in his memory, hoping that he would remember it for the rest of his life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow,” he said after he could find his voice. “That’s amazing.” And the more he stared at it, the more he didn’t want to leave. He wondered how it looked during daylight with the Sun shining upon them. “What lies at the other side?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mongolia. China. Tibet”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay,” Dean nodded. That gave him some sorts of direction because really, the reason he and his teammates were here was because Ash kick-ass compass broke after a Taliban knifed it and they roamed in the mountains, running away from the Taliban, aimlessly. “Have you been there?” (Taliban is the same in plural)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He turned his head to see Castiel was staring afar, the the horizon, and he looked oblivious of his surroundings and probably he didn’t even hear Dean’s question.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean let several seconds passed before repeating, “Have you been there?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel slowly turned his head, and said, “No” with his blue, blue eyes boring into his. They were gleaming like they were the moon, and the same colour as it's corona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No?” Dean furrowed his eyebrows. “Never?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Never.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It seems close.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes, it does.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So why? Why haven’t you gone there? I’m sure you don’t even need a passport.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ve never been anywhere.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bath was luxurious in a room which must have been built during the stone age, just like the rest of the house. The water was hot and Dean didn’t have any idea where it came from because there was no electricity that made installation of water heater possible and he couldn’t see any kind of stove like what he saw in an ofuro in this bathroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There were clothes in the wardrobe, there were even underwear -, but Dean preferred his spare clothes from the backpack. He put on a wife-beater and his BDU pants and climbed onto the bed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bed was huge, four poster with canopy and drapes made of heavy brocade. The mattress was soft like clouds and the sheets were the finest woven flax linen. Dean slid under the blanket, it was cold and the thought of snow over the mountain tops made him shiver. There was a fire place but there was no wood and Dean didn’t think it’s appropriate to ask Castiel for that in this ungodly hour. It was a little after midnight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He lay wide-eyed, staring at the canopy above him, trying to understand the patterns carved there. At first he thought it was some sort of calligraphy, either Arabic or Indian or even hieroglyph, but it didn’t look like that. He had learned a little Arabic during his stay in Afghanistan. He supposed he had better be sleeping, he was exhausted, but he couldn’t. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was about to start counting imaginary goats in the hope that would make him bored enough to sleep, when Ash came barging in and hopping into the bed. Ash wore a tunic and loose pants and looked right at home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, Dean,” Ash whispered in his ear. Ash too smelled of shampoo and soap which seemed like a good sign. Normally Ash smelled like dust and radiation. “There’s something about this house. It doesn't feel right.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sat up and stared at Ash. Ash was a good soldier but he was also a geek, a bad one, and sometimes, half of his words were not understandable by normal standard. “What do you mean?” Dean frowned. It was only an act. He knew there was something about the house, and Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You know, the books I went through in the library, most of them are about magic.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What magic? Criss Angel’s magic or Harry Potter’s magic?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What? No. Criss Angel is a douche, it’s not magic at all. It’s illusion and if you ask me, it’s not even that spectacular; and Harry Potter is rip-off. I know better books. But the ones in the library are more like Merlin’s magic. Ancient spells.” Ash stopped and looked up. “There are lots of symbols like that.” He pointed up. “All over those books.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean looked up too. “Isn’t it some kind of artwork? It might be a sutra."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No!” Ash blurted. “But I will find out what it is. Castiel isn’t telling us the whole truth.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean laughed. “Ash, he’s the owner of this house and we... we’re only beggars, staying here under his mercy because we need food and a roof while Jake needs medical treatment. He doesn’t need to tell us anything.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash snorted. “Oh yeah? And what about a room full of weapons? I mean: ancient weapons. Swords, spears, javelins, sabers… axes. I swear that one of the swords there once belonged to Minamoto Musashi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Isn’t he fictional?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No! You should’ve read more history. He was real. And his sword was in this house. And the chess Kubrick’s been playing since after dinner, I bet that came from Shah Jehan’s collection.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean shook his head. “You shouldn’t peek where you shouldn’t.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash shifted away and sat down. “Damn, I wish I can get the laptop to work. I’m sure I’ve seen that symbol somewhere.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash, just try to sleep, okay? You’re exhausted. You’ll need the energy tomorrow.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash took a deep breath. Ash had the ability of going on for days without sleeping. His record was seven days. Dean kept him company for the first three days before passing out for one and a half. If Ash hadn't suddenly fainted in the middle of gathering a refugee’s goats, he might’ve nailed a better record.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He shrugged at the suggestion. “You’re right,” he said. Then he crawled into the vacant space next to Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You have your own room,” Dean reminded him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, but I’m scared, man. You don’t seem like you will be able to sleep, you may as well watch me,” said Ash before yawning and putting his head on the pillow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash snored like Dean's brother, Sam. Dean wondered whether it was a geek thing. Sam went to law school in Stanford. He would soon graduate, however he also had a passion for computers and the net that he wouldn’t be surprised if Sam ended up as a software programmer rather than working as a justice enforcer just like he always wanted to do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At three am, Dean gave up on sleep. He climbed out of the bed, put his jacket and boots on and got out of the bedroom. He walked along the corridors, wondering whether he too should check the rooms for any surprises, like Ash did, but he shrugged it off. It was impolite. Castiel had been kind enough to take them in and take care of them, he really shouldn’t peek on what he kept behind closed doors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went out of the house through the kitchen. It was colder outside, and from where he was standing at the backyard, he could see the mountains, tall, huge and intimidating. Moonlight still shone brightly upon them. Dean slipped his hands into his jacket pocket and saw a chopping block with an axe lying on the grass and a pile of wood logs next to it. He laughed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He padded to the chopping block and picked up the axe, testing its weight. There was no way Castiel could lift the axe, he thought as he tried to swing it. He had no problem doing it, he had the experience of swinging something heavier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But then, if Castiel didn’t chop his own woods, how could he make fire to cook and keep the house warm as there was no gas in addition to the non-existence of electricity? Maybe someone delivered them on a regular basis or came over to chop the woods for him?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deciding that the latter must be the case, Dean put one log on the chopping block and began axing it into smaller pieces. Maybe if he exhausted himself more by chopping logs, he would be able to sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was half-way through the woodpile when the kitchen door was opened and Castiel showed up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You’re up early,” Castiel said as he leaned on the door sill. He was still wearing the gamis, but this time with a cloak draped on his shoulder and at this point, Dean wanted to know if he wore anything else underneath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I couldn’t sleep,” Dean answered, avoiding Castiel’s eyes. He put another log on the block.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Is the room not comfortable?” Castiel’s face darkened. “The mattress too hard, too soft?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No, no, no. Everything’s fine. Perfect. It’s just me.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You should’ve told me. I can bring you warm milk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean lowered his axe in maximum force and split the log into smaller pieces. “That won’t be necessary. I didn’t want to trouble you.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel finally peeled himself from the door sill and walked towards him. “I’ll bake some bread for you then,” he said. “May I take some of the wood?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean smiled at him. “By all means, it’s all yours.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel took an armful and Dean watched him go back to the kitchen. Then he took an armful of logs too and followed Castiel to the kitchen. Behind him, the sun had begun to claim the day back from the moon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Much to Dean’s surprise, Castiel made bread for breakfast. Granted it was only flatbread, which was very simple to make, but it was still bread nonetheless and the thought of putting a piece of warm bread, fresh from the pan, on to his tastebuds, made Dean’s mouth water and his stomach grumble. He helped crack the eggs, measuring flours and sugar and mixing butter. He also did the cleaning constantly while Castiel focused on bringing the bread into perfection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And while he was in the kitchen he found a big sack of Moroccan coffee beans, another big surprise. Dean happily ground them and brewed them. Even Dean’s lack of skill in making coffee didn’t ruin it, it still came out tasting like Heaven, which was a very exciting change from the basecamp supply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the time Castiel finished baking the last bread and the coffee was ready, the kitchen smelled pleasantly like a bakery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even before Castiel got to set up the dining table for breakfast, Kubrick and Ash had showed up in the kitchen, both with matching grins. They helped themselves with coffee while Dean cleared up the table to make room for the bread baskets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake joined them just as Castiel was preparing a tray to take to the bedroom for him and it was good to see color had returned to Jake’s face. Jake was a good soldier, skillful and well-trained with strength above average. However, sometimes, it was all about luck and it was only a bad day for him when a Taliban managed to dig a knife into his thigh and tear the flesh before Kubrick shot him point blank. Jake lost so much blood although Ash had given him first aid, using a tourniquet before bandaging the wound to keep the flesh intact and the bleeding stopped, and Dean had to carry him and if they didn’t find this house, Jake could’ve been dead already.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“How’s your leg?” asked Kubrick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Good,” Jake said. “The wound has closed.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubrick looked up at Castiel. “What kind of drug did you give to him?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jake is a strong young man,” Castiel answered. “His body still has the ability of self-healing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash laughed. “Even so, it usually takes a normal body two or three days.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Some people heal quicker,” Castiel insisted. “It’s a blessing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean cut in. “I guess what matters now is that Jake is all right,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That ended the discussion. Besides, no one seemed to want to let their coffee and bread too cold to enjoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They ate like they hadn’t been eating for the last month and Castiel refilled their coffee cups again and again. No one declined, although ahalf a cup of the coffee tasted as strong as double espresso and Dean suspected that Castiel must’ve added more sugar to make it really sweet. No one but Dean noticed that the basket didn’t seem to run out of bread. Dean didn’t say anything because he had his mouth full and he was taught the military way: eat as much as you can while you can because you never know when you’ll be able to eat again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After finishing three cups of coffee and uncounted number of bread, Kubrick got up and spoke, patting his full belly,”I’m going to take a look around. If you don’t mind.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh no, not at all,” Castiel shook his head.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With breakfast done, Kubrick and Jake left the kitchen. Jake said that he wanted to go back to sleep, as he still felt very weak. Kubrick didn’t say anything. Dean and Ash stayed to help Castiel clean the kitchen, then Ash announced that he would go back to the library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitchen clean and shiny, Dean went back to the bedroom, however when he passed a patio and saw Jake sitting at the edge of a fountain there, he changed his direction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I thought you were going to rest?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake nodded. He looked disturbed. “Don’t you think it’s strange?” he asked quietly as if he was scared that the fountain and the plants and the walls had ears and could hear what he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What’s strange?” Dean sat down next to him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This whole thing. My wound. Yesterday I had a wound that practically tore my leg open. Now what’s left is a fresh scar. No more pain, no more blood.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I guess you should be grateful. Some people have that kind of body.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I know, but this is extreme. Normally you have to put some kind of medicine. Like what they do for footballers. But Castiel - he didn’t do anything.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean frowned. “Didn’t he? I saw him cleaning the wound.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes. And that was all he did. And he used the same water you and Ash used to wash me up, after you tore off my clothes.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Didn’t he bandage it?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes, but only to stop the blood from spilling out. And you know what? I took off the bandage this morning and it wasn’t stained at all.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean nodded, making a mmm sound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I gotta get out of here,” Jake got up, and left the patio. "This place gives me the creeps."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean stayed there for a while, watching the water, feeling amused to see little fish the surface. They were swimming happily among some tiny water plants and they seemed to love to play with the splashing water.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean took a bath again as it seemed stupid not to take advantage of the free-flow hot water. He gathered his dirty clothes, put them in a wooden bucket and took them out. There was a small well near where he chopped the woods and he assumed that he could wash the clothes there. He wasn’t very fond of house chores but in the army, you take care of your own things. Besides, there isn’t really much things to do in the house. Jake had gone back to sleep, he was very weak although the wound had almost completely healed, he was still weak from losing too much blood. Reading could be a good choice of whiling away the time, but the library had been taken over by Ash, who was still determined to find the meaning of the symbol carved on the canopy ceiling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He found Castiel near the well, with a pile of dirty laundry at his feet. Dean could see his friend’s clothes. He felt embarrassed at his friends’ attitude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll do it,” he said as he put the bucket down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s difficult,” Castiel said. He bent to pick up Jake’s shirt. “This is blood.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wanted to tell him that probably it was easier to just burn the clothes anyway, but what came out of his mouth was, “I’ll take care of it.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Are you sure?” Castiel smiled softly at him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean smiled back at him. “I’m sure.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll help you hang them later.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No worries.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then Castiel walked away and Dean had just realized that Castiel had changed his gamis into tunic and pants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also realized that the laundry pile was quite a big one. He sighed, then he rolled up his pants to his knees, lowered his ass to a low wooden stool next to the pile and he began working.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to the military issued clothes that belonged to him and his friends, there were also Castiel’s clothes, which were the least of his problems because they were made of linen, and there were bed sheets and pillow cases and blankets and Dean wondered why he didn’t see them before and whether Castiel took the advantage of having some visitors to do his annual linen laundry. Still he tried not to complain, and just kept on working.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also found that blood stain was difficult to get rid of. Period. But he wouldn’t want to admit that to Castiel and made the real effort to eliminate it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was half way through the laundry and suffering a stiff back when Ash showed up, asking, “Dean, have you seen Kubrick?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tilted his head, then raised an eyebrow. “No, I don’t. Have you checked the living room? He’s probably playing chess there.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I did. He’s not there. The cigar box had also disappeared.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maybe he went smoking somewhere.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll check his bedroom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean only nodded and thought Ash should’ve done that before asking him. He resumed the laundry duty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It didn’t take long for Ash to come back, this time he ran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I still couldn’t find Kubrick,” he said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean squinted his eyes. “Ash, this is a very big land. He could be going for a walk to the mountain. He could be going to that forest over there.” Dean jerked his head toward a group of trees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash furrowed his eyebrows at the trees. He was quiet for a moment then he said, “One of the knives is missing from the Armory as well.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sighed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I know!” Ash blurted again. “I counted the weapons, and you know I have a photographic memory. It’s a knife, a silver knife.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean said quietly. “Maybe Castiel took it, maybe he needs it to do something,” he said quietly. “Slaughter a goose perhaps?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash looked shocked and hurt. “Dean, you don’t use a knife like that to slaughter a goose.”He took one step back. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So you think Kubrick stole it, along with the cigars?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash only shrugged and turned around and jogged back to the house.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean watched Ash for a while, then he resumed the washing, he didn’t understand why Ash was so concerned about the missing soldier, the cigars suggested that he had just gone somewhere to be alone and smoke, and he could take care of himself. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The sun was at its highest position in the sky and despite the fact that the house was in a mountainous area, it still got very hot. Dean was perspiring through his t-shirt and he could feel sweatdrops sliding on his skin. He wanted a glass of lemonade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel showed up again just as he was hand-spinning the last piece of clothing. “Done,” he said, proud and relieved.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thank you,” Castiel smiled. “I’ll hang them. Then we can have lunch.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean managed not to offer his help anymore, he was stiff and sore from scrubbing the clothes, getting water from the well and what not. He stood up, straightened his back, stretched, then he bent down again to lift one to the buckets to the rows of clotheslines nearby. Castiel carried another one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel started to hang the clothes in silence, he seemed to be carried away by the rhythm of picking on clothes, tossing it over the clothesline and keeping it secure with some wooden pins. Dean found himself staring at Castiel, at how he bent down and straightened up and at how the hem of his tunic floated with the breeze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ash told me that one of the knives from the Armory disappeared.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel stopped mid-air from throwing a shirt over the clothesline. His back stiffened and he looked disturbed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry that he had been peeking into the room,” Dean felt suddenly very bad. “He shouldn’t do that. But he noticed that one silver knife had disappeared.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel tidied the shirt on the clothesline and secured it with pins. “No, really. It’s okay if Ash wants to look. I never pay any attention to the room, I have no interest there. But I’ll check. I can’t remember all of them.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Can you get another one?” Castiel asked, jerking his chin toward the empty bucket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sure.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thank you.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean went back to the well and took another bucket. Except that he didn’t see Castiel anymore at the clothes line area. He scanned his surroundings with his eyes, hoping to see Castiel between the wind-blown bedsheets, but Castiel wasn’t anywhere nearby. He snorted then laughed then decided that it must be Castiel’s trick to get him to hang the laundry. No, he wasn’t going to get fooled again. He had chopped the woods, washed the dishes, cleaned the kitchen and did the laundry, he wasn’t going to hang them as well. If Castiel didn’t want to do it, so be it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He turned around and headed for the kitchen door. He was only a few steps away from the kitchen, when, through the door, he saw Castiel inside, and Castiel looked to be trying to save something from the giant oven. He probably tried to save their lunch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean gave up and went back to the clotheslines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the time he finished with hanging the laundry, Dean decided that he had had enough of household chores for the rest of his life. All he wanted to do now was lie on the bed with his face buried in the pillow and dream that he was somewhere else but here. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He entered the kitchen to the burning smell of meat. He scrunched up his nose and saw Castiel staring at what suspiciously looked like a big bird in a metal plate on the kitchen table. Castiel looked up. “I burned the goose,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckily, after carving it carefully, Dean managed to save more than half of the overtly-roasted wild goose for lunch. Castiel had baked some potatoes and wild mushrooms to go with the goose, which made it perfect. Ash came to the kitchen to join them for lunch, informing them that Jake was still sleeping and he still couldn’t find Kubrick, and despite the fact that he still had some suspicions on Castiel, he ate heartily. To Dean’s surprise, Castiel sat down with them at the kitchen table and ate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubrick didn’t show up even after they finished their lunch so Castiel said that he would save some for Kubrick and prepare some to take up upstairs for Jake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also served some rice pudding he had made for dessert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This is real good,” Ash commented, again with his mouth full with rice pudding. “You could become the best chef the world has ever had.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thank you,” Castiel said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You could even try Top Chef,” Ash continued. “You could be famous and very, very rich.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You want me to take it up to Jake?” Dean asked Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel turned to look at him. “No, it’s okay, I’ll do it. Why don’t you just rest? You’ve been working very hard today.” Dean swore he saw a tint of sadness in Castiel’s eyes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay,” Dean shrugged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll clean the kitchen,” Ash offered as he reached for the second cup of rice pudding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thank you,” Castiel smiled.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ll see if I can find Kubrick,” Dean said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But first, he went to Kubrick’s bedroom. He didn’t know why but he wanted to check on Kubrick’s stuff. It wasn’t a good thing to do, he didn’t have the habit to rummage into someone else’s belongings even someone as suspicious as Kubrick, but he felt like he needed to make sure that everything was all right. Kubrick’s stuff was there, his backpack, his canteen, his boots, his clothes. He checked Kubrick’s backpack, opened the wardrobe, pulled out the drawers, feeling that there was something missing there but he couldn’t remember what.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finished with Kubrick’s bedroom, he headed for the front door to check the yard. He was passing a door when he decided to stop and take a look inside. It was the Armory. Again, without being able to hold back, Dean stepped inside and couldn’t hide his amazement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash was right. It was a stunning collection of ancient weapons. There were swords and knives and sabers and axes and spears and javelins and there were more which Dean didn’t even know the names of. They were neatly fastened on the walls or lined on the tables with metal rings. There was nothing to protect them from getting stolen, no alarm system, no bomb-proof glass, they lay there naked and vulnerable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean noticed that there was a vacant place. He fingered the holder, wondering what the knife looked like. It must be something really precious, like the rest of the weapons. He wondered if it was really Castiel who took it and used it to slaughter a goose that they had just eaten, or if Kubrick stole it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He really hoped to hear from Kubrick soon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean slowly combed the yard, looking for any signs of Kubrick. He felt that it was a wasteful effort, Kubrick could be in a village nearby or on one of the mountains, but he did it anyway. He must’ve walked along half the area when he saw a patch of land that served as a little farm of vegetables and potatoes. And Ash was working there - pulling out weeds, checking the soil and stuff. He didn’t look too happy. Dean laughed to himself. He wanted to know how Castiel talked him into tending the farm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But something was off about Ash. Ash was wearing a pair of very old jeans and a checkered shirt, the sleeves had been ripped off. Back home in the United States, Ash dressed up like that when he wasn’t wearing the military uniform. He came from a hippy family whose idea of perfect clothing was stuck in the 1970's. They hadn't been proud of their boy joining the military.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean went to approach Ash. Up-close, Ash looked miserable covered in soil and swearing but that didn’t stop Dean from teasing him, “You look pretty much in your element.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I swear,” Ash gritted his teeth. “I’m sure that the reason why my parents chose to live in a caravan was so that we didn’t have to deal with this.” He tossed the cultivator away.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Where did you get those clothes?” Dean asked, straight to business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash looked down. “They’re in the wardrobe in my bedroom. And they fit.” He shrugged. “Although, yeah, funny to think that Cas keeps clothes like this. But I guess deep in his heart, he has some passion. You know…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean nodded. “Yeah, I know.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash washed his hand in a bucket of water. “Come, I’ll show you something,” he said as he wiped his hands on the jeans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They walked further away from the house until they reached the small forest at the other side of the land.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You see the trees and grass are better here than in other parts of the land,” Ash said as he looked up. Dean had to agree that the trees looked very healthy. And the grass covered the ground like a thick carpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah,” Dean nodded.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Do you know why?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tilted his head. He didn’t like trivia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I bet this area is a fucking cemetery,” Ash answered his own question.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean wanted to ask Ash what made him think that there were dead bodies buried under the ground, other than the sign of big, beautiful trees standing on that ground. It wasn’t that he was scared. He had seen dead bodies, he had dealt with dead bodies more than he wanted to for the rest of his life. He had seen people die in front of him - friends and foes; In a war zone it was inevitable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He supposed Ash should give him hard evidence, but he respected the dead, as much as the living, so he supposed it wasn’t a good idea to start digging to find bones, or decaying bodies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He wondered who they were, were they Castiel’s ancestors? Had there been a war, a fight on this land and people died and in the lack of proper funeral, they were buried all in the same big hole like plague dead?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He shook his head and told Ash that he would go back to the house.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel was surprisingly not in the kitchen, cooking, as usual. He was in the library, putting books back into the shelves. Apparently, Ash had made a mess.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The library, Dean found that he liked it there. Granted that it reeked of leather and old papers and dust, but it was serene and quiet and somewhat soothing there as if people could always rely on the room to find solitude and tranquility. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You know, some people think books are their most precious belongings,” Castiel said without even turning his head to see who was coming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean knew. Dean knew that Sam and Ash’s love for books was as much as his love for roast beef sandwich, which he missed very much now like Ash missed his laptop and the internet, Dean liked stories but books weren't worth it. He let the silence pass for a few seconds, before he asked, “Cas, why do you speak English? Why don’t you speak Persiani? Or Pashto perhaps?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel gave him a side-long glance. “Would you understand it if I speak Persian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ve been here long enough to understand some, yes.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel shifted his eyes back to the books. “There are probably ten thousand books here,” he said instead of answering Dean’s question.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean took a deep breath. He gave up. “Have you read them all?” he asked as he walked towards Castiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Only a few. I don’t have time.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean pulled one leatherbound book carefully out of the shelf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Herodotus’s Histories,” Castiel said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tilted his head.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The original version,” Castiel added, as if to convince Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean laughed, but Castiel took the book from his hand. He didn’t put it back into the shelf, he opened it, thumbed the yellow pages and stopped somewhere and began reading, in English, “Now the manners and customs of the Getae, who believe in their immortality, I have already spoken of. The Trausi in all else resemble the other Thracians, but have customs at births and deaths which I will now describe. When a child is born all its kindred sit round about it in a circle and weep for the woes it will have to undergo now that it is come into the world, making mention of every ill that falls to the lot of humankind; when, on the other hand, a man has died, they bury him with laughter and rejoicings, and say that now he is free from a host of sufferings, and enjoys the completest happiness.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel’s voice floated in the air, soft and sweet like cotton candy and Dean knew that if Castiel read him a whole telephone book, he would listen to it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jake joined them for dinner, but there was still no sign of Kubrick, although Ash had stopped asking about him. There was no point in trying to find him, even if Kubrick had left, he was a big boy, he could take care of himself. Besides, the farm job seemed to make him too exhausted to even speak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean only hoped that if Kubrick did leave the house, he remembered to come back to help them. Jake looked concerned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel didn’t let him help with the dirty dishes and Dean decided it was only fair. He had chopped the wood and did the laundry, he could use a good rest. Jake looked to have healed completely so perhaps they could try to go back to the base camp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe he should try to talk Castiel into coming with them. Maybe he could take Castiel back to America, to Kansas City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was changing his clothes when Ash came barging in again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Look what I found!” he exclaimed as he deliberately bounced into the bed. He had a small book in his hand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean furrowed his eyebrows. “Did you steal something?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No!” Ash blurted. “I only borrowed this.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What did you borrow?” Dean asked. He had decided to put on some of the spare clothes from the wardrobe – loose pants and tunic. He joined Ash in the bed. “Where did you get this from?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash held up the book for him to see. It looked like a note book, the kind people liked to use to write things.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The library,” Ash gave him a shocked look. “It’s a diary.” He slid under the blanket. Dean lay next him so he could have a good look. “See this. This is someone’s handwriting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes, I can see that.” It said: Bobby Singer, March 1971.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash flipped the book open. “I don’t know why someone’s diary could be in this house. This looks like a journal. A travel journal. Starting on March second, nineteen seventy one. Read this. We’re finally off to Afghanistan. I can’t believe this. I don’t even know what to expect there except rocky mountains and militant Moslems.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mujahidin,” Dean said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, whatever.” Ash flipped further. “Yeah, he seemed to be traveling with two or three friends.” He stopped. “March five. I’m done with riding a donkey for the rest of my life. Idjits. I do hope this is worth it. Lucky the inn we stay in, if it can be called an inn, serves decent food. I hope it isn’t the donkey we had just ridden on. Poor guy. But the meat is just too juicy to be an overworked donkey. I hope it’s a goat.” Ash stopped, frowned. “Idjits?” He read on. “I was smoking alone in the yard inn when an old woman approached me and asked where we are going. I told her that we’re going to the house. She told me it isn’t wise to do that. The whole house was spellbound by a very powerful wizard and guarded by a powerful djinn. She said whoever gets in never comes out, and lots of people had tried. I told her that we know the house was haunted, and that’s exactly why we’re here. She told me to just turn around and go back to where we came from. I told her that we’ve gotten this far, so we’re not coming back without anything. She looked sad and wished that may God be with us forever. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He stopped because the door was pushed open and Castiel showed up with a pile of clean clothes, neatly pressed and folded and Castiel stopped at the door when he saw Ash in Dean’s bed. He looked surprised for one split second, then his eyes darkened.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m sorry, am I disturbing you?” he murmured.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No, no, no,” Dean got out of the bed. “It’s okay.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, I’m just reading him some bed time stories,” Ash said casually.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That didn’t seem to convince Castiel. Dean practically jogged towards Castiel. He smiled. Castiel smiled back at him. “You don’t have to do this,” he said as he accepted the clothes. “I can do it tomorrow.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel only said, “See you tomorrow, then.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You don’t wanna come in and listen to Ash’ stories?” Dean teased.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No,” Castiel shook his head, then he turned around and walked away and Dean felt his heart fell to his knees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He put the clothes on the table, then he exited the bedroom to chase after Castiel. Castiel was gliding along the corridors, and he called him out, “Cas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel stopped and slowly turned around.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean balled his fists. His stomach churned violently. He had never had something like that since the first time he saw Lisa Braeden, the most beatiful girl in high school. Dean toughened himself up. “Look, it isn’t what you think.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel tilted his head. He didn’t show any facial expression at all. “I’m not thinking of anything,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean took one step forward, aware of his fast-beating heart, hoping that Castiel didn’t hear it. “Ash… Ash is like that. He does things… without thinking whether…” He stopped. He didn’t even know why he had to explain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel only nodded. “I understand.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suddenly, Dean couldn’t stop himself from grinning. He was standing very close to Castiel now and he wanted to lift his hands and put Castiel’s face in his palms. “You can read me bedtime stories some other times,” he teased again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel laughed. “You’ll fall asleep before I even read five words. I’m boring.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No harm in trying.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Castiel smiled, then he said, “Good night.” Then he turned around and walked away.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash had fallen asleep when he got back, the journal was open in his hand. Dean took the journal, intending to put it away, but he found himself reading the open page.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March twenty three. This is insane. I don’t even know what to do. They had all died. I don’t know what happened to them. I don’t like having to bury them. I don’t want to stay here any longer. I’ve been to haunted houses, I’ve hunted ghosts. But this is different. There’s some kind of power here I can’t understand, a magic spell, so strong, there’s no way to break it or go around it. I should’ve listened to the old woman from the village. Anyway, I’m going tomorrow. And I’m going to take the book with me. I’m sure the book is the answer toeverything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That seemed to be the end of the journal because there was no other entry as Dean thumbed it mindlessly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There were probably ten thousand books in the library, Dean wondered which one Bobby mentioned as “the book”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He decided not to be bothered. He put the book on the nightstand and climbed up the bed to lie next to Ash and sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Continued in &lt;a href="http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-2.html"&gt;part two&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-6293335818252723873?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/6293335818252723873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/6293335818252723873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/6293335818252723873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/precious-part-1.html' title='Fic: Precious (Chapter 1/3)'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-5374329833127921518</id><published>2010-10-09T14:15:00.000+07:00</published><updated>2010-10-09T14:15:53.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Drama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Oryn'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: K+'/><title type='text'>Fic: Duct Tape</title><content type='html'>Disclaimer: heck, I still don't own Supernatural and the Winchester brothers. They're the properties of WB and Kripke.Chapters: 1. Word count: 4.418.&lt;br /&gt;Timeline: sekitar season 1.&lt;br /&gt;Summary: di mata Dean Winchester, benda itu prioritasnya di bawah kertas toilet dan cuma sedikit di atas kopi.&lt;br /&gt;Translation: in Dean Winchester's scale of priorities, duct tape is listed below toilet paper and just a little above coffee.&lt;br /&gt;Author's note: simple story with duct tape as a metaphor for Dean. Berbagai kisah tentang penggunaan lakban secara kreatif aku peroleh dari ducktapeclub.com. Inspired partially by 4.18. Kritik, saran dan masukan sangat diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lakban."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban satu kata atas pertanyaan "kamu butuh apa lagi, Dean, mumpung aku mau keluar belanja" yang barusan dilemparkan Sam itu cukup melenceng dari maksud si penanya. Sam yang tengah menyortir pakaian habis dicuci menjadi dua tumpukan berdasarkan pemiliknya mengangkat dan memalingkan kepala ke arah kakaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lakban?" Sam membeo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean mengangguk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Cuma itu?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu anggukan lagi dari Dean.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam menarik sebelah sudut bibirnya ke dalam. "Maksudku, apa kamu mau makanan yang lain? Agar-agar, sup dengan merek berbeda atau apa?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean mengedikkan bahu. Terserah kamu saja, itu tersampaikan dengan jelas. Lagipula, untuk apa beli beraneka ragam dan bentuk makanan? Toh, semua itu sama saja rasanya buat dia. Sama-sama pahit di mulutnya dan mengiris kerongkongannya yang sensitif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Puding coklat?" tawar Sam, masih belum menyerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar menggiurkan, pikir Dean. Tentu saja kalau dia sedang sehat. Sebetulnya dia ingin sekali makan pai, tetapi dia juga tak mau santapan favoritnya itu nanti terasosiasikan dengan trauma sensasi menyakitkan jika dia mencoba menelan kulit pai yang kering dalam kondisinya sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean menggeleng. Ekspresinya berubah komikal sewaktu dia buru-buru meraih ke samping, menjambret sehelai tisu dan membersit hidung kuat-kuat, menimbulkan suara yang mengingatkan Sam pada teriakan gajah. Dengan murah hati Sam mendekatkan tempat sampah ke bawah ranjang Dean, tisu itu mendarat di sana dalam bentuk gumpalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean mendehem beberapa kali, seperti orang hendak mencoba mikrofon, dalam hal ini dia mengetes pita suaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Pokoknya lakban," dia berucap, suaranya kasar seperti amplas dan turun beberapa oktaf.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam mengingat-ingat. "Bukannya kita masih punya satu gulung?" sanggahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Setengah," tukas Dean, menelan ludah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Itu cukup, kan?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tidak," balas Dean, terdengar sengau kini dan dia mencabut sebuah &lt;i&gt;inhaler&lt;/i&gt; dari sakunya, menempatkan benda itu di depan satu lubang hidungnya dan menghirupnya dalam-dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lakban, kan tidak mendesak, Dean," Sam berucap, memindahkan masing-masing tumpukan pakaian ke dalam dua buah ransel.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Uh-huh," gelengan kepala Dean dibarengi goyangan telunjuknya. "Kau tahu, di buku manual NASA..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Iya, iya," potong Sam, sudah hafal benar ke mana argumen kakaknya akan menuju. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean biasanya mengoceh bahwa dalam lakban disebut secara khusus dalam buku manual astronot NASA. Sam bakal menimpali dengan penggunaan lakban dalam buku itu bertujuan untuk mengikat astronot yang tiba-tiba mengalami gangguan jiwa dan perlu dikendalikan. Dean kemudian membalas dengan menyebutkan beberapa kasus kerusakan pesawat NASA di mana lakban memegang peran vital dalam mengatasinya dan Sam akan tersenyum memperturutkan kalau sudah sampai di sana. Kali ini Sam tidak tega membiarkan debat lawas itu berjalan pada saat Dean mestinya mengistirahatkan tenggorokannya. Hasilnya juga senantiasa sama saja, kenapa harus berdebat kalau begitu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Oke, akan kubelikan nanti," putus Sam yang disambut seringai setuju Dean. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam lalu merapikan meja yang memisahkan tempat tidur mereka. Di sana berjajar botol-botol obat segala rupa dan merek, termasuk obat gosok, gelas dan botol air, termometer, baskom bekas kompres, sekotak tisu dan pengendali jarak jauh pesawat televisi. Tinggal ditambah bel pemanggil suster, batin Sam, jadilah dia meja yang lazim dijumpai di rumah sakit. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia berdiri, memeriksa saku celana guna memastikan dompetnya sudah bersarang di sana, meraih kunci Impala dan bertanya, "Apa kamu tidak apa-apa kalau kutinggal?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean memutar bola mata. Pesannya jelas: berhentilah memperlakukan aku seolah aku ini invalid atau masih berusia lima tahun. Sam tak juga beranjak dari tempatnya, alih-alih dia memandangi sosok kakaknya dengan bimbang. Penampilan Dean yang kacau, bermuka sepucat seprai, hanya diwarnai lingkaran kehitaman di bawah matanya dan ujung hidungnya yang merah macam hidung badut, plus gemetar yang sesekali meruyak di tubuhnya membuat Sam enggan pergi dari sisi kakaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean membaca tatapan iba dan khawatir adiknya, dia sama sekali tidak menyukai itu. Dia berupaya memasukkan semua nada penuh keyakinan dalam suaranya yang serak dan berkata, "Aku akan baik-baik saja."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Serangan batuk yang datang tiba-tiba tepat ketika dia selesai bicara mengontradiksi kata-katanya barusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yeah benar, pikir Sam, menahan keinginan untuk duduk di samping kakaknya dan mengusap-usap punggungnya. Dia hanya mengulurkan segelas air pada Dean yang mengusap air di sudut matanya saking dahsyatnya dia terbatuk-batuk. Dean menerima gelas yang disodorkan adiknya dan menyeruput isinya. Sesudahnya, dia melambaikan tangan dengan gerakan mengusir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam mengembalikan gelas separuh kosong itu ke meja dan mengirimkan tatapan kalkulatif ke arah kakaknya. Tidak terlampau puas dengan apa yang dilihatnya, tapi Sam akhirnya melangkah ke pintu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kalau nanti..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalimatnya dipotong oleh acungan satu jempol dari Dean, yang terlihat kocak lantaran tangannya yang lain sedang menancapkan ujung &lt;i&gt;inhaler&lt;/i&gt; ke lubang hidungnya. Sam tersenyum karenanya, terlebih setelah itu Dean dengan demonstratif menyalakan televisi, mengeraskan volume suaranya dan pasang tampang sok tertarik pada acara omong kosong yang ditayangkan di sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa mengobral kata lebih banyak, Sam pun keluar dari kamar motel mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Motel yang mereka inapi terletak agak di luar kota sehingga butuh waktu sedikitnya dua puluh menit bagi Sam untuk mencapai pusat kota, tempat dia hendak berbelanja. Sam mendapatkan tempat parkir untuk Impala di depan deretan pertokoan dan masuk ke sebuah toserba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama seperti Dean, Sam adalah pembelanja yang terfokus. Tujuan dia ke sana utamanya adalah menambah persediaan pangan mereka dan itulah yang dilakukannya. Langsung dia menuju bagian toko di mana terdapat deretan rak yang memajang makanan segala rupa. Daftar barang yang mau dibeli sudah tercetak di otaknya, sehingga Sam tidak perlu menimbang-nimbang lama dalam mengisi keranjang belanjanya. Beberapa kaleng sup, sebungkus oat ukuran sedang, biskuit, susu untuk memasak oat dan sebagai pencelup biskuit, satu pak agar-agar masuk dalam keranjang belanja Sam. Semua itu untuk Dean. Buat dirinya sendiri Sam mengambil roti lapis bikinan toko, menambah dengan sekian kerat roti manis yang kelihatannya bertekstur lembut, siapa tahu Dean mau. Sam lalu mengambil sebotol madu, sedikit jeruk nipis dan teh celup. Konon kombinasi ketiganya bagus untuk orang sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setibanya di rak sereal, otomatis Sam mengulurkan tangan buat meraih sekotak besar Lucky Charms. Dia baru beranjak selangkah dari situ sewaktu dia berpikir bahwa tidak ada untungnya bikin sirik Dean dengan mengunyah sereal di hadapannya, sementara Dean terpaksa makan yang serba lunak. Solider, Sam mengembalikan kotak sereal itu, memutuskan untuk membeli buah kering guna menambah cita rasa jika dia harus ikutan sarapan pakai bubur oat juga. Sam sempat pula mencomot satu kaleng permen pastiles, mungkin rasa pedas mint-nya bisa menolong pernafasan Dean dan memberi rasa enak di tenggorokannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelar dengan urusan belanja makanan, Sam beralih ke kebutuhan dasar seperti krim cukur, perlengkapan mandi-cuci dan garam. Di tengah acara menyusuri rak sabun, sekonyong-konyong timbul ide untuk membelikan Dean tahu. Makanan itu lembut dan berprotein tinggi. Jika dicemplungkan dalam sup hangat pasti tersamarkan, pikir Sam. Lagipula indera pencecap Dean sedang dalam kondisi kurang fit. Kapan lagi bisa melihat Dean Winchester makan tahu. Sam lalu memutuskan akan pergi ke Pecinan yang terletak beberapa blok dari toko tempatnya sekarang, sekalian ke apotek menambah stok isi kotak obat mereka. Tiga hari jalan empat hari sudah Dean terkapar lantaran terjangkit paket komplit flu berat: pilek, sakit tenggorokan, meriang, batuk dan sakit kepala. Itu cukup signifikan pengaruhnya terhadap persediaan obat Winchester bersaudara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkah Sam terhenti di depan rak majalah. Sebetulnya barang itu tidak ada dalam rencananya, tetapi dia pikir tidak ada salahnya mencarikan Dean bahan bacaan, sebelum kakaknya itu menembak pesawat televisi karena bosan atau frustrasi atau keduanya. Sam langsung mencoret National Geographic dari dalam daftar kemungkinan majalah yang menarik buat Dean saat ini. Matanya tertumbuk pada majalah tentang senjata api dan mobil klasik, dijejalkannya dua eksemplar ke keranjang. Tergoda juga dia untuk membelikan satu edisi Busty Asian Beauties, tapi tampang wanita pramuniaga paruh baya yang kebetulan berada di dekatnya membuat Sam menarik tangannya yang sudah siap mengambil majalah lucah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Logo sebuah merek yang terpampang di sampul sebuah majalah membangkitkan ingatan Sam bahwa &lt;i&gt;aftershave lotion&lt;/i&gt; miliknya sudah berada dalam kondisi kritis dan dia kembali ke rak tempat segala tetek-bengek khas pria berada. Sam dengan cepat memindai deretan botol-botol yang ada di sana, mencari &lt;i&gt;aftershave lotion&lt;/i&gt; yang biasa dia pakai. Dia setengah berharap akan mendengar celetukan kelakar Dean, mengomentari kebiasaan adiknya menggunakan &lt;i&gt;aftershave lotion&lt;/i&gt; seusai bercukur. Dean biasa mengejek Sam utamanya lantaran dia sendiri tidak pernah repot-repot dengan itu. Kala suara yang ditunggu tidak juga muncul, Sam hampir saja menoleh kalau dia tidak langsung ingat bahwa Dean kali ini tidak ikut berbelanja, melainkan tergeletak sakit di ranjang motel mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam tersenyum tipis, telah terbiasa ada Dean mengorbit di sekitarnya. Acara menyusuri toko tidak pernah sama dengan seperti jika Dean ada. Belanja dengan kakaknya itu banyak seninya. Mulai dari perdebatan rutin soal hal-hal remeh tiap kali masuk toko sampai upaya Dean mempersuasi adiknya guna membeli barang-barang yang di mata Sam aneh demi kesenangannya dan justifikasinya bila usaha yang disebut tadi tak berhasil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ingin berlarut-larut dalam nostalgia, Sam mengarahkan kaki ke area di mana dia kira akan terdapat lakban. Seulas senyum terbentuk di bibirnya. Dean kerap mengolok-olok dia, mengatakan bahwa adiknya itu mengidap gangguan obsesif-kompulsif, padahal sejatinya Dean nyaris bersikap seperti itu jika sudah menyangkut lakban. Pita perekat itu sudah menjadi semacam piranti wajib buat Dean. Dalam skala prioritas si sulung Winchester, lakban menduduki posisi masih di atas kopi, tapi cuma sedikit di bawah kertas toilet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam menemukan dirinya menghadapi bertumpuk-tumpuk gulungan lakban berbagai warna dan jenis di depannya. Diraihnya satu dari spesies yang standar dan benda itu bergabung dengan belanjaan lainnya. Sam menelengkan kepala, berpikir dua kali kemudian mengambil sebuah lagi. Siapa tahu ada gunanya, alasan Sam. Menilik pengalaman yang sudah-sudah, sedia lakban memang tidak pernah ada ruginya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keping-keping memori tentang peran lakban dalam kehidupan keluarga Winchester satu per satu menyeruak di benak Sam. Bagaikan rembesan air pada bak yang bocor, tidak dapat benar-benar terbendung meski keluarnya setitik demi setitik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkenang oleh Sam pelbagai kesempatan di mana lakban menyelamatkan situasi dan memperbaiki keadaan, dengan Dean sebagai penggagas utama pemakaiannya. Sam dulu pernah berpikir jangan-jangan kakaknya itu punya kredo: di mana ada lakban di situ ada jalan, saking seringnya Dean mengaplikasikan penggunaan lakban dengan kreatif dan nonkonvensional. Hebatnya, itu dilakukan dengan tingkat kegagalan yang relatif rendah. Benda itu benar-benar jempolan, terutama di tangan Dean.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah tak terhitung lagi oleh Sam berapa kali lakban dimanfaatkan sebagai alat pertolongan pertama untuk mengatasi luka-luka yang dialami oleh ketiga anggota keluarga Winchester. Berduet dengan kapas atau kain seadanya, lakban menjadi perban alternatif yang cukup andal. Jika dikombinasikan penggunaannya dengan tongkat kayu atau ranting, jadilah dia pembelat tulang patah, lumayan untuk menahan sampai si penderita memperoleh penanganan medis yang patut. Sam ingat benar bagaimana Dean dulu menempatkan sebatang kayu lurus paralel dengan kaki Sam yang tulang keringnya patah dan baru saja dibetulkan letaknya oleh Dean, lakban direkatkan melingkar sehingga tercipta pembelat darurat. Melepaskan lengketnya lakban pasti tak kalah menyakitkan dengan cedera aslinya, tetapi untunglah Sam waktu itu sudah tidak cukup sadar untuk mengalami penderitaan ekstra itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam soal perbaikan rumah dan peralatan rumah tangga, lakban tak terkalahkan. Pipa bermasalah, sofa yang permukaannya sudah kurang kohesif, pintu merekah, kebocoran wadah plastik penyimpan makanan, dudukan toilet retak, tenda berlubang, papan lemari merenggang, tas bolong, jas hujan robek, sebut apa saja ketidakberesan yang mungkin terjadi di rumah dan di luar rumah. Semua itu sukses diatasi cuma dengan bermodal beberapa gulung lakban. Dean dan John jarang mau repot-repot membeli barang yang baru kalau tidak kepepet sekali soalnya. Dua orang itu sepakat dengan pemikiran lebih baik memperbaiki, syukur-syukur bisa bertahan sampai mereka meninggalkan tempat itu, ketimbang beli. Sam tidak bisa tidak tertular semangat yang mirip, kendati dalam level yang lebih rendah. Sewaktu Sam melakban buku teks bekas yang jilidannya sudah lepas dan menambal saku jaket dengan pita perekat itu, Dean menyeringai seakan dia berhasil mewariskan suatu falsafah hidup pada adiknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Impala jelas memperoleh perhatian yang lebih dari Dean dan John dibandingkan rumah atau apartemen atau kamar motel manapun yang pernah mereka tinggali. Namun, tetap saja dalam mengatasi sejumlah kerusakan onderdil, lakban memegang peran krusial. Pernah kaca belakang Impala hancur dihantam monster Hidebehind yang mengamuk dan John menutupnya dengan terpal yang dilekatkan pakai lakban. Beberapa pipa dan selang di mesin mobil, Sam tidak benar-benar tahu apa namanya, apalagi fungsinya, juga pernah mengalami ditambal dengan lakban sampai mereka tiba di kota yang ada bengkelnya. Koleksi senjata anak beranak Winchester juga cukup banyak yang pernah mencicipi lengketnya lakban. Popor senapan, busur dan gagang pisau berburu adalah salah tiga di antaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam tersenyum-senyum sendiri kala terbersit di benaknya kenangan akan penggunaan lakban sebagai jebakan ular. Waktu itu ayah mereka sedang keluar dan Sam, baru enam tahun umurnya, menemukan seekor ular lumayan panjang melata di lantai apartemen. Dean yang dapat laporan dari adiknya bertindak tangkas dengan menutupkan sehelai permadani usang di atas ular kesasar itu dan melakban keempat tepi permadani ke lantai, dengan efektif memerangkap hewan berdarah dingin itu di dalamnya sampai John kembali beberapa jam kemudian. Sam ingat senyum bangga ayahnya yang tertuju pada Dean, tangannya yang mengacak rambut Dean lembut dan meski Dean bersikap seolah itu bukan masalah besar, tak urung ada kilatan bahagia di matanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasir toserba yang dihadapi Sam menyebutkan dengan nada bosan berapa jumlah yang harus dibayar dan mengulanginya sampai dua kali ketika pemuda itu cuma memberinya senyum menerawang, alih-alih buka dompet. Sam cepat tersadar, menggumamkan maaf sewaktu membayar tunai dan angkat kaki dengan sebuah kantung kertas penuh belanjaan dan dompet yang lebih ringan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Winchester termuda itu menaruh belanjaannya di dalam Impala, duduk di balik kemudinya dan mengarahkan mobil itu menuju apotek waralaba yang, dia tahu dari pengalaman, menyediakan obat-obatan lengkap dengan harga sesuai kocek keluarga Winchester. Tidak berapa lama dia keluar dengan kantung plastik penuh obat dan peralatan pertolongan pertama. Dia lantas melangkah ke sebuah toko bahan pangan yang papan namanya menggunakan aksara Cina yang mencolok dengan huruf Latin kecil saja di bawahnya. Di sana Sam memperoleh beberapa potong tahu, asal saja dia beli tanpa mendengarkan ocehan pak tua penjualnya tentang jenis-jenis tahu. Namun, sewaktu pria gaek itu berceloteh mengenai jamur dan beberapa bahan makanan lain yang namanya asing, tapi lunak dan berkhasiat meningkatkan stamina, Sam mau tak mau terbujuk untuk membelinya juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misi telah berhasil dilaksanakan, Sam mendapati pikirannya kembali melayang ke berbagai hal sepanjang perjalanan pulang ke motel. Ujung-ujungnya senantiasa berbelok ke soal lakban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih segar di ingatan Sam sewaktu dia hendak menghadiri acara wisuda SMA-nya. Momen yang amat penting dan menentukan saat itu. Sam lulus dengan predikat siswa terbaik di angkatannya, dia ditunjuk untuk berpidato mewakili rekan-rekan sekelas, John tengah ada di kota dan tidak punya rencana berburu sehingga untuk satu kesempatan yang langka dapat datang ke acara sekolah putranya. Tak perlu dijelaskan lagi betapa gembiranya Sam, meski dia tahu kesenangan itu tidak akan bertahan lama. Benar saja, ketika hendak berangkat menuju sekolah, toga wisuda Sam tersangkut dan kelimannya yang memang sudah kurang beres itu terlepas. Tak punya waktu untuk menjahitnya, tapi tak kurang akal, Dean mengacungkan segulung lakban dan beraksi menyelamatkan penampilan adiknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika mau ditarik agak jauh, kolaborasi antara lakban dengan barang-barang yang dikenakan oleh Winchester bersaudara sudah terjadi sejak lama. Sam menggelengkan kepala tatkala sebuah imaji tentang sepatu berwarna kelabu keperakan meluncur ke otaknya. Waktu itu dia masih duduk di sekolah dasar dan sepatu kets yang dipakainya adalah lungsuran dari Dean. Benda uzur yang tampangnya menunjukkan usianya. Suatu hari Sam pulang dengan sol sepatu menganga, Dean tidak punya cukup uang guna menjahitkannya ke tukang sepatu. Walhasil dia rekatkan sol itu dengan lakban. Menghadapi protes Sam bahwa sepatunya terlihat aneh, Dean berimprovisasi. Dengan rapi dia selubungi keseluruhan sepatu dengan lakban. Tak capek-capek dia meyakinkan adiknya bahwa sepatu Sam akan terlihat keren dengan warna metalik macam itu. Satu-satunya sepatu seperti itu di sekolah, katanya. Tentu saja, dumal Sam. Ajaibnya, belakangan sepatu warna perak jadi tren.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Daya kreatif Dean berkaitan dengan lakban tidak terbatas pada kisaran memperbaiki berbagai macam barang. Ada satu kejadian yang tak lekang dari memori Sam sampai kini dan bila mengenang itu, dia tidak tahu harus merasa geli atau ngeri. Peristiwa itu bermula dari kegandrungan Sam kecil pada komik Spiderman dan suatu hari liburan musim panas yang menjenuhkan. Entah dapat ilham dari mana, Dean memutuskan buat menghibur adiknya dengan cara bermain menirukan cerita di komik bertokoh manusia laba-laba itu. Dean, sembilan tahunan umurnya waktu itu, melilitkan lakban melingkar secara terbalik di telapak tangan dan lututnya, bagian berperekat ada di sisi luar. Dengan persiapan amatiran macam itu, dia merambati dinding rumah sewaan mereka, memanjat naik persis cicak dengan Sam memandang kagum dari bawah, bertepuk tangan girang, berseru bahwa setelah ini dia juga mau jadi Spiderman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Enam kaki vertikal sempat dilalui Dean sebelum John tiba dan kaget bukan buatan demi menyaksikan apa yang dilakukan putranya. John menurunkan paksa Dean dan setengah menyeretnya ke kamarnya. Sam tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam, tetapi Dean yang keluar dari kamar terlihat merah padam wajahnya dan John menampakkan ekspresi yang tak dapat dipahami Sam saat itu. Setelah dipikir ulang bertahun-tahun kemudian, Sam jadi bertanya-tanya apa ketakutankah nama mimik muka ayahnya ketika itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangkali tendensi menggunakan lakban di pelbagai kesempatan, terutama situasi darurat, adalah sesuatu yang bersifat genetis, duga Sam. Apalagi sebuah kisah yang pernah dituturkan Dean tampaknya mendukung sangkaan itu. Syahdan, pada saat hal ini terjadi, Sam baru berumur kurang dari setahun, masih bayi cilik yang memakai popok, tapi sudah ikut dibawa-bawa oleh ayahnya ke seantero negeri. Pada suatu ketika John lupa mengisi stok popok sekali pakai dan popok terakhir tengah dipakai Sam, siap dibuang lantaran sudah menguarkan aroma mengerikan. Berhubung kota terdekat masih beberapa puluh mil dan baik John maupun Dean sudah pusing dengan polusi udara dan suara (yang terakhir ini berupa pekik-tangis bayi Sam), John pun mesti putar otak. Akhirnya diperoleh solusi jitu. John menggunakan lembaran kantung plastik, melapisi sisi dalamnya dengan gulungan tisu toilet dan kapas. Benda itu lalu dipakaikan pada Sam dan coba tebak apa yang dipakai buat merekatkan kedua sisinya melingkari pinggang Sam. Yeah. Lakban tentunya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam mulanya agak sangsi dengan kesahihan cerita itu. Namun, konfirmasi John membuat dia mau tak mau percaya dan kisah popok dari plastik dan lakban itu menjadi humor keluarga atau bahan buat memeras Sam, tergantung dari sisi mana melihatnya. Sam meyakini ada banyak lagi cerita tentang ayah mereka dan lakban, tetapi John tak pernah mengisahkannya dan kedua putranya tidak bertanya, cuma mengikuti teladannya, terutama Dean.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bunyi klakson tak sabar di belakangnya membuat Sam menghela nafas. Dia menatap lurus ke depan, tak habis pikir bagaimana bisa terjadi kemacetan di kota yang tak begitu besar seperti ini. Barangkali ada kecelakaan atau mobil mogok, duganya. Atau mungkin ada orang gila yang mencangkung di tengah jalan. Bodi Impala yang bongsor tak memungkinkan dia pindah jalur, jadi Sam tidak dapat berbuat selain menanti kendaraan di depannya bergerak, yang tampaknya takkan terjadi dalam waktu dekat. Sempat dia terpikir untuk menelepon kakaknya, tapi niat itu diurungkan. Tidak usah mengusik macan sakit gigi yang sedang tidur, begitulah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terjebak di tengah kemacetan memberi seseorang banyak waktu untuk kontemplasi, setelah jemu menggerutu tentunya, dan itulah yang diperbuat Sam. Kadang pemikiran acak yang muncul dari situasi semacam itu cukup mengagetkan, absurd dan tak terduga, seperti potongan ide yang sekonyong-konyong menyusup ke benak Sam berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean sejatinya berbagi beberapa sifat yang mirip dengan lakban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam mengerutkan kening, dari bagian otaknya yang sebelah mana kesimpulan aneh macam itu datang? Dia menyeringai, menyamakan kakaknya dengan segulung pita perekat, jangan-jangan dia sudah mendekati edan. Namun, detik berikutnya Sam buru-buru meralat pemikirannya barusan sebab kalau mau ditelisik lebih dalam, hal itu ada juga unsur benarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang paling jelas, Dean dan lakban sama-sama memiliki kualitas melekatkan pada diri masing-masing, pikir Sam. Bila yang disebut terakhir itu lazim digunakan buat sebagai penempel aneka macam barang, Dean mempunyai daya untuk merekatkan keluarganya, dialah sebenarnya lem yang menjadikan keluarga Winchester, atau sisa-sisanya, kurang-lebih utuh selama bertahun-tahun. Hal itu tidak gampang, renung Sam. Tidak sama sekali. Di antara ayahnya dan Sam, Dean lebih sering berakhir sebagai wasit yang frustrasi. Kedua orang yang sama-sama disayangi Dean itu kalau tidak ribut bertengkar, ya berada dalam situasi gencatan senjata tentatif, dengan ranjau-ranjau emosi yang siap meledak bila tak sengaja terpijak. Namun, Dean tetap berusaha keras agar mereka bertiga tak tercerai-berai sebab cuma itu satu-satunya yang dia punyai. Sam tersenyum getir. Kenyataan bahwa John dan Sam tidak berakhir dengan saling bunuh itu sebagian besar lantaran jerih payah Dean "menjinakkan" mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persamaan sifat berikutnya antara Dean dan lakban masih berhubungan erat dengan kualitas merekatkan di atas, yakni kemampuan memperbaiki hampir segala macam kerusakan yang ada. Jika lakban digunakan buat membikin betul (atau terpakai) beragam barang kebutuhan sehari-hari, Dean dengan upaya-upaya diplomasi yang acap tidak diplomatis senantiasa berupaya meredakan konflik antara adik dan ayahnya, menautkan kerenggangan dua manusia yang bak magnet dari kutub yang sama itu, membuat suasana di rumah temporer mereka menjadi lebih tertahankan. Dean tak pernah lelah mencoba memperbaiki setiap celah dan retak sisa benturan yang terjadi di antara mereka, terkadang sampai mengabaikan diri dan perasaannya. Kalau dulu Sam menilai itu sebagai tanda ketergantungan Dean yang tak sehat, kini dia mulai mampu melihat bahwa itu bisa jadi merupakan bukti pengabdian dan cinta tanpa syarat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, nasib Dean juga tidak jauh-jauh dari lakban di satu sisi. Bila semua sedang beres, dia tak terlalu diacuhkan. John menganggapnya sudah dapat mandiri dan Sam sibuk dengan dirinya sendiri. Keberadaannya baru signifikan bila ada problem terjadi dan Dean dibutuhkan. Selain itu, Dean biasanya ada di tepi ring, mengamati suasana seraya berharap tak terjadi lagi pertikaian, tetapi dia tahu bahwa akan selalu ada cekcok babak berikutnya dan dia mesti turun tangan. Ya, seperti lakban yang saat tiada kerusakan disimpan di lemari dan baru dicari, dikeluarkan jika perlu. Persis pita perekat itu pula, sepanjang pengetahuan Sam, Dean tidak pernah protes dengan posisinya yang demikian. Dia menerima saja dengan kalem, berfungsi tanpa mengharapkan banyak, apalagi menuntut pamrih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ringkasan memori akan berbagai macam kegunaan lakban dalam reparasi segala barang hadir kembali di kepala Sam dan kali ini dia berpikir bahwa Dean juga seperti itu: multifungsi. Bagi John, dia adalah putra sulung yang dapat diandalkan, wakil komandan dalam pasukan kecil Winchester, pengurus logistik nan mahir, penghiburan bagi John saban kali dia pulang dari berburu. Bagi Sam, yah... Dean adalah representasi hampir semua peran dalam keluarga. Dean adalah kakak yang secara praktis merangkap ibu dan sesekali ambil posisi sebagai pengganti ayah juga. Dia saudara, sahabat, lawan latih-tanding, musuh bebuyutan dalam beraneka perkara, pendidik sekaligus perusak Sam. Dean menjalankan peran-peran itu secara otomatis, beralih dari satu fungsi ke yang lain semulus transmisi mobil baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam tengah mengetuk-ngetukkan jemari di lingkaran kemudi Impala sewaktu satu lagi persamaan antara Dean dan lakban terpikirkan olehnya. Dia ingat samar-samar mengenai beberapa buah kotak kardus yang tersuruk di bagasi Impala, di bagian yang jarang terkena sinar matahari, semuanya tersegel rapi oleh lakban. Sekarang kotak-kotak itu sudah tiada lagi di sana, entah dikemanakan. Sam hanya ingat, sepanjang masa kecilnya yang berpindah-pindah, tak sekali pun kotak itu dibuka ataupun dikeluarkan dari tempatnya. Sam tidak tahu pasti apa isinya, John tak pernah mengatakan apapun tentang itu, melarang membuka pun tidak. Namun, dari ekspresi kakak dan ayahnya tiap kali mata mereka menemukan kotak-kotak itu, Sam paham bahwa apa yang ada di dalam adalah hidup mereka yang terdahulu. Masa lalu yang dikemas dan ditutup rapat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean pun begitu, Sam membatin. Dia seperti lakban yang dipakai untuk merapatkan celah kotak masa lalu, agar kotak itu dapat dipendam di suatu tempat tanpa ada yang mengutak-atik isinya. Orang yang tidak mengenal dekat Winchester bersaudara akan menilai bahwa Sam adalah tukang menyimpan segalanya dalam hati. Mereka tidak tahu bahwa Dean sesungguhnya yang demikian. Paling tidak, Sam mau diajak bicara. Kalau Dean, dia cenderung mengunci hal-hal lampau dan segenap persoalannya dalam hati, bersikap seolah tidak ada yang salah dan biasanya galak bila ada yang nekat mengorek, hal mana yang kerap membikin Sam frustrasi. Memancing keterangan dari Dean sama dengan membuka kardus berlakban tanpa boleh merobekkan kardusnya: mesti hati-hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, simpul Sam di tengah kemacetan lalu lintas sore itu, Dean seperti lakban dalam beberapa sisi. Barangkali karena persamaan sifat itulah makanya Dean lekat dengan benda itu, mengandalkannya buat menyelesaikan sebagian problemnya. Sebagian saja, karena kadang-kadang meski telah berupaya dengan inventif, tetap ada yang tak dapat diperbaiki hanya dengan lakban. Namun, untuk mayoritas masalah, lakban biasanya cukup. Dean seperti itu pula, batin Sam. Dia memang tak sanggup mengatasi semuanya sampai betul-betul beres, tetapi usaha dan keberadaannya biasanya telah memadai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lolongan tuter yang tiba-tiba terdengar lagi dari belakang menyentakkan Sam dari renungannya. Dilihatnya dari balik kaca depan bahwa mobil di depannya telah berjarak sepuluh kaki dari ujung muka Impala. Sam buru-buru memasukkan gigi dan menekan gas perlahan-lahan, membawa Impala mengikuti simpul kemacetan yang kini mulai terurai sedikit demi sedikit. Agak lega juga dia lantaran akhirnya ada prospek nyata untuk bisa kembali kepada kakaknya di motel sebelum hari gelap. Konsentrasi sepenuhnya dicurahkan pada laju merambat mobilnya, sehingga pemikiran tentang Dean dan lakban untuk sementara disisihkan di salah satu kompartemen otaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata "lakban" dan semua yang muncul karenanya baru mulai merayapi ruang di benak Sam pada penghujung hari. Saat itu Sam tengah mencuci piranti yang baru dipakai masak dan makan, tangannya terbenam dalam air sabun di bak cuci piring sampai ke siku. Dia telah menjalani satu hari melelahkan lagi sebagai perawat, pelayan merangkap dayang bagi kakaknya. Menyiapkan hidangan makan malam, membujuk Dean agar mau menyantapnya dan sedikit mengancam ketika Dean membandel. Memunguti tisu bekas yang bergelimpangan di sekitar tempat sampah, menafsirkan bahasa tarzan Dean yang suaranya raib total dan secara umum meladeni apa mau kakaknya yang bosan kuadrat sepanjang itu bukan hal yang kelewat sinting.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rampung dengan panci, piring dan mangkuknya, Sam berbalik dan menuju ke meja di antara tempat tidur. Dia memungut termometer dari sana dan menepuk bahu Dean yang terbaring mengantuk dikerumuni bantal-bantal dan selubung selimut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hei, Dean. Buka mulutmu, aku mau ukur suhu," Sam meminta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa membuka mata, Dean membiarkan Sam menyematkan termometer itu di mulutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sembari menunggu, Sam membuka sejumlah botol obat dan mengeluarkan isinya tanpa perlu membaca label yang tertulis di luarnya. Dituangnya air ke dalam sebuah gelas, pil beragam warna tergenggam di telapak tangannya. Setelah lima menit, Sam mencabut si termometer dan menghela nafas lega menilik angka yang tertera di sana. Dean sudah tidak begitu panas sehingga Sam memulangkan pil yang berkhasiat menurunkan suhu tubuh ke wadahnya semula.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Waktunya minum obat," Sam sengaja melagukan kata-katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dean mengulurkan tangan dari balik selimut dan Sam meletakkan pil-pilnya di sana. Keping-keping kecil itu segera berpindah ke kerongkongan Dean dan Sam membantunya meneguk air. Dean jatuh tertidur tak lama kemudian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sam memandangi sosok lelap kakaknya untuk beberapa saat. Ya, batinnya, pemikiran tentang lakban kembali ke otaknya dengan kekuatan penuh, Dean telah menjadi "lakban" bagi keluarga mereka. Tanggung jawab untuk merekatkan, menyelesaikan masalah dan menjaga keluarga senantiasa tersandang di bahunya. Dean tidak pernah mengeluh tentang itu. Namun, bila dia tengah rapuh atau lemah, siapa yang akan merawatnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sorot mata Sam melembut oleh rasa sayang dan penuh tekad sekaligus sewaktu dia membenahi letak selimut Dean yang merosot. Kau punya aku, Dean, Sam berikrar tanpa suara, biarkan aku yang menjadi "lakban" bagimu. Bagaimana?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasur Sam berderit ketika pemuda itu merebahkan tubuh di atasnya. Sam menarik selimutnya, mencari posisi paling nyaman dengan jatah bantal minim dan sekali lagi melayangkan pandang ke ranjang di seberangnya, di mana seseorang yang paling berharga buatnya berada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Malam, Kak."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyum tipis masih membayang di bibirnya tatkala Sam mematikan lampu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;~*~&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SELESAI&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-5374329833127921518?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/5374329833127921518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/fic-duct-tape.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/5374329833127921518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/5374329833127921518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/10/fic-duct-tape.html' title='Fic: Duct Tape'/><author><name>Oryn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000517090509498167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_EjOLlUylyCA/S6nW-yAp-qI/AAAAAAAAACw/RN9EyDp5olY/S220/Chessmen.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-8479461026360303141</id><published>2010-07-02T09:16:00.002+07:00</published><updated>2010-10-09T14:06:03.898+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Humor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Steph'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: K+'/><title type='text'>Fic: One Day at Thursday Night</title><content type='html'>&lt;b&gt;One Day at Thursday Night&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disclaimer : Not own Supernatural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating : K+&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genre : Humor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A/N : Parahnya karena WorldCup, aku jadi tidur pagi (jam 5) dan selalu bangun siang (kisaran jam 11) jadi nggak bisa ngumpulin ide dan ngetik di komputer. So, aku selalu maksa dapet ide yang selalu muncul tepat 00.00 dengan kondisi males nulis di kertas. Jadinya kagak pernah ngeluarin FF sama sekali. Dan FF ini baru saja di tulis dengan tingkat kemalasan tertinggi, pada hari kamis 1 Juli 2010 pada pukul 00:04 WIB semalam. &lt;br /&gt;Jadi maap kalo agak aneh dan nggak lucu.&lt;br /&gt;hehehehe.. maklum mata masih ngantuk.. o.o&lt;br /&gt;PS: Hahahahaha.. Yang dihadapin sama Dean alias sindrom malas melakukan apa - apa terjadi padaku tadi malam. wkwkwkwkkwk ^.^ &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean duduk malas di sebuah kursi kayu di motelnya dengan dua botol Jack Danniel's di atas meja kayu di depannya. Diiringi dengan beberapa gelas kecil nan kosong di atas meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean, kau yakin kau baik - baik saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah. Aku sedang bosan." kata Dean sambil memutar - mutar gelas yang terisi seperempatnya saja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tertawa renyah, serenyah kerupuk udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru kali ini aku mendengar kau bosan, dude."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku serius."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga." timpal Sam kemudian sedikit terkekeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menoleh kepada Sam yang ada di belakangnya dan melotot pada adiknya itu. Dean sebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" tanya Sam tanpa wajah bersalah dan tanpa nada bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau terlihat benar - benar bad mood, Dean." sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memang sedang tidak mood melakukan apa - apa. Malas bergerak." kata Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Pernyataan bodoh! Pikir Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Masa?" goda Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar." kata Dean sedikit sebal sambil mengangguk pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tertarik untuk makan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak." jawab Dean hambar tanpa garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal aku mau pesan super combo bacon cheeseburger, pai apel dan pai ayam, calamari dan terakhir kentang wedges serta diet coke."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean hanya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah malam, tidak ingin makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melonjak kaget dari tempatnya duduk. Sejak kapan Dean Winchester menolak makan? Apalagi untuk si bacon cheeseburger. Bahkan kalau ada antrian GRATIS bacon cheeseburger sepanjang antrian minyak tanah di Indonesia, Sam yakin Dean akan tetap mengantri demi sebongkah bacon cheeseburger itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau yakin?" tanya Sam dengan nada tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku yakin Sammy." kata Dean lagi sambil memberi anggukan yang meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm... okay, tidak selera makan. Bagaimana kalau kita ke bar saja? Ocean Blues Night menampilkan tarian striptease malam ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak." jawab Dean tanpa nada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa??!!!" tanya Sam lebih terlihat kaget daripada bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya Dean santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak tertarik pada Cameron? Malam ini dia yang akan menari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak." jawab Dean lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam segera berjalan ke arah Dean yang asik memainkan gelas kecil itu sambil memutar - mutarnya. Sam mengambil kursi kayu lain, kemudian duduk di samping Dean. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?" tanya Dean. Dia sedikit kaget dengan kehadiran Sam yang nyaris tanpa suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tidak menghiraukan Dean. Dia malah mengulurkan lengannya dan meletakkan telapak tangannya ke kening Dean. Satu hal, Dean tidak sedang demam. Apa dia terkena gangguan otak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak sakit bodoh." kata Dean sambil menampis tangan Sam yang masih di keningnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau tidak menolak Cameron tadi, mungkin aku berpikir kau masih sehat, dude. Tapi kau menolak Cameron. Cewek dengan rambut gelap OBN yang seksi dengan dada super besar itu? Yang benar saja! Minggu lalu saja kau sempat tidak pulang selama dua hari karena mengencani gadis itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memutar bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa? Aku sekarang dalam fase-malas-untuk-melakukan-seks." kata Dean sambil mendiktekan setiap suku kata kalimatnya kepada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah! Fase-malas-untuk-melakukan-seks? Mana ada yang seperti itu?? Tapi kau Dean Winchester! Dan kakakku yang kukenal, seumur hidupnya tidak pernah menolak yang namanya perempuan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti aku harus masuk Guiness Book."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dean!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bercanda!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga Sammy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya diam, hatinya dongkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya tidak ada perburuan kah hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada Dean." jawab Sam malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Phhfft.. Pantas hari ini membosankan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagipula, ini kan jam 11 malam, Dean."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setan kan tidak punya jam dinding Sammy." kata Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya bisa mengerucutkan bibir. Apa kakaknya terlalu mabuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaaahh.. bosan." kata Dean kemudian menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. bagaimana kalau berkeliling kota dengan Impala? Kau bisa menyalakan Metallica, AC/DC, Zepps, atau apalah itu sekeras mungkin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, tidak aa minat. Sudah malam. Boros bensin dan aki saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau yakin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Sam selesai bicara, Dean menyodorkan setengah gelas kecil yang berisi Jack Danniel's tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diam dan minumlah ini." kata Dean lebih mirip perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi.." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minumlah, atau kau kupanggil grannie Sammy karena terlalu cerewet!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memutar bola matanya, kemudian menenggak minuman itu, dan menggebrakkan gelasnya ke meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah selesai, grandpa Dean?" tanya Sam kesal. Kalau aku grannie Sammy, maka kau adalah grandpa Dean. Umpatnya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana rasanya Sam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau aneh Dude."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omong kosong! Bagaimana kalau kau tidur saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sedang tidak ingin melakukan apa - apa Sammy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mengantuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menoleh. Matanya memang sayu. "Aku tidak bisa tidur, sammy." kata Dean lirih. Hampir memelas dalam konteks ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan kubuatkan kau sesuatu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan buatku penasaran Bitchy Sammy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikut aku." kata Sam sambil menarik tangan Dean. Mau tak mau, Dean juga beranjak dari kursinya. Dia tidak mau diseret - seret Sam, memangnya dia kambing sembelihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mendorong tubuh Dean ke atas tempat tidur Dean dan kemudian menggerakkan kedua tangannya tepat di samping kanan dan kiri Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woa! Dude, aku masih normal!!" teriak Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak ingin memperkosaku kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bodoh! Aku hanya menyuruhmu berbaring. AKu baru saja akan menarik selimutmu, tolol." kata Sam kemudian menyelimuti tubuh Dean dengan kain afghan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diam disini. Aku akan segera kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh kemudian, Sam kembali dengan sebuah gelas berwarna pink bergambar panda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memutar bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Panda??" Dean menatap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya menatap si panda di gelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah! Kau terlalu banyak drama Sammy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minumlah." kata Sam sambil menyerahkan gelas itu kepada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mencoba menerka apa isi gelas itu. Cahaya kamar mereka yang remang - remang mengacaukan penglihatan terhadap barang berwarna gelap nan cair di dalam gelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Susu coklat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari baunya saja kentara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minumlah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dude!! AKu sudah 30 tahun! Dan kau menyuruhku minum susu coklat penghantar tidur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, waktu kau kecil, susu coklat selalu membantumu untuk tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bohong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku serius. Saat aku kecil, sudah terhitung 5 kali," Sam menunjukkan kelima jarinya kepada Dean, "aku melihatmu minum susu coklat malam - malam. Ketika itu, aku mau pipis saat tengah malam, dan aku melihatmu sedang membuat susu coklat di dapur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memutar bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat itu aku kan belum akil balig!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah, kau akil balig saat usiamu 13 tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sammy! Tidak usah membahas masalah akil balig-ku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, minumlah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak akan berhasil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa tahu, kau hanya malu mengakuinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat dan Perhatikan!" sahut Dean kesal. Dan akhirnya dia menenggak susu coklat hangat itu di depan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada reaksi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tunggu saja." kata Sam sedikit bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bohong! Aku sudah melihatmu menguap empat kali. Matamu saja sudah berair."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh shit! Baiklah." kata Dean tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, selamat tidur Dean." kata Sammy sambil tersenyum penuh makna kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya sendiri dan siap mematikan lampu tidur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thanks." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyelamatkan aku dari malas melakukan apa - apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak papa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan untuk susu coklat hangat itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It's okay Dude."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thanks sammy. Malam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian dengkuran keras dari Dean mulai terdengar. Menemani malam Sam yang masih tetap terjaga sambil tertawa simpul. Aku sayang kamu Dean. kata Sam dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=END=&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-8479461026360303141?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/8479461026360303141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/07/one-day-at-thursday-night.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/8479461026360303141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/8479461026360303141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/07/one-day-at-thursday-night.html' title='Fic: One Day at Thursday Night'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-8975655057776268251</id><published>2010-04-29T06:09:00.004+07:00</published><updated>2010-10-09T14:04:47.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: RED_dahLIA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Family'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: T'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Challenge: Mpreg'/><title type='text'>Fic: Papa Bear</title><content type='html'>Judul : Papa  Bear&lt;br /&gt;Rating : T (mungkin)&lt;br /&gt;Genre : Family – Komedi (mungkin)&lt;br /&gt;Disclaimer : Winchester Brother jelas bukan punyaku. Kalo punyaku mungkin udah aku ajak poliandri *dipentung Mr.Eric* Judul ff ini diinspirasi dari film kartun “Brother Bear” yang sedikit banyak juga ikut menyumbang ide cerita.&lt;br /&gt;A/N : Semoga FF ini bisa diterima dengan baik karena keterbatasan waktu, alurnya aku percepat. Maap juga kalo deskripnya kurang detail dan ada salah-salah dalam menjabarkan gejala kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang berkabut, udara yang lembab dan jalanan yang berubah dari jalan beraspal menjadi jalan tanah berbatu menyambut kedatangan Sam dan Dean di sebuah kota kecil. Sementara bahan bakar mulai menipis dan Dean sedikit gelisah karenanya, Sam lebih memilih untuk mengamati pemandangan khas kota kecil yang terpampang di kanan-kirinya. Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan memiliki detail yang sangat khas, menegaskan diri sebagai bangunan kuno. Atapnya menjulang, jendela-jendela oval dan tinggi, ditopang pilar-pilar kayu dan memiliki halaman yang sangat luas, sehingga jarak antar satu rumah ke rumah satunya berjauhan. Pepohonan dan semak-semak rimbun seolah tumbuh di mana-mana hingga pemandangan didominasi warna hijau-hijau menyegarkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berhenti di sini saja, bro,” kata Dean setelah menemukan pom bensin kecil dan ada sebuah toserba di seberangnya. ”Kau tahu apa yang harus kau lakukan di toserba itu, kan? My baby ini butuh dimanjakan sebentar di sini. Dia sangat kehausan dan aku juga butuh makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam segera mengerti apa maksud perkataan Dean ini. Lagipula dia memang sudah mulai lapar dan persediaan makanan mereka sudah habis. Dean bisa sangat kelaparan di waktu malam. Entah kenapa sepertinya dia terlahir dengan napsu makan yang meluap-luap. Maka Sam melangkahkan kakinya ke dalam toserba dan mengedarkan pandangan, mencari-cari makanan atau snack apa yang biasa mereka konsumsi selama ini.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang spesial dari toserba itu selain rak-raknya agak berdebu dan penjaganya seorang wanita tua yang berusia lebih dari separuh abad. Penjaga toserba itu tampak lebih asyik bergosip dengan seorang pengunjung wanita paruh baya daripada mengawasi dagangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menghela nafas panjang. Agak cemas juga kalau seumpama makanan kemasan yang tersusun di semua rak-rak itu sudah kadaluarsa. Meski pikirannya sudah mulai macam-macam, Sam mulai sibuk memilah dan meneliti tanggal kadaluarsa beberapa kotak biskuit. Di sela-sela kesibukannya ini tanpa sengaja dia mendengar percakapan antara penjaga toserba dan pengunjung wanita tadi. Pembicaraan kedua wanita itu sangat seru sehingga sulit untuk berpura-pura tidak mendengarkan, mau tak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”...orang-orang akan terus membicarakan hal ini selama berabad-abad, menurutku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”...jelas-jelas sangat aneh. Bayangkan saja! Janin dalam kandungan bisa menghilang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita tua penjaga toserba itu mengibaskan tangannya. Ekspresi wajahnya terlihat sangat bersemangat saat berkata, ”Seharusnya bayi itu sudah lahir bulan ini, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi apa kau pernah berpikir, Rose...? Kalau ini hanya akal-akalan saja. Bisa saja gadis itu melakukan aborsi,” sambung lawan bicaranya dengan bertopang dagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, Emily. Aku tidak terlalu yakin dan sebenarnya tidak ingin terlalu banyak tahu,” balas Rose, penjaga toserba itu, meskipun jelas sekali dia berbohong kalau berkata dia tidak ingin banyak tahu. Malah tampaknya justru dia ini sumber informasi yang bisa diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu Sam merasakan perasaan tidak nyaman, seperti rasa penasaran yang menggebu-gebu dan menuntut dituntaskan. Kepalanya mulai berpikir dan berpikir tentang ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini, bahwa dia harus menyelidikinya bersama Dean dan menolong gadis malang yang (kalau apa yang didengarnya ini benar) telah kehilangan janin yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf...” kata Sam, menyodorkan keranjang belanjaannya yang baru terisi separuh kepada Rose dan berusaha memasang wajah senormal mungkin. ”Apa itu benar? Maksudku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benar!” sahut Rose dan Emily kompak, tak ada sorot curiga di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pasti orang asing di sini. Jadi wajar kalau belum tahu banyak. Kabar ini sudah menyebar ke pelosok kota. Kota ini kecil, nak. Rahasia pribadi seseorang bisa menjadi rahasia umum di sini...” cerocos Rose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kedua orang wanita biang gosip itu menganggap Sam sebagai orang asing yang tak akan berlama-lama di kota mereka sehingga tanpa ragu mereka menceritakan kabar menghebohkan tadi secara sahut-menyahut. Hanya butuh waktu sebentar saja bagi Sam untuk mengantungi informasi yang ia perlukan. Rose dan Emily tampaknya memang penggosip yang sudah ahli. Kabar yang semestinya bisa berdurasi lima menit bisa jadi berjam-jam kalau Sam tidak buru-buru berpamitan dan segera membayar belanjaannya. Di pom bensin Sam menemukan Dean sedang berkacak pinggang menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kukira kau sedang ketiduran di dalam sana,” sindir Dean sambil memeriksa isi kantung belanjaan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak juga. Kupikir malah aku menemukan kasus menarik dari wanita penjaga toserba itu. Kasus aneh dan unik yang belum pernah ku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa dia cantik?” potong Dean, dan segera menyambungnya saat melihat ekspresi kebingungan Sam. ”Wanita penjaga toko itu. Apa dia cantik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia cantik, tentu saja. Mungkin di masa mudanya, sekitar 20-30 tahun yang lalu. Masih berniat kencan dengannya?” jawab Sam, nyengir saat Dean tersenyum kecut mendengar jawabannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah Sudahlah! Ceritakan saja apa kasus menarikmu itu, Sam!” sahut Dean setengah mengomel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis malang itu bernama Hanna. Seorang gadis keturunan indian yang hidup bersama neneknya di sebuah mobil caravan tua di pinggiran kota. Posisi caravan yang dekat dengan kawasan hutan mengesankan kalau mereka memang sengaja mengucilkan diri dari masyarakat sekitar. Tapi Indian itu adalah suku yang sangat menghormati arwah leluhurnya dan begitu memuja alam. Itulah yang pernah Sam baca dari sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caravan milik Hanna dan neneknya itu berukuran cukup besar dan berdiri di sebuah tanah lapang. Ada sebuah kandang ayam di dekatnya, juga pot-pot bunga beraneka ukuran. Benar-benar lingkungan yang sederhana untuk ditinggali pikir Sam saat dia dan Dean tiba di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanna sendiri adalah gadis yang berpenampilan jauh berbeda dari caravannya dan bayangan Sam tentang gadis keturunan Indian segera buyar begitu gadis cantik itu membuka pintu caravannya segera setelah Dean mengetuknya. Pakaian yang dikenakan Hanna hampir sama dengan yang dikenakan gadis kota modern pada umumnya. Rambutnya yang hitam sepinggang terurai rapi dan berkilau tertimpa cahaya matahari. Dia juga memakai make up tipis. Namun selebihnya, gadis itu terlihat murung dan pelit tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa kalian?” tanya Hanna agak ketus, mengangkat dagunya perlahan dan mengamati Sam dan Dean lekat-lekat dari bawah sampai atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam yang merasakan tatapan menyelidik dari bola mata coklat tua Hanna buka suara, ”Kami berdua ini mahasiswa yang sedang dalam penelitian tentang keturunan masyarakat Indian modern, karenanya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Omong kosong!” potong Hanna kasar. “Penampilan kalian tidak seperti mahasiswa…” sambungnya, melirik Dean tajam. ”...kalian pasti dikirim oleh orang-orang bermulut besar itu, kan? Yang senang sekali berkata macam-macam tentang musibah yang sedang menimpaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu, nona!” sergah Dean saat Hanna hendak menutup pintu caravan. ”Kami datang untuk menolongmu. Percayalah walaupun itu sulit, tapi kami punya keahlian di bidang seperti ini...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Dean justru membuat Hanna semakin berang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kalian ini datang untuk menolong atau meneliti? Kalian ini mahasiswa atau paranormal? Kalau berbohong yang kompak dong!” ujarnya sambil membanting pintu tepat di depan muka Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terpana, sebelum berkata dengan ekspresi marah yang dibuat-buat, menirukan ekspresi Hanna tadi, ”Kalau berbohong yang kompak dong, Sam! Yeah, dia benar juga sih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum serba salah. Paling tidak dengan sambutan yang mereka terima ini sudah membuktikan kalau kabar itu bisa jadi ada benarnya. Gadis itu sedang tertimpa kesusahan. Masih saja terasa aneh kalau janin yang ada di rahim bisa lenyap begitu saja tanpa bekas, namun untuk ukuran orang waras seperti Hanna, mengalami kejadian mengerikan dan menjadi bahan pembicaraan seisi kota seperti itu membuatnya wajar untuk merasa curiga kepada setiap orang asing yang datang. Belum lagi nada tertekan dan menahan tangis di sela-sela kemarahan Hanna yang sempat Sam dengar tadi membuatnya mengira kalau saat ini gadis itu memendam depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi sekarang bagaimana ini?” tanya Dean. ”Kalau saja tadi kita menyamar jadi agen FBI atau peneliti dari NASA, mungkin saja kita bisa memaksanya buka mulut. Kita kan bisa menciptakan alasan konyol kalau pemerintah curiga kota ini jadi teritori alien dan janinnya hilang diculik alien, mungkin. Alasan konyol yang aku sendiri tidak percaya bisa menyarankan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Entahlah, Dean. Kupikir FBI, NASA atau sesuatu yang berbau seperti itu tidak terlalu disukai warga Indian keturunan. Selama ini kan mereka jarang diperhatikan pemerintah, jadi bisa saja Hanna malah akan menolak sama sekali untuk membukakan pintu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau kita tidak bisa mengorek keterangan darinya, bagaimana kalau dari neneknya?” kata Dean, menunjuk seorang wanita tua berambut putih yang sedang terseok-seok berjalan mendekati caravan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan cucunya yang sudah tampil modern, nenek Hanna ini masih punya ciri khas keturunan Indian. Tampak dari kalung-kalung dari serat tumbuhan dengan bandul rangkaian taring binatang buas, batu-batu alam dan lain-lain yang menghiasi lehernya yang keriput. Wanita berhidung bengkok dan sepertinya sudah berumur delapan puluh tahunan itu langsung terperangah saat melihat kehadiran dua orang asing di depan caravannya. Namun sebelum Sam dan Dean sempat berkata-kata, nenek itu sudah membuka mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalian datang dari jauh, sangat jauh...” potong nenek Hanna setengah berbisik sembari memejamkan mata rapat-rapat. Sam dan Dean beradu pandang sejenak sebelum kompak mengangguk. ”...kalian orang baik, aku bisa melihatnya dan begitu pula yang dikatakan roh-roh hutan kepadaku. Mereka mengatakannya bersamaan dengan hembusan angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean berhasil menyembunyikan suara dengusnya menjadi batuk kecil. Dia hampir saja tersedak di tengah usahanya untuk menahan tawa. Terlebih lagi saat nenek Hanna itu membelai-belai udara kosong di sekitarnya seolah-olah ia sedang dikelilingi makhluk-makhluk berwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan kau,” tunjuk nenek Hanna kepada Dean. Dean berdehem, mencoba tetap terlihat tenang. “Suara angin memberitahukan banyak hal tentangmu. Tentang bagaimana dirimu sebagai seorang manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam sudah mulai gugup saat Dean berbisik dari sudut bibirnya, “Hey, Sammy. Kau tahu apa maksud racauan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya Sam mengira penilaian nenek Hanna (atau penilaian roh hutan) tentang Dean sama saja seperti orang kebanyakan. Sudah tak terhitung berapa kali Dean dinilai sebagai seorang playboy, culas, penipu ulung, dan pandangan negatif lainnya. Hal yang menurut Sam ada kalanya benar meski dia benci untuk mengakuinya, namun tetap saja Dean adalah kakak terbaik di dunia baginya dan orang-orang tak mengenal Dean sebaik Sam mengenalnya. Lagipula ada beberapa sisi dalam diri Dean yang kadang begitu protektif kepada apa saja yang bisa melukai adiknya. Hal-hal semacam itulah yang hanya bisa dilihat oleh Sam seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau adalah manusia yang penuh rasa cinta dan kasih sayang. Seorang petarung yang tangguh dan tak ragu untuk berjuang demi orang-orang yang kau cintai,” ujar nenek Hanna mantap, mengusap pipi Dean sambil terus memejamkan kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu benar sekali,” sahut Dean bangga. Keterkejutan Sam berubah menjadi gemas saat melihat hidung Dean kembang-kempis. Sam hanya bisa memutar bola matanya, berharap supaya semua pujian ini segera dihentikan sebelum kepala Dean membesar sebesar labu ukuran jumbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karenanya kau cocok dengan totem ini, nak,” sambung nenek Hanna sambil mengangsurkan kalung berbandul kayu, seukuran ruas jari telunjuk orang dewasa dan berukir bentuk hewan buas. “Beruang. Lambang cinta dan sang pelindung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, terima kasih…” kata Dean agak terbata saat nenek Hanna serta merta mengalungkan benda itu ke lehernya. ”Terima kasih, nyonya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Moegli. Panggil saja aku dengan nama yang diberikan arwah leluhurku itu. Panggil aku Moegli,” balas wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memang mirip beruang,” kata Sam saat Dean menunjukkan ukiran indah di bandul kalungnya dengan senyum lebar di wajahnya. ”Porsi makan dan durasi tidurmu, maksudku.” Senyum lebar di wajah Dean pun berganti senyum sebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moegli mengajak Sam dan Dean duduk di kursi kayu memanjang yang berada di dekat kandang ayam. Mengesampingkan gaya bicara wanita itu yang puitis dan seolah penuh filosofis, sebenarnya Moegli adalah wanita yang baik dan ramah. Dia cukup terbuka mengenai cucunya dan aktif berbicara sampai pada hal-hal yang dianggap Sam keluar topik, seperti bagaimana cara merebus akar-akaran di hari hujan menurut nenek moyangnya dan pertanda yang akan muncul di malam hari saat suara burung hantu di hutan terdengar lain dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu sudah terjadi sejak tiga hari lalu,” ungkap Moegli setelah Sam berhasil membelokkan pembicaraan mengenai ramuan jamu yang tepat untuk mencegah kutil di kaki. ”Hari kelahiran tinggal menghitung hari saat mendadak perutnya mengempis. Dokter di kota tidak terlalu pintar untuk bisa tahu apa penyebabnya. Mereka mengira Hanna sudah jauh-jauh hari meminum obat peluntur kandungan atau apalah itu sebutan mereka. Maka dari itu aku membawa Hanna ke dukun kami di pinggiran lain dari kota ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi ada keturunan Indian lain di kota ini?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada, cukup banyak. Sebenarnya kami semua biasa hidup berkelompok. Namun aku lebih memilih untuk menjaga tanah ini karena ayah Hanna mewariskannya sebelum ia meninggal. Rupanya ia ingin kami menjaga makam putriku yang meninggal saat melahirkan Hanna. Makam putriku itu masih berada di dalam lahan ini, berbatasan dengan hutan. Ayah Hanna itu orang kulit putih yang sangat baik,” jawab Moegli dengan tatapan menerawang. ”Suatu hari yang berawan di musim panas saat putriku membawa pria itu ke kamp kami...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, apa yang dilakukan dukun kalian terhadap Hanna?” potong Sam sebelum Moegli sempat berpanjang-lebar menceritakan silsilah keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dukun kami tak bisa berbuat banyak. Hanya banyak mantra dan beberapa ramuan jamu yang mengepulkan asap kelabu. Kata beliau, ini semua adalah pekerjaan roh-roh putih dan tak ada yang bisa dilakukan selain diam menunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak saja Sam dan Dean saling berpandangan saat mendengar kata ’roh-roh’. Berarti benar dugaan mereka kalau semua ini masih berhubungan dengan dunia supranatural. Namun kali ini mereka sedang berhadapan dengan roh-roh yang berasal dari bangsa Indian. Apakah ada mantra latin yang akan mempan dengan roh semacam ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, siapa sebenarnya ayah dari calon bayi itu?” tanya Dean hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moegli menatap Dean selama beberapa menit sebelum menjawab, “Seorang pemuda kulit putih yang baik, sama seperti kalian dan juga ayah Hanna. Hanya saja dia sudah meninggal sebelum Hanna sempat memberitahukan kehamilannya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami ikut menyesal mendengarnya,” kata Sam lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia meninggal karena sakit keras, penyakit sama yang juga telah membunuh ayah Hanna sepuluh tahun lalu. Tak perlu waktu lama bagi keluarganya untuk menuduh Hanna sebagai pembawa kesialan. Mereka menuduh Hanna melakukan guna-guna atau semacamnya untuk memikat pemuda itu. Padahal itu sangat tidak mungkin. Penyebab kebencian mereka yang paling masuk akal adalah karena kami keturunan Indian. Kuharap roh-roh hutan menghukum mereka suatu hari nanti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sunyi untuk beberapa saat sebelum Moegli kembali berkata dengan suara bergetar dan kedua mata berair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sejak janin Hanna menghilang, keadaan semakin memburuk. Bahkan di kalangan kami sendiri, keturunan Indian, menganggap kejadian yang menimpa Hanna ini adalah sebuah kutukan. Mereka percaya tanah warisan ayah Hanna ini adalah tanah terlarang dan roh-roh hutan melaknat tanah ini, karena sebenarnya seluruh tanah di kota ini adalah milik para leluhur kami sebelum orang-orang kulit putih merampoknya dari mereka. Hanya ada beberapa kerabat dekat yang percaya kalau ini adalah campur tangan dari roh putih dan itu cukup membuat kami bertahan untuk terus percaya akan ada keajaiban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wanita tua yang sinting tapi jujur,” pendapat Dean saat mereka tiba di motel malam harinya. “Kalau dukun sakti mereka sendiri saja tidak mampu menolong Hanna, apalagi kita, Sam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Entahlah, Dean. Tapi aku merasa kasihan kepada gadis itu dan Moegli. Hidup mereka menjadi jauh lebih buruk setelah roh putih mengambil janin di rahim Hanna itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan apa roh putih, roh hutan atau roh-roh semacam itu bisa ditumpas dengan mantra-mantra latin?” desak Dean agak pesimis, sambil melepas sepatunya dan langsung melompat ke atas ranjang. ”Atau minimal peluru garam bisa menyikat habis mereka semua?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita tak tahu sebelum mencobanya,” balas Sam datar, duduk di ranjangnya sambil menatap Dean dengan sorot minta tolong. Dia sedang menunggu saran yang cemerlang dalam situasi membingungkan begini. “Yang terpenting adalah bagaimana cara kita untuk bisa memanggil roh-roh itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa menari mengelilingi tiang totem, mungkin,” saran Dean, nyengir. ”Selain roh-roh, sekalian bisa mendatangkan hujan kalau ampuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yeah, kau yang harus melakukannya kalau begitu!” sahut Sam mulai kesal dan menyambungnya sebelum Dean memprotes. ”Karena kau kan sang beruang pelindung yang penuh cinta kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau aku yang melakukannya, mungkin yang datang hanya roh-roh yang cantik dan berpakaian minim,” ujar Dean santai, tersenyum jahil. ”Papa bear yang penuh cinta menari dalam hujan. Roh siapa yang bisa menolak coba?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata Sam lebih memilih untuk pura-pura tidur daripada harus berdebat konyol dengan kakaknya malam ini. Sementara itu, kalung dengan bandul kayu berbentuk beruang pemberian Moegli masih melingkari leher Dean sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu seharusnya Winchester bersaudara pergi menemui dukun Indian yang menangani kasus Hanna untuk menggali lebih banyak informasi. Setidaknya itulah rencana mereka, sebelum Sam menemukan Dean dalam kondisi yang aneh. Sekitar lima belas menit lalu Sam memang meninggalkan motel untuk membeli pizza sebagai sarapan dan ketika itu Dean masih tertidur pulas. Namun saat kembali, Dean sudah terbangun. Dia hanya duduk di atas ranjangnya dengan ekspresi kaku dan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Hal ini membuat Sam jadi cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau kenapa, Dean?” tanya Sam sambil mengamati wajah kakaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Entahlah. Aku terbangun dan tiba-tiba pusing sekali,” sahut Dean, memegangi kepalanya. ”Rasanya juga perutku bergejolak. Agak mual.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin kau lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menyodorkan kotak pizza yang dibawanya. Dean menatapnya sekilas dan rona wajahnya berubah warna segera setelah Sam membuka kotak pizza itu. Detik berikutnya, sambil menutupi mulutnya, Dean tunggang-langgang kabur ke toilet. Sam mendengar suara muntah-muntah dari dalam sana dan rona wajah Dean menjadi jauh lebih pucat dari yang tadi saat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa pizza itu ada kejunya?” tanya Dean lirih, menyeka mulutnya dengan pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Well, yeah. Aku belum pernah lihat ada pizza tanpa keju,” sahut Sam tanpa pikir panjang. ”Kau sedikit aneh hari ini...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hari ini aku tidak ingin memakan sesuatu yang ada kejunya,” tukas Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mendengus. Tidak biasanya Dean jadi pilih-pilih makanan begini. Dia selalu makan apapun yang ada di hadapannya. Dean itu pemakan segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa memangnya?” tanya Sam sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah lama aku makan sampah semacam itu. Aku ingin memperbaiki kualitas makananku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah sudahlah! Katakan saja apa yang ingin kau makan untuk sarapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku ingin cheeseburger.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melongo. Apanya yang junk food ? Apanya yang keju kalau begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cheeseburger tanpa keju, tentunya. Kalau kau keluar, jangan lupa belikan aku obat. Kepalaku pusing dan mual pagi ini. Bau keju dari pizza itu memperparahnya!” omel Dean sambil kembali bergulung di atas ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusing, mual begitu mencium bau makanan dan nafsu makan turun. Maka Sam tidak bisa menyalahkan apoteker yang mengira ada yang sedang hamil saat ia menceritakan keluhan Dean tadi. Sampai akhirnya dengan wajah tidak begitu yakin, apoteker tadi menyarankan Sam untuk memberi Dean obat flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kembali ke motel Sam masih saja merasa tingkah Dean sangat aneh. Dean bukanlah orang yang mudah mengeluh di saat sedang sakit ringan seperti flu dan juga bukan orang yang bisa menolak makanan yang ada di hadapannya. Tapi Dean yang satu ini berubah jadi rewel dan sangat sensitif. Bukan hanya itu saja rupanya, karena Dean mulai suka merepotkan. Sam terpaksa harus bolak-balik ke restoran cepat saji hanya karena kakaknya itu meminta cheeseburger tanpa keju, tanpa pinggiran roti yang garing, dengan dua iris acar di kedua sisinya, saus tiga kali semprot dan daging yang dipanggang selama satu setengah menit. Dean menolak untuk makan sama sekali jika burgernya tidak seperti apa yang ia inginkan dan celakanya dia tidak bisa dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mood Dean yang berubah naik-turun seperti rollercoaster membuat rencana yang telah mereka susun untuk hari itu jadi berantakan. Seharian itu mereka malah menghabiskan waktu di dalam kamar untuk mengubah posisi tempat tidur Dean yang dianggap Dean punya tingkat kenyamanan sama seperti tidur di dalam peti jenazah. Sam harus memutar tempat tidur itu berulang-ulang kali dan sampai membentuk posisi 270 derajat dari posisi awal hanya karena Dean ngotot kalau arah utara (arah yang benar) sebagai arah barat daya, dan dia ingin tidur menghadap ke timur. Beberapa jam kemudian Sam baru menyadari dengan sia-sia kalau posisi tempat tidur Dean malah jadi kembali ke posisinya semula setelah seharian diputar-putar dan Dean tampak puas sekali dengan posisi ’baru’ ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama semakin Sam menyadari kalau memang ada keanehan dalam diri Dean. Dean yang sekarang hanya makan coklat M&amp;amp;M warna hijau dan menyisihkan coklat berwarna selain hijau. Dean ketagihan mengulum permen nanas setiap sepuluh menit sekali dan permen stroberi sepuluh menit berikutnya. Dean yang dulunya terobsesi memanjakan Impalanya secara berlebihan sekarang jadi benci mencium bau oli. Yang paling mengesalkan, tentu saja nafsu makan Dean yang turun drastis, tapi mendadak dia bisa berubah selera dan ingin segera mendapatkan apa yang diinginkannya dalam hitungan detik. Dia seolah tak peduli kalau Sam harus berkeliling kota untuk mencari sushi dan beberapa menit berikutnya Dean justru berkata kalau saat ini dia lebih menginginkan steak daging unta daripada sushi. Ini membuat Sam hampir gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dean,” panggil Sam setengah frustrasi. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadamu? Kita sudah menghabiskan dua hari di kota ini tanpa kemajuan berarti untuk menolong Hanna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean yang baru saja keluar dari toilet setelah muntah begitu mencium bau bawang putih malah bertanya, “Sammy, menurutmu apa aku bertambah gendut akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak juga,” Sam segera meralat ucapannya saat Dean menyingkap kaosnya dan memperlihatkan perutnya yang agak buncit. “Oooh… Yep, sepertinya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu kan kalau nafsu makanku tidak sebesar biasanya. Beberapa hari terakhir ini makanku juga sedikit,” Dean mulai mengeluh, tapi kali ini Sam sudah mulai kebal. ”Butuh seumur hidupku untuk mengembalikannya jadi six packs lagi! Sekarang cewe-cewe akan mengira aku om-om pemalas yang jarang merawat diri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Well, entahlah. Tapi kau memang sudah jadi om-om yang menyebalkan dua hari terakhir ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean hanya mengedikkan bahunya lesu sebelum duduk di ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku merasa ada sesuatu yang salah dalam diriku dan aku sendiri tidak tahu apa itu. Yang pasti aku sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Di dalam kepalaku seperti ada sesuatu yang baru saja menghantamku berkali-kali dan di dalam tubuhku seperti ada hal asing yang mengendalikanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau kau mau, besok kita bisa ke dokter...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Bawa saja aku ke Meogli,” tukas Dean cepat. ”Selama dua hari ini dia sering hadir di dalam mimpiku. Hanya sekelebatan sih. Kadang aku tidak yakin wanita yang kulihat dalam mimpiku itu dia. Wanita itu lebih mirip Hanna, tapi jauh lebih tua. Tapi terkadang mirip sekali dengan neneknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kupikir memang sebaiknya kita segera menemui mereka berdua,” kata Sam muram. ”Kau berubah aneh begini sejak kita mengenal mereka, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya mereka segera pergi ke caravan Hanna dan neneknya. Mereka menemukan Meogli sedang asyik memberi makan ayam-ayamnya, sementara Hanna bergegas masuk ke dalam caravan setelah memberi tatapan yang jelas-jelas tidak menginginkan kehadiran Sam dan Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meogli sendiri tampak tak terlalu terkejut melihat kedatangan mereka. Sebaliknya dia malah terkesan sudah menduga kalau Winchester bersaudara akan datang kembali mencarinya. Wanita tua itu tidak lagi banyak berceloteh tentang hal-hal tidak penting dan mendengarkan penuturan Dean dengan seksama. Secara mengejutkan dia meraba perut Dean yang sepertinya semakin buncit, sebelum berkata dengan mantap dan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekuatan roh putih sudah bekerja. Kau sedang mengandung janin Hanna, anakku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf?” pinta Sam halus agar Meogli mengulang perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kakakmu, Dean, dia sedang hamil dan janin yang ada di perutnya ini adalah janin Hanna. Itulah yang kurasakan. Roh putih membisikkannya di telingaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Ini tidak mungkin!” bantah Dean keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah berumur tiga bulanan sepertinya,” sambung Meogli tenang, masih mengusap perut Dean. “Kukira dalam seminggu bayi ini akan lahir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau gila!” sentak Dean, serta merta berdiri dari kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami baru berada di kota ini selama dua hari...” sahut Sam sambil berusaha menenangkan kakaknya. Ekspresi Dean campuran shock dan geram, tak bisa ditebak hal nekat apa yang akan dilakukannya dalam beberapa detik ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kandungan kakakmu sudah berumur sama seperti kandungan yang berumur tiga bulan. Bisa jadi akan menyesuaikan diri dengan umur kandungan Hanna sebelum janinnya mendadak menghilang. Tiga hari ini masih berumur tiga bulan, tiga hari ke depan akan jadi enam bulan dan tiga harinya lagi sudah siap untuk dilahirkan,” jelas Meogli masih saja tenang. ”Ini kehamilan gaib. Wajar kalau dipercepat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Ini tidak wajar!” teriak Dean yang semakin berontak dalam cengkraman Sam. “Pria tidak mungkin hamil! Ini tidak boleh terjadi! Kenapa harus aku?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena kau yang dipilih oleh roh yang ada di dalam totem beruang itu, Dean. Kau tangguh, penuh cinta dan protektif. Kau orang yang cocok,” balas Meogli sambil menuding bandul kalung yang masih melingkari leher Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean merosot ke tanah. Sam masih terus memegangi kedua bahunya sambil berjaga-jaga kalau-kalau Dean akan mengamuk lagi. Namun dari wajah Dean yang pucat pasi, penuh keringat dingin dan tampak jelas ada ekspresi ketidakpercayaan di sana, sepertinya Dean masih sangat terpukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gigi gemeletuk Dean mendesis, ”Kalau begitu seharusnya kubuang saja kalung sialan ini dari dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sia-sia saja usaha Dean untuk menjambret kalungnya dan apa pun usaha kerasnya untuk menarik lepas kalung itu dari lehernya, tetap saja kalung itu tidak bisa lolos melewati dagunya, seolah ngotot tidak ingin berpisah dengan pemiliknya yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi bagaimana?” tanya Sam setelah mereka berdua kembali ke motel. ”Kau mau ke dokter kandungan untuk membuktikannya secara ilmiah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak Dean menghadiahi Sam tatapan panas dan membuat Sam menunduk tanpa sadar karena takut. Sepulang dari menemui Moegli, suasana hati Dean semakin tidak karuan. Dia uring-uringan. Kadang marah, kadang murung. Hal-hal kecil yang mengusiknya bisa membuat Dean ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuktikan paling mudah adalah dengan memakai testpack atau alat uji kehamilan. Sebenarnya Dean yang ngotot membelinya sendiri di apotik, tapi karena Sam kuatir Dean akan berbuat yang tidak-tidak atau salah ucap, Sam memutuskan untuk menemaninya. Apoteker satu-satunya di kota kecil itu agak curiga ketika dua orang pria datang untuk membeli testpack, apalagi karena sebelumnya Sam pernah datang dengan keluhan yang umum dialami orang yang sedang hamil di trisemester awal. Untungnya mereka berhasil membuat alasan cerdas kalau testpack itu hanya hadiah untuk seseorang (“Dasar apoteker cerewet!” gumam Dean waktu itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil test pertama adalah dua garis biru yang membuat Dean lemas tak percaya. Hasil test kedua dan ketiga sama saja. Dean memang sedang hamil. Sisa hari itu mereka habiskan untuk berdebat. Dean masih belum bisa menerima keadaannya, sementara Sam tidak menyalahkannya, tapi menganggap semua usaha Dean untuk membuktikan kalau dia tidak hamil sia-sia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih ingin membuktikannya? Lihat semua hasil uji ini. Positif,” kata Sam lirih, mulai cemas dengan kengototan Dean. Dia sendiri tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi Dean dan berpikir kalau lebih baik mereka segera mencari solusi daripada harus menunggu Dean buang air kecil lagi untuk yang kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku bisa menghabiskan semua testpack yang ada di kota ini untuk membuktikan kalau aku tidak hamil, Sam! Pria tidak mungkin hamil dan aku pria sejati, tahu!” sahut Dean gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya mengangguk lemah. Dia tahu. Dia sangat tahu kalau kakaknya memang pria sejati. Dia juga sudah hafal kalimat terakhir yang diucapkan Dean itu. Sepanjang sore Dean sudah mengucapkannya berkali-kali dengan ditambahi variasi kata-kata makian begitu hasil testnya menunjukkan positif hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apapun yang terjadi, apapun yang terjadi, Sam, kau harus merahasiakan ini dari siapapun! Dunia tidak boleh tahu kalau seorang Dean Winchester sedang hamil! Pasaranku bisa turun drastis. Cewe-cewe bisa mengira aku selama ini adalah seorang transgender. Itu sangat mengerikan!” ujar Dean histeris saat testpacknya habis dan hasilnya masih tetap positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk lemah, prihatin dengan apa yang sedang menimpa kakaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan jangan bawa aku ke dokter kandungan seseksi apapun dia! Aku tidak ingin membuatnya mati berdiri begitu tahu kenyataan abnormal ini! Aku belum pernah memacari dokter kandungan soalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Sam mengangguk dan menghela nafas panjang sebelum berkata, ”Sekarang kau sudah bisa berhenti berteriak-teriak atau penghuni kamar di sebelah kita akan mendengarmu dan mengira kau pasien RSJ yang lepas. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana solusinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keempat dan hari-hari berikutnya, perut Dean semakin membesar. Kalau perkiraan Meogli benar, maka umur kandungan Dean sekarang sama dengan umur kandungan enam bulan. Di sisi lain Sam agak lega. Dean sudah tidak lagi suka meminta yang aneh-aneh atau bertingkah di luar kewajaran. Kakaknya itu hampir kembali ke sifat asalnya, mulai memakan makanan apa saja yang ada, tidak lagi gelisah kalau tidak tidur menghadap timur, kembali sering membaca majalah dewasa dan sudah betah berlama-lama berduaan dengan Impalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meskipun di depan Sam dia tidak terlihat seperti sedang menanggung sebuah masalah berat, Sam tahu kalau Dean lebih suka menyendiri selama dua hari itu. Entah di toilet atau di dalam Impala. Sam sering memergoki kakaknya itu sedang asyik melamun dan terlihat murung. Sam tidak berusaha mencari tahu, sebaliknya dia sudah tahu apa yang sedang mengusik pikiran Dean saat ini. Bagaimana caranya supaya Dean bisa melahirkan dengan aman dan tidak ketahuan? Lalu, setelah lahir nanti, bayi itu akan ikut siapa? Sam tidak bisa membayangkan Dean harus mengejar demon sambil menggendong bayi dan menyusuinya di saat genting seperti itu. Terlalu aneh (atau terlalu konyol, karena Sam malah tersenyum geli saat membayangkannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sendiri sudah bisa menerima kondisinya. Dia mulai sering mengajak janinnya ngobrol dan membiarkan Sam merasakan gerakan-gerakan di seputar perutnya. Kadang malah dia memaksa Sam untuk mendengarkan suara-suara dari dalam perutnya. ”Ayolah Sam! Kapan lagi kau bisa mendengar suara lain selain suara mesin penggiling makanan dari dalam perutku?!” paksa Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Dean tidak bisa memeriksakan kandungannya ke dokter, Sam membawa Meogli ke motel. Tidak banyak yang dilakukan wanita tua itu kepada Dean. Hanya mengusap-usap perut Dean sambil membacakan beberapa mantra dalam bahasa sukunya. Sam berharap Meogli bisa menolong mereka, tapi ternyata tidak. Meogli tidak tahu bagaimana cara untuk mengembalikan janin itu ke perut Hanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari keenam, Sam benar-benar tidak tahan untuk diam saja. Dia sudah berusaha keras mengakses banyak situs, membaca literatur-literatur dan lain-lain, namun tak ada hasil. Kehamilan pria hanya terjadi dalam fiksi. Terlalu mustahil untuk benar-benar terjadi. Terlalu di luar kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore harinya Hanna datang ke motel mereka, masih sama tidak menyenangkannya seperti di awal pertemuan mereka. Yang jelas, gadis itu mengatakan kalau dia tidak menginginkan bayi itu dan mereka berdua boleh memilikinya. Sam sangat marah dan mengusir Hanna waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gadis itu berengsek, Dean! Dia yang sebenarnya harus menjadi ibu, bukan kau! Tapi dia malah lari dari tanggung jawab!” kata Sam kesal setelah membanting pintu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak menyalahkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Dean ini membuat Sam kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dengar, kan? Dia berkata kalau dia tak sanggup membayangkan seperti apa rasanya melahirkan nanti. Dia sangat ketakutan. Wajar kalau dia takut, karena ibunya meninggal saat melahirkan. Selain itu, Hanna juga bilang kalau selama hamil dulu dia sangat tertekan. Sejak awal kelahiran dia sadar kalau bayinya akan lahir tanpa ayah dan keluarga almarhum kekasihnya juga sudah menolak janin itu mentah-mentah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi itu bukan berarti dia boleh mengaborsinya, Dean!” bantah Sam, teringat pengakuan Hanna kalau sebenarnya gadis itu sudah mencoba segala cara untuk menggugurkan kandungannya, tapi selalu gagal sampai menginjak usia kandungan sembilan bulan. ”Dan, kau tidak boleh terus begini! Pria tidak bisa jadi ibu, Dean!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tahu itu, Sam. Hanya saja kupikir akan lebih baik seperti ini daripada bayi ini harus berada di dalam perut seorang ibu yang jelas-jelas tidak pernah menginginkan kehadirannya di dunia. Bayi ini sudah seperti jadi yatim-piatu bahkan sebelum dia dilahirkan. Malang sekali, kan! Kalau memang ini yang terbaik, lebih baik begini saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan percakapan aneh itu berakhir tanpa pernah ada yang berniat mengungkitnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ketujuh Dean harus menjalani bedrest. Perutnya sudah benar-benar besar, sebesar galon air. Kedua kakinya bengkak dan pinggangnya sering sakit. Sementara ia jadi lebih sering buang air kecil dan susah BAB. Ini menyebabkan Sam jadi luar biasa lebih sibuk dari sebelumnya. Dia harus menyiapkan terus menyiapkan air panas, memijat kaki Dean dan harus sering memapah Dean keluar masuk toilet karena Dean kesusahan berjalan sendiri. Di tengah malam Sam juga lebih sering berjaga saat Dean merintih-rintih kesakitan saat mengalami kontraksi. Itensitas kontraksi meningkat dalam dua hari terakhir dan Dean sangat tersiksa karenanya. Sam sendiri juga harus menabahkan diri mendengar dan melihat kakaknya begitu tanpa bisa berbuat apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Dean yang dulunya gagah dan tangguh jadi tergolek tak berdaya begitu membuat Sam miris. Apalagi karena sepertinya bayi itu bisa lahir sewaktu-waktu meskipun mereka berdua masih bingung akan lewat mana nantinya. Tidak mungkin lewat pusar atau ‘jalur belakang’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Hanna pada hari itu tidak disambut dengan baik oleh Sam, walaupun gadis itu mengatakan hal yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menginginkan calon bayiku kembali,” kata Hanna pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh yeah? Andai kakakku bisa memuntahkannya dengan mudah, sama mudahnya seperti cara kau bicara ini,” tukas Sam ketus. Dia sudah sangat muak melihat Dean begitu menderita, apalagi sikap Hanna yang enggan untuk membantu mereka dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tadi malam dan beberapa malam sebelumnya, ibuku datang ke dalam mimpiku. Dia menegurku, sekaligus memberiku kekuatan. Dia meyakinkanku kalau apapun yang akan terjadi nantinya, aku tetap seorang ibu yang baik, asalkan aku bersedia menerima kembali bayiku. Ibuku berkata kalau ia tidak pernah menyesal harus mati di saat melahirkan aku karena baginya aku adalah anugerah terindah dari dewa kepada bumi dan hadiah tak ternilai darinya untuk ayahku. Itu membuatku sadar...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melirik Dean yang hanya tercenung mendengarkan pengakuan Hanna dari atas ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Travis memang sudah tidak ada lagi. Tapi aku masih tetap akan memiliki dalam diri bayi kami itu. Seharusnya aku tidak pernah menyesali mengapa aku pernah hamil dan berpikir untuk melenyapkan bayi itu, kalau saja aku sadar tentang hal ini. Kumohon, beri aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya?” tanya Sam skeptis. “Kau pernah bilang kalau kau tidak tahu bagaimana cara untuk memindahkan janin di perut Dean ke perutmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Tapi kupikir roh totem bisa melakukannya. Beliau yang menyimpan janinku dan kemudian menitipkannya ke perut Dean. Jadi kupikir, kalau kita melakukan beberapa ritual dan memberikan persembahan, mungkin roh totem mau mengembalikan janin itu ke tempatnya semula, ke rahimku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Roh totem?” kata Dean, mengernyit menahan sakit akibat kontraksi yang kini datang setiap beberapa menit sekali. ”Maksudmu roh yang hidup di dalam bandul kalungku ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanna mengangguk. ”Kalung itu, totem itu, dulunya adalah milik ibuku. Dia masih tetap memakainya sampai saat melahirkanku dan akhirnya meninggal. Kalung itu memang sengaja tidak ikut kami kuburkan bersama jenazah ibuku dulu karena nenek yakin roh-roh hutan tidak menginginkan totem itu. Berdasarkan kepercayaan suku kami, totem semacam itu memiliki kekuatan magis berdasarkan sifat-sifat baik yang dimiliki pemiliknya. Totem ibuku adalah beruang, yang penuh cinta dan sangat protektif kepada anaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, wanita yang sering kulihat dalam mimpiku itu bukan kau atau nenekmu, tapi ibumu,” ujar Dean, tanpa sadar meremas bandul kalungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Roh totem itu menarik ibuku untuk datang...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Hanna terpotong teriakan Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perutku mulas lagi, Sam! Cepat bawa aku ke toilet! Aku mau buang air lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dipapah Sam, Dean berjalan terhuyung ke toilet. Namun ekspresi wajahnya berubah panik saat menyadari ada yang tidak beres dengan air seninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini yang namanya air ketuban?! Oh tidak!! Aku akan melahirkan sekarang!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tarik nafas dalam-dalam dan mulailah mengejan,” usul Sam. Dia sering mendengar wanita yang melahirkan pasti akan melakukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku akan mengejan setelah yakin bayinya akan keluar lewat mana!!” balas Dean histeris, wajahnya merah padam menahan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu aku akan membedah perutmu...” kata Sam ragu, sudah siap dengan pisau lipat di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jenius! Bunuh aku sekalian!” jerit Dean semakin panik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seharusnya aku yang merasakannya! Seharusnya aku yang melahirkan! Aku ingin menjadi ibu sejati sama seperti ibuku dulu!” teriak Hanna tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah suasana kacau itu mendadak saja udara berubah menjadi dingin. Baik Dean dan Sam merasakan udara dingin bergerak melalui tenggorokan mereka dan keluar melalui hidung berupa segumpal asap putih. Sayup-sayup terdengar suara bergemuruh, sebelum akhirnya terdengar suara hantaman benda keras yang berasal dari arah pintu kamar. Seperti suara geraman binatang buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sammy... Kupikir aku baru saja melihat badak melewati jendela kamar... ” rintih Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak ada badak di Amerika, Dean. Kau pasti berhalusinasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makhluk itu besar dan berjalan dengan empat kaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan badak!” sahut Hanna di sela perdebatan dua orang itu. “Beruang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makhluk itu sedang memaksa masuk…” kata Sam yang bergegas mencari-cari senapan. Gedoran dari arah pintu semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum Sam berhasil menemukan senapan, lampu kamar mendadak padam total. Sementara pintu kamar berhasil didobrak paksa karena terdengar bunyi gaduh sekali seperti suara kayu yang diremukkan. Beruang itu berhasil masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sesaat Sam tak mampu berkata-kata. Otaknya seperti berhenti berpikir selama beberapa detik dan tubuhnya terpaku tak mampu bergerak. Dia tak bisa melihat, mendengar dan merasakan apapun pada waktu itu. Jantungnya berdebar kencang. Dia tak tahu apa yang sedang terjadi pada Dean atau pun Hanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aaaarght!! Dia merobek perutku!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeritan Dean membuat Sam tersadar dan segera berlari dalam kegelapan, mencari-cari keberadaan kakaknya. Hasilnya, dia malah jatuh terserimpet kaki meja dan jatuh dengan suara debam keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Deaaaan!!!” panggil Sam putus asa. Semakin putus asa saat terdengar jerit kesakitan Hanna. Suara Dean sama sekali tak terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak kamar yang tadinya gelap berubah terang benderang. Ada cahaya putih menyilaukan yang memenuhi seluruh ruangan. Sam terpaksa harus menyipitkan matanya, cahaya itu bisa membutakannya. Di tengah suasana terang bukan main begitu Sam masih saja tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Di saat cahaya putih terang itu padam beberapa saat kemudian, Sam mulai merangkak dan menemukan tubuh Dean yang sedang terkapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean! Dean! Bicaralah!” pinta Sam, menepuk-nepuk wajah kakaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa… apa kau…” ucap Dean terbata, membuat Sam harap-harap cemas. Kedua mata Dean perlahan-lahan mulai terbuka dan mulutnya bergetar saat berkata, ”Apa kau punya pie?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dean!!” pekik Sam dan langsung memeluk Dean erat-erat sampai nafas keduanya sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesi pemotretan tadi kacau juga. Blitznya terlalu terang,” kata Dean, nyengir. ”Tapi... Hey, Sam! Perutku sudah kembali seperti semula! Aku sudah tidak hamil lagi! Ini keajaibaan!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dua orang itu malah sibuk meraba-raba perut Dean dengan penuh semangat seolah-olah perut itu segumpal adonan pie. Sampai akhirnya suara rintihan Hanna menyadarkan mereka berdua. Dean yang pertama kali menemukan Hanna sedang tergolek lemas dengan wajah pucat pasi, perut membesar dan ada darah mengalir dari sela-sela kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cepat, Sam!! Rumah sakit! Hanna akan melahirkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Roh totem itu datang dan melakukan tugasnya malam itu,” kata Dean kepada Sam, mereka sedang dalam perjalanan kembali ke motel setelah menjenguk Hanna dan bayinya. ”Dengan sangat menyakitkan! Aku masih bisa merasakan bagaimana caranya dia mencakar perutku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Entahlah, aku tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi waktu itu. Kejadiannya begitu cepat. Terjadi dalam satu jentikan jari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi aku senang. Sekarang aku tidak akan melihatmu berjalan dengan gaya aneh lagi, mengeluh kesemutan dan meminta ini-itu dengan rewelnya,” balas Sam sambil tertawa riang. ”Cheeseburger tanpa keju, tanpa pinggiran roti yang garing, acar di sisi kanan-kiri, saus dua kali semprot, daging setengah matang dan mustard dioles dari kiri ke kanan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hey! Itu bukan aku, tahu! Itu permintaan bayi!” sahut Dean sebal, tapi wajahnya merona malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terserah,” Sam masih saja tergelak. “Tapi, kenapa kau memberikan totem itu kepada bayi Hanna? Dalam kepercayaan Indian, totem tidak boleh ditukar atau diberikan kepada orang lain selama pemiliknya masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anggap saja itu pemberian papa bear kepada baby bear .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh yeah. Aku hampir lupa kalau bayi itu dinamai Dean Jr,” kata Sam, nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setidaknya, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kasus ini, Sammy. Aku sendiri sudah mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga,” ujar Dean mantap dari balik kemudinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa itu? Tentang pengorbanan seorang ibu di waktu melahirkan?” tebak Sam, mengerutkan dahinya yang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu bisa jadi salah satunya. Tapi yang terpenting adalah bukan kodrat pria untuk hamil karena...,” jawab Dean sambil memamerkan senyuman khasnya. “...daripada hamil, lebih baik menghamili.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EL EXTREMO&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-8975655057776268251?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/8975655057776268251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/papa-bear.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/8975655057776268251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/8975655057776268251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/papa-bear.html' title='Fic: Papa Bear'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-489009358968756307</id><published>2010-04-29T05:55:00.003+07:00</published><updated>2010-10-09T14:03:33.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Lady_mannequin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Insert'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Horor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Challenge: Crossover'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: T'/><title type='text'>Fic: The Glass Passenger</title><content type='html'>Written by : Lady_Mannequin&lt;br /&gt;Genre : Horror, Medical Drama and Romance&lt;br /&gt;Setting : Seattle&lt;br /&gt;Rating : T-13+&lt;br /&gt;Title reference: This fan fiction title refers to a brand new album from Jack’s Mannequin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis : Fan Fic gabungan dari dua serial TV terpopuler, Grey’s Anatomy dan Supernatural ini menceritakan tentang serangkaian kematian aneh yang terjadi di King County Metro Bus, Seattle selama tiga hari berturut-turut. Kasus mencekam itu terhubung pada The Glass Passenger, sosok putih misterius yang hanya terlihat di kaca jendela sesaat sebelum terjadi kematian beberapa penumpang bus. Dean dan Sam serta dibantu oleh tim dokter bedah Seattle Grace Hospital harus segera memecahkan misteri The Glass Passenger sebelum korban lainnya berjatuhan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter Supernatural:&lt;br /&gt;Dean Winchester a.k.a McWeird&lt;br /&gt;Sam Winchester&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter dari serial Grey’s Anatomy :&lt;br /&gt;Dr. Meredith Grey : Dokter bedah resident&lt;br /&gt;Dr. Alex Karev : Dokter bedah resident&lt;br /&gt;Dr. Isobel “Izzie” Stevens : Dokter bedah resident&lt;br /&gt;Dr. Cristina Yang : Dokter bedah resident&lt;br /&gt;Dr. George O’Malley : Dokter bedah magang&lt;br /&gt;Dr. Derek Shepherd a.k.a McDreamy: Head of Neurosurgeon (Kepala bedah syaraf)&lt;br /&gt;Dr. Erica Hahn : Head of Cardiothoracic Surgery (Kepala bedah jantung dan thorax)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter dari forum Supernatural fanfic dan Grey’s Anatomy:&lt;br /&gt;Lady a.k.a Keane&lt;br /&gt;Ucha Sweetz&lt;br /&gt;Charmed&lt;br /&gt;Ambu&lt;br /&gt;Andrew&lt;br /&gt;Nenok&lt;br /&gt;Juichi&lt;br /&gt;Red&lt;br /&gt;Dewa&lt;br /&gt;Bym&lt;br /&gt;Lissa&lt;br /&gt;Sapphire&lt;br /&gt;Cheezy Taz a.k.a Taz&lt;br /&gt;Adellaide a.k.a Adel&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE GLASS PASSENGER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 September 2008&lt;br /&gt;8.50 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane berlari mengejar King County Metro Bus yang tengah melaju dengan kecepatan cukup kencang. Untunglah, sang supir bus menyadari keberadaan Keane dan menghentikan busnya. Sang supir bus menekan tombol pembuka pintu otomatis. Pintu bus terbuka dan Keane pun masuk dengan nafas yang masih terengah-engah. Ia menghempaskan diri di sebuah tempat duduk. Beruntung sekali ia masih bisa mendapatkan tempat duduk saat jam sibuk di pagi hari ini. Sebuah suarayang dikenal Keane terdengar dari belakang tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah Keane, kecepatan larimu tergolong kencang juga ya!” suara tersebut menyapa Keane. Keane sekonyong-konyong membalikkan tubuhnya menuju asal suara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ucha!” seru Keane. “Kok tumben pagi-pagi begini sudah berangkat ke kampus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, jam sembilan pagi ini aku ada kuliah tambahan Anatomi. Sebenarnya sih aku nggak mau masuk, tapi karena mata kuliah ini asyik banget, jadi aku bela-belain masuk deh,” jawab Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, mata kuliahnya Miss Andrew ya?” tanya Keane lagi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yupz, darimana kamu tahu, Keane?” Ucha balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Keane baru akan menjawab pertanyaan Ucha, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok bayangan putih yang memantul di kaca jendela King County Metro Bus. Keane terpana sesaat lalu spontan menengok ke arah datangnya bayangan namun ia tidak melihat seorang pun yang menyerupai sosok tersebut. Sekonyong-konyong Keane merasa merinding ketakutan. Ia duduk kaku dikursinya. Kedua tangannya mencengkeram ujung kursi. Apa tadi ia bermimpi? Ya, itu pasti hanya mimpi, atau semacam halusinasi. Ia pasti tertidur selama satu atau dua menit. Keane berusaha berpikir rasionaldan menekan pikiran-pikiran seram dalam benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keane, ada apa?” tanya Ucha. Keane tersentak mendengar pertanyaan Ucha lalu menyadari bahwa Ucha sedang memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cha....” Kalimat Keane terpotong ketika tiba-tiba terdengar jeritan nyaring yang panjang dan mengerikan dari seorang penumpang pria berusia setengah baya yang berada tepat di depannya. Suara jeritan tersebut mengejutkan seluruh penumpang King County Metro Bus. Belum pernah Keane mendengar jeritan seperti itu sebelumnya. Jeritan kesakitan itu semakin keras terdengar dan berakhir setelah tubuh sang penumpang jatuh berdebum di lantai bus. Kejadian mengerikan itu berlanjut dengan pekikan kaget dari para penumpang lainnya sampai-sampai sang supir menghentikan busnya di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seluruh penumpang di dalam bus spontan tertuju pada kejadian sosok penumpang naas yang kini tergeletak di lantai bus. Para penumpang wanita terlihat pucat seketika setelah melihat kejadian tersebut. Beberapa diantaranya langsung memalingkan wajah karena tak sanggup melihatnya. Seorang pria jangkung bertubuh atletis dengan rambut coklat sekonyong-konyong bangkit dari tempat duduknyadan berjalan secepat mungkin menuju tubuh sang penumpang yang roboh itu. Pria itu dengan sigap mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya, meraba nadi di leher lalu membuka dua kancing teratas di pakaian sang penumpang. Stetoskop itu ia tempelkan ke dada sang penumpangyang tak bergerak itu untuk mendengarkan detak jantungnya selama tiga puluh detik. Setelah itu, ia mengisyaratkan kematian sang penumpang dengan gelengan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja kartu identitas sang dokter terjatuh saat ia sedang membereskan peralatan medisnya. Kartu tersebut kebetulan berhenti tepat dibawah kaki Ucha. Spontan Ucha memungut kartu itudan melihatnya sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. Alex Karev,” bisik Ucha perlahan seraya memperlihatkan kartu nama sang dokter pada Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Resident Seattle Grace Hospital,” lanjut Ucha. Keane dan Ucha spontan menatap Dr. Alex yang sedang menggotong tubuh pria yang sudah tak bernyawa itu dan menaruhnya di kursi bus. Ucha berjalan menghampiri Dr. Alex untuk mengembalikan kartu identitasnya. Sang dokter mengucapkan terima kasih dan memberikan senyum manisnya pada Ucha. Ucha membalas senyuman tadi lalu kembali ke tempat duduknya semula. Di saat yang bersamaan, supir bus menstater kendarannya dan kembali melaju di jalan raya. Tiba-tiba Keane memegang erat lengan Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa, Keane?” tanya Ucha heran.&lt;br /&gt;”Hmmm....itu...” jawab Keane terbata-bata lalu ia terdiam selama beberapa saat.&lt;br /&gt;“Apa?” tanya Ucha lagi.&lt;br /&gt;Keane ingin menceritakan pengalamannya melihat sosok bayangan putih misterius, namun ia masih ragu. Baru saja ia akan bercerita, namun tiba-tiba supir bus menghentikan kendaraannya di sebuah halte. Tak terasa Ucha dan Keane telah sampai di gerbang Seattle University. Ucha bergegas turun dari bus lalu disusul oleh Keane beberapa saat kemudian. Sebelum turun Ucha sempat memandang sekilas ke arah Dr. Alex Karev.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keane, tadi mau ngomong apa?” Ucha kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Keane tidak sempat menjawab pertanyaan Ucha karena tiba-tiba Cellular Phone Ucha berbunyi. Ucha melihat sekilas identitas sang penelepon di layar LCD Cellular Phonenya dan memutuskan untuk mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Keane, aku harus segera masuk kelas sekarang karena Miss Andrew sudah datang. Sampai jumpa besok,” sahut Ucha lekas-lekas dan ia segera berlari menuju gedung fakultas kedokteran. Sebenarnya Keane ingin sekali menceritakan kemunculan sosok bayangan putih misterius tadi pada Ucha, tapi tidak sempat berhubung Ucha tengah buru-buru. Akhirnya Keane memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya, namun sekonyong-konyong ia teringat kembali pengalaman mengerikan yang baru saja dialaminya di King County Metro Bus. Keane merinding seketika saat mengingat sosok bayangan putih semitransparan yang dilihatnya di kaca jendela bus. Keane merasa ketakutan sebab ia belum pernah melihat hantu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 September 2008&lt;br /&gt;8 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi alarm jam weker membangunkan Keane dari mimpi buruknya. Tubuh Keane masih gemetaran walaupun ia sudah terjaga penuh. Ia masih teringat jelas gambaran dari mimpi buruknya. Keane bermimpi melihat sosok bayangan putih misterius yang dilihatnya di kaca jendela bus kemarin. Keane berusaha menenangkan dirinya, namun ingatan mengenai peristiwa mengerikan kemarin terus melekat dalam benaknya. Keane melirik jam weker yang menunjukkan pukul delapan pagi dan dengan malas ia beranjak dari ranjangnya. Sebenarnya Keane sedang tak ada semangat untuk melakukan aktivitas hari ini, namun ujian tengah semester yang akan berlangsung siang hari nanti membuatnya mau tak mau harus berangkat ke kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara sosok bayangan putih misterius itu, Keane jadi ketakutan setiap melihat dan melewati kaca atau cermin. Keane terpaksa mengalihkan pandangannya ke tempat lain sebab ia pasti teringat sosok mengerikan itu bila tanpa sengaja menatap kaca. Saking takutnya, Keane tidak berani menatap kaca saat mandi dan gosok gigi, bahkan ia terpaksa merias wajahnya tanpa menggunakan cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane meraih T-shirt bergambar cover album terbaru Jack’s Mannequin dari dalam lemari lalu memakainya sambil memencet tombol-tombol di Cellular Phonenya untuk menghubungi taksi, tapi sesaat kemudian ia baru tersadar bahwa uang sakunya hampir habis lantaran telah dipakai untuk akomodasi dan tiket konser Jack’s Mannequin selama 3 hari berturut-turut di McCaw Hall, Moore Theatre, dan Westlake Center. Toyota Camrynya juga tidak bisa digunakan karena sedang direparasi di bengkel. Sebenarnya kejadian kemarin membuat Keane takut naik bus, tapi apalah daya karena tak ada mobil dan uang pas-pasan akhirnya ia mengumpulkan keberaniannya untuk menggunakan sarana transportasi King County Metro Bus menuju Seattle University. Tentunya sambil berdoa semoga sosok bayangan putih misterius tidak lagi muncul dan peristiwa mengerikan kemarin tak terulang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru lima menit Keane berada dalam King County Metro Bus, kemudian terjadi kembali peristiwa kedua yang tak kalah mengerikan. Kali ini sosok bayangan putih misterius yang dilihat Keane di pantulan kaca jendela kemarin kembali muncul di bus yang ditumpanginya. Saat ini sosok putih semitransparan itu benar-benar terlihat jelas di mata Keane dari pantulan di salah satu kaca jendela King County Metro Bus. Kengerian yang amat sangat. Itulah perasaan yang mulai merayapi diri Keane sekarang. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya membiru dan mengerut. Keane ingin menjerit tapi entah mengapa ia merasa kerongkongannya tercekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sepenuhnya Keane menghadapi kengerian tersebut, tiba-tiba terdengar suara jeritan kesakitan dari seorang gadis yang duduk tepat dibelakang Keane. Tubuh gadis naas itu merosot ke lantai bus dan terpuruk di sana. Keane hanya terpana melihat kejadian itu tanpa bisa berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita yang kebetulan berada tepat disebelah gadis naas itu langsung menjerit seketika melihat kejadian itu. Tak hanya itu, jerit tertahan terlontar dari mulut para penumpang lain. Jeritan tersebut terpaksa membuat supir bus menghentikan kendaraannya. Sekonyong-konyong seorang pria berambut coklat gelap melompat dari kursinya dan memberi isyarat pada penumpang lain tetap duduk dengan tenang. Ia membungkuk dan memeriksa tubuh gadis itu. Dengan lembut, ia mengangkat pergelangan tangan sang gadis dan memeriksa denyut nadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah pria itu tiba-tiba menjadi pucat dan serius. Puluhan penumpang lain hanya memperhatikannya. Mereka seolah terpaku dan tak kuasa berbuat apa-apa. Pria itu lalu beralih mencari denyut nadi di leher dan mengambil stetoskop dari saku jaketnya. Ia mendengarkan jantung sang gadis dengan stetoskop selama beberapa detik. Ia mengambil senter kecil dari dalam tas punggungnya lalu menyalakan senter tepat di depan mata sang gadis. Ia memperhatikan tanggapan pupil mata terhadap senter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia sudah meninggal,” pria itu mengumumkan kondisi sang gadis kepada semua penumpang bus. Keane yang merasa dirinya ada kaitannya dengan kejadian barusan memberanikan diri mendekati pria yang memeriksa gadis naas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dokter!” panggil Keane pada pria yang dari tingkah lakunya mencerminkan profesi seorang dokter tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya?” sahut sang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya Keane Maroon, Dokter. Boleh saya tahu prognosis Anda terhadap gadis ini?” tanya Keane sambil menjabat tangan sang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya Dr. George O’Malley. Gadis ini meninggal karena gagal jantung, Keane,” tutur sang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya akan membawa jenazah gadis ini ke Seattle Grace Hospital untuk diotopsi. Hasil otopsi akan menjelaskan lebih detail mengenai penyebab kematian gadis ini,” lanjut Dr. George O’Malley kepada Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Keane ingin berbicara lebih banyak dengan Dr. George O’Malley, namun sayangnya King County Metro Bus yang ditumpanginya telah sampai di gerbang Universitas Seattle. Keane mengucapkan terima kasih pada Dr. George O’Malley dan segera bergegas turun dari bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Kedokteran Universitas Seattle&lt;br /&gt;22 September 2008&lt;br /&gt;2 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan ujian tengah semester, Keane berjalan secepat mungkin menuju ruang A4809 yang biasanya dipakai Ucha dan teman-teman sekelasnya untuk melakukan praktikum Anatomi. Untungnya saat itu praktikum Anatomi belum dimulai karena Miss Andrew, sang dosen belum datang. Keane langsung memasuki laboratorium tersebut dan menghampiri Ucha yang tengah memakai jas labnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cha, aku mau ngomong sesuatu sama kamu sebentar aja,” pinta Keane. Ucha tersentak kaget ketika tiba-tiba Keane memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Keane?” tanya Ucha dengan nada kuatir saat melihat raut wajah Keane yang ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita ngobrol di koridor aja yuk,” ajak Ucha seraya menggamit tangan Keane dan membawanya keluar dari laboratorium. Setelah itu mereka berdua duduk di salah satu sofa yang berada di koridor Fakultas Kedokteran Universitas Seattle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu masih ingat dengan kejadian yang terjadi di King County Metro Bus kemarin kan?” tanya Keane pada Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, Keane. Kasihan ya penumpang yang kena serangan jantung itu. Dia meninggal seketika. Memang serangan jantung bisa terjadi kapan saja,” sahut Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Percaya nggak, peristiwa kematian mendadak karena serangan jantung terjadi lagi tadi pagi saat aku naik bus menuju ke kampus!” tutur Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OMG! Masa sih? Yang benar, Keane!” Ucha tersentak seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kejadiannya sama persis seperti kemarin...” Keane menghentikan kalimatnya. Tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan terdiam selama beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya bukan hanya itu saja kejadiannya. Aku merasa melihat sesuatu yang aneh sesaat sebelum terjadi dua peristiwa mengenaskan itu,” lanjut Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanya Ucha setengah mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu yang tidak masuk akal,” jawab Keane pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Ucha terdiam, namun matanya menatap tajam pada Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuharap kamu mau mengatakan padaku, Keane. Apa hal ini ada hubungannya dengan dua kasus kematian di King County Metro Bus yang terjadi selama dua hari berturut-turut ini?”  tanya Ucha. Ia sangat penasaran dengan apa yang akan diceritakan Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa melihat sesosok bayangan putih memantul dari kaca jendela King County Metro Bus sesaat sebelum terjadi kematian dua penumpang naas itu,” tutur Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucha tampak terperanjat mendengar penjelasan Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu yakin melihat bayangan putih itu, Keane?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika pertama kali lihat aku sebenarnya nggak percaya dengan penglihatanku. Masa iya ada hantu di pagi hari? Lagi pula juga aku nggak pernah lihat hal-hal seperti itu sebelumnya. Cha, aku jadi takut nih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm...coba kamu ingat baik-baik. Mungkin itu hanya khayalanmu saja, Keane.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku memang agak ragu saat pertama kali melihat sosok itu karena hanya bayangan sekelebat saja memantul dari kaca jendela bus, tapi aku yakin melihatnya ketika terjadi hal serupa untuk yang kedua kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucha terkesiap mendengar jawaban Keane. Suasana hening sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”The Glass Passenger!” seru Ucha tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu udah dengar album The Glass Passenger, Cha? Bukannya baru dirilis tanggal 30 September nanti?” tanya Keane tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan!” jawab Ucha seraya menunjuk T-shirt bergambar sampul album terbaru Jack’s Mannequin bertitel THE GLASS PASSENGER yang sedang dikenakan oleh Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksud kamu The Glass Passenger albumnya Jack’s Mannequin kan, Cha?” tanya Keane lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan! Maksudku The Glass Passenger itu sebutan yang tepat untuk sosok putih semitransparan yang kamu lihat di kaca jendela bus,” papar Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa-apaan sih!!! Masa judul album terbaru Jack’s Mannequin jadi nama hantu! Aaaahhh...aku tak sudi!!!” jerit Keane tak rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tenang.....Tenang.....Keane,” sahut Ucha menenangkan Keane. ”Kamu tadi bilang kalau kamu belum pernah melihat hantu sebelumnya. Jadi kemungkinan kamu melihat sosok menyeramkan itu karena kamu terlalu memikirkan The Glass Passenger,” tutur Ucha panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksud kamu, sosok misterius seperti hantu itu sebenarnya tidak ada dan hanya halusinasiku saja?” tanya Keane dengan nada ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan, Keane. Kamu kan selalu membicarakan The Glass Passenger dimana pun dan kapan pun, jadi mungkin kamu terpengaruh dan menjadikan sosok The Glass Passenger itu termanifestasi dalam dunia nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ahhh, kamu nakutin aja deh, Cha. Mungkin dugaan kamu ada benarnya, tapi yang nggak masuk akal kenapa kemunculan sosok The Glass Passenger selalu diikuti dengan kematian seseorang dan hal tersebut telah terjadi selama dua hari berturut-turut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmm....gimana ya? Mungkin sebaiknya kita harus menyelidiki kasus anehmu ini. Tentunya dengan bantuan orang yang telah berpengalaman menangani masalah supernatural seperti ini. Sepertinya aku ingat seseorang yang juga pernah mengalami peristiwa-peristiwa aneh seperti yang kamu alami itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa orang itu, Cha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku ingat kejadian yang menimpa Nenok, temanku yang kuliah di Washington University. Nenok bercerita padaku bahwa ia hampir tewas di tangan hantu yang menghuni sebuah lukisan antik. Untungnya ia diselamatkan oleh dua pria yang ahli dibidang supernatural.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu mau kan antarkan aku ketempat Nenok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ok, jam 5 nanti kamu datang kemari lagi ya. Sekarang Miss Andrew sudah datang jadi aku harus masuk lab dulu ya, Keane,” sahut Ucha seraya menunjuk seorang dosen yang sedang berjalan menuju laboratorium Anatomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apartemen Emerald&lt;br /&gt;Kamar 1703&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;8 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ting.....tong...ting...tong.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nenok!” seru Ucha senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ucha! Apa kabar?” sahut Nenok seraya memeluk Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nenok, kenalkan ini temanku, Keane. Ngomong-ngomong, ramai sekali disini. Memang lagi ada acara apa, Nok?” tanya Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, aku memang lagi mengadakan acara kumpul-kumpul anak forum fan fic, Cha” jawab Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ucha, Keane, kenalkan ini Red dan Juichi. Lalu dua cowok ini bernama Bym dan Dewa,” lanjut Nenok. Keane dan Ucha saling bersalaman dengan teman-teman Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan mereka semua ini sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan supernatural, jadi kamu bisa ceritakan pengalamanmu ke kita semua. Mungkin, kita bisa bantu,” sambung Nenok lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane menceritakan panjang lebar tentang pengalaman seramnya kemarin dan dua hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, My God!” pekik Juichi kaget. Wajahnya pucat seketika saat mendengar cerita Keane. Lain halnya dengan Nenok, Red, Bym dan Dewa. Wajah mereka berempat malah berseri-seri setelah Keane selesai menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kita dapat kasus baru nih,” kata Dewa dengan antusias. Keane spontan menatap Dewa dan merasa aneh karena wajah Dewa malah berseri-seri setelah mendengar ceritanya. Wajah Nenok, Red dan Bym juga menunjukkan ketertarikan pada cerita Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku menamakan sosok misterius itu The Glass Passenger. Gimana menurut kalian?” Ucha angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”The Glass Passenger?” tanya Juichi tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, pas banget tuh!” seru Dewa memotong pertanyaan Juichi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu hanya melihat sosok misterius itu di bus saja kan, Keane? Atau mungkin kamu pernah melihatnya di tempat lain?” tanya Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, Nenok. Entah kenapa, sosok misterius itu hanya terlihat saat aku naik bus,” jawab Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sosoknya juga hanya bisa dilihat melalui pantulan kaca berarti The Glass Passenger adalah sebutan yang tepat bagi sosok misterius itu, Keane,” Red angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yach, masa judul album terbaru Jack’s Mannequin jadi nama hantu. Cari sebutan lain aja deh, tapi jangan pakai The Glass Passenger,” pinta Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”The Glass Passenger sesuai kan untuk sebutan hantunya Keane?” tanya Red seraya melemparkan pandangan pada Bym, Nenok, Juichi dan Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setuju!!!” seru Bym, Nenok, Juichi, Dewa dan Ucha serempak yang ditimpali dengan pandangan cemberut dari Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, aku akan memanggil Dean dan Sam Winchester. Mereka berdua sangat ahli dalam menangani hal-hal supernatural,” sambung Nenok sambil menekan-nekan tombol di Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean,” sapa Nenok melalui Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, kamu sedang berada di Maple Leaf di King County. Berarti kamu dekat dari sini dong,” ujar Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, tolong temui kami di Emerald City Bar ya,” kata Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK. Sampai ketemu, Dean,” sahut Nenok sebelum menutup telponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yap, Dean dan Sam akan datang ke Emerald City Bar jam 9 nanti,” jelas Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi mobilku nggak cukup untuk memuat kalian semua,” lanjut Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucha, Keane, Red, Nenok, Bym, Juichi dan Dewa saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ferrariku juga masih di bengkel karena dua hari yang lalu habis tabrakan,” ujar Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya udah, kita semua naik King County Metro Bus saja,” ujar Ucha menenangkan keributan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan! Aku tak mau melihat sosok misterius itu apalagi kalau harus melihat seseorang yang tidak bersalah kehilangan nyawa,” potong Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak apa-apa, Keane. Mungkin kalau bersama-sama, kita semua bisa lihat sosok The Glass Passenger itu,” sahut Nenok menenangkan Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu nggak perlu takut, Keane. Pokoknya kamu serahkan saja pada kita,” lanjut Nenok yang diikuti oleh anggukan dari Red, Dewa dan Ucha. Akhirnya Keane mengiyakan pendapat teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Friends, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bisa ikut kalian karena sekarang aku harus ke Wallingford. Avenged Sevenfold akan manggung disana nanti siang,” cerocos Bym yang disambut dengan decak sebal dari Nenok, Red, Juichi dan Dewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;King County Metro Bus&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;8.50 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan ada empat kursi kosong di King County Metro Bus. Ucha duduk bersama Keane, dan Red duduk disebelah Nenok tepat dibelakang kursi Keane. Nenok mengambil posisi di pojok kursi. Sementara itu Juichi dan Dewa berdiri di sebelah kursi yang diduduki oleh Red. Keane yang masih terbayang-bayang akan sosok The Glass Passenger berusaha keras untuk tidak melihat kaca jendela bus, namun suara panggilan Nenok membuatnya mau tak mau menengok ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane,” panggil Nenok yang duduk dibelakang Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane membalikkan tubuhnya untuk melihat Nenok. Tanpa sengaja Keane melihat kaca jendela bus dan tampaklah pantulan sosok The Glass Passenger yang semitransparan. Anehnya tak satu pun penumpang bus yang menyadari kehadiran The Glass Passenger selain Keane. Dari pantulan kaca jendela, Keane dapat melihat posisi The Glass Passenger berada tepat dihadapan Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”AAAAAAAAAARRRGHH!!!!!!” jerit Dewa sambil memegang dadanya. Jeritan Dewa ini lebih tepat dikatakan sebagai jeritan kesakitan, sama seperti yang terjadi pada dua penumpang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dewa! Dewa! Ada apa?!” seru Nenok panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jantungku.....sakit.......se....seperti ditusuk,” kata Dewa terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”The Glass Passenger!” bisik Keane pelan saat melihat sosok yang ternyata hanya dapat dilihat oleh matanya. Keane merasa sangat ketakutan. Sebenarnya ia ingin sekali menolong Dewa, namun ia tak tahu bagaimana caranya dan juga tak kuasa berbuat sesuatu. Keane seperti terpaku di kursinya. Wajahnya pucat, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya dan tubuhnya gemetar. Ucha yang duduk disebelah Keane mendengar bisikan pelan Keane tadi dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling bus, namun sayangnya ia tidak dapat melihat sosok The Glass Passenger. Serta merta Ucha memberitahukan kepada Nenok, Red dan Juichi bahwa saat ini Keane dapat melihat The Glass Passenger. Spontan Nenok, Red dan Juichi mencari sosok The Glass Passenger di kaca jendela bus dan disekeliling tempat duduk mereka. Sayangnya sama seperti Ucha, mereka juga tidak dapat melihat The Glass Passenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berpikir dua kali Nenok mengeluarkan sebungkus garam dari dalam tasnya dan melemparkan butiran-butiran garam ke kaca jendela bus dan di sekeliling tubuh Dewa. Namun jeritan Dewa malah semakin kencang dan kedua tangannya terkepal semakin erat menandakan rasa sakit yang ia rasakan semakin parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Nenok komat-kamit membaca mantera dan kedua tangannya terus menerus melemparkan garam ke tubuh Dewa. Beberapa detik kemudian, jeritan Dewa berhenti. Ia jatuh tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dewa! Bangun Dewa!” jerit Nenok panik sambil menepuk-nepuk pipi Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat suasana kepanikan seperti itu, datanglah seorang pria berambut coklat. Ia bangkit dari tempat duduknya yang tepat berada di belakang supir bus. Keane ingat pria tersebut. Ya, ia adalah Dr. George O’Malley yang ditemui Keane saat kejadian meninggalnya seorang penumpang bus kemarin. Keane tidak akan pernah lupa pada wajah tampannya, warna matanya yang hijau kebiruan, alis tebal, bisep yang atletis dan lesung pipit yang membuat senyuman sang dokter semakin manis tanpa disadarinya mampu membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Kehadiran Dr. George O’Malley mampu membuat Keane sesaat melupakan sosok The Glass Passenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. George O’Malley,” sapa Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane,” sahut Dr. George O’Malley. “Ini kejadian kedua dalam dua hari berturut-turut,” lanjutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti yang dilakukannya kemarin, Dr. George O’Malley berlutut memeriksa Dewa yang terkulai tak berdaya di lantai bus. Setelah meraba denyut nadi di leher, mendengarkan detak jantung Dewa lewat stetoskop dan melihat reaksi pupil terhadap cahaya senter, Dr. George mengumumkan bahwa Dewa telah meninggal. Tangis Nenok pecah seketika begitu mendengar kalimat yang diucapkan Dr. George. Red dan Juichi juga tak kuasa menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata mereka. Sementara itu, Keane dan Ucha mencoba menghibur Nenok, Red dan Juichi yang tengah diliputi kedukaan mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seattle Grace Hospital&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;11 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kematian Dewa disebabkan oleh Cardiac Tamponade dimana pericardium penuh dengan darah. Kumpulan darah itu terjadi karena adanya lubang di ventrikel kanan, septum dan atrium kiri jantungnya. Hal tersebut meningkatkan tekanan yang membuat jantungnya tidak dapat memompa darah dengan baik,” papar Dr. Sapphire, sang ahli forensik di Seattle Grace Hospital panjang lebar kepada Nenok, Red, Juichi, Keane dan Ucha.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih belum percaya Dewa telah meninggal,” kata Nenok sambil sesenggukan. Air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal tadi pagi Dewa masih sehat dan tampaknya ia tidak sedang mengidap penyakit jantung, Dokter,” sambung Juichi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dewa selalu menceritakan semuanya padaku, tapi mengapa ia tidak pernah bercerita kalau mengidap penyakit jantung,” timpal Red.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya Tuhan berkehendak lain. Kalian semua harus tabah menghadapi ini,” hibur Dr. Sapphire seraya menepuk-nepuk punggung Nenok. Tiba-tiba penyeranta Dr. Sapphire berbunyi. Ia segera mengambil penyerantanya dan membaca pesan didalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, saya mohon diri dulu,” kata Dr. Sapphire seraya menyalami Nenok, Red, Juichi, Keane dan Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih banyak, Dr. Sapphire,” sahut Keane yang berada disebelah Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama-sama,” tutur Dr. Sapphire sejenak sebelum pergi dari hadapan Nenok dan kawan-kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Cellular Phone Nenok berbunyi. Ia menghela nafas sejenak untuk meredakan tangisnya lalu mengangkat Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dean, kamu dimana? Aku di Seattle Grace Hospital, Dean. Dewa baru saja meninggal,” papar Nenok. Air mata kembali terlihat menggenangi sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kematian Dewa itu benar-benar tak masuk akal. Tadi pagi Dewa masih sehat dan ia tidak mengidap penyakit jantung, namun tiba-tiba ia meninggal seketika setelah kemunculan The Glass Passenger di King County Metro Bus,” lanjut Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dean, kamu cepat kesini ya. Kita harus menyelidiki tentang The Glass Passenger sesegera mungkin,” desak Nenok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bye, Dean,” kata Nenok mengakhiri percakapan dengan Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dean dan Sam akan datang sebentar lagi, girls,” kata Nenok pada teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, syukurlah,” kata Red dan Juichi berbarengan sementara Ucha menghela nafas lega. Keane juga sangat berharap Dean dan Sam dapat mengatasi masalah The Glass Passenger. Ia merasa resah sebab sudah tiga orang meninggal sejak kemunculan sosok misterius itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Girls, aku pergi ke toilet dulu ya,” kata Keane. Ia perlu keluar sejenak dari suasana duka yang membuat hatinya semakin resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane berjalan dari koridor bagian forensik menuju koridor utama Seattle Grace Hospital. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling koridor utama untuk mencari toilet dan tanpa sengaja matanya melihat Dr. George O’Malley yang sedang berjalan melewati koridor. Seketika itu juga jantung Keane langsung berdebar-debar kencang. Kebetulan Dr. George O’Malley juga melihat Keane dari kejauhan. Ia tersenyum pada Keane saat berjalan menghampirinya. Senyum George yang sangat menawan membuat debaran jantung Keane semakin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. George O’Malley,” sapa Keane dengan nada riang. Rona merah samar terlihat di kedua pipi Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Panggil aku George, Keane,” sahut George sambil tersenyum pada Keane. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana hasil otopsi temanmu?” tanya George. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. Sapphire mengatakan Dewa mengalami Cardiac Tamponade, George,” jawab Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi pericardium si korban penuh dengan darah karena lubang di ventrikel kanan, septum dan atrium kiri jantung,” timpal George.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane hanya mengangkat alis mendengar George bicara hal-hal kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aneh, ini kasus ketiga yang datang ke Seattle Grace selama 3 hari berturut-turut,” lanjut George.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kasus ketiga, George?” tanya Keane lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, penyebab kematian temanmu, lalu gadis yang tewas di King County Bus kemarin, dan seorang pria setengah baya dua hari sebelumnya sama-sama dikarenakan Cardiac Tamponade,” ujar George panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anehnya lagi, ketiga orang itu sama-sama tewas saat sedang menumpang King County Bus,” lanjut George lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh ya?” timpal Keane. Sekonyong-konyong Keane langsung teringat The Glass Passenger. Tubuh Keane merinding seketika.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tahu karena kebetulan dokter yang membawa mayat pria setengah baya dua hari lalu itu temanku yang juga bekerja disini,” papar George.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, jadi Dr. Alex Karev itu temanmu, George,” Keane menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu kenal Alex juga, Keane?” George balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kebetulan aku juga berada di King County Bus saat Dr. Alex mencoba menyelamatkan pria naas itu. Sayangnya maut lebih dulu menjemputnya,” sahut Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, sayang sekali,” kata George. Tiba-tiba tatapan matanya terpaku pada bandul kalung yang sedang dipakai Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, bandul kalungmu ini unik sekali. Matahari dan bulan dalam satu wajah. Hmmm...hmmm......sepertinya aku sering melihat kalung ini sebelumnya,” papar George lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masa? Aku baru membeli kalung ini di toko barang vintage tiga hari yang lalu,” timpal Keane sambil memegang bandul kalungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali percakapan mereka terinterupsi ketika tiba-tiba disaat yang bersamaan penyeranta George dan Cellular Phone Keane berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf Keane, Meredith menungguku di ruang operasi. Ia dan Dr. Erica Hahn akan melakukan bedah pintas koroner. Sampai jumpa,” ujar George setelah membaca pesan yang tertera dalam penyerantanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK,” sahut Keane sambil tersenyum. George membalas senyumannya lalu segera berlari menuju ruang operasi. Sementara itu, Keane buru-buru menjawab panggilan di Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa? Dean dan Sam sudah datang. OK, aku segera kesana,” kata Keane melalui Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varsity Motel&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;1 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenok, Red, Juichi, Keane dan Ucha akhirnya sepakat membicarakan kasus The Glass Passenger di kamar motel yang ditempati Dean dan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane, tolong jelaskan semuanya pada kami,” kata Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keane menceritakan panjang lebar mengenai kemunculan The Glass Passenger yang diikuti tiga kasus kematian aneh yang terjadi di King County Metro Bus kepada Dean dan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi semua kejadian yang kamu alami itu hanya saat pagi hari, Keane?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seingatku ya,” jawab Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa kamu ingat jam berapa kemunculan The Glass Passenger?” tanya Sam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmm....hmmm....” Keane berusaha untuk mengingat-ingat. Keningnya berkerut saat mencoba mengumpulkan ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau tidak salah, aku berada di bus itu antara jam 8.50 sampai jam 9 lewat sedikit, Sam,” tutur Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu bagaimana rupa The Glass Passenger? Bisa kamu jelaskan dengan lebih spesifik lagi,” kali ini giliran Dean yang bertanya pada Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kelopak mata bagian atas Keane terangkat, bagian putih matanya terlihat jelas, kelopak mata bagian bawahnya menegang, dahinya berkerut dan bibirnya ditarik ke dalam. Ekspresi yang menampakkan ketakutan yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane, ada apa?” tanya Sam cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku takut, Sam. Sebab setiap aku melihat kaca atau cermin, aku selalu terbayang sosok The Glass Passenger,” tutur Keane pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dean datang sambil membawa sebuah cermin. Keane langsung ketakutan melihat cermin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane, kamu harus memberanikan diri melihat cermin ini sebab kami harus tahu darimana The Glass Passenger berasal,” desak Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena desakan Dean itulah, Keane mengumpulkan keberaniannya melihat cermin. Selama beberapa detik sampai hitungan menit, Keane tidak juga melihat sosok The Glass Passenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aneh, mengapa sosok The Glass Passenger hanya terlihat di kaca jendela bus pada saat kematian ketiga penumpang itu ya?” tanya Keane heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu bagus, Keane. Berarti kamu tidak perlu takut lagi bila melihat kaca atau cermin,” gumam Dean.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebentar, Keane. Coba ingat-ingat, sosok The Glass Passenger itu lebih menyerupai pria atau wanita?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Keane berkerut mendengar pertanyaan ini. ”Hmmm.... Sosoknya samar dengan warna putih semitransparan. Kurasa bagian atas sosok itu terlihat seperti pria,” tutur Keane sambil memandang Dean dan Sam bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ohya, salah satu dokter di Seattle Grace Hospital mengatakan padaku bahwa ada kesamaan penyebab kematian ketiga penumpang bus yang bertepatan dengan kemunculan The Glass Passenger. Mereka bertiga tewas karena Cardiac Tamponade, kondisi dimana pericardium dipenuhi darah karena lubang yang terdapat di ventrikel, septum dan atrium jantung mereka,” lanjut Keane lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, kita harus segera mencari identitas The Glass Passenger sesegera mungkin agar tidak jatuh korban berikutnya,” ujar Sam cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita harus tahu dulu dimana ia dikubur agar bisa membakar tulangnya,” tambah Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane, untuk mencegah adanya korban tewas lagi, sebaiknya kamu tidak naik King County Bus dulu sebelum kami mebgetahui identitas The Glass Passenger,” perintah Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ok, kalau begitu kita bagi tugas. Sam bersama Nenok, Juichi dan Red mencari identitas The Glass Passenger di perpustakaan. Sementara itu, aku bersama Keane dan Ucha akan menemui ahli forensik di Seattle Grace untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai ketiga korban tewas setelah kemunculan The Glass Passenger,” perintah Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seattle Grace Hospital&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;3 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ucha, Keane, kalian harus berbicara dengan ahli forensik selagi aku bertindak, OK!” perintah Dean begitu mereka bertiga tiba di Seattle Grace Hospital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Beres, Dean,” jawab Ucha dan Keane berbarengan. Setelah itu Dean melangkahkan kakinya langsung menuju pintu samping Seattle Grace, sementara Ucha dan Keane berjalan ke koridor utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cha, lebih baik kita harus menemui Dr. George O’Malley dulu sebelum pergi ke Dr. Sapphire,” saran Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa nggak bareng Dr. Alex Karev aja, Keane?” kilah Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lho, memangnya Dr. Alex bakal ingat kamu, Cha? Bukannya pas pertemuan di bus itu kamu belum sempat kenalan dengannya?” tanya Keane heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, masa sih dia nggak ingat gadis secantik aku, Keane,” jawab Ucha dengan narsis yang langsung dibalas dengan cibiran Keane. Tiba-tiba Ucha tersentak ketika Keane mencubit lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduh! Apa-apaan sih, Keane!” jerit Ucha sambil mengusap-usap lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cha, lihat deh! Itu George!!! OMG, George ganteng bangeeeett siiih,” seru Keane agak-agak histeris sambil menunjuk dokter yang baru keluar dari elevator. Spontan Ucha menatap pria yang dimaksud Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, keren banget,” sahut Ucha yang tanpa sengaja matanya menatap dokter disebelah George.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benar kan kataku, George keren banget,” ujar Keane tersipu-sipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan George, Keane. Dokter yang aku bilang keren itu Dr. Alex Karev yang lagi jalan disebelah George,” balas Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hah? Alex? Nggak ah, masih lebih keren George!” rengek Keane. Ia tak setuju Georgenya kalah keren dari Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya sudah, terserah kamu deh, Keane. Ngomong-ngomong, kayaknya mereka berdua lagi berjalan ke arah kita tuh,” ujar Ucha sambil senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane? Ada apa?” tanya George begitu tiba di hadapan Keane dan Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai, George,” sapa Keane lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perkenalkan saya Ucha, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Seattle, Dr. O’Malley dan Dr. Karev,” kata Ucha memperkenalkan diri pada George dan Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, kamu pasti gadis yang berada di bus tiga hari lalu saat kematian pria naas itu ya?” tanya Alex pada Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, ternyata Dr. Karev masih ingat ya,” jawab Ucha dengan wajah tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Alex berhadapan dengan Ucha, Keane dapat melihat adanya saling ketertarikan dari tatapan mata dan eratnya jabatan tangan antara mereka berdua. Sementara George hanya tersenyum melihat rekannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane, saat ini aku sedang istirahat siang. Bagaimana kalau kita minum kopi di kafe?” ajak George. Tentu saja ajakan tersebut tidak disia-siakan oleh Keane. Mereka berdua berjalan menuju kafe dan meninggalkan Alex dan Ucha yang tengah asyik mengobrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. Karev, saya sedang mengerjakan makalah dengan topik cardiac tamponade. Bolehkah saya minta masukan dari Anda sebagai dokter bedah?” tanya Ucha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Boleh, saat ini jam shiftku sudah berakhir. Kebetulan akhir-akhir ini ada beberapa kasus cardiac tamponade. Sayangnya para pasien itu telah tiada dan sekarang berada di ruang forensik. Aku akan menemanimu menemui Dr. Sapphire,” jawab Alex. Setelah itu, mereka berdua beranjak menuju ruang dimana Dr. Sapphire, sang ahli forensik berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi Ucha dan Alex mengobrol dengan Dr. Sapphire, diam-diam Dean menyelinap ke ruang forensik setelah sebelumnya mengganti bajunya dengan setelan berwarna biru muda lengkap dengan jas putih seperti yang dipakai oleh para dokter residen diSeattle Grace. Untungnya saat itu sedang tidak ada orang di ruang forensik, jadi Dean dapat mencari ketiga mayat orang yang meninggal di King County Bus. Dean menuju ke sebuah meja dan melihat daftar mayat-mayat yang sedang berada di ruangan tersebut. Dean langsung mencari daftar mayat yang datang pada tanggal 21, 22 dan 23 September yang meninggal di King County Bus karena cardiac tamponade . Ternyata mayat pertama bernama Jimmy Partington yang berada dalam laci nomor 25, mayat kedua bernama Kelly Hersch yang berada dalam laci nomor 42dan mayat ketiga yaitu Dewa berada di laci nomor 56. Dean langsung berjalan menuju laci penyimpanan mayat nomor 25, dibukanya laci tersebut dan tampaklah sesosok mayat yang ditutup selembar kain putih. Dean membuka kain penutupnya dan tampaklah mayat Jimmy Partington. Lalu Dean memeriksa seluruh permukaan mayat pria itu terutama di bagian dadanya, namun tidak terdapat bekas luka luar sama sekali, padahal jantungnya rusak. Kondisi mayat Kelly Hersch juga sama seperti mayat pertama. KemudianDean menuju laci penyimpanan mayat Dewa dan menemukan kondisi serupa seperti kedua mayat sebelumnya. Dean membaca dengan seksama catatan forensik ketiga mayat tersebut dan menemukan persamaan bahwa mereka semua meninggal karena cardiac tamponade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, Dean keluar dari ruang forensik, mengganti bajunya dan langsung menelpon Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sam, coba telusuri data Jimmy Partington dan Kelly Hersch. Mereka berdua adalah penumpang yang tewas di King County Bus pada tanggal 21 dan 22 September sebelum kematian Dewa. Aku akan mencari data dari Seattle Grace,” kata Dean pada Sam lewat Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Suzzallo&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;4 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam bersama Nenok, Juichi dan Red pergi ke perpustakaan Suzzallo di tengah kota Seattle. Sam membagi tugas pada mereka semua. Nenok, Juichi dan Red mencari info mengenai The Glass Passenger, sementara dirinya menelusuri data tentang Jimmy Partington dan Kelly Hersch. Pencarian dimulai di berbagai surat kabar lokal, mulai dari Seattle Times, Seattle Post Intelligence, Seattle Daily Journal of Commerce, Real Change, Seattle Weekly sampai North Seattle Journal. Satu jam kemudian, Red, Nenok dan Juichi menyerahkan hasil pencarian mereka pada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, korban meninggal karena tertabrak bus di Seattle ada lebih dari 750 orang. Banyak sekali!” keluh Sam yang terperanjat seketika begitu melihat banyaknya berita korban kecelakaan tabrakan bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita harus mengecilkan lingkup pencarian. Coba kalian ingat-ingat lagi semua yang berhubungan dengan The Glass Passenger,” saran Sam pada Red, Nenok dan Juichi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi kita kan belum tahu kapan dan dimana tepatnya The Glass Passenger meninggal dunia?” tanya Juichi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena The Glass Passenger memakan korban di Seattle, kemungkinan besar dia juga tewas di Seattle ini. Jadi tadi aku cari korban kecelakaan di Seattle aja,” kata Red.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebenarnya belum tentu juga kalau The Glass Passenger itu penyebab kematian para korban. Soalnya dulu aku pernah bertemu hantu yang ternyata tidak bermaksud jahat. Hantu itu muncul karena ingin memperingatkan manusia yang akan jadi korban. Namun ada kemungkinan jugaThe Glass Passenger itu punya dendam pada ketiga korban itu,” kilah Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku masih heran deh, kenapa hanya Keane yang bisa melihat The Glass Passenger? Padahal kan dia sebelumnya nggak bisa lihat hantu?” tanya Nenok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atau jangan-jangan Keane sendiri yang ada hubungannya dengan The Glass Passenger?” sahut Juichi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmmhh....” Sam menghela nafasnya dengan gusar. Kali ini pencarian identitas The Glass Passenger ternyata tidak semudah yang ia kira dan kini ia sedang berpikir keras bagaimana cara mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emerald City Bar&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;7 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memandang ke sekeliling bar. Beberapa saat kemudian mata Dean tertuju pada seorang wanita cantik bergaun putih yang sedang duduk sendirian di depan meja bartender. Tanpa berpikir panjang lagi,Dean langsung menghampiri wanita tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kursi ini kosong?” tanya Dean pada wanita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta wanita bergaun putih itu menengok ke arah Dean. Ia mengibaskan rambut panjangnya. Mata birunya yang jernih memandang Dean dengan seksama. Wanita ini sungguh mengagumkan, pikir Dean. Hatinya langsung terpikat pada wanita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tunggu sebentar, kamu bukan dokter kan? Dokter bedah syaraf atau semacamnya?” tanya sang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Dean terangkat mendengar pertanyaan barusan. Dean menggelengkan kepalanya lalu balik bertanya,”Apa menurutmu aku ini dokter?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagus kalau kamu bukan dokter. Berarti kursi ini kosong,” sahut sang wanita sambil menunjuk kursi kosong disebelahnya. Ia tersenyum pada Dean. Tanpa membuang waktu lagi, Dean langsung duduk disamping wanita itu. Dean dapat melihat kecantikan serta pesona sang wanita dengan lebih jelas. Dean merasakan jantungnya berdebar lebih cepat saat berada dekat dengan wanita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, aku Dean Winchester,” kata Dean seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan sang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meredith Grey,” ujar sang wanita sambil bersalaman dengan Dean. Selama beberapa saat mereka berdua saling berpandangan dengan tatapan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku membelikanmu minuman?” tanya Dean dengan senyum ramah di bibirnya. Tawaran Dean tersebut diiyakan Meredith dengan anggukan dan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Joe, aku pesan Charmed 4ever,” ujar Meredith pada Joe, sang pemilik Emerald City Bar yang juga merangkap sebagai bartender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Charmed 4ever?” tanya Dean tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Charmed 4ever itu minuman favoritku dan sebagian besar pengunjung disini. Rasanya unik, campuran Grey Goose Vodka, ginger ale dan lemon concentrate,” tutur Meredith. “Kau mau coba, Dean?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh juga. Joe, bawakan satu lagi Charmed 4ever untukku,” sahut Dean. Joe pun langsung beranjak dari hadapan Meredith dan Dean untuk membuatkan minuman yang mereka pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…hmmm…. Charmed 4ever…..Nama yang cukup unik juga ya,” cetus Dean lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama Charmed 4ever diberikan oleh Charlie Marsden, almarhum bartender disini yang menciptakan racikan minuman ini. Saking terkenalnya minuman Charmed 4ever, sampai-sampai ia dipanggil Charmed oleh seantero pengunjung bar. Sayang sekali ia sekarang sudah tiada,” lanjut Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Joe mengantarkan Charmed 4ever yang dipesan Meredith dan Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cheers,” kata Dean seraya mengangkat gelas berisi minuman yang dipesannya. Dean terus melancarkan pendekatan kepada Meredith. Ia memberikan senyum termanisnya pada Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cheers,” sambut Meredith. Ia membalas senyuman Dean lalu mengangkat gelasnya dan triiing… terdengar suara dua gelas yang bersentuhan. Setelah itu, Dean dan Meredith menyesap minuman Charmed 4ever masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang sekali, pria yang menciptakan minuman dengan rasa seunik ini sudah meninggal,” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sayang sekali. Kebetulan saat itu aku menangani Charmed yang terluka sangat parah saat paramedis membawanya ke Seattle Grace Hospital. Ia ditabrak oleh bus yang dikendarai oleh supir yang mabuk. Tubuhnya terlempar ke jendela sebuah toko yang terletak di pinggir jalan. Seluruh bagian tubuhnya terluka oleh puluhan keping pecahan kaca yang menancap di permukaan kulitnya, namun cedera terparahnya diakibatkan oleh pecahan kaca terbesar yang menancap di jantungnya. Charmed mengalami Cardiac Tamponade dimana pericardium penuh dengan darah yang diakibatkan oleh pecahan kaca yang menusuk ventrikel kanannya tembus sampai septum dan melubangi atrium kirinya. Aku langsung membawanya ke ruang operasi. Dr. Erica Hahn melakukan bedah pintas koroner untuk memperbaiki kerusakan di dinding jantungnya, namun sayangnya besarnya lubang yang terdapat dalam atrium kirinya membuat jahitan di pericardiumnya terlepas saat bypass. Ia mengalami terlalu banyak pendarahan. Dr. Hahn telah berusaha semaksimal mungkin namun tekanan darahnya terus menurun tajam sehingga akhirnya Dr. Hahn terpaksa mengumumkan waktu kematiannya,” jelas Meredith panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, jadi Meredith itu dokter. Wah, keren sekali kalau aku bisa mengencani seorang dokter, kata Dean dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Dean sedang memikirkan cara untuk membuat Meredith jatuh hati padanya, tiba-tiba kata Cardiac Tamponade membuatnya tersentak. Sekonyong-konyong Dean teringat tentang The Glass Passenger. Ia juga ingat bahwa ketiga korban yang tewas saat kemunculan sosok itu diakibatkan oleh Cardiac Tamponade. Dean merasa bahwa cerita Meredith ini ada kaitannya dengan The Glass Passenger. Oleh karena itu, Dean mencoba mengorek lebih dalam keterangan dari Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kelihatannya kamu masih ingat sekali kejadian itu Mer. Lalu bagaimana dengan keluarga Charmed?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kasihan sekali Charmed, padahal dia itu pria yang baik, ramah, supel, dan disukai oleh semua orang. Aku lebih kasihan lagi pada kakaknya. Ia begitu terpukul ketika mengetahui Charmed meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti itu. Sayangnya, supir bus yang telah menabrak Charmed kabur dan polisi belum dapat menemukannya sampai sekarang,” papar Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kasihan sekali, lalu sekarang bagaimana kabar kakak Charmed itu? Siapa tadi namanya?” tanya Dean lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmm...kalau tidak salah kakaknya Charmed itu bernama Ambu. Kok pertanyaanmu jadi aneh, Dean,” kilah Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sempat gelagapan ketika tiba-tiba Meredith mulai curiga padanya. Mata Dean sekonyong-konyong tertuju pada sebuah foto berbingkai yang digantung di salah satu dinding Emerald City Bar. Buru-buru ia mengalihkan topik pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, itu ada fotomu bersama teman-teman ya?” ujar Dean seraya menunjuk sebuah foto berbingkai di dinding bar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, aku dan teman-teman memang pelanggan tetap bar ini. Itu foto terakhir kami dengan Charmed. Joe sengaja memasangnya foto itu di dinding untuk mengenang Charmed,” sahut Meredith. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memperhatikan dengan seksama foto Charmed bersama para dokter dan bartender lain yang terpampang di dinding Emerald City Bar. Tiba-tiba, Dean menyadari bahwa ia sedang diawasi seseorang. Dean pun membalikkan tubuhnya dan mendapati bahwa  seorang pria tampan berambut coklat gelap yang sedang duduk di meja dekat pintu bar sedang mengawasi gerak-geriknya bersama Meredith. Kecemburuan terlihat jelas dari tatapan pria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmm....Meredith. Tampaknya pria pengagummu yang duduk di meja dekat pintu bar sedang memperhatikan kita terus menerus sejak tadi,” gumam Dean. Serta merta Meredith melihat ke arah yang ditunjuk Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, itu Derek. Biarkan saja, Dean. Aku sudah putus dengannya,” kilah Meredith. Dean hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar kalimat Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmm, Dean. Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan dirumahku saja?” ajak Meredith. Dean langsung menanggapi dengan senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ayo,” sahut Dean sambil memberikan uang dua puluh dollar pada kasir bar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggamit tangan Meredith lalu berjalan keluar dari Emerald City Bar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varsity Motel&lt;br /&gt;23 September 2008&lt;br /&gt;11 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengobrol panjang lebar dengan Meredith dirumahnya, Dean kembali ke Varsity Motel. Saat ia membuka pintu, Sam terlihat masih berkutat dengan laptopnya untuk mencari info mengenai Jimmy Partington, Kelly Hersch, Dewa dan tentunya The Glass Passenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam, bagaimana hasil pencarianmu tadi?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit, Dean. Banyak sekali korban kecelakaan di Seattle ini,” jawab Sam sambil menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, tadi aku bertemu seorang dokter yang sangat cantik, seksi, menawan, pintar. Pokoknya dia benar-benar mengagumkan! Namanya Meredith, Sam,” tutur Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau soal kayak gitu sih nggak usah diceritain deh, Dean. Lagian kok bisa sih kamu sempat-sempatnya kencan saat suasana kayak gini. Kasus The Glass Passenger harus kita pecahkan sebelum korban tewas bertambah,” omel Sam panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku kan belum selesai bicara. Dengar dulu....” gerutuan Dean ini tiba-tiba diinterupsi Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba lihat ini, Dean!” potong Sam tiba-tiba sambil menunjuk laptopnya. Spontan Dean mendekati Sam untuk melihat info yang dimaksud Sam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku telah mencari data diri Jimmy Partington dan Kelly Hersch dan aku menemukan bahwa mereka berdua ternyata pernah ditangkap polisi karena mabuk-mabukan saat mengendarai mobil. Mereka berdua juga sama-sama pernah menjadi tersangka pada beberapa kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Sayangnya kasus tersebut dimenangkan oleh mereka berdua. Pencabutan SIM mereka baru dilakukan tiga hari yang lalu,” lanjut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana dengan Dewa, si korban ketiga?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia sebenarnya bertanggung jawab karena menyebabkan kecelakaan beruntun di Golden Highway dua hari yang lalu. Kecelakaan tersebut telah menewaskan empat orang dan melukai lima orang lainnya. Namun karena ayah Dewa adalah senator negara bagian Washington dari Partai Republik maka Dewa dapat bebas dari kasus tersebut. Berarti kita telah menemukan titik temu kasus ini. The Glass Passenger hanya membunuh para pengemudi tak bertanggung jawab yang telah menghilangkan nyawa orang lain,” tutur Sam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tadi aku ketemu Meredith yang kebetulan bercerita tentang bartender bernama Charlie Marsden alias Charmed. Charmed  ditabrak bus lalu terlempar ke jendela. Seluruh bagian tubuhnya terluka oleh puluhan keping pecahan kaca, namun cedera terparahnya diakibatkan oleh pecahan kaca yang menancap di jantungnya. Charmed meninggal karena Cardiac Tamponade. Kamu ingat kan ketiga korban yang tewas saat kemunculan sosok The Glass Passenger diakibatkan oleh Cardiac Tamponade, Sam,” cerocos Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, kemungkinan besar The Glass Passenger adalah Charmed. Ia meninggal secara mengenaskan karena ditabrak bus sehingga ia membalaskan dendamnya pada para penumpang bus yang sebelumnya pernah menghilangkan nyawa orang lain. Penyebab kematiannya karena terlempar ke jendela juga menjelaskan kemunculan The Glass Passenger yang hanya terlihat di kaca jendela. Lalu Cardiac Tamponade yang dialami Charmed juga dialami oleh ketiga penumpang yang tewas itu,” lanjut Dean lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu aku akan mencari alamat Charmed,” kata Sam seraya mengambil buku indeks alamat dan nomor telpon penduduk Seattle yang diperolehnya tadi pagi dari perpustakaan Suzallo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ingat Sam, nama lengkap Charmed itu Charlie Marsden. Dia punya kakak perempuan bernama Ambu Marsden,” ujar Dean mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku menemukan alamatnya, Dean!” seru Sam tak lama kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beacon Hill&lt;br /&gt;24 September 2008&lt;br /&gt;9 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam tiba di sebuah rumah mungil yang beralamat di Beacon Hill 1014, Seattle 98184. Dean bergegas ke pintu depan rumah itu dan membunyikan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita berambut hitam berdiri dihadapan Dean dan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya?” tanya wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah benar Anda yang bernama Ambu Marsden?” tanya Dean cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya Dean dan ini Sam. Kami dari perusahaan asuransi Cavanaugh,” Dean langsung memperkenalkan diri pada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata wanita itu menyipit, dan mulutnya tertutup rapat menjadi sebuah garis tipis. ”Kurasa itu bukan urusan Anda,” katanya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan aku sudah mengurus asuransi dua hari yang lalu. Jadi, silahkan pergi. Aku tidak tahu maksud kalian, tapi menjauhlah dari sini,” hardik wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tunggu!” cegah Sam. Sayangnya wanita itu telah menutup pintu tepat dihadapan Dean dan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam saling berpandangan lalu dengan segan berbalik pergi dan kembali mengendarai Impala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sam, coba lihat ada berapa pemakaman di Seattle ini,” ujar Dean sambil menstater Impalanya. Sam langsung mengambil peta Seattle di laci dashboard dan segera menelusuri peta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada empat puluh delapan, Dean,” keluh Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Holy crap!” gerutu Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, kau cari lokasi kuburan Charmed dari perpustakaan sesegera mungkin. Sementara aku akan menemui seseorang yang dapat membantu kita,” lanjut Dean lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediaman Meredith Grey&lt;br /&gt;24 September 2008&lt;br /&gt;11 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membunyikan bel di pintu rumah Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Meredith,” sapa Dean lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean!” seru Meredith. Mata Meredith langsung berbinar melihat kedatangan Dean dan senyum mengembang di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo masuk,” ajak Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membalas senyuman Meredith dan berjalan masuk menuju ruang tamu. Meredith membawakan sebotol bir untuk Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mer, boleh aku bertanya lagi tentang Charlie Marsden alias Charmed?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Charmed? Memangnya ada apa dengannya?” Meredith balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menceritakan semua tentang The Glass Passenger pada Meredith, termasuk kesulitannya menghadapi kakak perempuan Charmed dan menemukan kuburannya. Meredith tersentak tak percaya saat mendengarnya. Alisnya terangkat, matanya membesar, dan mulutnya terbuka perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi Meredith tersebut telah diperkirakan oleh Dean sebelumnya. Dean memang telah banyak berpura-pura dan berbohong sebelumnya, namun entah kenapa ia tak mau melakukannya pada Meredith. Dean memilih untuk jujur pada Meredith, meski sebagai resikonya ia akan dianggap aneh oleh Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu itu semacam pemburu hantu, Dean,” kata Meredith pelan. Posisi tubuhnya terlihat menjaga jarak dengan Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kurang lebih seperti itu, Mer,” jawab Dean sambil mendekati Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku juga tidak tahu apakah aku bisa percaya padamu atau tidak,” gumam Meredith seraya membuka telapak tangannya di depan tubuhnya sebagai isyarat agar Dean tidak mendekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan memberimu waktu untuk berpikir,” sahut Dean. Lalu ia beranjak keluar dari rumah Meredith. Namun baru beberapa langkah, Dean berhenti berjalan dan menatap wajah Meredith. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong pikirkan baik-baik, Mer. Ini menyangkut hidup matinya seseorang. Pekerjaan kita sama-sama menyelamatkan nyawa manusia. Hanya bedanya, kau menyelamatkan manusia dengan cara yang rasional, sementara aku dengan cara mistik,” jelas Dean. Kemudian, setelah menarik nafas panjang, ia berbalik dan meninggalkan rumah Meredith.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meredith tidak mengeluarkan sepatah kata pun menanggapi penjelasan Dean. Ia hanya memandangi kepergian Dean dengan tatapan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varsity Motel&lt;br /&gt;24 September 2008&lt;br /&gt;11 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Background Music : Violence by Eskobar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok….tok….tok….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara ketukan di pintu kamar motel tempat Dean dan Sam bermalam. Dean terbangun dari tidurnya lalu beranjak untuk membukakan pintu. Betapa kagetnya Dean begitu mengetahui sosok yang tengah berada di depan pintunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meredith?” tanya Dean heran. Dean sangat terkejut melihat kedatangan Meredith setelah adu argumentasi yang mereka lakukan siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, ini data mengenai Charmed. Ia meninggal pada pukul sembilan pagi empat hari yang lalu dan dimakamkan di Wallflowers Cemetery,” kata Meredith seraya menyerahkan selembar kertas pada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wallflowers Cemetery,” ulang Dean sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih banyak, Mer. Informasi darimu benar-benar membantu kami,” lanjut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam, kita harus pergi ke Wallflowers Cemetery!” seru Dean membangunkan Sam yang sedang tertidur nyenyak. Sekonyong-konyong, Sam tersentak kaget lalu bangun dari ranjangnya. Ia mengucek matanya sebentar lalu memandang jam dinding yang menunjukkan jam sebelas lewat 11 menit kemudian berjalan menuju wastafel yang ada disebelah kiri ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, kamu mau melakukan apa saat tengah malam begini?” tanya Meredith tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang aku bilang tadi siang, Mer. Aku dan adikku akan membongkar makam Charmed, lalu menaburkan garam dan membakar jasadnya,” sahut Dean. Meredith terperangah sesaat, namun segera dapat mengendalikan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bila keluarga Charmed ingin mengunjungi makamnya dan tiba-tiba mereka mengetahui bahwa jasadnya sudah tak ada lagi?” tanya Meredith lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Mer. Cara ini memang terdengar mengerikan, namun kami telah melakukannya berulang kali untuk menghentikan terror dari hantu yang belum tenang,” jawab Dean seraya mengambil jaket dan kunci Impalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ikut denganmu, Dean!” seru Meredith. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Jangan, Mer! Sebaiknya kamu tidak perlu ikut. Pekerjaan ini mengerikan. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu,” cegah Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meredith?” tanya Sam seraya mengulurkan tangannya pada Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Sam, adik Dean. Ayo kita bergegas ke pemakaman, Mer,” ajak Sam pada Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SAM!!!” teriak Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang saja, Dean. Tidak akan terjadi apa-apa,” kata Sam menenangkan Dean dan Meredith. Lalu mereka bertiga keluar dari kamar motel dan bergegas ke Wallflowers Cemetery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallflowers Cemetery&lt;br /&gt;25 September 2008&lt;br /&gt;1 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu setengah jam telah berlalu dan kini Dean, Sam dan Meredith telah berada di Wallflowers Cemetery yang terletak di puncak Magnolia Hill. Area pemakaman itu diliputi kesunyian yang mencekam. Udara terasa suram dan dingin. Dean, Sam dan Meredith berjalan diatas tanah lembab yang ditutupi oleh daun-daun yang berguguran. Setiap langkah kaki mereka diiringi oleh suara angin berdesau di antara pepohonan, seolah-olah para penghuni kuburan mengeluh, karena daerahnya dimasuki mereka. Suara burung hantu terdengar dari kejauhan. Pohon-pohon tua tampak bergoyang-goyang karena tiupan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahan-dahan pepohonan yang melambai-lambai ditiup angin dan ratusan batu nisan serta patung penjaga makam membuat Meredith merinding ketakutan. Meredith gemetar, wajahnya pucat, tangannya menggigil dan hembusan angin malam yang kencang mengacak-acak rambut panjangnya. Dean mengetahui ketakutan Meredith. Ia merangkul Meredith dengan erat. Meredith pun mendekatkan tubuhnya yang menggigil ke tubuh Dean. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini dia!” seru Sam sambil menunjukkan kuburan Charmed dengan cahaya senternya. Dean dan Meredith bergegas menuju makam itu. Beberapa saat kemudian mereka bertiga berdiri di depan kuburan Charmed. Di bawah sinar bulan yang pucat, mereka bertiga melihat tulisan yang dipahat pada batu nisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R.I.P&lt;br /&gt;Charlie Marsden&lt;br /&gt;1982 – 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meredith, tolong pegang senter ini,” kata Dean sambil menyerahkan senternya. Lalu Dean dan Sam mulai menggali kuburan Charmed yang masih baru itu. Selama beberapa menit hanya suara sekop yang terdengar, menggali serta membuang tanah dan batu. Akhirnya terdengar suara sekop terbentur pada peti mayat. Dean membuka peti mayat dengan bantuan sekop dan sesaat kemudian tampaklah mayat Charmed yang setengah membusuk. Bulan muncul dari balik awan menyinari mayat Charmed. Pemandangan mengerikan tersebut membuat Meredith merinding ketakutan. Tak lama kemudian, Dean dan Sam mengangkat tubuh mereka kembali ke atas tanah. Dean mengambil sekantung garam lalu  menaburkannya di atas mayat Charmed. Kemudian Sam membuka jerigen berisi bensin dan menuangkannya di atas mayat Charmed. Setelah selesai, Dean menyalakan korek api dan melemparkannya ke dalam lubang makam yang didalamnya terdapat mayat Charmed. Dalam seketika api berkobar di dalam makam yang berlubang itu. Lalu setelah api padam, Dean dan Sam mengambil sekop dan mulai menutup kembali makam Charmed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rest in Peace, Charmed,” gumam Meredith lirih sambil memandang makam Charmed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kamu bisa mengusulkan ke Joe untuk mengganti nama minuman Charmed 4ever, Mer,” saran Dean. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi The Glass Passenger telah berakhir, Dean,” ujar Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga saja. Aku dan Sam akan memastikannya pagi nanti,” sahut Dean seraya menggamit tangan Meredith dan mengajaknya keluar dari Wallflowers Cemetery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;King County Metro Bus&lt;br /&gt;25 September 2008&lt;br /&gt;8.45 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Dean dan Sam telah membakar mayat Charmed, namun mereka harus memastikan bahwa ia telah beristirahat dengan tenang. Mereka memanggil Keane untuk bersama-sama menumpang King County Metro Bus pada jam 9 pagi karena biasanya The Glass Passenger memakan korban pada waktu tersebut. Beberapa saat kemudian tampaklah King County Metro Bus di hadapan Dean, Sam dan Keane. Mereka bertiga beranjak dari halte dan mulai menaiki Bus. Untungnya saat ini bus sedang sepi penumpang. Keane dan Dean duduk bersebelahan. Sementara Sam duduk tepat dibelakang mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keane?” sapa seseorang yang duduk di belakang Keane. Spontan Keane membalikkan tubuhnya dan dilihatnya Bym yang duduk disebelah Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Bym,” sahut Keane sambil tersenyum. Sekonyong-konyong Keane dikejutkan oleh sosok The Glass Passenger yang memantul di kaca jendela bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean…” gumam Keane pelan sambil menarik lengan baju Dean. Baru saja Dean menyadari isyarat Keane tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara jeritan panjang dan menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”AAAAAAAAAARRRGHH!!!!!!” jerit Bym kesakitan. Jeritan sama seperti yang terjadi pada Jimmy, Kelly dan Dewa. Spontan Sam yang duduk di sebelah Bym langsung tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”The Glass Passenger!” seru Sam. “Dean, bagaimana ini?” tanya Sam cemas. Ia sama sekali tak memprediksi kejadian ini. Sementara Dean, Sam dan Keane tengah memeras otak untuk menghentikan The Glass Passenger, Bym terus menjerit kesakitan sambil memegangi dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana panik, sekonyong-konyong Dean melihat kalung berbandul matahari dan bulan yang dipakai Keane. Ia merasa pernah melihat kalung itu sebelumnya. Sesaat kemudian Dean teringat foto Charmed yang terpampang di dinding Emerald City Bar. Ya, kalung Keane ini sama persis dengan kalung yang dimiliki Charmed. Serta merta Dean menarik kalung itu dari leher Keane, mengambil pemantik dari sakunya, menyalakan pemantik lalu membakar kalung itu. Dari kaca jendela, Keane dapat melihat sosok The Glass Passenger dikelilingi oleh kobaran api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam yang melihat tindakan Dean tersebut, sekonyong-konyong mengambil kapak kecil dari dalam tasnya untuk memecahkan kaca jendela King County Metro Bus yang tertutup rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keane, bawa Bym menjauh dari jendela,” perintah Sam sambil memukulkan kapak ke kaca jendela bus. Tak lama kemudian kaca jendela bus pecah dan Dean melemparkan kalung itu keluar jendela. Sekonyong-konyong suara kaca yang pecah tersebut membuat supir bus menghentikan kendaraannya. Sebuah King County Metro Bus lain yang berada di samping bus yang mereka tumpangi melindas kalung yang dilempar Dean tadi sehingga hancur seketika. Di saat yang bersamaan dari pantulan kaca bus, Keane melihat sosok The Glass Passenger perlahan hancur didalam kobaran api yang mengelilingi tubuhnya. Sosok The Glass Passenger mengerut sesaat sebelum hancur sepenuhnya menjadi pecahan-pecahan kaca yang perlahan menghilang di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bym! Bym!” seru Keane berusaha menyadarkan Bym. Dean beranjak ke samping supir bus untuk memohon maaf atas kejadian ini dan memberi penjelasan singkat bahwa apa yang mereka lakukan tadi menyangkut hidup Bym. Sementara itu, Sam membalut telapak tangannya yang terkena pecahan kaca. Dean lalu menggendong Bym keluar dari bus diikuti oleh Sam dan Keane. Keane menghentikan sebuah taksi lalu mereka berempat naik ke taksi tersebut dan pergi menuju ke Seattle Grace Hospital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam taksi, Dean meletakkan Bym yang tidak sadarkan diri di pangkuannya. Ia meraba nadi di leher Bym dan merasakan denyut pelan nadi Bym di jarinya. Lalu Dean meraih Cellular Phonenya dan mulai menghubungi Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meredith, aku sedang menuju Seattle Grace. Ada satu lagi korban The Glass Passenger. Kemungkinan ia juga mengalami cardiac tamponade,” kata Dean melalui Cellular Phonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seattle Grace Hospital&lt;br /&gt;25 September 2008&lt;br /&gt;09:30 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meredith dan George berlari menuju ruang gawat darurat setelah mendapat info dari Dean bahwa ia segera datang kemari membawa pasien cardiac tamponade. Mereka berdua mengenakan gaun khusus trauma berwarna kuning lalu memakai sarung tangan steril kemudian keduanya langsung berlari ke depan pintu utama ruang gawat darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“George, siapkan ruang trauma!” seru Meredith. George langsung berjalan menuju ruang trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian datanglah Dean, Sam dan Keane yang membawa Bym yang tidak sadarkan diri ke ruang gawat darurat Seattle Grace Hospital. Meredith langsung menghampiri Dean yang sedang menggendong Bym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, pindahkan pasien ini ke brankar dalam hitungan ketiga. Satu….dua….tiga….” perintah Meredith pada Dean untuk membaringkan tubuh Bym ke sebuah ranjang brankar yang telah tersedia di ruang gawat darurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meredith, ruang trauma nomor dua telah siap,” kata George begitu kembali ke ruang gawat darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keane?” tanya George heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”George, kejadian yang menimpa Bym sama seperti yang dialami ketiga penumpang yang tewas di King County Metro Bus. Ada kemungkinan ia juga mengalami cardiac tamponade,” jawab Keane cepat. George dan Keane kembali memperhatikan Bym yang terbaring diam di atas brangkar dengan wajah pucat dan mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK George. Ayo kita bawa pasien ini ke sana,” perintah Meredith. George membantu Meredith mendorong ranjang Bym menuju ruang trauma. Dean dan Keane berada di sebelah ranjang Bym. Sementara itu, Sam mengikuti di belakang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka yang terdapat di telapak tangan Sam membuatnya meringis menahan sakit. Dr. Izzie Stevens yang baru tiba di ruang gawat darurat melihat wajah Sam yang terlihat menahan sakit. Tanpa membuang waktu lagi, Izzie langsung berlari menghampiri Sam yang tengah berjalan menuju ruang trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, sebentar!” seru Izzie saat berhadapan dengan Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa Anda terluka, Tuan?” tanya Izzie. Sam mengulurkan telapak tangan kanannya yang terluka pada Izzie. Dengan hati-hati, Izzie membuka balutan di tangan kanan Sam dan melihat pecahan kaca kira-kira sepanjang 10 cm tertancap tepat di tengah telapak tangannya dan sekeliling permukaannya tertutup darah kering. Setelah itu, Izzie melihat ke sekeliling ruang gawat darurat dan kedua matanya melihat beberapa meja periksa yang tengah kosong. Lalu Izzie menyuruh Sam duduk di salah satu meja periksa. Seorang perawat membawakan sepasang sarung tangan kulit steril, antiseptik, sebotol obat bius, suntikan, jarum dan perban ke hadapan Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terima kasih, Taz,” kata Izzie pada perawat itu. Kemudian Izzie membuka pembungkus lalu memakai sarung tangan kulit steril. Ia mengambil suntikan, mengisinya dengan obat bius lalu menyuntikkannya ke telapak tangan Sam. Izzie dapat melihat dari ekspresi wajah Sam bahwa rasa sakitnya agak berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa namamu?” tanya Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sam,” jawab Sam singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sam, aku akan mencabut pecahan kaca ini. Satu....dua...tiga...” kata Izzie sambil menarik pecahan kaca itu, mula-mula dengan hati-hati, lalu lebih keras. Tindakan Izzie tersebut membuat Sam mengerang kesakitan. Lalu pecahan kaca itu terlepas dan Izzie membersihkan luka Sam dengan antiseptik. Berhubung luka Sam cukup dalam, Izzie mulai menjahitnya dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Sam memperhatikan Izzie yang sedang menjahit lukanya. Sam menatap Izzie dengan seksama, memperhatikan wajahnya yang halus, kulitnya yang putih, tubuhnya yang ramping, kepalanya yang tertunduk dengan rambut keritingnya yang berwarna pirang keemasan. Tiba-tiba jantung Sam berdetak sedikit lebih cepat. Dia sangat cantik, kata Sam dalam hati. Kecantikan yang sempurna itu membuat Sam terpesona. Tiba-tiba Izzie merasa kalau ia tengah diperhatikan. Izzie mengangkat wajahnya dan menatap Sam lekat-lekat dengan mata indahnya yang berwarna hazel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sam, ada apa?” tanya Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berapa lama lukaku ini akan sembuh, Dokter.....” Sam balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. Isobel Stevens. Tapi panggil saja Izzie,” jawab Izzie. ”Lukamu akan sembuh selama kurang lebih seminggu, namun kamu harus memastikan agar luka ini tetap steril,” lanjutnya. Sam tersenyum mendengarnya dan Izzie pun ikut tersenyum. Lalu mereka berdua saling bertatapan dan menyadari pesona satu sama lain selama beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan wajah Izzie terlihat merona merah dan serta merta ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya menjahit luka Sam. Setelah selesai, Izzie membalut telapak tangan Sam dengan perban steril berwarna putih. Sam mengulum senyum saat menyadari perubahan di wajah Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nah, selesai,” kata Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dr. Izz......” kalimat Sam terpotong saat tiba-tiba penyeranta Izzie berbunyi. Izzie segera membaca pesan dalam penyerantanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sam, maaf aku harus pergi sekarang. Dr. Shepherd membutuhkanku,” ujar Izzie seraya beranjak dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izzie menuliskan resep untuk Sam sambil memberitahukan tanda-tanda bila terjadi infeksi pada lukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hubungi aku bila terjadi sesuatu pada lukamu,” kata Izzie seraya menuliskan serangkaian nomor pada secarik kertas yang kemudian diberikannya pada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terima kasih banyak, Dr. Izzie,” kata Sam sambil tersenyum. Izzie membalas senyumannya lalu mulai berjalan keluar dari ruang gawat darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Background Music : Life by Our Lady Peace&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan di ruang trauma nomor dua, sebuah ruang periksa khusus yang diperlengkapi seperti ruang operasi dengan berbagai perangkat monitor, Dean dan Keane hanya bisa terpana di sudut menyaksikan Meredith dan George yang tengah berusaha keras untuk menyelamatkan Bym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George dan seorang perawat bernama Lissa memindahkan Bym ke meja periksa di ruang trauma. Lissa menata bantal Bym supaya ia bisa berbaring tegak, lalu mengambil satu set peralatan infus dan mulai memasang infus di vena yang terdapat di lengan Bym. Di saat yang bersamaan, George menggunting baju Bym, lalu memasang nasal canula dan sejumlah kabel monitor untuk memantau fungsi vitalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tekanan darah delapan puluh satu per delapan puluh, nadi sembilan puluh, nafas tiga puluh,” kata Meredith setelah melakukan pemeriksaan pada Bym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku kesulitan mencari venanya, Dr. Grey,” kata Lissa setelah menusukkan infus di beberapa titik di lengan Bym namun ia tidak juga menemukan vena yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meredith mengambil alih peralatan infus dari tangan perawat itu dan memasang infus di vena subklavia Bym, pembuluh balik tebal di bawah tulang selangka lalu menyiapkan kateter tiga ruang. Meredith melubangi vena tersebut dan memastikan bahwa cairan yang keluar dari sana adalah darah gelap yang mengalir tanpa berdenyut. Ia lalu meloloskan kawat pemandu lewat jarum suntik, lalu dilator sepanjang kawat pemandu, dan kateter dimasukkan. Meredith membilas infus dengan larutan garam, melekatkan kateter ke kulit Bym dan memasang perban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”George, lakukan X Ray dan bila benar ia mengalami cardiac tamponade maka lakukan juga ultrasound!” seru Meredith pada George. George langsung melakukan X Ray pada Bym dengan alat radiologi portabel yang berada di ruang trauma. Setelah selesai, George melakukan Ultrasound untuk melihat bagian dalam tubuh Bym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, pericardiumnya penuh dengan darah. Ini sama sekali tidak baik,” kata George seraya menyerahkan hasil X Ray dan Ultrasound Bym pada Meredith. Meredith melihat foto sinar X Bym menunjukkan penumpukan darah yang cukup banyak di jantungnya sehingga menekan paru dan menggeser trakeanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh tidak, kadar saturasi oksigennya turun hingga 80. Ia perlu oksigen,” seru Meredith seraya mengganti nasal canula yang terpasang di hidung Bym dengan masker oksigen lalu menempelkannya stetoskop di dada Bym untuk mendengarkan irama jantungnya. Ia juga memperhatikan monitor yang terletak tepat dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gawat! Tekanan darah turun sampai 76. Ia tidak stabil,” kata Meredith sambil menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”CODE BLUE! CODE BLUE!” teriak Meredith lewat interkom. Tiga orang perawat berlarian masuk ke kamar Bym. Semua bekerja keras untuk menyadarkan Bym tapi ia tidak juga menunjukkan tanda-tanda vital stabil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ia tidak bisa menunggu lagi. George, cepat cari Dr. Erica Hahn. Ia harus dioperasi sekarang!” perintah Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, George datang bersama Dr. Hahn ke ruang trauma tempat Bym berada. Dr. Hahn mengamati irama detak jantung Bym di monitor yang berada di sebelah Bym. Dr. Hahn menyaksikan irama normal melambat, lalu bentuk gelombangnya melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Irama agonal,” kata Dr. Hahn. ”Grey, kita harus membawanya ke ruang operasi sekarang!” lanjut Dr. Hahn. Ia memutuskan untuk mengoperasi Bym saat ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suster Lissa, bantu aku untuk memindahkan dia segera ke ruang operasi!” kata Meredith pada perawat yang berada disebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”George, tolong siapkan ruang operasi!” perintah Meredith. George langsung berlari menuju ruang operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Bym dibawa ke ruang operasi, Meredith memberitahukan kondisi Bym pada Dean, Sam dan Keane dan memberikan lembar prosedur operasi. Setelah itu Meredith kembali ke ruang trauma memeriksa catatan medis Bym, melihat hasil lab dan Elektrokardiogram (EKG). Ia juga memeriksa mulut Bym untuk melihat bahwa tidak ada gigi goyang yang kemungkinan bisa terlepas saat operasi dilakukan. Selain itu, ia juga memeriksa gelang bertuliskan nama Bym untuk memastikan bahwa pasien yang akan dioperasi sudah benar, menuliskan daftar alergi obat. Terakhir, Meredith memeriksa mata Bym untuk memastikan bahwa Bym sedang tidak memakai lensa kontak atau mengenakan perhiasan yang bisa menimbulkan bahaya. Beberapa saat kemudian George datang dan memberitahukan bahwa ruang operasi sudah siap. George bersama Meredith, Lissa dan dibantu oleh seorang perawat bernama Adel membawa Bym ke ruang operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang operasi nomor 3, dua perawat memastikan bahwa ruangan itu telah dibersihkan sepenuhnya sesudah operasi terdahulu dan semua alat yang diperlukan telah tersedia dan steril. Tim dokter yang terdiri dari Dr. Erica Hahn, Meredith, George dan seorang dokter ahli anestesi sedang bersiap melakukan pembedahan. Mereka mengenakan baju operasi, masker dan penutup rambut. Setelah itu mereka mencuci tangan dan memasuki ruang operasi. Seorang perawat yang telah berada di ruang operasi memakaikan sarung tangan kulit steril pada keempat dokter ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di gallery ruang operasi, Dr. Izzie Stevens dan Dr. Cristina Yang tengah bersiap untuk menyaksikan jalannya bedah pintas koroner yang akan dilakukan oleh Dr. Hahn dibantu oleh Meredith dan George.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hari ini menyebalkan. Aku tidak diikutkan lagi pada bedah pintas koroner ini. Aku sudah kehabisan cara untuk melunakkan hati Dr. Hahn,” keluh Cristina pada Izzie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tadi aku menangani pasien luka tusuk bernama Sam. Ia tampan, tinggi, atletis dan tatapan matanya yang berwarna hijau sangat mengagumkan. Sayangnya aku tidak bisa mengobrol banyak dengannya karena tiba-tiba Dr. Shepherd menyuruhku menangani test pra operasi pada pasien penderita tumor otak yang ditanganinya. Namun, hasil test pasien itu memberitahukan bahwa ternyata ia alergi anestesi sehingga kami terpaksa menunda operasinya,” jelas Izzie panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dan Cristina dan Izzie dikagetkan oleh kedatangan Dr. Alex Karev bersama Ucha. Mereka lebih kaget lagi dengan ekspresi wajah Alex dan Ucha yang tampak cerah dan berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi itu teman kencan Alex yang baru?” tanya Cristina dengan suara pelan pada Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yeah, semalam aku melihatnya bermalam di kamar Alex. Mudah-mudahan saja gadis itu bukan Ava kedua,” bisik Izzie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucha yang merupakan mahasiswi kedokteran tingkat dua merasa beruntung sekali bisa menyaksikan jalannya bedah pintas koroner secara langsung seperti ini. Dari gallery, Ucha dapat melihat Bym yang telah berada di meja operasi. Dokter ahli anestesi membiusnya lalu memasang tabung endotrakeal di mulut Bym dan beberapa selang intravena. Seorang perawat membersihkan kulitnya, menutup tubuhnya kemudian mengoleskan antiseptik berwarna kuning kecoklatan ke kulit dada Bym. Lalu pembedahan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucha ternganga dengan takjub saat menyaksikan Dr. Erica Hahn menyayatkan scalpel nomor 10 tepat diatas tulang dada Bym sepanjang 10 sentimeter. Scalpel tersebut membelah kulit dan otot dada Bym dengan sayatan bersih dan panjang. Darah yang mengalir keluar dari sayatan tersebut terlihat seperti bunga merah. Setelah itu Dr. Hahn menggunakan gergaji sternal untuk memotong tulang dada Bym. Dr. Hahn lalu memasang retraktor pada sayatan tersebut untuk membuka dada Bym dan tampaklah jantung Bym yang berukuran kurang lebih sebesar sekepalan tangan dan diapit oleh kedua paru-parunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Ucha melihat seorang perawat bedah menyalakan mesin pintasan jantung-paru sirkulasi ekstrakorponeal. Alat mekanis ini digunakan untuk sirkulasi dan oksigenasi darah untuk seluruh tubuh Bym pada saat memintas jantung dan paru. Mesin tersebut juga memungkinkan dicapainya medan operasi yang bebas darah. Perfusi dipertahankan untuk jaringan dan organ lain di tubuh Bym. Dr. Hahn melakukan pintasan jantung-paru dengan memasang kanula di atrium kanan, vena kava dan vena femoralis untuk mengeringkan darah dari tubuh Bym. Kanula tersebut kemudian dihubungkan ke tabung yang berisi larutan kristaloid isotonik yang terdiri dari dekstrosa 5% dalam larutan ringer laktat. Darah vena yang terambil dari tubuh Bym dari kanula tadi disaring, dioksigenasi, didinginkan dan kemudian dikembalikan ke tubuhnya. Darah yang didinginkan tersebut akan menurunkan kecepatan metabolisme basal, sehingga kebutuhan akan oksigen juga berkurang. Larutan kristaloid yang digunakan untuk mengisi tabung akan mengencerkan kekentalan dari darah yang didinginkan itu. Kanula yang dipergunakan untuk mengembalikan darah teroksigenasi dimasukkan ke aorta asendens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Dr. Meredith menyuntikkan antikoagulan untuk rnencegah pembentukan trombus dan embolisasi yang dapat terjadi ketika darah berhubungan dengan permukaan asing sirkuit pintasan jantung-paru dan dipompakan ke tubuh Bym dengan pompa mekanis.  Selama operasi dilakukan, tubuh Bym dijaga agar selalu dalam keadaan hipotermia dalam suhu 82,4°F sampai 89,6°F.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Hahn memperbaiki kerusakan yang terdapat di ventrikel kanan, septum dan atrium kiri pada jantung Bym. Setelah itu, Dr. Hahn menjahit pericardium dan aorta koroner. Ketika prosedur pembedahan telah selesai, darah Bym dihangatkan kembali di dalam sirkuit pintasan jantung-paru. Setelah dibebaskan dari mesin pintasan, Meredith memberikan Bym protamin untuk menangkal efek heparin. Dr. Hahn menyambung kembali tulang dada Bym. Lalu Meredith melepaskan retraktor dari dada Bym. Setelah itu, Dr. Hahn menutup irisan vertikal yang berada tepat di tengah dada Bym dengan jahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Hahn, Meredith dan George memantau status Bym dari tekanan darah, kadar saturasi oksigen, gas darah arteri, elektrolit dan pembekuan darah dengan seksama dari monitor jantung dan  elektrokardiogram (EKG). Semuanya terlihat normal sehingga Dr. Hahn memutuskan menyuruh perawat untuk memindahkan Bym dari ruang operasi menuju ruang perawatan intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meredith dan George melepaskan gaun operasi, masker dan sarung tangan, mereka berdua bergegas keluar dari ruang operasi untuk memberitahukan Dean, Sam dan Keane mengenai kondisi Bym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meredith, bagaimana keadaan Bym?” tanya Dean cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Operasinya sukses,” jawab Meredith sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, syukurlah,” kata Dean dan Sam seraya menarik nafas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kami bisa menjenguk Bym, Dr. Meredith?” tanya Keane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf, ia belum boleh dikunjungi karena masih berada di ruang ICU untuk menstabilkan kondisinya,” sahut Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mer, bagaimana kalau kita bertemu di Emerald City Bar malam nanti?” ajak Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmmm....boleh,” jawab Meredith. Ia tersenyum pada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK, kalau begitu aku dan Sam mohon diri dulu. Sampai ketemu nanti malam, Mer,” lanjut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam lalu berjalan menyusuri koridor. Mereka meninggalkan Keane yang tengah asyik mengobrol dengan Dr. George O’Malley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Cristina Yang dan Dr. Izzie Stevens yang baru keluar dari gallery memergoki Meredith sedang memperhatikan Dean yang berjalan menuju elevator. Mereka berdua spontan ikut memperhatikan objek yang sedang dipandang Meredith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meredith, siapa pria yang mengenakan kemeja hijau itu?” tanya Cristina.&lt;br /&gt;”McGorgeous,” gumam Meredith sambil terus memandang ke arah Dean.&lt;br /&gt;“McGorgeous?” tanya Cristina.&lt;br /&gt;“No?” Meredith balik bertanya.&lt;br /&gt;“McMuscular?” celetuk Izzie tiba-tiba.&lt;br /&gt;“NO!!!” seru Cristina dan Meredith berbarengan.&lt;br /&gt;“McWeird,” tutur Meredith yakin.&lt;br /&gt;“MCWEIRD??” pekik Izzie dan Cristina bersamaan.&lt;br /&gt;“Karena dia .......” Meredith menghentikan ucapannya dan terdiam sesaat.&lt;br /&gt;“Aneh,” lanjut Meredith singkat seraya memandang Izzie dan Cristina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izzie hanya menggelengkan kepala sementara Cristina hanya mengangkat alis melihat tingkah Meredith yang tidak biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah McWeird telah resmi menggantikan McDreamy?” tanya Cristina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat saja nanti,” sahut Meredith sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notes :&lt;br /&gt;Jantung terdiri dari empat rongga yaitu serambi (atrium) kanan &amp;amp; kiri dan bilik (ventrikel) kanan &amp;amp; kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cardiac tamponade : penekanan jantung yang disebabkan oleh peningkatan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pericardium : selaput ganda yang menutupi jantung. Selaput / lapisan pertama menempel sangat erat pada jantung, sedangkan lapisan luarnya lebih longgar dan berair, untuk menghindari gesekan antar organ dalam tubuh yang terjadi karena gerakan memompa konstan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Septum : dinding pemisah di antara sebelah kiri dan kanan serambi (atrium) &amp;amp; bilik (ventrikel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CODE BLUE : sebuah kode yang menyatakan bahwa pasien sedang mengalami kegawatan yang mengancam jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan mengenai sumber (Cardiac Tamponade dan Coronary Artery Bypass Graft Surgery/bedah pintas koroner) :&lt;br /&gt;1) Fornauer, Andrew; Narasimham L. Dasika, Joseph J. Gemmete, and Constantine Theoharis (Spring 2003). "Pericardial Tamponade". Journal of Vascular and Interventional Radiology.&lt;br /&gt;2) Isselbacher, E.M., Cigarroa, J.E., Eagle, K.A. (1994). Cardiac Tamponade. Circulation. Volume 90, Pages 2375-2378&lt;br /&gt;3) Thibodeau, G.A., Patton, K.T. (2003). Anatomy &amp;amp; Physiology. Missouri: Mosby.&lt;br /&gt;4) Eagle KA, Guyton RA, Davidoff R, et al (2004). "ACC/AHA 2004 guideline update for coronary artery bypass graft surgery: a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines (Committee to Update the 1999 Guidelines for Coronary Artery Bypass Graft Surgery)". Circulation 110 (14): e340–437.&lt;br /&gt;5) SUNY Labs 21:st-1500 - Mediastinum: Pericardium (pericardial sac).&lt;br /&gt;6) MedlinePlus Encyclopedia Cardiac tamponade&lt;br /&gt;7) Grey’s Anatomy episode Crash into Me dan From a Whisper to Scream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan penulis :&lt;br /&gt;Fan Fiction ini penulis dedikasikan khusus kepada Andrew McMahon dari Jack’s Mannequin yang telah memberikan ide cerita ini. Ide ini penulis dapatkan saat menantikan album terbaru Jack’s Mannequin bertitel The Glass Passenger yang dirilis tanggal 30 September 2008. Penulis membuat FF ini juga dalam rangka mempromosikan album The Glass Passenger Wink Wink&lt;br /&gt;Ohya, The Resolution, single terbaru Jack’s Mannequin dari album The Glass Passenger sudah bisa didengarkan di Radio Hard Rock FM, Trax FM dan tentunya di blog penulis http://jacksmannequinfans.multiply.com (mode promosi on* Smiley )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, penulis mengucapkan terima kasih bagi para pembaca yang telah berkenan menyimak FF ini dan mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada karakter dalam FF ini yang kurang berkenan bagi pembaca Smiley&lt;br /&gt;Berhubung juga besok kita akan menyambut hari raya Idul Fitri, penulis mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin Smiley Smiley Smiley&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-489009358968756307?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/489009358968756307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/glass-passanger.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/489009358968756307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/489009358968756307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/glass-passanger.html' title='Fic: The Glass Passenger'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-4022579109724993575</id><published>2010-04-29T05:36:00.003+07:00</published><updated>2010-05-10T22:17:35.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Charmed4ever'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Horor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: T'/><title type='text'>Fic: Dream Chaser</title><content type='html'>&amp;nbsp;Judul : DREAM CHASER&lt;br /&gt;Rating : karena ada sedikit unsur kekerasan, dibuat apaan ya T kali ya.&lt;br /&gt;ntar kalo salah urusan Red aja dah yang benerin Tongue&lt;br /&gt;Genre : Horor&lt;br /&gt;Note : mudah2an bisa menghibur  Grin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DREAM CHASER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illunois,&lt;br /&gt;Rabu dini hari , May 2008.&lt;br /&gt;Pukul 02:00 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang aku berangkat dulu ya” ucap seorang Pria pada isterinya lalu memberikan ciuman pada wanita yang di cintainya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, bye honey”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bye” sahut sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pria masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya pada sang isteri. Kemudian sang isteri membalikkan badannya hendak masuk kembali ke dalam rumah. Namun tiba-tiba seorang anak perempuan sudah berdiri di hadapannya. Wanita itu pun mendekati anak perempuanyang memiliki wajah agak pucat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo? Kamu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun anak perempuan itu hanya diam tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang melihat apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu lagi-lagi hanya diam membisu. Namun kali ini ia mengangkat tangan kanannnya dan menunjuk ke sesuatu sambil mengeluarkan senyuman dingin di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang menunjuk apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu pun melihat ke sesuatu yang di tunjuk oleh anak perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suamiku? Memangnya kenapa dengan suamiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu melihat suaminya pergi dengan mobilnya, namun tiba-tiba sebuah mobil lain yang datang dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil yang dikendarai oleh suaminya. Kontan saja kedua mobil tersebut saling berguling dan kemudian meledak. Sang isteri yang melihat kejadian itu langsung menjerit melihat suaminya terbakar di dalam mobil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaaaaaaaaak!!!.................................................................................................Tidaaaaaaakkkk!!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu berteriak hingga terbangun dari tidurnya. Teriakannya juga membuat suami yang tidur di sebelahnya juga terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Honey, ada apa? Kau bermimpi buruk?” tanya sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah sayang, aku bermimpi melihat kau mengalami kecelakaan” ucap sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenanglah, itu hanya sebuah mimpi. Minumlah seteguk air dan coba pejamkan matamu lagi” ujar sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah” sahut sang isteri yang mengambil sebuah gelas yang sudah kosong yang terletak di meja sebelah tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airnya habis, aku ke dapur dulu ya” ujar sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu keluar kamar untuk mengisi gelasnya lagi dengan air mineral, sementara sang suami sudah terlelap kembali. Wanita tersebut menurunii tanggadan berjalan menuju dapurnya. Kemudian ia mengisi gelasnya dengan air dan meneguknya dengan perlahan sambil sesekali menggoyang-goyangkan air yang ada di gelasnnya. Sesaat kemudian ia melihat bayangan seorang anak perempuan terpantul di gelas yang ia pegang. Spontan ia pun berbalik kebelakang untuk memastikan bayangan tersebut, namun tidak ada apa-apa di belakangnya. Lalu ia meletakkaan gelasyang di pegangnya ke atas meja dan dengan segera ia kembali ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Honey, aku turun di sini saja” ucap sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami mengehentikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian sang isterii turun dari mobil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pulang sendiri atau ku jemput?” tanya sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm….. sepertinya aku pulang sendiri, karena aku hanya sebentar dii rumah temanku” sahut sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Aku pergi dulu ya”  ucap sang suami, kemudian keduanya saling memberikan ciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja sang isteri memalingkan badannya, tiba-tiba sebuah suara mobill yang saling bertabrakan terdengar di telinganya. Ia pun menoleh dan dan menghadapi kenyataan kalau suaminya telah mengalami kecelakaan mobil yang sangat fatal. Ia melihat mobil suaminya meledak dengan kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaaaaaaakk!!!!!!!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berlari mendekati mobil suaminya yang terbakar namun seorang warga melarangnya untuk mendekati mobil itu, karena di takutkan masih rawan ledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepaskan aku .…!! Aku ingin menyelamatkan suamiku…. !!!! Ronnyyyyyy” teriaknya histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat wanita itu histeris melihat suaminya yang tewas dalam kecelakaan tersebut, sesaat matanya melihat seorang anak perempuan berdiri di sebrang jalan. Namun anak perempuan itu seakan menghilang di keramaian warga yang ingin melihat kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah perbatasan Illunois,&lt;br /&gt;Jum’at, May 2008.&lt;br /&gt;Pukul 11.00 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil Chevrolet Impala berwarna hitam melaju di daerah perbatasan menuju Illunois. Alunan musik rock berkumandang dari radio mobil tersebut. Dengan asik Dean mengikuti lirik yang di nyanyikan oleh penyanyi lagu tersebut. Sementara Sam merasa gerah mendengar musik keras seperti itu. Karena sudah tidak tahan lagi, ia pun mematikan radio tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey..hey….mengapa kau matikan musiknya?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sebut itu musik? It’s suck” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, jangan hina musik kesukaan ku seperti itu” ujar Dean sambil menyalakan kembali radio mobilnya, bahkan kali ini ia menyetel volumenya lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sam tidak tinggal diam, ia pun mematikan radio itu lagi. Lalu dinyalakan lagi oleh Dean. Dimatikan lagi oleh Sam, lalu dinyalakan lagi oleh Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau tidak mau mengalah?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku yang lebih tua” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yang lebih tua, memang benar, dan menurutmu yang muda harus mengalah” ucap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kau yang harus mengalah” ujar Dean sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi lebih etis kalau yang tua yang mengalah pada yang muda” balas Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok. Aku akan bersikap sebagai saudara tua yang baik”&lt;br /&gt;Dean akhirnya menyerah juga, ia pun mematikan radio mobilnya tersebut. Sementara Sam memandang keluar jendela sambil tersenyum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winchester bersaudara itu pun tiba di sebuah kota di Illunois. Kemudian mereka mencari sebuah penginapan sebagai tempat untuk berteduh. Setelah menemukan sebuah motel, mereka pun berhenti di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam …kau yang pesan kamar, aku mau makan dulu di restoran itu, aku lapar. Aku tidak sabar ingin makan Beff Burger” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“terserah kau” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam masuk ke dalam penginapan, sementara Dean menuju ke restoran kecil yang terletak di seberang penginapan tersebut.  Dean memasuki restoran tersebut dan menarik sedikit perhatian bagi orang-orang yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pesan Beef Burger dan segelas kopi” ucap Dean pada seorang pelayan.&lt;br /&gt;Tidak berapa lama pesanannya pun di antar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Great, it’s time to have a lunch”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melahap  burger itu dengan sangat lahap. Kemudian Sam pun muncul dan mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ow.. dan sekarang kau makan sendirian” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Sorry Sammy aku begitu lapar sampai-sampai lupa memesankan makanan untukmu” sahut Dean yang berbicara sambil mengunyah makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah saudaranya tersebut. Kemudian ia pun memesan makanan untuk dirinya sendiri. Saat ia memesan makanannya, ia merasa kalau orang-orang yang ada di restoran itu sedang memperhatikan mereka berdua. Hal itu tidak di sadari oleh Dean karena ia hanya sibuk mengisi perutnya dengan burger yang lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengisi perut, mereka berdua pun kembali menjalankan tugas yang menjadi tujuan kedatangan mereka ke tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean. Apa kau tidak melihat orang-orang tadi selalu memperhatikan kita?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa peduli. Mungkin mereka belum pernah melihat makhluk setampan ini” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Dean, please..” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting sekarang kita selesaikan kasus yang kita hadapi dengan cepat” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, kalau begitu kita harus mengunjungi rumah keluarga korban kecelakaan aneh itu” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, Sam dan Dean menemukan berita mengenai kecelakaan aneh yang menimpa seorang pria di kota tersebut. Sam menyelidiki melalui internet kalau kejadian itu bukan yang pertama kali di kota itu, melainkan sudah ke enam kalinya dalam kurun waktu 8 bulan. Dan mereka berdua berpendapat kalau kecelakaan itu terjadi pasti bukan karena penyebab biasa, tetapi ada hubungannya dengan dunia supranatural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini mereka sedang mengunjungi kelurga korban terakhir yang mengalami musibah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf kami mengganggu, apa benar di sini rumah Tn. Ronny Beltrami?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, benar. Saya adik isterinya” ujar wanita yang sedang menerima kedatangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami berdua adalah relasi kerja Tn. Beltrami, Aku Dean dan ini rekan saya Sam, dan kami kemari ingin mengucapkan turut berduka cita. Boleh kami bertemu dengan kakak anda?” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih sebelumnya. Tapi kakak saya sedang tidak ada. Karena kemarin ia pulang ke rumah orang tua saya setelah suaminya di kuburkan.” ujar wanita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, begitu. Sayang sekali, padahal kami ingin berbicara dengannya” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbicara tentang apa?” tanya wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami hanya ingin tahu mengenai kejadian yang sebenarnya” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena Tn. Beltrami sudah banyak membantu kami, kami pun merasa sangat kehilangan, entahlah, kami hanya ingin tahu mengenai kejadian yang sebenarnya” lanjut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, aku mengerti. Kalau begitu masuklah, aku juga kurang begitu mengerti, tetapi kakakku sempat menceritakan sesuatu kepadaku” ucap wanita itu sembari mempersilahkan Dean dan Sam masuk ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam masuk kerumah itu sambil melihat-lihat keadaan isi rumah itu.&lt;br /&gt;“Silahkan duduk” ujar wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih” ujar keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membuatkan kalian minuman” ucap wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu repot-repot Nona, kami hanya sebentar saja kok”  ucap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Susan, namaku Susan” ujar wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nona Susan ya.. OK” sahut Dean yang mulai mengeluarkan sedikit senyuman pesonanya pada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So… memangnya kakak anda bercerita tentang apa?” tanya Sam yang bermaksud menghentikan Dean yang mulai tebar pesona pada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga tidak begitu percaya, tapi ia bilang padaku, kalau sebelum suaminya mengalami kecelakaan, ia sempat bermimpi hal yang aneh” jelas Susan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimpi yang aneh?” tanya Sam penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimpi seperti apa?” lanjut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bilang kalau ia bermimpi suaminya mengalami kecelakaan. Dan keesokan harinya mimpi itu menjadi kenyataan” jelas Susan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bilang begitu?” tanya Sam agak terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ada satu hal lagi, di dalam mimpinya, katanya ia juga melihat seorang anak perempuan yang sangat aneh” ucap Susan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak perempuan?”  tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Anak perempuan kurang lebih berusia 9 tahun, entahlah ini benar-benar hal yang tidak masuk akal. Bahkan ia melihat anak itu juga ada di dapur dan di lokasi kejadian saat suaminya mengalami kecelakaan. Kalian tahu cerita ini membuat ku merinding. Aku sangat kasihan padanya. Apa lagi saat ini ia sedang mengandung” jelas Susan yang sedikit mengeluarkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam dan Dean hanya saling berpandangan mendengarkan cerita Susan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami fikir kau benar, mungkin itu semua hanya halusinasi semata dan tidak berarti apa-apa, jadi kau tidak perlu terlalu memikirkannya” ujar Dean mencoba membuat Susan tidak terlalu paranoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeee… maaf Nn. Susan, boleh saya pinjam toiletnya?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tentu saja, ada di sebelah kiri dapur” ucap Susan menunjukkan letak toiletnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam berjalan menuju dapur. Ia hanya berpura-pura mau ke toilet, melainkan mau memeriksa ruangan tersebut dari jejak makhluk gaib, seperti hantu atau apapun. Kebetulan Sam membawa sebuah alat pendeteksi hantu. Ia mengitari seluruh areal dapur untuk mencari petunjuk. Sesaat, alat tersebut menunjukkan sebuah reaksi. Reaksi yang menunjukkan memang ada sesuatu yang gaib yang pernah menginjak tempat itu. Setelah merasa yakin, Sam pun kembali ke ruang tamu dan melihat Dean yang sedang melancarkan aksi rayuan gombalnya pada Susan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Nn. Susan. Sepertinya kami harus pergi, karena masih ada hal yang harus kami kerjakan” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali lagi terima kasih sudah mau datang” kata Susan sambil mengantarkan Sam dan Dean ke pintu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus.. aku sedang bertugas sementara kau asik menggoda Susan” ucap Sam agak kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? tentu saja aku bekerja. Aku sedang mencari informasi darinya” sahut Dean sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, maksudmu informasi nomor teleponnya” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha..ha..ha…dari mana kau tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tidak menjawab pertanyaan Dean. Ia hanya menggeleng-gelangkan kepalanya. Kemudian keduanya pun memasuki mobi. Dean mulai menghidupkan mobilnya dan bergegas dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dengar apa katanya?” ucap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang apa?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang mimpi yang di alami kakaknya Susan” jawab Sam yang semakin kesal dengan saudaranya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya. Kau juga pernah mengalaminya kan” Sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku memang pernah mengalaminya. Tapi aku fikir kasus yang kita hadapi saat ini berbeda dengan kasusku dulu. Susan bilang kakaknya melihat seorang anak perempuan dalam mimpinya.” ucap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, ketika aku memeriksa dapurnya dengan alat pendeteksi hantu, alat itu menunjukan reaksi yang menjelaskan memang pernah ada sesuatu yang muncul di rumah itu” jelas Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, menurutmu siapa anak perempuan itu?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah bisa hantu, bisa juga sesuatu yang lain. Yang jelas kita harus mengetahui siapa anak perempuan yang membayang-bayangi kakaknya Susan” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, sepertinya kita memang harus berusaha mencari informasi lebih banyak lagi” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sepertinya mau turun hujan, apa sebaiknya kita kembali dulu ke penginapan” ucap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kau benar. Aku juga ingin istirahat sebentar” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun memutuskan untuk kembali ke penginapan dan memulai penyelidikan esok hari. Sementara langit semakin gelap menunjukkan sepertinya akan turun hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu dini hari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam  semakin larut di kala hujan turun dengan derasnya, sembari di sertai oleh kilat yang saling menyambar. Di salah satu rumah…penghuni rumah sudah terlelap. Dinginnya malam di kala hujan membuat mereka lebih cepat terlelap, meskipun suara halilintar cukup mengganggu pendengaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kamar, tampak pasangan suami isteri yang sedang terlelap dengan lampu yang padam pula. Namun cahaya dari halilintar sesaat menerangi ruangan tersebut. Dan terlihat sebuah sosok sedang berdiri di pinggir tempat tidur sambil mendekatkan tangannya di kepala sang wanita. Sekilas juga terlihat wajahnya yang pucat pasi dengan pipi yang munujukkan bagian dalam tengkoraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi&lt;br /&gt;Pukul 09.00, di sebuah kantor kependudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Dean dan Sam masih mencoba mencari titik terang mengenai kasus yang sedang mereka hadapi. Dean mencoba mencari informasi tentang anak-anak yang meninggal dalam kurun waktu setahun terakhir di sebuah kantor catatan sipil sementara Sam menunggu di mobil sambil mencari informasi melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya seorang mahasiswa yang sedang melakukan riset di kota ini” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu..?” tanya petugas itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kemari ingin mengetahui beberapa data mengenai orang yang telah meninggal sekitar setahun kebelakang, terutama anak-anak” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh saya tahu untuk keperluan riset apa ini?” tanya petugas itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok. Saya akan jelaskan lebih rinci….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita Dean berhasil mendapatkan informasi data anak-anak yang meninggal dalam kurun waktu satu tahun kebelakang. Kemudian ia pun kembali ke mobil di mana Sam sudah menunggunya di dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau berhasil mendapatkannya?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja” sahu Dean dengan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau katakan pada mereka?” tanya Sam penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bilang kalau aku adalah mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan penelitian terhadap kesehatan lingkungan dan aku meminta data tentang anak-anak yang meninggal setahun terakhir sebagai bahan rujukan” jelas Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau? Sebagai mahasiswa kedokteran? Ha..ha…ha…” Sam tertawa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa? Apa aku tidak cocok jadi mahasiswa kedokteran?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau? Ha..ha..ha..ha…ha” Sam tertawa geli karena tidak bisa membayangkan seandainya Dean adalah seorang dokter. Apa yang akan terjadi dengan pasiennya jika pasiennya tersebut adalah seorang wanita cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey…berhentilah mentertawakanku” ujar Dean sambil memukul pundak Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sam memang tidak bisa menahan tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah cukup. Beri tahu aku informasi apa yang kau temukan jangan hanya mentertawakan aku saja” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“All right…all right…” Sam menunjukkan informasi yang terdapat di laptopnya kepada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menemukan data tiga orang korban lainnya yang mengalami kecelakaan aneh tersebut. Umumnya mereka semua adalah pria yang sudah berkeluarga dan tinggal di lingkungan yang sama. Dan lihat ini, salah seorang isteri dari korban bercerita pada media kalau ia sempat bermimpi melihat suaminya terjatuh dari atas gedung. Dan ke esokan harinya suaminya tersebut jatuh dari sebuah lokasi konstruksi bangunan tempatnya bekerja.”&lt;br /&gt;Jelas Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi dia juga sempat mengalami mimpi sebelum suaminya mengalami kecelakaan” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu data apa yang kau peroleh tadi?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Dean mengeluarkan sebuah data orang-orang yang meninggal setahun terakhir dan terdapat lima buah nama yang di tandai yang masih berusia anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lima anak tercatat meninggal setahun terakhir, empat orang meninggal karena sakit dan satu orang lagi karena kecelakaan. Lihat, ada dua orang dengan nama belakang yang sama” jelas Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lenertz” ucap Sam pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya. Emely dan Pamela Lenertz” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sam memasukkan nama Lenertz ke mesin pencari di laptop miliknya, dan muncul sebuah informasi mengenai kematian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka memang bersaudara. Yang tua bernama Pamela” ucap Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa penyebab kematian mereka?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar… Emely meninggal karena  penyakit asma. Sementara Pamela meninggal karena mengalami kecelakaan terpeleset dari tangga. Mereka meninggal 8 bulan yang lalu” jelas Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa menurutmu salah satu dari mereka pantas untuk di curigai?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Informasi di sini tidak begitu banyak membantu. Tapi tidak ada salahnya jika kita menyelidikinya” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tunggu sebentar, lihat ini,” tangan Dean menunjuk ke berita yang terdapat  laptop milik Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah kedua anak itu meninggal dalam sebuah kecelakaan sebulan setelah kedua anaknya meninggal. Jatuh dari tangga juga. Bukankah itu kedengaran aneh”  ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kau benar. Dan sekarang apa yang kita lakukan?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu kedua anak ini masih hidup, kita ke rumahnya sekarang juga, di sini ada alamatnya” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menghidupkan mobilnya Impala hitamnya. Saat mobilnya hendak masuk ke badan jalan, tiba-tiba terjadi korsleting pada kabel listrik yang terdapat di seberang jalan. kabel itu kemudian putus dan terjatuh sehingga mengenai seorang pria yang kebetulan sedang berjalan di pinggir jalan tersebut. pria itu pun tewas tersengat listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh my God!!” ucap Sam terkejut melihat kejadian yang terjadi depan kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damn!! God!!” sahut Dean yang juga kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu spontan membuat ricuh orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Sam dan Dean pun segera keluar dari mobil dan mendekati TKP yang sudah ramai oleh orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, kejadian itu terjadi lagi” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan pargi ke rumah kedua anak itu untuk menemui ibu mereka, dan kau di sini, cari tahu tentang korban tersebut” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, kita bertemu di penginapan” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean berlari masuk ke mobilnya kemudian ia pu bergegas pergi mencari alamat tempat tinggal Pamela dan Emely Lenertz. Sementara Sam berbaur dengan orang-orang untuk melihat mayat pria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.00&lt;br /&gt;Di rumah Keluarga Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tiba di sebuah rumah yang sangat lengang. Rumah tersebut tampak tidak terurus karena banyak di tumbuhi oleh tanaman liar. Ia pun mengetuk pintu tersebut berkali-kali, namun sama sekali tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok….tok….tok….” suara ketukan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hello…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada orang di rumah…” teriak Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, kau sedang mencari siapa?” tanya seorang wanita tua yang kebetulan lewat di depan rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, saya sedang mencari pemilik rumah ini” jawab Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu keluarga Lenertz?” tanya wanita tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Anda benar” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Tn. Lenertz dan kedua putrinya sudah lama meninggal. Yang tertinggal hanya Ny. Lenertz” ucap wanita tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tahu. Saya kemari untuk bertemu dengan Ny. Lenertz” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang sekali, dia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi” ucap wanita tua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? lalu apa nyonya tahu di mana dia sekarang?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak suami dan kedua anaknya meninggal, ia mengalami gangguan jiwa dan saat ini dia di rawat di rumah sakit jiwa yang ada di kota ini” jelas wanita tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Nyonya atas informasinya” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak masalah” ucap wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tidak menyia-nyiakan waktunya, ia kemudian menghubungi Sam dan menanyakan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam….kau sudah di penginapan?” tanya Dean yang berbicara melalui ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku sudah berada di penginapan” jawab Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan menjemputmu di sana” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melajukan mobilnya dengan cepat menuju penginapan untuk menjemput Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Sakit Jiwa Gold Eden.&lt;br /&gt;Sabtu, Pukul 14.00 siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean wanita itu sudah gila, apa dia bisa memberikan keterangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, tidak ada salahnya di coba?” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Dean dan Sam di antar oleh seorang perawat untuk menemui Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak yakin dia mau berbicara, karena sejak ia masuk ke rumah sakit ini, ia tidak pernah menunjukkan reaksi pada siapapun. Ia hanya duduk diam di kursi” ucap sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat itu mengajak Dean dan Sam masuk ke kamar Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu dia. aku akan meninggalkan kalian” ucap sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam melihat seorang wanita berpenampilan lusuh, dengan rambut yang tidak beraturan, duduk diam dengan mata memandang ke sebuah televisi yang sedang memutar sebuah film animasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ny. Lenertz, apa kau dengar aku. Namaku Dean dan ini adikku Sam” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami berdua ingin berbucara sesuatu pada nyonya” lanjut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun wanita itu sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ny. Lenertz, kami ingin mengetahui tentang kematian putri anda, Pamela” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu sedikit gemetaran mendengar nama Pamela diucapkan oleh Dean.&lt;br /&gt;“Pergi..!!! Pergi kalian!!! Pergi….!!!” teriak Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakannya membuat sang perawat masuk dan menanyakan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi? Ny. Lenertz anda tidak apa-apa?” tanya perawat itu yang melihat tubuh Ny. Lenertz ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, kami tidak bermaksud membuatnya takut” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kalian pergi dari tempat ini” ujar sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Namun semuanya berubah saat di televisi tersiar berita tentang peristiwa kecelakaan yang terjadi tadi siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny. Lenertz kembali berteriak dan meminta sang perawat untuk melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ku mohon hentikan dia, hentikan dia!!!” teriak Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud anda nyonya aku tidak mengerti” ujar sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa dia berkata seperti itu? dia siapa yang ia maksud?” tanya Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, tiga hari yang lalu dia juga bertingkah seperti ini saat melihat berita seorang pria yang mengalami kecelakaan mobil” jelas sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu Sam memiliki sebuah ide untuk bisa mendapatkan informasi dari wanita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenanglah nyonya, kami akan membantu anda untuk menghentikan dia, tapi nyonya harus memberi tahukan semua yang nyonya tahu agar kami bisa menghentikannya” bujuk Sam kepada Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Sam wanita itu kemudian menjadi lebih tenang. Ia pun duduk kembali di kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, boleh kami bicara lagi dengannya sebentar saja” pinta Dean pada sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, waktu kalian hanya 10 menit” ujar sang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mencoba berbicara kembali pada nyonya Lenertz yang sudah menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyonya, katakan pada kami, siapa yang harus kami hentikan?” tanya Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia…..dia………..hentikan dia…..hentikan…putriku” ucap Ny. Lenertz perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisakah kau menceritakan pada kami apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Sam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Lenertz memandang wajah Sam dan menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini semua salah suamiku………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Lenertz mulai menceritakan apa yang terjadi pada keluarga mereka………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih setahun yang lalu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari, di sebuah rumah….. terdengar suara seorang pria sedang marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana dia…?” ucap pria itu dengan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sedang tidur. Ku mohon jangan salahkan dia lagi. Dia sudah sangat menderita” ujar seorang wanita yang merupakan Ny. Lenertz. Sedangkan pria yang sedang marah-marah itu adalah suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak peduli” ucap Tn. Lenertz dengan keras sambil masuk ke dalam sebuah kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar itu terlihat seorang anak perempuan sedang tertidur pulas. Tanpa berperasaan Tn. Lenertz menarik tangan anak perempuan itu dan menyeretnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun ayah…ampun…” ucap anak itu sambil terisak menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah akan menghukummu sekarang juga. Karena perbuatanmu, adikmu, Emely harus dirawat intensif di rumah sakit. Dan karena kesalahanmu, kau harus menerima hukuman ini” teriak pria itu sambil memukuli anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu, Ny. Lenertz tidak tinggal diam, ia berusaha melindungi anaknya dari siksaan suaminya. Namun apa daya, tenaga lelaki itu lebih kuat darinya, sehigga hanya sekali dorong Ny. Lenertz pun tersungkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pukul aku ayah….jangan….” anak itu mulai menangis  tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu” pria itu benar-benar sudah kalap, ia memukul anaknya sehingga anak perempuan yang tidak berdosa itu terdorong ke arah tangga dan kemudian jatuh hingga membuatnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pamela…….!!!!” Teriak Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masa sekarang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Lenertz hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia lalu memberitahukan kepada Sam dan Dean, kalau suaminya memberi laporan pada polisi kalau Pamela kecelakaan terpeleset di tangga. Lalu sehari kematian Pamela, Emely yang sedang di rawat di rumah sakit karena penyakit asma nya, juga meninggal dunia. Hal itu semakin membuat Ny. Lenertz terpukul.&lt;br /&gt;Belum lagi sang suami pun harus meninggal karena terjatuh dari tangga seperti yang di alami oleh Pamela. Kedua putrinya tidak di makamkand I pemakaman umum tetapi dimakamkan di belakang rumah mereka. Hal itu atas permintaan Ny. Lenertz sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam dan Dean merasa miris mendengar cerita Ny. Lenertz, namun hal ini juga menguatkan dugaan kalau hantu Pamela ingin menuntut balas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyonya, kami akan menghentikan putri anda sebisa mungkin, dan mencegah semua ini agar tidak terjadi lagi” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Lenertz kembali membisukan dirinya, ia hanya menatap kosong ke depan dan tidak mempedulikan kejadian di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari …&lt;br /&gt;Pukul 21.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam segera bergegas ke rumah Ny. Lenertz dengan mengendarai Impala hitamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih tidak mengerti, mengapa Pamela harus membunuh orang lain, bukankah ayahnya yang bersalah atas kematiannya?” tanya Sam merasa heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, yang penting kita harus segera membakar mayat anak itu” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah Ny. Lenertz yang keadannya sangat menyeramkan. Rumah itu sudah lama tidak di tempati. Tanaman liar menutupi sebagian besar rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam menerobos masuk ke rumah tersebut. Keadaan ruangan bagian dalam cukup luas. Kemudian mereka menuju halaman belakang untuk mencari makam Pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memeriksa ke setiap tempat akhirnya mereka menemukan dua buah makam yang saling  berdekatan. Di nisannya tertulis nama Pamela Lenert dan Emely Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku yang akan menggalinya” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggunakan sebuah cangkul untuk menggali makam Pamela. Setelah beberapa saat, akhirnya ia mencapai dasar makam dan menemukan sebuah peti berisi mayat Pamela yang sudah menjadi tulang belulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sam menyiramkan beberapa tetes air suci dan garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beristirahat lah dengan damai” ujar Dean sambil menyalakan sebuah korek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Dean hendak membakar mayat Pamela tiba-tiba angin bertiup kencang, suasana rumah itu menjadi semakin mencekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, aku fikir dia tahu, kalau kita akan memusnahkannya” teriak Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak peduli….” Ujar Dean sembari mencoba menyalakan sebuah korek lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kali ini sebuah kekuatan mendorong mereka berdua, dan membuat mereka berdua terpental menjauhi makam. Dean dan Sam mencoba untuk bangkit, selanjutnya mereka berdua melihat sebuah kilasan kejadian yang pernah terjadi di rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kilasan itu, mereka melihat dua orang anak perempuan sedang bermain-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan selalu menyayangi mu Emely” ujar Pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga Pamela, apapun yang terjadi padamu aku akan selalu membelamu” ucap Emely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Seharusnya aku yang melindungimu, kau kan sedang sakit” sahut Pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun aku sakit aku tetap akan berusaha melindungimu dari apapun” lanjut Emely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kita akan saling melindungi” sahut pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kilasan berganti ke kejadian lain…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emely!! Matikan lilin itu, nanti kau bisa membuat rumah ini kebakaran” ucap Pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha…ha…ha…tenanglah Pamela, aku tidak akan menjatuhkan lilin ini” sahut Emily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emily membawa lilin sambil berlari-lari, sampai akhirnya lilin itu terjatuh dan membakar sebuah gorden. Api semakin besar, hal itu membuat penyakit asma yang di derita Emily kumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emily….!!!” Teriak Pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilasan berganti lagi ke saat Tn. Lenertz menyiksa Pamela hingga terjatuh dari tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pukul aku ayah….jangan….” anak itu mulai menangis  tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu” pria itu benar-benar sudah kalap, ia memukul anaknya sehingga anak perempuan yang tidak berdosa itu terdorong ke arah tangga dan kemudian jatuh hingga membuatnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pamela…….!!!!” Teriak Ny. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya berganti lagi saat Tn. Lenertz mengalami kecelakaan juga, namun kali ini, Dean dan Sam menemukan sesuatu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emely, jangan lakukan ini Emely..!!! teriak Tn. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau membunuh Pamela ayah, dia adalah saudaraku yang paling aku sayangi. Dia tidak bersalah apa-apa” ucap hantu Emily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan ayah” teriak Tn. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku benci ayah…aku benci ayah..!!!!” teriak Emily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sayang…ayah sangat menyayangi kalian berdua” ujar Tn. Lenertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emely tidak peduli dan ia pun membuat ayahnya terjatuh dari tangga. Kemudian Ny. Lenertz muncul dan mendapati suaminya sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam hanya bisa terdiam menyaksikan kilasan kejadian itu. Kini kilasan itu menghilang, yang ada hanya sesosok hantu anak perempuan yang merupakan hantu Emily. Ia menatap Dean dan Sam dengan wajah penuh kemarahan. Kulit di wajahnya sedikit terkelupas, sementara wajah bagian kiri menunjukkan bagian dalam tengkoraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ganggu saudaraku….!!!” Teriak Emily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Dean mencoba menembaknya dengan peluru garam, Emely dengan cepat mendorong mereka lagi dengan kekuatannya. Kemudian Winchester bersaudara itu di lilit oleh akar-akar tanaman yang muncul dari dalam tanah. keduanya kini hampir tidak berdaya karena di cekik oleh lilitan akar tersebut.&lt;br /&gt;“Dean!!!” teriak Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa bergerak” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di saat genting seperti itu, tiba-tiba sesosok hantu lain muncul dan menarik tangan hantu Emely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hentikan Emily, sudah cukup. Sudah cukup kau membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Kau membunuh semua ayah karena kesalahan ayah kita sendiri. Aku tidak ingin menginginkan hal ini terjadi lagi” ucap sosok hantu yang merupakan hantu Pamela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pamela mengajak Emely pergi dan mereka berdua menghilang dalam kilauan cahaya putih.&lt;br /&gt;Setelah kedua sosok hantu itu menghilang, perlahan lilitan akar yang mengikat tubuh Sam dan Dean mulai melonggar. Mereka pun terbebas dari ikatan akar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“fiuh……ternyata ini semua ulah Emily. Dia membunuh orang yang berstatus ayah atau suami, karena ia tidak ingin kejadian yang menimpanya terulang pada orang lain” ujar Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia terlalu sayang dengan saudaranya, sehingga membuatnya menjadi hantu penasaran seperti ini.” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun begitu, ini benar-benar perbuatan gila. Aku tidak ingin hal ini terjadi padamu Sam, aku tidak ingin kau jadi gila ketika aku mati nanti” ucap Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean,please jangan bicarakan itu di sini, lebih baik kita selesaikan pekerjaan kita yang belum selesai” sahut Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sam dan Dean membokar makam Emely dan membakar kedua mayat tersebut sekaligus. Setelah selesai menyelesaikan pekerjaan yang tak biasa itu, mereka pun segera meninggalkan rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^Sekian dan Terima kasih^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ntar abis nyang ni baru ane buat SCARY STORY yang mempersembahkan para penduduk tret SN ff sebagai karakternya Tongue Roll Eyes Grin Big Wink&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-4022579109724993575?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/4022579109724993575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/dream-chaser.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/4022579109724993575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/4022579109724993575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/dream-chaser.html' title='Fic: Dream Chaser'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-2675884043150030629</id><published>2010-04-29T05:19:00.001+07:00</published><updated>2010-10-09T14:01:17.738+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Genre: Humor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author:Reiforizza'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: K+'/><title type='text'>Fic: Black And White</title><content type='html'>Author : Reiforizza A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disclaimer : “Supernatural” adalah milik Eric Kripke dan The CW. Saya cuma minjem sebentar kok, kalo dah beres pasti dibalikin lagi. Walaupun mungkin bentuknya tak semulus sebelumnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warning : Plotless dan sedikit cussing, tapi sisanya cukup aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genre : Humor/Parodi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating : K+/PG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pairing : Dean x Impala x Burung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Summary : Secuil kisah tentang kehidupan sehari-hari Dean bersama mobil kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHITE ON BLACK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sparepart 01&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu adalah hari Sabtu pagi yang amat cerah, sinar matahari memancar lembut, udara masih bersih dan segar, bahkan bulir-bulir embun masih tampak membasahi kaca mobil-mobil bekas di Singer’s Auto Salvage. Anak sulung keluarga Winchester, Dean, sedang menyibukkan diri di bawah rok gadis kesayangannya, ’67 Chevy Impala. Mobil klasik warisan Ayah itu perlu ganti oli, dan manalah mungkin seorang Dean membiarkan gadisnya disentuh mekanik selain dirinya. Belakangan ini, Sam sendiri dilarang brutal duduk di kursi kemudi Impala. Kalau itu sampai terjadi, Dean langsung pasang tampang don’t-screw-with-my-baby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menuangkan pelumas baru pada mobilnya, Dean beranjak ke garasi milik Bobby untuk mengambil selang, sabun pencuci mobil, beserta sponsnya. Impala memang perlu dibersihkan, kilau catnya jadi terselubung gara-gara debu jalanan sehabis dibawa berburu ke Colorado tempo hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menyalakan radio, lagu “Travelling Riverside Blues”-nya Led Zeppelin terdengar dari speaker. Ditemani lagu itu dan suara kicauan burung di sekitar halaman, Dean bersiul sambil menggosok Impala dengan hati-hati seolah sedang memandikan bayi. Hm, jelas sekali kalau moodnya sedang bagus pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, setelah semua busa sabun dibilas dengan air bersih, Dean mulai mengeringkan mobilnya dengan lap Plas-chamois. Mulai dari kap, kaca depan, bemper, jendela, spion, bahkan sampai ke sela-sela velg. Dean memandang puas, ini baru Impala paling seksi sedunia; kilau cat dan bodi metalnya sudah pulih, kapan pun ia siap menjadi primadona di atas karpet hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah ide hebat nan brilian bersarang di kepala Dean. Ia langsung berteriak keras-keras memanggil si adik, “Sammy!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, tampaklah anak bungsu keluarga Winchester melongokkan kepalanya dari jendela rumah Bobby. “Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawakan kamera digitalmu kemari ya, aku mau berfoto bersama cewekku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam cuma geleng-geleng kepala mendengar pinta kakaknya. Lantas dia segera menuju ruang tamu untuk mengambil kamera tersebut di tas ransel. Baru saja Sam muncul di teras, Dean sudah melambai-lambaikan tangannya, “lama sekali sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini,” cuma sebegitu jawaban Sam, sembari menyerahkan kamera tersebut kepada si kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi pertama Dean adalah mengangkat sebelah alisnya, kamera itu pun dikembalikan. “Ngapain diberikan padaku? Kamu yang memotret, Einstein.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengalah, dia pun mundur beberapa langkah untuk mencari sudut yang tepat agar Dean beserta bodi Impala dapat tertangkap seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CROOTH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What the f— Sam!” Dean protes. Dia masih belum pasang pose tapi adiknya sudah menjepret duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan Sam segera membela diri, “aku belum melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, benar juga sih, kalau dipikir-pikir bunyi tadi memang tidak masuk akal. Sejak kapan kamera milik Sam berbunyi ‘crooth!’ begitu. Mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak, hidung super sensitif Dean menangkap bau tidak enak, arahnya datang dari belakang. Pemuda itu berbalik, wajahnya langsung berubah pucat. Sebuah cairan kental berwarna putih keabu-abuan bertengger di atas kap Impala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kakaknya diam membatu, Sam jadi cemas. “Dean...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada respon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tambah cemas. Didekatinya sang kakak, dia bermaksud mengguncang sedikit bahunya. Tapi belum sempat tangan kanannya mendarat ke anatomi tujuan, Dean melesat menuju bagian belakang Impala dengan langkah lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, mau ap—” kata-kata Sam tersangkut di tenggorokannya saat Dean menyambar Sawn-off shotgun dari bagasi dan mulai menembaki langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BURUNG SIAL KEPARAT!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan derita Dean rupanya belum berakhir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A/N: Emang belum berakhir. Masih ada satu bab lagi. Tapi nanti deh diposkannya. Saya cuma mau ikut memeriahkan fandom Supernatural Indonesia di ffnet, boleh kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak nonton SPN 5.08 —di mana Impala dirasuki Sam untuk jadi Kitt, sementara Dean jadi Hasselhoff— saya gatel pengen ngejailin Dean sekalian sama mobilnya. Jadilah fic ini sebagai ajang garuk-garuk. Punten kalo ceritanya gape alias ga penting, emang ga niat bikin fic penting *8D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sparepart 02&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara insiden kotoran burung tadi pagi, Bobby segera menendang Winchester bersaudara jauh-jauh dari propertinya. Tapi tidak sebelum menyuruh mereka mandi, sarapan, dan memberikan sebuah map berisi kasus supranatural. Dari gelagatnya, besar mungkin mereka akan menghadapi Penyihir — tipe yang paling sukses membuat Dean keki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dua kakak-adik itu tengah melaju bersama Impala ke kota selanjutnya, meskipun selama awal perjalanan Dean masih uring-uringan. Berkali-kali dia meyakinkan Sam bahwa burung gila itu dirasuki, terbukti dia sengaja buang kotoran di mobilnya, padahal di sekitar rumah Bobby banyak mobil-mobil lain yang lebih layak. Sebagai tambahan, tembakannya tidak ada yang kena! Dean kan seorang penembak jitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, Sam segera berpura-pura menyibukkan diri dengan map yang diberikan Bobby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan kilometer sudah dilewati, namun Dean asyik saja meracau ke mana-mana. Saat stok bahan omongan sudah habis untuk sementara, dia menyalakan tape untuk memutar album Metallica kepunyaannya, “Ride the Lightning”. Dentuman musik otomatis membahana dalam interior Impala. Spontan, Dean ikut buka suara —kalau tak mau disebut berteriak— mengikuti lirik yang dilantunkan si vokalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat, bola mata hijau yang tak pernah gagal menaklukkan perempuan itu melirik ke arah kursi penumpang. Dean mengangkat alis ketika menemukan Sam tengah tidur sepulas beruang di musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekstrim juga bocah Winchester yang satu ini, bisa terlelap di tengah-tengah musik yang bikin tuli. Barangkali karena malam sebelumnya Sam riset semalam suntuk untuk persiapan kasus. Atau... mungkin juga Sam selalu dapat mengecap kenikmatan tidur ala bayi karena ada Dean di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai tengah hari, perut Dean mulai keroncongan — irama yang sama sekali tidak selaras dengan garukan gitar Kirk Hammett. Lantas, Dean membawa Impala memasuki lahan parkir sebuah kedai makan yang pertama ia lihat. Kedai tersebut cukup ramai, tampak banyak kendaraan lain terparkir di situ. Tak heran, karena saat ini merupakan jam lumrahnya orang cari makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hap! Impala sudah terparkir dengan aman. Dengan kepiawaian mengemudinya, Dean memastikan gadis favoritnya tidak tergores bodi mobil lain yang mengapit di kedua sisi. Kemudian, tepat ketika dengkur Impala padam, Sam mengerjapkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“De, titip salad... dan kentang goreng ekstra... krrr...” Sam tertidur lagi dengan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Singkat, padat, jelas,’ batin Dean. Ini sih sudah jelas dia yang harus beli makanan, dibungkus pula. Hilang deh keleluasaannya untuk berkenalan dengan waitress cantik yang mungkin dipunyai kedai ini. Tapi kalau dipikir-pikir, dengan kondisi pengunjung yang demikian ramai, mereka pasti tengah heboh jumpalitan menerima pesanan, keluar-masuk dapur, mencuci piring, membersihkan meja, sampai memberikan uang kembalian. Tambahan, dua pemburu cakap ini tak akan bisa mendiskusikan detil kasus dengan santai dalam ruangan penuh orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melengos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima Belas menit kemudian, Winchester sulung keluar dari kedai. Kedua tangannya penuh karena dipersenjatai dua gelas minuman ringan, salad, kentang goreng jumbo, pai cheri, dan burger keju ekstra bawang bombay. Ups, tak lupa selembar tisu yang tengah ia gigit, bertuliskan nomor telepon seorang waitress berbodi biola Prancis, Michelle namanya. Ha! Jangankan merayu cewek ketika mereka sedang sibuk kerja, saat dunia kiamat pun dia masih bisa dapat teman kencan. Mungkin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, Dean cengegesan seperti habis dibelikan seember permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, moodnya mendadak berubah drastis untuk kedua kalinya di hari yang sama, tatkala matanya menemukan gumpalan cairan kental berwarna putih keabu-abuan yang menodai kaca depan Impala. Cih, lagi-lagi kotoran burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dammit!” Rutukan Dean keluar otomatis. Meskipun suaranya terdengar sedikit konyol gara-gara mengigit tisu, tapi semangat maki-makinya melebihi pelaut. “Apa aku sedang dimusuhi makhluk-makhluk bersayap?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di suatu tempat, Uriel terpeleset kulit pisang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, Dean meletakkan belanjaan makan siangnya di atas kap Impala. Tanpa buang-buang waktu, dia gunakan selembar tisu untuk membersihkan kotoran burung laknat yang menodai mobilnya. Tetapi, ia terlambat menyadari bahwa tisu tersebut bukanlah tisu sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AAAAAHH! NOMOR TELEPON MICHELLE!!!” Serunya kalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sudah terlambat. Tintanya luntur, tisunya robek, lecek, bau pula. Dean harus terima kenyataan bahwa nomor itu sudah tak terselamatkan. Oke, sudah diresmikan bahwa hari ini adalah hari sialnya. Winchester sulung itu dongkol lagi, mukanya ditekuk, plus kering sekering-keringnya. Ini mengesalkan sekali. Dia sudah mengalami banyak hal menyebalkan untuk satu hari, keadaan tentu tak akan bertambah parah, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya ironi memutuskan untuk menjahilinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, seorang ibu-ibu berumur melongok dari dalam jendela bangku belakang Impala. Senyumnya tampak gembira. “Terima kasih, nak. Kamu baik sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melongo. ‘Lho, kok?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PWAHAHAHAHAHAHAHA!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menoleh ke arah sumber tawa itu. Dilihatnya Sam tengah terpingkal-pingkal, tubuhnya sampai miring hingga harus disangga sebuah mobil; mobil Impala 1967 berplat nomor CNK 8003 tepatnya. Winchester tertua berbalik menghadapi si ibu tadi dengan cengiran yang dipaksakan. “Euh... senang melayani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun buru-buru menyambar bungkusan makan siangnya, kemudian melesat ke tempat Sam dan Impala miliknya sendiri. Andai mobilnya bisa bicara, mungkin dia sudah mengomel habis-habisan karena Dean salah mengenali Impala lain sebagai kepunyaannya. Selama beberapa lama, suara tawa Sam masih belum berhenti menggaungi lahan parkir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Dean... andai tadi kamera kukeluarkan,” Sam mengikik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya tadi kau sedang tidur?” Sungut Dean keki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan melewatkan pemandangan indah tadi? No thank you. Gyahahahahahahaha...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, Sam tertawa sampai terjongkok-jongkok. Tampaknya dia belum akan berhenti cekakakan sampai tahun depan. Lantas, Dean segera menjejalkan makan siang dan adiknya masuk ke dalam mobil, sebelum bocah itu memutuskan untuk haha-hihi sambil koprol di aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A/N: Bereeeesss!!! Duh, enaknya nulis fanfic, bisa ngejailin Dean abis-abisan. Ohohohoho~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, saya pingin informasi karakternya tertulis Dean W &amp;amp; Impala '67, tapi ternyata FFnet ngga punya pilihan yang terakhir itu. Sebel deh, padahal Impala kan udah dianggap sebagai tokoh utama ke-3 setelah Sam dan Dean. Hiks...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Netta_001, kalo mau nonton episode SPN yang baru keluar, coba deh kunjungi www(dot)sidereel(dot)com. Terus cari aja Supernatural pakai search engine-nya. Tulis kata kunci dengan spesifik, misalnya: "Supernatural season 5 episode 7". Dari sana, bakal keluar link untuk nonton episode yang dimaksud. Berkat web itu, saya bisa nonton SPN sampai 5x10. Sekarang lagi siap-siap untuk 5x11 yang bakal tayang tanggal 21 Januari nanti. Sambil nunggu, akhirnya nulis fanfic deh (sekalian sarana menghibur diri karena depresi nonton 5x10 TT_TT).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7079367462413025680-2675884043150030629?l=supernaturalfanficindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/feeds/2675884043150030629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/black-and-white.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/2675884043150030629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7079367462413025680/posts/default/2675884043150030629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://supernaturalfanficindonesia.blogspot.com/2010/04/black-and-white.html' title='Fic: Black And White'/><author><name>RED_dahLIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06234647874598373048</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_f2BLkObgNv4/TBg9koz4vhI/AAAAAAAAAEU/14yEUTc2sNM/S220/red-anemones.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7079367462413025680.post-5571095065516134719</id><published>2010-04-28T11:39:00.005+07:00</published><updated>2010-10-09T13:59:54.701+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Challenge: Crossover'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Author: Ambudaff'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rating: T'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Challenge: Mpreg'/><title type='text'>Fic: Baiduri Api</title><content type='html'>Ini juga salah satu dari tulisan Ambu saat NaNo 09, tapi belum selesai. Ambu muat saja, dengan harapan akan ada masukan untuk perbaikan. Entah kenapa, nulis ini susah banget, udah berapa bulan Ambu nyoba dan masih banyak yang harus diperbaiki. Banyak kalimat yang enggak logis, banyak hubungan antarkalimat yang masih aneh. Masih harus dirombak besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, inilah dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAIDURI API&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fanfic Supernatural crossover dengan sedikit Chronicles of Ancient Darkness&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supernatural kepunyaan Eric Kripke, dan Chronicles of Ancient Darkness milik Michelle Paver&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chara:&lt;br /&gt;* Supernatural: Dean Winchester, Sam Winchester&lt;br /&gt;* Chronicles of Ancient Darkness: Torak, Renn, Seshru, Saeunn, Fin-Kedinn, Serigala&lt;br /&gt;* Original Character: Torak (versi modern)&lt;br /&gt;Genre: Adventure&lt;br /&gt;Rating: T&lt;br /&gt;Warning: MPREG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam satu jam kita akan berada di pos perbatasan, right?” Dean menyetir sambil matanya lurus ke depan, sementara Sam sibuk meneliti peta yang dibuka lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup,” sahutnya pelan, “dan sebaiknya kita isi bensin saja dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—belok kanan?” tak mengharapkan jawaban, Dean sudah terlebih dahulu memutar setir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kanan, masuk rute 5,” Sam melipat petanya, “—dan kita berhenti dulu di Bellingham untuk isi bensin. Full tank, karena kita baru akan bertemu dengan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya, aku tahu—“ Dean menyalakan tape-nya, tapi kemudian mematikannya. Ia mengalihkannya pada radio, memutar-mutar tombolnya, “—mana sih. Kemarin sudah kudapat, spesialis classic rock, nah ini—“ ia mengeraskan radionya sambil memukul-mukul—pelan tapi berirama—setirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melengos mendengar Unforgiven-nya Metallica mengisi seluruh ruang Impala. Ia kemudian membuka-buka lagi peta tadi, meneruskan membaca informasi yang mungkin diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekitar 20 jam kalau kita menyetir terus menerus,” sahut Sam sambil matanya terus memandang peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—huh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seattle – Fairbanks sekitar 1500 mil lebih. Jadi kalau kita bisa terus dengan kecepatan 80 mil begini, 20 jam baru kita sampai. Itu tanpa berhenti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hitung saja pakai berhenti isi bensin dan makan,” sahut Dean sambil terus menyenandungkan Unforgiven.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kau mau menyetir selama itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menoleh pada Sam, memandangnya lama-lama, sebelum terpaksa mengalihkan pandangan pada jalan karena ada mobil dari arah yang berlawanan. “Yah, kalau terpaksa, kau menggantikan aku—“ sahutnya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tertawa kecil. “Jarang-jarang denger aku boleh menyetir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terpaksa, Sammy, terpaksa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kubilang, mending naik pesawat saja. Tiga jam Seattle – Fairbanks—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pelototan mata Dean bisa membunuh Sam, tentu Dean sudah ditangkap dengan tuduhan pembunuhan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak , dan tidak, Sammy! Mending capek cross-border bolak-balik, daripada—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya, aku dengar,” Sammy melipat lagi petanya, menyimpannya dalam laci dashboard, dan mengatur posisi duduknya agar bisa memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, hei, jangan tidur dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bellingham masih sejam lagi kan? Bangunkan aku kalau sudah sampai di sana—“ Sam menyahut sambil nyengir jail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata ia tidak benar-benar tidur, hanya tidur-tidur ayam, dan mengomentari apapun yang lewat atau yang terlihat. Sudah hampir sejam ketika papan nama kota Bellingham terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, isi bensin dulu sampai penuh, baru cek di perbatasan,” Sam memperbaiki duduknya. “—mau pakai identitas yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang asli saja. Biar mudah kalau ada pemeriksaan surat-surat kendaraan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK,” Sam menyiapkan dompetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan di perbatasan Amerika Serikat – Kanada memang biasanya mudah. Untuk warganegara Amerika, kalau ada sih paspor, tapi kalau tidak ada, kartu identitas seperti SIM juga bisa, asal ada fotonya. Surat kendaraan kadang ditanya kadang tidak. Barang apa yang dibawa juga, kadang hanya basa-basi ditanya, kadang suka diperiksa sampai teliti. Pemeriksaan yang teliti biasanya dilakukan kalau baru saja ada kejadian, misalnya ada yang ketahuan membawa narkoba, atau sejenisnya, maka kendaraan selanjutnya akan diperiksa dengan lebih teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengurangi kecepatan Impala ketika dilihatnya ada rambu stasiun pengisian bahan bakar. Baru disadarinya, kendaraan di depannya, sebuah Mustang merah manyala juga menjalankan kendaraannya pelan-pelan, berbelok di pom bensin itu. Jadilah Dean mengambil urutan kedua antri di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemudi Mustang itu turun. Cewek. Dean langsung saja bersiul. Umur sekitar awal dua puluhan, rambut pirang ikal, celana jeans skinny plus kaos ketat dengan jaket jeans juga. Dia mengambil selang bensin dan mengisi tangki mobilnya, sembari sesekali melihat jam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai. Ditaruhnya selang bensin di tempatnya, lalu kembali ke belakang kemudi. Tapi berkai-kali ia mencoba, tidak bisa distarter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melirik Sam, bibirnya membentuk senyuman nakal. Sedikit anggukan, mereka berdua keluar dari mobil dan menghampiri Mustang merah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perlu dibantu, Miss?” Dean bertanya dengan senyuman mautnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh—eh, aku tak tahu, kenapa jadi begini. Tidak bisa distarter—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean duduk di kursi supir dan mencoba menstarter. Tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami dorong dulu, agar leluasa memeriksanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memberi isyarat pada Sam, dan mereka berdua mendorong mobil itu sampai tempat parkir. Melempar kunci pada Sam agar ia meneruskan mengisi bensin, Dean lalu membuka kap mesin dan mencari-cari apa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum kecil. Kembali ke Impala, ia mengisi bensin, lalu memarkirnya di samping Mustang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa saja yang dikerjakan oleh Dean, tapi dalam beberapa menit kemudian ia menyuruh nona tadi menstarter mobil, dan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, terima kasih,” nona pirang itu tampak sangat gembira. Kelihatannya ia terburu-buru, kesal karena mesinnya bermasalah, dan karenanya benar-benar berterimakasih pada Dean. “—harus kubayar berapa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean trersenyum nakal, “Tidak perlu, Miss—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggil saja Amanda. Amanda Schell.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin nomer anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda tertawa kecil. Jelas-jelas ia kagum pada Dean, hanya sekedar nomer telepon tentu saja tak mengapa. Ia mencondongkan tubuh, membuka laci dashboardnya, mengambil tas tangannya. Mencari-caari sesuatu. Mengeluarkan sebuah kotak, kotak kartu nama ternyata, dan membukanya. Diambilnya selembar, dan diserahkan pada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow!” Dean bersiul membaca apa yang ada di tangannya, “ternyata kau artis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum Amanda menutup tasnya, menaruhnya di laci dashboardnya kembali. “Belum terkenal. Masih level lokal,” katanya, dan menutup pintu mobilnya. “Sayang aku terburu-buru, tapi mungkin kita bisa bertemu lagi lain kali, er—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean. Dan itu Sam, adikku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Thanks sekali lagi, Dean!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustang bergerak maju, dan ia melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean juga Sam melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ke kamar kecil dulu,” mata Dean masih memandang ke arah jalan walau Mustang itu sekejap saja sudah menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yo.” Sam mengibas-ngibaskan tangan di depan mata Dean sambil tertawa, dan diikuti dengan tawa Dean juga. “Aku beli kudapan dulu. No beer, kau akan menyetir jauh—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean berjalan ke bagian belakang stasiun pengisian bahan bakar itu, sementara Sam ke bagian depan bangunan, yang sekaligus digunakan untuk minimarket. Beberapa menit kemudian keduanya kembali ke mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey, awal perjalanan jauh.” Sam masuk ke mobil dengan membawa kantong belanjaannya. Dean juga sudah akan masuk, ketika ia berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang ke tanah. Tempat Mustang merah menyala tadi parkir. Dan ia memungut sesuatu dari situ, seperti buku kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk ke mobil, tapi konsentrasinya pada buku kecil itu. Membuka-bukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku alamat?” Sam bertanya penasaran, melihat kakaknya memusatkan perhatian pada temuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Sepertinya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepunyaan Amanda?” terka Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. “Sepertinya jatuh tadi waktu ia mengambil kartu nama dari tas,” sahutnya, memberikan buku kecil itu pada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menerimanya, menyimpan belanjaan di kursi belakang, dan mengikuti perbuatan Dean tadi, membuka-buka buku alamat tadi. Khas artis baru muncul, buku alamatnya penuh dengan alamat, nomor telepon, dan email produser, talent-searching dan orang-orang sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membuka dompetnya, mencari kartu nama yang tadi diberikan Amanda, dan mulai memencet-mencet nomer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya ponsel Amanda tidak diangkat, atau tidak diaktifkan, karena Dean menanti beberapa lama, tapi tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudah,” Dean mengembalikan kartu nama ke dalam dompet, menge-save nomer Amanda, menutup pintu mobil, dan menstarter mesin. “—kita coba lagi beberapa saat nanti. Mudah-mudahan saja dia sudah mencatat nomer-nomer dan alamat itu dalam ponselnya, jadi dia tidak merasa terlalu kehilangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. “Lagipula perbatasan sudah di depan mata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk, dan menjalankan Impalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa menit, mereka masuk Posko Perbatasan. Seperti yang sering dibicarakan orang, masuk ke Kanada lebih mudah daripada masuk kembali ke Amerika Serikat. Kalau dihitung-hitung, pemeriksaan hanya berjalan selama tigapuluh detik, hanya mengantrinya agak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil di depan mereka ternyata membawa seorang lansia, yang merasa tidak enak badan, dan ingin keluar dulu, sepertinya ingin muntah dulu, dan memang benar. Ia muntah tepat di depan pintu mobilnya. Baik pengemudinya, anggota keluarganya yang lain, maupun petugas perbatasan sibuk dulu sejenak membereskan keributan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar hanya tigapuluh detik,” sahut Sam sambil memasukkan kartu pengenalnya ke dalam dompet. Mobil mereka sudah masuk ke wilayah Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tak berbicara, ia sibuk memencet-mencet tombol ponselnya sambil terus menyetir. “Masih dimatikan ponselnya,” sahutnya, memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, dan konsentrasi menyetir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah,” Sam mengambil posisi duduk yang nyaman, dan menutup mata, “—kalau berhenti, atau mau digantikan, bangunkan aku ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aye!” dan Dean menyalakan lagi radio pada gelombang yang tadi. “Damn! Sudah mulai tak tertangkap radio tadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Streaming saja,” sahut Sam setengah tertidur, sambil setengah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kau!” Dean bersungut-sungut, jelas-jelas Sam menertawakan tape mobilnya yang butut hingga hanya bisa menyetel kaset dan menangkap gelombang radio secara manual, tidak bisa menyetel CD ataupun streaming gelombang-gelombang radio se-dunia. Ganti mendengar radio, ia mencari-cari kaset Metallica dengan tangan yang satu, menyetelnya, mengeraskan, dan mulai bernyanyi keras-keras bersama Hetfield. Sam tertawa kecil sambil berbalik dan memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berpuluh bahkan beratus mil kemudian yang terdengar hanya suara Hetfield. Jalan terhitung sepi, mungkin karena fajar juga baru mulai muncul. Mobil dari arah yang berlawanan bisa dihitung satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca bisa dibilang bersahabat. Untuk bulan-bulan sekarang, Mei-Juni-Juli, sudah memasuki musim panas. Tapi karena mereka memasuki wilayah utara, mendekati garis balik lintang Utara, suhu semakin dingin, walau matahari mulai bersinar malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah di mana?” Sam duduk lebih tegak, menggosok-gosok matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir Prince George. Kau mau berhenti dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa kita makan dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey. Dan mengisi bensin,” Dean kembali berkonsentrasi pada kemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, papan nama Prince George muncul di sisi jalan, dan mereka mulai memasuki kawasan yang lebih ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengurangi kecepatan sekarang, mencari kedai yang menyediakan breakfast. Dari kejauhan nampak satu. Berbelok, mencari tempat parkir yang kebetulan penuh. Untung dapat satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua turun, mencari tempat duduk, dan memesan sarapan. Dean sudah kembali memencet-mencet keypad ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes!” sahutnya, “—dapat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangkat alisnya, sebelum mengerti saat Dean mulai bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amanda? Ya, ini Dean, yang tadi. Buku alamatmu jatuh—Oya, bagus kalau begitu. Kau mau ke mana? Fairbanks—tapi kami juga akan ke sana—Sudah sampai di mana? Okey, mudah-mudahan Mustang-mu bisa kami susul—tertawa—Okey, kau tak apa-apa menyetir sendiri?—Okey, sampai ketemu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarapan datang, dan Dean mencomot cheeseburgernya. “Seperti sudah kubilang tadi, ia sudah menyalin info dari buku alamat—“ ia menggigit sepotong besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi nekad juga cross-border menyetir sendirian,” Sam menusuk kentang gorengnya dengan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah. Apalagi kelihatannya dia tidak begitu terbiasa dengan mobil. Maksudku, seperti umumnya kaum wanita—Dean terdengar sedikit merendahkan—hanya bisa menyetir, dan tak tahu apa-apa soal mobil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, dan kaulah yang paling tahu soal mobil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melempar serbetnya, tapi Sam mengelak sambil tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan keadaan seperti itu, paling-paling juga kita akan bisa menyusulnya dalam beberapa jam. Cepat juga, Mustang itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dia pakai Mustang karena memang dia perlu kecepatan. Kaudengar tadi, dia seperti terburu-buru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm,” Dean menghabiskan cheeseburgernya, menghabiskan kopinya, dan mengelap mulutnya dengan tisu, “—tujuan kita di Fairbanks?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum Fairbanks,” Sam mengeluarkan peta lipat dari saku jaketnya, membukanya di atas meja setelah terlebih dahulu menyingkirkan piring sarapannya yang sudah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunjukkan tempatnya pada Dean. “Ada belokan ke kiri, dan nanti di situ kita telepon saja Pavarell, dia akan menunjukkan arahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melipat lagi petanya, “—memangnya Amanda juga mau ke Fairbanks?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaps,” Dean bersendawa, mengundang pelototan Sam, tapi ia mengacuhkannya seperti biasa, “—kalau perlu kita susul saja dia.” Ia berdiri, mengeluarkan lipatan uang dari saku celana, menyimpan beberapa lembar di meja, dihimpit piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengikuti berdiri, dan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perhentian kita selanjutnya?” Dean buru-buru menambahkan, “—untuk mengisi bensin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Meziadin Junction. Atau Dease Lake.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.” Masuk ke dalam mobil dan kembali merambah jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mil demi mil dilahap. Kali ini Sam tidak terlelap. Seperti sedang berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir—Pavarell tahu apa yang ia kerjakan?” sahut Dean memecah kesunyian, setengah bertanya setengah mengeluarkan pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Lagipula, kalau Bobby mendukung, kemungkinan besar ia memang benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, artifak Inuit di Fairbanks? Bukannya Eskimo itu di kutub?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah. Pavarell mengatakan, artifak itu seperti bukan berasal dari tanahnya. Seperti diambil dari tempatnya, lalu dibawa ke tempatnya, dan dikubur di sana, entah kenapa. Mungkin takut ada yang melihat, atau bagaimana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cari di internet?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit. Email yang dikirim kemarin, fotonya buram. Lebih baik kita langsung melihatnya saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening lagi. Jalan relatif sepi, apalagi ukurannya besar, lurus-lurus, membuat Dean memacu Impala dengan kecepatan maksimal. Sam membuka email dari ponselnya, tapi tak ada yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Dease Lake, istirahat sejenak dan makan, mengisi bensin, Dean melempar kunci kontak Impala pada Sam. “Ganti menyetir. Aku mau tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan lewat sore hari, tapi matahari masih betah menemani tatkala mereka masuk Yukon. Walau demikian, suhu makin rendah di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhenti, makan dan mengisi bensin, lalu melaju lagi. Dean yang pegang kemudi kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia cepat juga,” sahut Dean seperti sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh? Siapa—oh, Amanda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Dan sekian jam menyetir tanpa diganti. Maaf kalau terkesan meremehkan, tapi dia perempuan, dan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mungkin kita sudah melewatinya, tanpa kita sadari? Atau dia berbelok dulu di salah satu kota kecil? Atau mungkin juga ada yang naik, dan menggantikannya menyetir? Apa saja bisa terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. Tapi sambil menyetir, dikeluarkan ponselnya susah payah dari saku jaket, dan dipencet nomer terakhir yang ia hubungi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersambung, tapi tak ada yang mengangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua-tiga kali, berakhir sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin sedang kagok menyetir,” Sam menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin,” Dean menyimpan ponselnya di dalam saku jaketnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap sudah turun tatkala Impala itu berhenti di perbatasan Kanada – Amerika Serikat. Di sini ternyata pemeriksaan lebih ribet dari perbatasan Amerika Serikat – Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya juga lebih teliti,” sahut seorang pengemudi yang mobilnya berhenti tepat di depan Impala, sama-sama menunggu giliran diperiksa, “tapi konon tadi ada yang berusaha menyelundupkan narkoba, jadi—biasa, petugas jadi jauh lebih waspada—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. Dean masih terdiam, entah apakah dia waspada atau kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigaperempat jam lewat, dan mereka sudah lolos dari perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Putar arlojimu satu jam lebih lambat,” Sam mengulang perkataan petugas di perbatasan tadi, “dan kukira semakin mendekati Fairbanks, semakin rendah suhunya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaps,” Dean menghentikan Impala di tepi jalan, memutar arlojinya, lalu keluar dari mobil. “Ambil jaketmu yang lebih hangat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengikuti kakaknya, membongkar tas duffel-nya dan mengeluarkan jaketnya yang lebih tebal. Tanpa mengganti, ia melapisi jaketnya dengan yang lebih tebal. Lalu mengeluarkan peta lipatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita isi bensin di sini, lalu makan juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. “Aku juga mau periksa dulu my baby. Suhu rendah di sini, aku harus lihat dulu penyesuaiannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya betul. Sampai Delta Junction, sulit ditemui orang ataupun pemukiman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mereka menghabiskan hampir sejam untuk makan, memeriksa mobil sekaligus mengisi bensin. Malam sudah benar-benar gelap tatkala mereka melaju kembali. Jalan sungguh sepi, apalagi suhu benar-benar rendah. Dean tidak bisa memacu Impala secara maksimal karena kemungkinan jalan menjadi licin dalam suhu seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk Delta Junction, mereka keluar dari Alaskan Highway, dan masuk jalan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa jauh lagi ke Fairbanks?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tidak langsung menjawab, tapi membuka petanya dulu. “Sekitar 100 mil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean masih konsentrasi mengemudi, tapi memang sudah terlihat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau diganti?” Sam menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terdiam. “Okay. Aku ingin tidur barang sejam.” Ia menepikan mobil. Sam keluar, memutar ke kursi pengemudi, sementara Dean bergeser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara normal sih paling sejam. Tapi dalam kondisi jalan seperti sekarang, mungkin dua jam,” sahut Sam sambil menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Apakah kita akan cari Pavarell dulu, atau cari penginapan dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa tempat Pavarell cukup luas,” tawa Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekejap tawa Sam berhenti. “A-apa itu, Dean?” Ia menghentikan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean yang sudah bersiap meringkuk di kursinya mendadak bangkit lagi, “Apa? Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tak menjawab, malah memundurkan mobil. Dean juga tak memerlukan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Mustang merah manyala, dan sebuah pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sirine meraung-raung membelah malam yang sepi. Mobil sheriff, dan ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa dilakukan lagi oleh kedua Winchester itu karena korban seperti sudah agak lama dalam kondisi seperti itu. Darah yang keluar dari kepala sepertinya sudah membeku. Bibir membiru. Anggota badan sudah kaku, bahkan untuk mengeluarkannya dari mobil, kemudi harus digergaji terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Winchester diminta keterangan secukupnya. Saat akan dicatat alamat, Sam memberikan alamat Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemungkinan kami akan menginap beberapa hari di sana,” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berbalik menuju mobil, dan menggamit Dean agar bergerak. Dean seperti tak bisa bergerak menyaksikan tubuh Amanda dimasukkan ke dalam kantong mayat, dimasukkan ke ambulans, dan dibawa pergi. Mobil sheriff mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia akan dibawa ke mana?” Dean masih menerawang ke arah ambulans yang makin lama makin kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fairbanks Memorial Hospital. Belum jelas saudara atau orangtuanya ada di mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean meraba jaketnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengerti. Ada buku alamat Amanda di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebaiknya buku ini kita serahkan pada sheriff?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terdiam. “Kalau—kalau semua nomer di sana memang sudah disalin ke ponsel, kukira kau bisa menyimpannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa bersalah pada diri Sam, karena tahu itu hal yang tidak benar, tapi ada sesuatu yang menahannya agar menyimpan buku itu. Entah kenapa. Seperti ada—yang ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean masuk ke mobil, kursi penumpang. Sam otomatis duduk di belakang kemudi. Melaju lagi, lebih hati-hati kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berkali-kali melihat peta, catatan alamat Pavarell, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Pavarell. Pria sebaya Bobby, penuh janggut keabuan, mata hitam berkilat itu membukakan pintu gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Langsung saja ke garasi, masukkan mobilmu,” sahutnya. Ia menunjukkan jalannya. Setelah menutup pintu garasi, mereka masuk melalui pintu samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, biasanya Dean yang menyetir?” tanya Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Giliranku,” sahut Sam, “kami menyetir non-stop dari Seattle.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Seattle?” sahutnya tak percaya, “kupikir kalian akan menginap di suatu tempat di Kanada, melihat-lihat dulu, sebelum sampai ke Alaska—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menyeringai, tapi terlihat olehnya Dean diam saja, maka seringainya menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—menyetir sejauh itu tentu melelahkan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah. Seseorang yang kami kenal tak sengaja di Seattle, bertujuan sama ke Fairbanks, menyetir sendiri, dan tahu-tahu kami temui—kecelakaan di Delta Junction—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh. Sirine ambulans yang tadi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. Sam mengangguk. Diliriknya, nampak airmuka Dean kusut tak terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kalian istirahat saja dulu,” Pavarell menunjukkan pada Sam dan Dean kamar mereka, “—nanti setelahnya baru akan kutunjukkan artifak itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka setuju. Membersihkan diri, dan setelahnya Pavarell menyajikan sup krim yang tak ditolak oleh Dean, habis itu mereka pun lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sudah menyelinap dari jendela saat Dean terbangun. Sam sudah tak ada. Selesai menggosok gigi dan mencuci muka, ia keluar kamar, dan terlihat di teras depan Sam, Pavarell, dan beberapa orang lagi sedang berbicara. Tapi tak lama, orang-orang itu menjabat tangan Sam dan Pavarell, dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah bangun,” sahut Sam tatkala memasuki rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sarapan dulu,” Pavarell berjalan ke daerah kompor yang menyatu dengan daerah kursi-meja. Menyalakan api dan mulai mengaduk-aduk sesuatu dalam panci, lalu membagikannya ke dalam 3 buah piring. Dibantu Sam, menghidangkannya di atas meja. Bertiga mereka makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa mereka?” tanya Dean sambil mencicipi chili di hadapannya, “—kelihatannya seperti polisi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya memang, polisi dari Fairbanks. Tanya-tanya tentang kejadian kemarin—“ Sam menyendok chili banyak-banyak. Di daerah dingin seperti ini, chili memang membuat hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterangan yang kemarin kita berikan, belum memuaskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nampaknya, ada sesuatu yang baru mereka temukan,” Pavarell ikut nimbrung, “—entah apakah dia itu korban kriminal atau bukan. Tapi kalau mendengar cerita kalian, sepertinya dia kelelahan menyetir sekian jauh sendirian, lalu kehilangan konsentrasi, dan menabrak pohon jadinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kesimpulan kami juga. Polisi juga tidak memperoleh tanda-tanda telah dilakukan kekerasan,” Sam menghentikan sendoknya di pinggir piring. “Hey, Dean, buku alamatnya masih ada padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menyuap sesendok, meletakkan sendoknya di piring, sebelum mencari-cari di saku-saku jaketnya. Dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini. Walau aku tak tahu, apa yang bisa kita dapat dari sini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tertawa kecil, “—mau berubah menjadi detektif?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuka-buka buku itu. Kebanyakan memang nama-nama pencari bakat, jelas dari nama perusahaan yang mereka wakili berikut alamatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—karena itulah kau tak memberikannya pada polisi waktu ditanyai?” Pavarell mengumpulkan piring kotor dan menatanya di dalam dishwasher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng. “Lagipula polisi tak menanyakan. By the way, mana artifak yang kau bilang itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell menghilang sejenak ke ruang bawah tanahnya, naik lagi kemudian membawa sebuah bungkusan kain hitam kira-kira sebesar seekor kucing. Ia meletakkannya di meja, tapi tidak langsung membukanya. Ia menutup semua tirai dulu sehingga ruangan menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak gelap sempurna. Kalau malam hari, akan terlihat jelas,” sahutnya, perlahan membuka bungkusan kain itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang aneh. Seperti sebuah patung, mungkin miniatur dari sebuah totem, warnanya kecoklatan, atau dulu mungkin berwarna-warni, tapi karena umurnya sudah tua, lama kelamaan menjadi kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—seperti ... patung biasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell mengangguk. “Di tempat-tempat konservasi Indian-Eskimo akan ada banyak patung yang seperti ini, dijual sebagai cindera mata. Ini beda. Keluarkan EMF-mu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam merogoh saku jaketnya, penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum EMF-nya bergerak dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memandang Pavarell dengan takjub. Tapi Pavarell seperti belum puas, ia seperti sedang menunggu sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benarlah. Dalam remang ruangan, daerah mata totem itu bersinar kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—berubah?” Sam tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell mengangguk puas. “Itu yang ingin kuperlihatkan. Kalau ia dibiarkan saja, tak akan ada apa-apa. Tapi kalau dicek—seperti dengan EMF meter, atau apapun sejenisnya, matanya akan berubah seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean turut memperhatikan, penasaran. “Sudah kau coba mencari tahu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng pelan. “Sampai sekarang belum ketemu. Aku sudah mencoba membandingkan dengan suvenir yang banyak terdapat itu. Kubelah. Dan suvenir itu memang terbuat dari kayu biasa. Tapi ini, tak bisa dibelah. Kalau kau merabanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean meraba patung itu. “Kayu biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell mengangguk. “Tapi kau tak akan bisa membelahnya. Kalau patung ini didekatkan pada sebuah pisau, atau pahat, atau yang semacamnya, mata merah itu keluar lagi. Seperti yang ... terancam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell duduk. Sam menjauhkan EMF-meternya. Warna merah itu memudar, dan lama kelamaan menghilang. Pavarell perlahan membungkus patung totem itu dengan kain yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum ada akibat yang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Korban maksudmu?” Pavarell menjawab rasa penasaran Sam, “—sampai sekarang belum ada, untunglah. Yang jelas, aku bermaksud menemukan terlebih dahulu, kenapa bisa menyala begitu. Apakah berbahaya, dan kalau iya berbahaya, kita harus mengetahuinya terlebih dahulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell kembali ke ruang bawah tanah untuk menyimpan totem itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sudah berdiri dan bersiap-siap ketika ia kembali ke ruang atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, kalian mau ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari sesuatu di perpustakaan kota,” Sam juga turut berdiri. “Kau mau ikut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell menggeleng. “Ada pekerjaan di bengkel. Tapi menjelang sore juga pasti sudah selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, nanti sore kami pulang,” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fairbanks lumayan ramai ternyata. Puluhan perpustakaan yang di-search Sam dari internet membuat pusing Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pilih satu saja,” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menambahkan kata ‘Eskimo’ pada entry search, dan itu menyaring pilihannya. Satu perpustakaan dia pilih, yang terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu lama mereka mencari, mereka mendapatkannya. Totem yang persis seperti yang ada di rumah Pavarell, hanya ini berwarna-warni. Bentuknya seperti anjing laut, beruang kutub, dan ular melingkar. Warna-warnanya didominasi oleh warna putih, walau warna lain juga ada. Kalau dilihat selintas, tidak akan sama dengan yang ada pada Pavarell, tetapi kalau dibayangkan sudah lama, dan warnanya sudah kusam, persis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membawa Sam pada satu pertanyaan. Totem itu biasanya warnanya tahan lama, karena pewarnaannya alami. Kenapa yang ada pada Pavarell itu sampai begitu kusam? Kalau itu cindera mata, mungkin saja kusam, karena buatannya lebih komersial daripada totem asli. Tapi mengingat bahannya, tidak mungkin. Sepertinya totem ini asli. Atau ... sudah lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mencari-cari jawabannya, tapi sampai waktu makan siang, belum dapat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lapar,” sahut Dean, “kita cari makan dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka berdua mencari kedai cepat saji di sekitar perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja beberapa suap, terdengar suara sirine meraung. Sebuah ambulans melaju, kemudian melambat ketika membelok ke salah satu rumah. Berhenti di situ. Ternyata di situ sudah ada mobil sheriff. Memasang garis kuning. Satu-satu penduduk berkumpul di situ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melihat pada Sam, dan Sam melihat pada Dean. Keduanya kemudian keluar dari kedai, ikut berkerumun dengan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama petugas membawa tandu jenazah dan dimasukkan ke dalam ambulans. Mengurus ini-itu, dan ambulans pun melaju lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“FMH?” Sam mengeja nama ambulansnya. “Hey, Dean, kita tanya-tanya yuk ke sana—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Dean seakan bertanya, tapi ia tak banyak berkata, hanya mengikuti Sam ke tempat parkir. Menstarter Impala-nya, dan melaju, mencoba mengikuti laju ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan lajunya Impala, pelan-pelan Dean mulai menangkap pemikiran Sam. “Kau ingin menyelidiki kematian Amanda kemarin kan, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum polos, tertangkap basah. “Habis, kau kelihatan kuyu begitu. Mentang-mentang dia cantik dan sexy, dan sudah memberikan tanda-tanda padamu. Jadi penasaran kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terkekeh. “Masih banyak yang lain, Sammy, masih banyak yang lain.” Dean menambah kecepatan saat ambulans sudah terlihat, tapi nampaknya akan membelok. Tak mau ketinggalan jejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu masuk ke lingkungan Fairbanks Memorial Hospital, sambil mencari tempat parkir, Dean melirik Sam, “Sebaiknya aku saja yang turun. Kau sudah dikenal, baik oleh tenaga kesehatan maupun sheriff. Tiap ada kesempata berbicara, kau yang maju. Mungkin mereka tidak begitu mengenalku. Jadi mungkin saja aku akan lebih berhasil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserahlah—“ Sam membuka tasnya, meraih laptop dan menyalakannya. “Aku cari di sini, kau cari di rumah sakit. Siapa tahu ada perawat sexy—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkekeh keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Sam asyik browsing mengenai totem, tapi lama-lama ia bosan juga. Dilihatnya arloji. Sudah nyaris tiga jam. Ada apa dengan Dean?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam sudah mengeluarkan ponsel dari saku jaket, ketika dilihatnya Dean keluar dari pintu samping yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terburu-buru, ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan keluar dari halaman parkir. Tanpa bicara. Sam terdiam saja, ia sudah hapal akan kelakuakn kakaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, tidak jauh mobil mencari tempat parkir lagi, dan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” Sam bertanya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bicara, Dean mengeluarkan kertas dari sakunya. Nomer telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Sam berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Dean tak mampu menahan tawa, dan meletuslah tawanya. “Itu nomer telepon Heddie, perawat se—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deeeeean!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean masih tertawa, tapi sudah berusaha menghentikannya, “OK, OK. Bukan itu. Tapi itu juga ada hubungannya, Heddie berjanji akan menghubungiku kalau dia mendapat informasi baru,” kini Dean mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari balik jaketnya. Memberikannya pada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar, Sam, kita harusnya menjadi detektif kriminal. Ada satu peristiwa kriminal yang sedang terjadi disini, walau aku tak tahu apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tak berkata-kata. Ia mengeluarkan kertas-kertas dari dalam amplot coklat itu. Laporan kematian. Ada juga rekam medik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau bisa mendapat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heddie.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. Itulah makanya Dean keluar dari lingkungan rumah sakit, untuk membaca laporan yang sebenarnya tak bisa didapatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman demi halaman. Sam mengangkat wajah yang sudah berkerut berlapis-lapis. “Tapi, bagaimana bisa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng pelan, “Aku juga tak tahu, Sammy.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melihat lagi halaman-halaman fotokopian itu. “Yang aku tahu, anak kembar satu telur saja punya sidik jadi yang berbeda. Yang ini, tiga orang punya sidik jari yang sama? Dan anehnya, terkumpul di rumah sakit yang sama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk, tangannya memainkan dagunya. “Itulah. Amanda Schell, datang dari Seattle—menurut polisi ia datang dari California. Karena artis kelas bawah, tentu saja tak cukup punya uang untuk naik pesawat ke Alaska, dan memutuskan naik mobil saja. Mustang itu mobil kawan laki-lakinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menunjuk halaman yang lain, “Brandon Smith, mahasiswa, dari Iowa, naik bis ke Fairbanks. Begitu turun di perhentian bis, orang menyangka ia terpeleset di tangga bis, dan jatuh ke aspal, tapi ternyata ia sudah tak bernyawa. Tak ada luka, tak ada tanda-tanda kekerasan. Petugas medis memperkirakan stroke. Memang ia masih muda, tapi konon penyakit stroke sekarang bisa menyerang siapa saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memisah halaman berikutnya, “Yang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini yang tadi di rumah dekat perpustakaan, Jordi Heath. Programer komputer. Ia masih tinggal bersama orang tua angkatnya, tapi kamarnya di pavilyun karena sering pulang malam. Tadi ibunya berulang kali mengetuk pintunya, akan menyuruhnya makan, tapi tak ada jawaban. Tapi suara musik dan sebagainya, tetap keras sebagaimana biasa. Ibunya mengintip dari jendela, sepertinya Jordi duduk di depan komputer, tapi tak menjawab panggilannya. Curiga, ibunya membuka dengan kunci cadangan, dan menemukan anaknya sudah tak bernyawa, masih dalam posisi mengetik di keyboard.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kening Sam berkerut, halaman-halaman fotokopian itu dilihat-lihatnya lagi. Dan, “Dean, kau lihat tanggal lahirnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. “Ya. Tanggal lahir sama, sidik jari sama. Jam kematian juga sama,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam buru-buru meneliti halaman-halaman itu dengan seksama. “Ya. Jam kematian sama. Tiga orang dari tiga latar belakang, dari tiga negara bagian—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Sam menerawang, “Apakah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—apakah masih akan ada korban yang lain, Sammy, itu juga yang menjadi pikiranku. Mari kita mencari ke rumah sakit lain. Tanggal lahir sama, meninggal pada saat yang sama—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita cari di internet saja, kurasa data rumahsakit di sini sudah online—“ Sam kemudian sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu, mencari dan menelusuri. Dean mencondongkan badannya ke arah Sam sehingga terlihat jelas apa yang ada di layar laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat dua orang,” Sam menunjukkan pada nama yang ada di tabel, “tapi ini hanya ada tanggal lahir dan jam kematiannya saja, tak ada data sidik jari. Rupanya sidik jari ada di arsip rumah sakit, dan tak dimasukkan online—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita anggap saja sidik jarinya sama. Kau punya teori, bagaimana bisa ini terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kening Sam berkerut, matanya menatap ke arah layar, tapi ia tidak sedang melihat layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm ... hm ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tak mendengar apa yang dikatakan Dean, Sam mengetikkan beberapa kata dalam search engine. Memilih-milih link. Membukanya. Membaca sekilas artikel-artikel yang terbuka. Menggeleng. Mengetikkan lagi kata-kata baru dalam search engine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sudah hapal kebiasaan adiknya itu, duduk bersandar, menutup matanya sejenak, menunggu hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Dean—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup?” Dean langsung dalam posisi siaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—mungkinkah mereka ... kloning?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kloning? Tapi, bukankah kloning pada manusia belum diperbolehkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Resminya demikian. Percobaannya saja belum boleh dilakukan pada manusia, hanya pada hewan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dugaanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dugaanku, ada percobaan sembunyi-sembunyi dengan kloning ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk akal. Walau sedikit. Bagaimana dengan—jenis kelamin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum terpikirkan. Mungkinkah—ilmuwannya mencoba-coba membuat satu seri anak-anak kloning dengan gender berbeda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm,” Dean mencoba memahami apa yang sudah dipahami adiknya, “—jadi kalau kloning, harusnya—haruskah dikandung oleh satu ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teorinya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi lima anak? Wow!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin—lebih, Dean. Hanya saja kita belum tahu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Lalu, setelah beberapa saat, Dean menghidupkan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita kembali saja dulu. Mungkin Pavarell punya ide tentang hal ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pusat kota ke kediaman Pavarell hanya memerlukan beberapa puluh menit, tetapi rasanya panjang. Keduanya sama-sama mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dapat. Agak susah diterima akal. Beberapa orang dengan tanggal lahir yang sama, meninggal di waktu yang sama, dan ternyata mereka punya sidik jari yang sama—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di tempat kediaman Pavarell, sudah menunggu kejutan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang mereka cari?” Sam berbisik, saat petugas medis dari FMH mengangkat tandu Pavarell ke dalam ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tak menjawab, karena selain Sam tak perlu, ia juga tak tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi mendekati. “Kalian tak akan ke mana-mana kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menggeleng. “Kami akan tetap di sini, atau di rumah sakit menungguinya. Setidaknya sampai Pavarell bisa kembali—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey. Rumah sudah bisa dibereskan, penyelidikan sudah selesai. Tetapi kalau-kalau nanti ada pertanyaan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih. Selamat sore.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sore.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menatap hingga mobil sherif dan ambulans menghilang di tikungan, lalu saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Totem itu?” sahut keduanya nyaris bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah berlari keduanya menuju ruang bawah tanah. Turun dengan bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bungkusan totem itu ada di sana. Mengecek, jangan-jangan bungkusan itu hanya bungkusan yang serupa tanpa isi, mereka bersepakat membuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totemnya masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengeluarkan EMF-meternya dan mendekatkan pada totem itu. Seperti saat pertama dikeluarkan, mata totem itu menjadi merah, jelas apalagi di ruang bawah tanah yang remang-remang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ini bukan sasaran pencurian. Atau mungkin para pencuri itu tak mengira kalau Pavarell menyimpannya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membungkus totem itu kembali, menyimpannya seperti sediakala. Lalu mereka naikke atas, menutup tingkap dan menguncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, apa yang mereka cari?” tanya Sam menggantung. Ia memunguti barang-barangyang berserakan di lantai, menempatkan mereka sebisanya agar seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah gelap ketika mereka selesai membereskan rumah Pavarell—sebisanya. Dean membuka lemari dapur, mencari makanan kaleng, dan memanaskannya. Mereka makan, Dean sambil membuka halaman-halaman yang tadi ia fotokopi di rumah sakit, Sam browsing ke sana ke mari sambil mengecas laptopnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kloning pertama kali dipublikasikan 1984,” sahut Sam, membaca sambil lalu artikel-artikel yang diperoleh saat browsing. “Tahun lahir mereka—1985?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yups!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah—mereka hasil kloning yang diproduksi diam-diam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi—kenapa mereka harus berkumpul di Alaska?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memandang Dean. Dean memandang Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laboratorium yang memproduksi mereka ada di Alaska?” sahut mereka nyaris bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu!” Dean mengeluarkan buku alamat Amanda dari saku jaketnya, dan membuka-buka halamannya, “—rasanya pernah kubaca ada nomer telepon lab—“ dan ia tiba di halaman itu, “—ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Inuit Laboratory?” Sam membaca keheranan, “—bukannya Inuit itu suku Indian? Eskimo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan tangkas ia mengetikkan nama itu di search engine-nya. Muncul sederetan link. Ditelusuri dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Dean—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memiringkan badannya agar bisa turut membaca temuan Sam. “—ditutup karena kesulitan keuangan sejak 1989—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada alamatnya? Tak ada alamatnya di buku Amanda,” Dean nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja. Mereka berpikiran sama. Laboratorium yang sudah ditutup, dan tak akan ada yang mengira masih ada kegiatan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menelusuri artikel yang baru saja dibaca. “Ini ada.” Dibacakannya, dan Dean mencatatnya dalam selembar notes yang diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam gelap, tidak banyak cahaya. Belum lagi dingin menggigil menusuk. Dean hati-hati membelokkan Impala-nya ke lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti banyak lokasi yang sudah terbengkalai, lokasi ini juga tak terawat. Pagar yang mengelilinginya sudah banyak yang compang-camping. Lebih berfungsi sebagai penanda batas saja, tidak berfungsi sebagai penjaga keamanan. Daun yang berguguran menumpuki di mana-mana. Bangunan-bangunan yang sudah tak terurus, tak berbentuk lagi. Kalau dilihat lebih dekat lagi, ada banyak sarang laba-laba, sarang burung, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memarkirkan mobil di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon, agar tidak mencolok. Ia dan Sam turun, mendekati pintu gerbang dan mencoba membukanya. Sudah bisa diduga, sia-sia. Mungkin gemboknya karatan. Jadi Dean mencari lubang di pagar, masuk ke sana bersama Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menyenter ke sana ke mari. Kelihatannya tak ada yang mencurigakan. Dean mendekati salah satu bangunan dan mengintip dari apa yang mungkin dulunya disebut jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dalam kasus bangkrut, biasanya barang-barang berharga yang kecil dan mudah dipindahkan, sudah dijual terlebih dahulu. Jadi, bangunan-bangunan ini kosong. Entah kenapa tanahnya tidak dijual juga. Mungkin milik pribadi seseorang yang tak mempedulikan uang. Atau tak laku-laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memberi isyarat, dan mereka maju ke bangunan-bangunan kosong itu. Memilih satu, mereka masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya harapan untuk menemukan sesuatu di sana tipis, melihat keadaan bangunan itu. Tapi demi memenuhi rasa perasaan, mereka masih mencari-cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menepis-nepis sarang laba-laba, mereka masuk. Kemungkinan bangunan ini bangunan utama kalau melihat besarnya. Masuk ke ruang-ruang berikutnya yang sama kotornya. Nyaris saja mereka menghentikan kegiatannya kalau saja mereka tidak masuk ke ruangan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menemukan pintu yang terkunci. Berbeda dengan pintu-pintu lain yang kuncinya mudah didobrak karena sudah tua, pintu ini kokoh kuncinya. Menggugah kepenasaranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua mereka mendobrak pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang itu bersih. Seperti yang dirawat secara teratur setiap hari. Meja yang mengkilap, tumpukan kertas dokumen tanpa debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terheran-heran, Sam dan Dean masuk, dan memeriksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar bersih, asli seperti disapu setiap hari, perabotan dilap, dispenser airnya seperti baru diganti. Tapi bagaimana caranya? Pertanyaannya tepatnya, dari mana datangnya orang yang membersihkannya, karena semua ruangan yang mengelilinginya kotor tak terawat, tak ada jejak pernah dilewati. Ruangan itu sendiri punya dua jalan masuk, satu yang tadi didobrak Dean bersama Sam, dan satu lagi. Keduanya nampak digerendel dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ruangan ini dibersihkan oleh siapa dan lewat mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memandang Dean, Dean memandang Sam. Mempertanyakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemungkinan, ada pintu rahasia,” sahut Sam, “ruangan rahasia, semacam lorong menuju entah ke mana—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita cari kalau begitu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka berdua menelusuri tiap inci ruangan itu, mencari kemungkinan tiba-tiba saja ada pintu rahasia yang tiba-tiba menjeblak—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian mencari apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean yang sedang berjongkok memeriksa bawah meja, bangkit mendengar suara itu, disambut benda berat di belakang kepala, dan semuanya gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Dean menangkap seberkas sinar. Sepertinya ruangan ini remang-remang. Di mana ia? Sedang apa—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlahan-lahan kesadarannya terkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terikat di sebuah kursi. Nampaknya bukan kusi biasa, tetapi kursi yang tertanam di lantai. Ia menoleh kiri-kanan, dan Sam juga kelihatannya terikat di kursi yang sama dengannya. Ia berusaha memberontak, melepaskan diri, tapi ikatannya kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam! Sammy!” Dean berusaha memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tak apa-apa, percayalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mencari asal suara itu. Dan nyaris tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki terduduk di kursi roda. Sepertinya bukan kursi roda biasa karena ada alat semacam alat sensor suara untuk menerima perintah. Ia sepertinya benar-benar lumpuh, karena tangan dan kakinya tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkekeh, ia berbicara pada sensor suaranya, “—maju—“. Kursi rodanya berjalan maju mendekati Dean, dan berhenti saat ia menyuruh berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang seperti ini, dan ia bisa dilumpuhkan, Sam juga, dan diikat tanpa daya begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggil saja aku Jumbo. Aku bahkan tak tahu siapa nama asliku, yang aku tahu aku selalu dipanggil dengan nama itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam bergerak, sepertinya ia mulai sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kalian sekarang sudah sadar. Baiklah. Aku tak tahu siapa kalian, tapi yang aku tahu kalian ini sangat penuh perhatian pada kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian? Siapa kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa kau tak tahu? Ada cewek cantik yang bernama Amanda Schell, ada seorang mahasiwa bernama Brandon Smith, ada seorang programmer—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kalian benar-benar kloning?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh!” alis matanya naik, seolah terkejut akan kata-kata Dean, “—kloning. Itu kata yang sangat kasar. Mungkin kalau kalian menggantinya sebagai—saudara secawan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meneruskan, “—kami ini dibuat di sini, dan dipisah-pisahkan di cawan petri—“ ia merujuk pada nama alat laboratorium, “lalu dimasukkan lagi ke tempat yang sama, ditanam pada rahim yang sama, dan kami dilahirkan sebagai kembar enam—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komputer utama,” perintah Jumbo pada sensor suaranya, dan kursi rodanya maju ke seperangkat komputer besar dan tersambung ke segala macam alat. Dean memperhatikan bahwa ruangan ini di sekelilingnya tersusun dari komputer dan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya. Kalian pasti ingin tahu. Pertama, suruhanku yang mengacak-acak rumah temanmu dan membatnya pingsan sedikit. Aku hanya ingin mencari buku alamat Amanda, memastikan ia tidak menunjukkan tempat persembunyianku ini. Tapi—apa boleh buat. Lagiapula kalian sudah kutangkap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, ruangan ini ada tepat di bawah ruangan yang sedang kalian selidiki tadi,” ia mendekati kontrol utama komputer dan mengucapkan serangkaian kode yang membuat komputer itu melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut tempat terlihat adanya sebuah pintu kaca, keluar sebuah –sepertinya sebuah kendaraan mini. Mobil dengan satu penumpang sepertinya. Er ... dua buah kendaraan ternyata. Yang satu berhenti di ujung ruangan, sedang yang satu lagi terus melaju mendekati tempat Sam diikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepatnya, kami ini dilahirkan karena ada percobaan oleh si Tua itu,” matanya menatap sebuah pigura foto di meja keyboard. Dean mencoba mengingat-ingat, siapa lelaki yang berjas lab itu, tapi ia menyerah. Ia melirik pada Sam, ia pun menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumbo terkekeh. “Kalian tak akan tahu. Namanya tak pernah dibicarakan orang. Tapi ia adalah salah satu dari tim kloning yang melahirkan Dolly—domba kloning yang menggegerkan dunia itu. Oh, baru segitu saja dunia sudah geger, bagaimana kalau mereka tahu bahwa Si Tua itu sudah berhasil mengkloning manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terkekeh lagi. “Aku tak tahu jelasnya, yang pasti Si Tua itu membuat laboratorium di sini, dan membuat serangkaian percobaan. Di antaranya, kami terdiri dari dua gender, kalau kau lihat, ada dua wanita, dan tiga pria.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekehnya berubah menjadi semacam jeritan, membuat orang merinding. “Dua gender katamu? Tidak. Bagaimana dengan aku? Aku tak tahu aku ini pria atau wanita, kau mau menebak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—pria?” tebak Dean asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penampilan pria, tapi aku punya rahim, punya alat reproduksi wanita. Tapi aku juga punya alat reproduksi pria. Kau mau menyebut aku pria atau wanita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memandang Sam, Sam memandang Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkekeh lagi, berkata sinis, “Kau tahu? Di satu pihak, pemerintah benar, kloning manusia akan banyak akibatnya, yang mungkin takkan bisa ditanggung manusia—“ matanya menyala-nyala. “Kau tahu, Amanda adalah aktris kami. Ia pandai berakting, suaranya merdu, aku sendiri tak tahu kenapa ia belum juga menjadi artis top. Jordi, programmer yang canggih. Ia yang membuat sebagian program di komputer ini. Brandon, mahasiswa hukum jenius, usianya baru 21 sama seperti kami semua, tapi sudah sedang mengerjakan disertasinya. Ester, dia sangat pandai memasak, mencicip sedikit saja makanan baru, ia pasti akan bisa membuatnya. Lalu Hugo, dia Superman kami, dia kuat mengangkat apa saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah meraung, dia meneruskan, “—dan aku, aku sampah dari semuanya! Kau pernah melihat film Twins? Arnold Schwarzenegger dan Danny deVito?” ia terkekeh setengah menangis, “—akulah Danny deVito-nya. Semua hal yang jelek-jelek, masuk ke tubuhku. Si Tua itu tak pernah sengaja—ia selalu meratap begitu—tapi itulah kenyataannya. Enam bayi, lima sempurna, dan satu lagi adalah tempat sampah bagi kelimanya. Kau lihat tubuhku? Kau bingung akan genderku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung si Tua itu cepat mati. Dan untung saja kelima saudaraku—yang sudah disebar di berbagai negara bagian—sangat sayang padaku, mereka sering menengokku dan menolongku dengan apa saja yang menjadi keahlian mereka.” Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, “—ini semuanya merupakan hasil karya mereka. Awalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmukanya berubah serius, “—tapi mereka sudah mulai berulah akhir-akhir ini. Mereka mulai ngomong macam-macam tentang keberadaan kita, dan apakah aku akan diekspos ke dunia luar! Hah! Aku paling benci eksposur! Aku senang seperti sekarang, menjadi dalang di belakang layar! Jadi, setelah aku mendapat hampir semuanya, program canggih dari Jordi, dana dari Amanda, dan sebagainya, aku memutuskan untuk membunuh mereka—“ ia tertawa dalam airmuka serius, menjadikan wajahnya sangat mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami punya—perangkat kalau kau mau menyebutnya begitu. Itu ada dalam otak kami. Kalau aku ingin bertemu dengan yang lain, aku tinggal memikirkan mereka, dan mereka akan merasakannya dalam otak mereka. Kau boleh menyebutnya—saling keterhubungan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa—kenapa kau harus membunuh mereka?” wajah Sam terlihat jijik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertama, aku tak ingin mereka menyebut-nyebutku dalam rencana mereka untuk bicara pada media. Aku tak ingin dikenal dunia sebagai tempat sampah,” ia berbicara berapi-api, “—dan yang kedua, yang paling ingin kulakukan sebenarnya adalah menguji alat pembunuh yang baru saja kutemukan,” matanya berkilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alat pembunuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Yang paling canggih. Kau tahu, si Tua itu meninggalkan banyak penelitian yang separuh selesai. Aku membaca-bacanya, dan meneruskan banyak di antaranya. Salah satunya itu. Si Tua itu membuat kami saling keterhubungan lewat salah satu neuron dari sekian milyar neuron di otak. Aku membuatnya otomatis tersambung dengan sekian banyak neuron di jantung—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum mengerti—“ Dean memandang agak lemot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterhubungan itu memicu neuron saudara-saudaranya, membuatnya ingin kembali, ingin bertemu. Tapi si Jumbo ini memodifikasinya menjadi memicu salah satu syaraf di jantung. Begitu ia mengaktifkan neuronnya, pemicu di jantung juga aktif, dan—“ jelas Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu yang membuat mereka berlima punya tanggal, bahkan jam kematian yang sama?” Dean baru mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru mengerti kau ya,” Jumbo terkekeh lagi. “Hipotesis pertama terbukti, teori bisa dikembangkan. Sekarang, aku mau mencoba hipotesisku yang lain—“ sebelum Sam dan Dean mengerti betul apa maksud kalimatnya, ia membisikkan sesuatu pada sensor suaranya. Tiba-tiba, dari sekian panel yang ada di belakang Sam, sebuah membuka, keluar sesuatu seperti tangan robotik, memegang sesuatu seperti suntikan besar, menyuntikkannya dengan cepat pada pembuluh darah di leher—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean berseru, saat Sam juga hendak berteriak karena sakit dan kaget, tapi baru setengah seruannya, ia sudah terkulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumbo mengucapkan sesuatu lagi pada sensor suaranya, dan kursi Sam meninggi, menyamakan dengan ketinggian kendaraan yang tadi mendekat, kemudian seperti memindahkan Sam ke dalam kendaraan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sammy!” teriak Dean, “Jumbo, apa yang kau lakukan?!” Dean berteriak setengah putus asa, mengeliat-geliat berusaha membebaskan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat saja nanti,” sahut Jumbo, membisikkan sesuatu lagi pada sensor suaranya, dan kedua kendaraan dari ujung berbeda itu berpace dengan kecepatan tinggi, fokus mereka seperti akan saling bertabrakan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SAMMY!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Sam yang sudah pulih dari pingsan sementaranya, hanya bisa terpaku ngeri memandang kendaraan itu menuju tepat ke arahnya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—dan dalam hitungan persekian detik, kedua kendaraan itu saling bertabrakan—sama sekali tidak bersentuhan ternyata, karena kendaraan yang ditumpangi Sam seperti melebur masuk ke dalam wujud kendaraan satunya, persis seperti film kartun, tak bisa disentuh, atau tepatnya seperti berwujud hologram, masuk ke dalam wujud kendaraan yang satu—kemudian terus melewatinya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Winchester itu hanya bisa melongo sementara Jumbo tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa detik di mana Dean dan Sam melongo sementara Jumbo terus tertawa. Tetapi kemudian ia berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahukah kau? Sumber keuangan sudah di tangan! Aku tinggal membuatnya secara massal, dan menjualnya ke negara-negara bagian yang penuh dengan kemacetan, New York, Chicago, atau bahkan ke luar negeri, ke India, ke Indonesia—“ wajahnya berubah menjadi serius lagi. “Aku harus memperhitungkannya lagi, tapi dengan program yang dibuat Jordi, kurasa itu mudah. Lalu, masih ada lagi penelitian si Tua yang masih belum kuperiksa, tapi itu semua akan menjadi sumber keuangan—“ ia tersenyum mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya masih berimajinasi akan apa yang akan ia dapat, ketika Sam memberi isyarat. Ikatan tangannya sudah longgar satu. Dengan horor, Dean mencoba tidak melihat pada tangan Sam agar Jumbo tidak tertarik juga melihat ke sana. Benar, Jumbo tidak melihat ke tangan Sam. Bahkan ia seperti tak hirau pada Sam, ia melah mendekat pada Dean, dan tersenyum keji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa kau?” Dean bergerak-gerak berusaha membebaskan diri. Tapi Jumbo membisikkan satu kata lagi pada sensor suaranya, dan hampir sama seperti Sam tadi, panel di belakang Dean membuka, tangan robotik keluar dari panel di sana, dan menyuntikkan sesuatu pada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DEAAAAN!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya kali ini ia tidak pingsan. Untungnya Sam sudah berhasil melepaskan diri. Dengan cepat ia berguling ke arah Jumbo, menggulingkan kursi rodanya membuat ia berteriak penuh angkara murka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sam tak mempedulikannya, secepat kilat menuju Dean, melepas Dean, dan dalam hitungan detik itu baru sadar kalau Jumbo bisa bergerak sedikit demi sedikit menuju kursi rodanya. Nyaris refleks Sam berbalik, menyentuh tombol yang menghidupkan kendaraan satu penumpang yang terdekat. Yang dengan kecepatan tinggi kemudian menuju Jumbo dan menghabisinya —&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terengah-engah mereka berlari menuju Impala yang terparkir di luar pagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak kukira, dia mengacak-acak rumah Pavarell hanya untuk itu. Kukira—“ Dean tersengal-sengal. Berhenti sejenak di sisi pintu mobil, membungkuk mengambil napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak apa-apa? Suntikan tadi tak membawa akibat?” Sam juga masih terengah-engah, tapi khawatir melihat kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng. Merogoh saku jaketnya, mencari kunci. Gemetar mencoba memasukkannya di lubang kunci pintu. Akhirnya masuk juga. Pintu terbuka, keduanya masuk. Dean berkonsentrasi lagi untuk memasukkan kunci kontak, dan menyalakan mobil. Keduanya kemudian berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama, terdengar suara ledakan teredam—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam, kau pikir itu Jumbo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menggeleng. “Aku tak tahu. Mungkin saja kendaraan tadi menabrak perangkat-perangkat komputer dan perangkat listrik lain. Lagipula kita tidak tahu apa saja yang dia simpan di ruang bwah tanahnya, apakah ada bom atau tidak—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tak berkata-kata lagi, hanya menambah kecepatan kendaraannya agar cepat tiba di kediaman Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa tentang totem itu ya?” sahut Pavarell, berjalan pelan-pelan menyusuri koridor rumah sakit. Hari itu ia sudah boleh pulang, luka-lukanya sudah menuju kesembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. “Yang dicari justru buku alamat yang dikantungi Dean. Beda kasus,” sahutnya sambil tertawa kecil. Pavarell turut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, walau demikian, kukira akan lebih baik kalau totem itu dibawa saja olehmu. Berikan pada Bobby, ia akan tahu bagaimana merawatnya. Aku ini bukan Pemburu, hanya pernah hidup dalam satu rumah bersama beberapa Pemburu selama beberapa waktu, dan itu sudah cukup membuatku jadi gila—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terkekeh lagi. “Apalagi menyimpan barang-barang mereka ya? Baru sekali saja kau sudah langsung masuk rumahsakit—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tertawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang kurang. Sam menengok ke belakang. Dean mengikuti langkah mereka sambil diam, tidak ikut tertawa. Jelas sedang melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean—“ Sam memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haa? Oh ya, ada apa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ia terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga keluar dari rumah sakit, masuk ke dalam Impala, menuju kediaman Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak apa-apa kami tinggalkan?” Dean menyimpan tas duffelnya di dalam bagasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja tidak. Aku sudah tinggal sendiri sejak bertahun-tahun lalu, lagipula tiap hari ada saja pelanggan yang datang, jadi kalau ada sesuatu denganku, mayatku akan cepat ditemukan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bwahaha! Mereka bertiga tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati saja membawa totem itu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bilang kalau ia tak merasa ada bahaya, ia akan tetap diam. Kukira ia akan tertidur pulas sepanjang jalan sampai ke rumah Bobby—“ sahut Sam. Mereka tertawa lagi. Berjabat tangan, Sam dan Dean masuk ke dalam Impala, dan melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cross border lagi—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi baru saja beberapa jam mengendarai, Dean berhenti. Di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean, ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ganti menyetir,” sahutnya pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak apa-apa? Dari kemarin kulihat kau terdiam terus. Benar tak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng. “Hanya kurang enak badan saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya nanti kita periksa dokter. Paling tidak agar kau yakin tidak ada apa-apa. Kita kan tidak tahu, apa yang disuntikkan Jumbo padamu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Nanti saja kalau sudah tiba di tempat Bobby—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam ingin menambahkan lagi, tapi Dean sudah mengambil posisi meringkuk, menutup matanya, jadi ia terdiam. Melajukan Impala lagi. Berusaha agar cepat, tapi tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kali ini lebih panjang dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di rumah Bobby, Dean langsung masuk ke kamar mandi. Agak lama baru ia keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby mengangkat alisnya. “Kenapa dia begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangkat bahu, menggelengkan kepala. “Waktu di laboratorium Jumbo, yang kuceritakan lewat telepon itu, si Jumbo menyuntikkan sesuatu padanya. Aku tak tahu itu apa. Aku sudah bilang untuk periksa dokter, tapi dia menolak, nanti katanya kalau sudah di sini saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudah.” Bobby menyuruh Sam menyimpan totem yang dibawanya di atas meja. “Jadi, Pavarell memilih kita untuk menyimpannya, hm?” Ia mengeluarkan beberapa buku yang rupanya sudah disiapkan, apalagi karena Sam sudah menelepon sedari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada umumnya totem dibuat untuk tujuan perlindungan. Tapi bisa saja ia dibuat untuk tujuan menyerang, walau ini jarang—“ Bobby membuka-buka bukunya, mencari gambar yang sesuai, yang mirip dengan totem yang dibawa Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini—walaupun aku tak tahu mengapa warnanya bisa sepudar itu. Seperti yang di-ampelas—“ sahut Sam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kupikir-pikir, seperti warna yang tercelup dalam air beberapa waktu lamanya, seperti bertahun-tahun lamanya ada di dasar laut atau dasar sungai—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bobby, tapi kupikir kalau kayu berada di dalam air untuk beberapa waktu lamanya, justru akan menjadi lapuk, kan? Coba kau rab
